Alesha terus memacu kudanya, dia bahkan tidak istirahat agar bisa sampai di distrik Naba, namun sayangnya, dia tidak bisa sampai di distrik Naba malam ini, mau tidak mau Alesha harus mencari penginapan untuk malam ini.
Dengan menuntun kudanya Alesha mencari penginapan di desa kecil ujung distrik Kala. Hari sudah petang, dengan penerangan minim dari lentera yang di pasang di tepi jalan Alesha mencari rumah yang kiranya menjadi penginapan untuk pengembara karena di desa kecil sepertinya tidak ada penginapan besar.
“Permisi, apa disekitar sini ada pengianapan?.” Tanya Alesha pada wanita muda yang baru saja membuka pintu rumahnya. Sungguh Alesha benar benar beruntung menemukan seseorang di desa ini karena sangat sunyi seperti desa tanpa berpenghuni.
“Ahhh penginapan ada di ujung sana, sepertinya sudah penuh. Banyak pengembara yang singgah di desa ini karena takut melewati hutan di malam gelap, banyak bandit yang mengintai mereka dan siap menjarah apa yang mereka bawa, bandit bandit di hutan terkenal dengan keganasannya, mereka bisa membunuh siapa saja yang tidak mau memberikan harta yang dibawa orang yang melewati hutan.” Alesha hanya bisa menghembuskan nafasnya, nasibnya sungguh sial sekali, kenapa susah sekali pergi ke distrik Naba.
“Apa tidak ada penginapan lain?.” Tanya Alesha lagi.
“Tidak ada, disini hanya ada satu penginapan, itupun yang aku katakan tadi,” Balas wanita muda itu. Melihat wajah wanita di depannya santai, Alesha yakin bukan hanya dirinya saja yang mendapatkan kesialan seperti ini.
“Apa masih jauh kalau ke kuil suci?.” Tanya Alesha, mungkinkah dia harus melanjutkan perjalanannya ke kuil suci malam ini? persetan dengan bandit, Alesha yakin dengan kudanya dia bisa lebih cepat dari para bandit bandit itu.
“Lumayan jauh, apa kamu ingin berdoa disana?” Tanya wanita itu, Alesha hanya mengangguk.
“Kalau begitu anda bisa menginap di gubuk saya, kebetulan saya tinggal sendiri,” Ajak perempuan itu.
“Apa tidak apa aku menginap di rumah mu?.” Tanya Alesha sedikit ragu, bukan masalah nyaman atau tidaknya tempat tinggal wanita ini, namun Alesha tidak tau orang yang ada dihadapannya ini baik atau jahat.
“Tenang saja aku tidak jahat kok, kamu bisa menginap di rumahku, ayoo ikat kudamu di pohon itu,” Alesha menurut saja dengan apa yang dikatakan wanita muda itu.
Alesha masuk kerumah wanita itu.
“Maaf rumahku cukup kecil,” Wanita itu menyerahkan segelas air untuk Alesha.
“Terimakasih,” Alesha meminum segelas air dengan senang hati karena dia juga kehausan.
“Ngomong ngomong siapa namamu?.” Tanya Alesha, yang benar saja, dia tidak tau nama orang yang telah menolongnya..
“Aku Tarinka, kamu sendiri siapa namamu??.” Tanya Tarinka.
“Ale, namaku hanya Ale, aku seorang pengembara dan aku sedang menuju kuil suci untuk berdoa pada dewa agar aku aku mendapatkan secuil kebahagiaan di hidupku ini.” Ucap Alesha santai, tapa apa yang dia katakan barusan memang benar, mungkin Ratu Maurine mengirimnya ke kuil suci benar benar karena ketulusan hatinya agar dirinya bisa mendapatkan secuil kebahagiaan.
“Apa aku boleh menitip doa pada Dewa?,” Tanya Tarinka, mereka sudah duduk di kursi tempat Tarinka makan mungkin, Alesha tidak tau dan dia tidak mau tau akan tata letak rumah ini.
“Emmm,, apa yang ingin kamu sampaikan pada Dewa Yang Agung?.” Tanya Alesha.
“Aku ingin segera menikah dengan kekasihku Niel, lebih tepatnya Leoniel,” Alesha mengangguk meski ragu, kenapa namanya sama dengan nama suaminya, tapi tidak mungkinkan suaminya dan gadis dihadapannya ini saling mengenal satu sama lain?.
