Jassen Geovano di temani anak laki lakinya Amrano, mereka berdua mendatangi Istana untuk bertemu dengan Raja Lucio.
Kedua tamu ini di sambut dengan meriah melihat selama ini dua orang besa generasi itu sangat loyal dengan Kerajaan Maratha.
“Salam Yang Mulia Raja Lucio,” Sapa Jassen dan Amrano berbarengan.
“Silahkan duduk, Panglima Jassen, dan Menteri Amrano.” Raja sendiri bahkan yang mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Anda terlalu berlebihan untuk laki laki tua seperti ini Yang Mulia,” Kakek Alesha memang dulunya panglima perang terhebat yang dimiliki Kerajaan Maratha hingga di takuti banyak musuh, namun saat ini dia sudah tua walau begitu semangat juangnya masih tinggi, saat ini diusia tuanya Jassen masih melatih banyak prajurit, di perbatasan ataupun di kota Kerajaan tergantung situasi yang ada.
“Ada hal apa yang membuat engkau jauh jauh datang kemari panglima?.” Tanya Raja Lucio pada Jassen.
“Jangan seperti itu Yang Mulia, saya tidak memiliki hal khusus, saya datang kemari hanya ingin bertemu dengan cucu saya, itupun jika di perbolehkan Yang Mulia.” Pinta Jassen,
“Tentu saja, Kasim Prama, panggilkan Putri Alesha, dan Putri Elleanor,” Raja memberi titah pada Kasim Prama.
“Ekmmm,, Yang Mulia, maaf tapi saya hanya ingin bertemu dengan Putri Alesha,” Mendengar permintaan mantan Panglimanya Raja Lucio mengangguk.
“Kasim panggilkan Putri Alesha,,” Titah Raja Lucio lagi.
“Baik Yang Mulia,” Kasim Prama langsung pergi meninggalkan ruang perjamuan.
Setelah melihat Kasim Prama meninggalkan ruang perjamuan, Raja Lucio langsung menatap Jassen dan Amrano.
“Apa yang terjadi hingga kalian jauh jauh datang kemari?.” Tanya Raja Lucio, dia tau jika ada yang ingin disampaikan padanya.
“Yang Mulia, maafkan hambamu ini, namun ada beberapa yang harus ada tau, ini hanya kita bertiga yang harus tau karena belum banyak bukti yang saya dapatkan.” Amrano mulai berbicara.
“Katakan Menteri, tidak apa,” Raja Lucio memang mengutus Menteri Amrano untuk menyediki beberapa hal yang tidak mungkin bisa disediki panglima panglima yang ada kota karena gerak gerik mereka bisa di lihat dengan jelas oleh musuh.
“Yang Mulia, beberapa waktu yang lalu saya berkelana menyusuri desa desa yang sering menjadi tempat penjarahan bandit, begitu juga di hutan, ternyata ada seseorang yang menggerakan mereka untuk melakukan perjarahan dan pembunuhan, di perparah dengan tingginya pajak yang di keluarkan Menteri pajak setiap tahunnya membuat rakyat kecil semakin menderita, banyak desa desa kecil di pelosok negeri ini yang kekurangan namun mereka dipaksa untuk membayar pajak, sementara beberapa bangsawan melanggar pajak mereka dengan menyembunyikan harta mereka agar tidak banyak membayar pajaknya, Yang Mulia ini nama nama orang yang terlibat, saya akan mencari bukti bukti yang lain, sementara ini yang bisa saya laporkan pada anda,” Menteri Amrano menyerahkan kertas yang dia lipat pada Raja Lucio.
“Kita bisa membahasnya nanti,.” Raja Lucio memberi kode jika ada seseorang yang datang.
“Yang Mulia,” Kedatangan Selir Kaira secara tiba tiba tanpa pemberitahuan membuat Raja Lucio murka, namun dia tetap mengendalikan emosinya di depan tamunya.
“Selir Kaira, kenapa engkau datang kemari? Seharusnya engkau tidak menemuiku selama aku bersama tamu ku,” Selir Kaira mencoba tersenyum walau dalam hatinya sedang merutuki Raja Lucio.
“Yang Mulia, Ratu Maurine sedang sakit, dia tidak bisa menemani anda untuk menyambut kedatangan Menteri kita, jadi saya yang menggantikan Ratu untuk menemani anda.” Selir Kaira memberi penjelasan, walau lebih tepatnya dia ingin mencuri dengar apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
“Lancang sekali engkau Selir Kaira, apa kamu sudah lupa aturan di Kerajaan ini? ingat posisimu Selir Kaira, kamu hanya seorang selir, tidak lebih dari itu.” Apa yang dikatakan Raja Lucio barusan sangat sangat menamparnya, Selir Kaira benar benar di permalukan di depan tamu Kerajaan.