“Wahhh,,, ternyata kamu telah memiliki kekasih, baiklah, aku akan meminta pada Dewa untuk mempersiapkan pernikahan kalian, semoga kalian Bahagia selamanya,” Alesha ikut mendoakan Tarinka dan kekasihnya.
“Apa kamu ingin makan?, aku ada sedikit makanan,” Tarinka menawari Alesha untuk makan malam.
“Terimakasih, tapi aku masih kenyang,,” Tarinka hanya mengangguk mendengar balasan dari Alesha.
“Alangkah lebih baik jika kamu langsung istirahat, ini sudah malam, aku takutnya besok kamu bangun kesiangan,” Apa yang dikatakan Tarinka ada benarnya, dia butuh istirahat, untuk melanjutkan perjalanannya di hari esok.
“Begitu juga dengan kamu, mari kita tidur,” Alesha mengajak Tarinka untuk tidur, dia sebagai tamu masa iya dia tidur terlebih dulu.
“Baiklah,,” Mereka berdua tidur di tempat tidur sederhana milik Tarinka.
Alesha samar samar menyadari jika dia merasa familiar dengan aroma dari bantal yang menjadi alas untuk kepalanya ini.
Tapi Alesha yang kelelahan lebih memilih untuk memejamkan matanya dari pada sibuk memikirkan siapa pemilih aroma ini.
****
Fatya benar benar kehilangan jejak Alesha, atau jangan jangan Alesha tersesat hingga dia belum sampai di distrik Naba.
Fatya memutuskan untuk beristirahat di penginapan kecil, tubuhnya sudah lelah, menggunakan ilmu kanuraga terus menerus membuatnya banyak kehilangan tenaga. Malam ini Fatya ingin memulihkan kondisi tubuhnya sebelum besok dia mencari Alesha lagi.
****
Rumah bordil di tengah kota bukan hanya untuk menjadi tempat pemuas nafsu bagi kaum laki laki yang haus akan belaian wanita, melainkan tempat berkumpulnya pemberontak. Tidka ada orang yang mencurigai rumah bordil milik Gavina, tentu saja semua ini berkat Pangeran Harris dan keluarganya yang melindungi rumah bordil milik Gavina.
Di tempat tersembunyi, di belakang hingar bingar pesta malam ini, enam laki laki sedang berkumpul di ruangan khusus yang di buat Gavina untuk mereka.
Pangeran Harris, Pamannya bernama Alfredo dan marvis, mata mata mereka yang berada di perbatasan juga ikut datang untuk melaporkan situasi saat ini.
“Apa yang akan kamu lakukan Pangeran, kita harus mencari koalisi baru, jika tidak mungkin Kerajaan British tidak mau bekerjasama untuk melengserkan Raja Lucio,” Tanya Pamannya bernama Alfredo.
“Benar apa yang dikatakan Tuan Alfredo, kita harus mencari koalisi baru yang memiliki kedudukan tinggi di Kerajaan ini, pasukan kita memang banyak, tapi tanpa pendukung kita tidak bisa melakukan semua itu.” Zeremi salah satu mata mata juga mendukung Alfredo.
“Aku sedang berfikir jika kalian ingin tau,” Pangeran Harris paling tidak suka dalam situasi seeprti ini, orang orang mulai membujuknya untuk memilih koalisi baru, tapi siapa dia sendiri belum ada gambaran orang yang ingin dia ajak berkerja sama.
“Lebih cepat lebih baik Pangeran Harris, kita tidak punya banyak waktu,” Paman Marvis juga ikut medesaknya.
“Baiklah baiklah aku akan mencarinya, kalian siapkan saja sisanya.” Balas Pangeran Harris. Dia cukup kesal dalam situasi seperti ini, walau dia tau kondisinya benar benar mendesak, tapi dia semakin kesal dengan orang orang yang mendesaknya, andai dia tidak butuh dukungan Pamannya mungkin dia tidak mau lagi bekerja sama dengan Pamannya.
“Mungkin saja istrimu siap membantu, bukankah dia telah menikah denganmu, seharusnya dia membantu suaminya untuk berjuang mendapatkan haknya.” Paman Alfredo memberi saran namun Harris belum yakin jika Elleanor akan membantunya ditambah Menteri Fedrick sangat setia dengan Raja mereka.