“Maafkan hamba yang Mulia, ampuni kelancangan hamba ini,” Selir Kaira berlutut memohon ampun.
“Sebaiknya engkau pergi Selir.” Raja Mengusir Selir Kaira secara terang terangan.
Mau tidak mau Selir Kaira pergi meninggalkan Raja Lucio dan tamunya.
Setelah Selir Kaira pergi, Raja Lucio langsung meminta maaf pada Jassen dan Amrano.
“Maafkan selirku yang tidak tau diri itu, sebagai tuan rumah aku sungguh sangat malu.” Raja Lucio benar benar menyesal dengan apa yang dilakukan Selir Kaira barusan.
“Anda terlalu berlebihan Yang Mulia,” Jassen angkat bicara..
“Lebih baik kita bicara hal yang lain saja,” Raja Lucio tidak ingin membahas masalah Selir Kaira lebih lanjut.
Kasim Prama datang menghampiri Raja Lucio tanpa Putri Alesha membuat ketiga orang itu saling berpandangan.
“Kasim, dimana Putri Alesha?.” Tanya Raja Lucio langsung.
“Mohon ampun Yang Mulia, Putri Alesha sedang berdoa di kuil Suci dia pergi kemarin lusa,” Kasim Prama menjawab pertanyaan Raja Lucio.
“Apa? kenapa aku tidak tau jika Putri Alesha pergi berdoa ke kuil suci,” Raja Lucio benar benar tidak tau jika Putri Alesha pergi ke kuil suci.
“Dengan siapa Putri Alesha pergi?.” Tanya Jassen,.
“Menjawab Tuan Jassen, Putri Alesha pergi seorang diri, atas perintah Ratu Maurine.” Raja Lucio dan Jassen sama sama terkejut, bagaimana bisa Ratu Maurine melakukan hal gila seperti ini, di tambah sekarang keadaan di luar sana sedang kacau dengan bandit yang merajalela.
“Yang Mulia, jika boleh, saya ingin menyusul cucu saya, saya takut dia kenapa kenapa, di tambah dia tidak pernah keluar dari rumahnya selama ini, saya takut jika Putri Alesha mengalami hal yang tidak baik.” Jassen sangat sangat tidak menyangka jika Ratu Maurine melakukan hal yang kejam seperti ini.
“Ayahh,, sebaiknya engkau tenangkan dulu fikiranmu, kita belum tau apa yang sebenarnya terjadi, lebih baik jika kita bertanya langsung pada Ratu Maurine agar lebih jelas,” Usulan Amrano ada benarnya.
“Kasim bawa Panglima Jassen dan Menteri Amrano ke tempat istirahat, aku ingin pergi menemui Ratu Maurine terlebih dulu.” Kasim prama mengangguk mendengar perintah langsung dari Raja Lucio.
****
Alesha meninggalkan desa Myara setelah dia berpamitan dengan Tarinka, dengan memacu kudanya sangat cepat Alesha melewati hutan perbatasan anatara distrik Kala dan distrik Naba.
Alesha melihat sekelompok orang menghadangnya di depan sana, mau tidak mau Alesha mencoba memelankan laju kudanya.
“Siapa kalian?.” Tanya Alesha, walau sebenarnya dia tau siapa mereka, tentu saja mereka bandit hutan yang siap merajah dirinya.
“Serahkan hartamu,” Alesha hanya santai duduk diatas kudanya tanpa mau repot repot turun, lagian dia tidak memiliki harta berharga sama sekali.
“Apa yang kamu lihat dari pengembara ini, bahkan jika kamu memiliki mata yang sehat kamu bisa melihat aku tidak membawa apapun.” Balas Alesha. Tentu saja aoa yang Alesha katakan barusan membuat orang orang itu tersinggung.
“Lancang sekali kau Nona muda, baiklah jika kamu tidak ingin memberikan hartamu, maka kami akan mengambilnya secara paksa, mungkin termasuk dirimu Nona, bukanlah engkau sangat cantik aku akan membawa ke Tuanku, mungkin kau akan menjadi gundiknya,” Alesha mengepalkan tangannya kuat kuat, sial, laki laki itu sepertinya harus di beri pelajaran, bisa bisanya dia menyamakan dirinya dengan gundik.
“Benar sekali, apa lagi Tuan Harris dia pasti akan sangat senang, bahkan mungkin akan memberikan imbalan yang sangat tinggi untuk wanita cantik ini,” Sambung orang yang berdiri di samping ketua bandit itu.
“Nahhh iya,, seharusnya engkau berbangga diri, karena Pangeran Kerajaan ini akan menikmati tubuhmu.” Sambung ketua bandit.
Pangeran Harris, jadi dia dalang di balik bandit bandit yang ada di hutan ini, tapi bandit bandit yang dia temui kemarin sepertinya berbeda, atau mereka hanya menyamar, sial,, bisa jadi kemarin dirinya masuk jebakan.
“Pangeran Harris ya,,, wahhh ternyata dia sangat licik sekali, mengumpulkan banyak bandit untuk menjarah orang orang miskin seperti ini.” Alesha sengaja mengulur waktu, dia harus Menyusun rencana atau mencari bantuan.
“Jangan banyak bicara lebih baik serahkan dirimu.” Mereka menyerbu Alesha mau tidak mau Alesha turun dari kudanya.
Dengan pisau kecil miliknya Alesha menyerang mereka, tidak ada yang menggunakan pedang, hanya celurit dan golok jadi dalam persenjataan mereka imbang, tinggal kemampuan bela diri yang menentukan.
Alesha terlebih dulu menyerang, dengan pisau kecil nan tajam miliknya dia langsung menyerang ketua bandit di hutan ini, walau Alesha tidak tau kemampuannya, namun Alesha bisa mengukur seberapa baik kemampuan bela diri orang orang ini.
Menekan titik vital ketua bandit dengan pisaunya namun ketua bandit itu berhasil menghindar dan memberikan serangan balik pada Alesha membuat Alesha cukup kualahan, namun Alesha harus mencari kelemahan ketua bandit ini.
Beberapa orang langsung mengepung Alesha setelah Alesha berhasil menumbangkan ketua bandit dengan menendang perutnya, hal itu membuat Alesha hilang fokus, sebisa mungkin Alesha tetap melawan mereka walau kalah jumlah.
Pisau kecil Alesha menyayat d**a laki laki yang ingin menyerangnya dari samping, beruntung Alesha memiliki refleks cepat, jika tidak, dia tidak tau apa yang akan terjadi dengan dirinya.
“Sial,, dia sangat pandai bela diri, kalian semua serang wanita itu,” Ketua bandit memberi perintah pada anak buahnya, agar menyerang Alesha. Dengan menahan sakit ketua bandit bangun dan mencoba menyerang Alesha lagi, dia tidak mungkin di kalahkan seorang wanita bukan?.
Karena banyak orang yang mengepungnya, Alesha harus menggunakan ilmu bela dirinya karena dengan pisaunya dia tidak mungkin bisa leluasa menumpas bandit bandit ini,
Menyerang titik kelemahan lawan walau bukan hal yang baik tapi apa boleh buat, Alesha tidak mungkin melawan mereka satu persatu bukan?.
Seseorang berjubah hitam tiba tiba mengacaukan para badit, dia terbang di atas mereka dan menancapkan jarum kecil yang di ujung jarumnya mengandung obat bius.
Seperti mendapat pertolongan Alesha langsung menumpas bandit yang tersisa dengan pisaunya.
Beberapa ada yang kabur, namun banyak dari mereka yang pingsan dan terluka akibat sayatan pisau Alesha.
Alesha mencari orang yang menolongnya, dia harus mengucapkan terimakasih, pertolongannya sangat berharga bagi Alesha.
Mencari kesekeliling Alesha tidak menemukan orang itu, namun saat Alesha mendongak dia menemukan orang itu sedang duduk di dahan pohon.
“Heiii,, kamu, aku tidak tau siapa kamu, tapi terimakasih telah menolongku,” Teriak Alesha,
“Jika kamu butuh bantuan kamu bisa mencariku, aku tau kamu bukan orang biasa,” Alesha melanjutkan ucapannya.
Alesha mencari kudanya, tapi dia tidak menemukan kudanya, siall, apa dia harus berjalan menuju distrik Naba di siang hari seperti ini?.
Alesha mendengar ringkikan kuda, dengan berlari mengikuti suara ringkikan kuda, Alesha melihat orang berjubah hitam sedang menuntun kuda kearahnya.
“Syukurlah aku menemukanmu,,” Alesha langsung mengelus kepala kudanya..
“Sekali lagi terimakasih telah menolongku, ngomong ngomong siapa namamu?,” Tanya Alesha. Namun orang yang menolongnya tadi diam dan langsung pergi meninggalkan Alesha. Aneh,, ini sungguh aneh, namun Alesha tidak perduli, dia harus melanjutkan perjalanannya menuju distrik Naba.