****
Leoniel sedang berada di Paviliun Teratai milik Ibundanya, sebagai seorang putra melihat Ibundanya sakit seperti ini ada rasa sakit yang menjalar di hatinya, namun sebagai seorang Putra Mahkota haram baginya memperlihatkan kesedihannya pada siapapun.
“Ibunda, kenapa wewangian di kamar Ibunda berbeda dari sebelumnya?.” Tanya Leoniel, walau dia tau Ibundanya tidak terlalu menyukai wewangian, tapi beberap kali Leoniel mencium aroma wewangian di kamar Ibundanya,.
“Putri Alesha yang menggantinya, ibu lebih suka aroma bunga ini dari pada wewangian yang di kirim Selir Kaira.” Balas Ratu Maurine dengan santai sambil menyeruput tehnya.
“Putri Alesha? Apa dia sering mengunjungi Ibunda?.” Tanya Leoniel lagi. Selama ini memang Leoniel tidak banyak memperhatikan Alesha.
“Emmmm,, beberapa kali Putri Alesha datang kemari untuk menjenguk Ibu dan juga merawat Ibumu ini Ketika kamu pergi,” Leoniel tidak menyangka jika Putri Alesha mampu merawat orang sakit, atau jangan jangan dia hanya menunggu tanpa melakukan apapun, bisa jadi.
“Putra Mahkota apa yang kamu fikirkan?.” Tanya Ratu Maurine melihat anaknya melamun.
“Tidak Ibunda, tidak ada.” Balas Leoniel.
“Putraku, Ibunda tau ini sulit untukmu, tapi Ibunda mohon terima pernikahan ini, Ibunda tidak ingin kamu menderita dan terikat pernikahan selamanya dengan Putri Alesha, jika memang kamu memiliki wanita yang kamu sukai maka beritahu Ibundamu ini, Ibundamu akan melamarkannya untukmu,” Ratu Maurine memang menerima Alesha menjadi memantunya, namun sebagai seorang Ibu dia juga merasakan apa yang dirasakan anaknya, Leoniel.
“Ibunda tenang saja, aku baik baik saja, hubungan ku dengan Alesha itu aku yang menjalaninya, Ibunda tidak perlu mengkhawatirkan aku,” Leoniel mencoba untuk menenangkan Ibundanya, dirinya juga tidak mau Ibundanya terlalu mengkhawatirkan pernikahannya.
“Emmm,,, Ibunda hanya tidak ingin kamu menderita dengan pernikahan kamu nak, walau Ibunda juga menyayangi Putri Alesha, tapi kebahagian kamu diatas segalanya,” Leoniel memeluk Ibundanya, hanya di hadapan Ibundanya Leoniel terlihat manja seperti ini, namun di luar, Leoniel bersikap dingin dan tak tersentuh sebagai benteng pertahanan dirinya.
“Leoniel mengerti Ibunda, sekarang, lebih baik Ibunda istirahat, Leoniel akan memanggil dayang untuk membantu Ibunda,” Ratu Maurine hanya mengangguk, sebelum pergi, Leoniel memeluk Ibundanya.
Seperti malam kemarin, Leoniel dan Killian berkeliling istana tanpa sepengetahuan penghuni istana, Leoniel berdiri diatas atap, dengan jubah hitamnya yang kontras akan malam gelap memungkinkan orang tidak melihat keberadaan Leoniel dan Killian.
“Tuan, apa mungkin malam ini,,,,” Belum selesai Killian bicara, dia sudah melihat seseorang keluar dengan jubah hitamnya dari Paviliun Elang.
Leoniel dan Killian terus memandangi kemana Langkah kaki orang itu pergi, Leoniel harus memastikan malam ini dia harus mendapatkan info tentang orang itu.
Leoniel memberi kode dengan lirikan matanya jika Killian harus mengikuti kemana perginya orang itu.
Leoniel tidak ingin ada pengkhianat di Istana ini, siapapun itu, dia harus di hukum, tanpa terkecuali, Leoniel harus tau orang itu pergi kemana, dengan jubah hitam yang sangat mencolok bagi Leoniel, dia yakin orang itu sedang menyelinap keluar dari Istana ini.
Killian sudah pergi mengikuti orang itu, meninggalkan Leoniel yang berdiri seorang diri atap Istana dengan fikirannya yang telah berkelana kemana mana.