Alesha memutuskan untuk keluar dari penginapannya ketika fajar tiba, Alesha dengan kudanya melewati desa desa penduduk yang masih sepi sehingga dia bisa memacu kudanya cukup kencang.
Alesha hanya perlu berjalan keselatan dari desa Atana, jika Alesha menunggangi kudanya tanpa istirahat dia bisa sampai ke kuil suci nanti sore.
Alesha melewati hutan belantara yang cukup rimbun tempat ini cukup aman menjadi persembunyian para bandit yang semalam mengincarnya.
Alesha menghentikan kudanya, Alesha mungkin bisa menahan laparnya, namun tidak dengan kudanya yang harus Alesha beri makan, di tengah tengah hutan Alesha melihat aliran sungai, sepertinya dia bisa istirahat sambil memberi makan kudanya.
Sekilas Alesha melihat ikan ikan berenang bebas di air, perutnya keroncongnya.
Alesha mengikat kudanya di pohon, sepertinya makan ikan cukup mengganjal perutnya.
Membuat api cukup lama dengan bermodalkan menggesekkan dua kayu kering, namun Alesha terus berusaha hingga ada percikan api, beruntungnya ini bukan musim hujan jadi dia bisa menemukan banyak kayu kering. Dengan ranting kayu yang sedikit runcing Alesha berburu ikan, sungguh besar besar sekali ikannya, setelah Alesha sadari dia tidak mampu menghabiskan ikannya sendirian, ada lima ekor ikan yang berhasil Alesha ambil.
Dengan pisau kecilnya dia membersihkan ikan ikannya, lalu membakar ikannya.
Raut kebahagiaan terpancar di wajahnya, sungguh Alesha sudah lama tidak berpetualang seperti ini.
Mengingat masa masa itu, ketika dia tinggal bersama paman dan bibinya serta sepupunya di kam perang, Alesha merasa bahagai, tidak ada aturan ini itu, semuanya sama, Alesha bahkan belajar berkuda, mengambil ikan di sungai, memanah, bahkan bermain pedang.
Jika semua orang tau apa yang Alesha lakukan mungkin banyak orang orang yang menentang perbuatan Alesha karena tradisi Kerajaan ini yang tidak membolehkan wanita berperang, berkuda, dan berkelana.
Andai itu dibolehkan mungkin Alesha sudah menjelajahi Kerajaan ini.
Alesha merasa ada orang yang mengawasinya, jangan bilang ada bandit lagi yang mengincar dirinya. Sial, apa dia harus meninggalkan ikan ikan yang sangat enak disini?.
“Keluarlah, aku sudah tau keberadaan kalian,” Alesha berteriak sekuat tenaga. Benar saja, tidak lama segerombolan orang dengan pisau dan beberapa kayu berdiri di depan Alesha.
“Apa kalian lapar?.” Tanya Alesha.
Segerombolan orang itu saling meneguk ludahnya tergiur dengan aroma ikan yang dibakar Alesha.
“Kami tidak perduli dengan apa yang kamu makan, lebih baik serahkan kudamu, dan uangmu,” Orang yang paling depan dari gerombolan itu mencoba tidak tertarik dengan apa yang dimakan Alesha.
“Uang, aku tidak punya uang, sedangkan kuda ini, aku hanya seseorang yang di tugaskan mengantar kuda ini ke kuil suci di distrik Naba, jika kalian lapar sini makan ikan.” Rachel menyerahkan tiga ikan yang paling besar pada mereka.
“Itu apa?.” Tanya anak kecil yang berdiri di belakang gerombolan.
“Ini ikan, kamu mau? Ini,” Alesha menyodorkan ikan itu pada anak laki laki kecil yang sepertinya kelaparan.
Melangkah penuh kehati hatian anak kecil itu berjalan kedepan mengambil ikan yang diberikan Alesha, namun anak itu tidak tau apa yang bisa di makan dari ikan itu.
“Apa kamu tidak bisa makan ikan?.” Tanya Alesha melihat anak itu hanya melihat ikannya saja. Dengan polosnya anak itu mengangguk.
“Ini yang bisa di makan,” Alesha menyuapi anak kecil tanpa rasa jijik.
“bagaimana enak?.” Tanya Alesha, anak itu mengangguk..
“Apa kalian akan melihat saja, kalian tidak mau makan juga?.” Tanya Alesha pada segerombolan pria di depannya.
Mereka mendekat pada Alesha.
“Ahhh,, karena ikannya tinggal tiga, sepertinya kita harus mencari ikan lagi, dan sebagian mencari kayu untuk di bakar, apa kalian mau?.” Tanya Alesha pada laki laki yang ada disana, dengan sepontan mereka mengangguk.
Alesha mengajari sebagian orang untuk mencari ikan, dengan tombak dari ranting pohon yang telah Alesha lancipkan ujungnya, mereka dengan cepat mendapatkan ikan di sungai. Kayu bakar juga sudah siap, Alesha juga mengajari mereka untuk membersihkan ikannya sebelum di bakar.
Mereka sama sama makan, bercengkrama satu sama lain, padahal beberapa saat yang lalu mereka menodong senjata pada Alesha.
“Apa kalian kesusahan mencari pekerjaan hingga kalian menjadi bandit bandit seperti ini?.” Tanya Alesha di sela sela makannya.
“Kami terlalu di tekan Kerajaan, kami harus membayar upeti untuk keperluan Kerajaan, hampir tiap bulan upeti kami di naikan, padahal dulu sebelum Pangeran Harris mengambil alih penanggung jawab pendapatan upeti semuanya baik baik saja, tapi dua tahun ini kami semua seperti di cekik oleh kebijakan Pangeran, anak anak kami banyak di ambil untuk di jadikan p*****r di kota, bukannya itu sangat sangat tidak adil bagi mereka.” Alesha tidak menyangka semua ini terjadi karena keserakahan Pangeran Harris.
“Lalu dengan kalian menjadi bandit seperti ini, bukannya sama saja kalian di anggap sebagai pemberontak dan Putra Mahkota yang sangat kejam itu akan memburu kalian dan memberi hukuman untuk kalian? Putra Mahkota bisa menyerang kalian kapan saja, itu akan membahayakan kalian, apa kalian tidak bisa protes melalui kepala Distrik?.” Apa yang dikatakan Alesha ada benarnya, Leoniel si Putra Mahkota kejam itu bisa saja membunuh mereka tanpa ampun, padahal mereka tidak memiliki salah sama sekali.
“Kami takut, kepala Distrik telah mengambil istri istri kami untuk menjadi tawanan, mereka dijadikan b***k dan p*****r, kami sungguh tidak sanggup melihat istri istri kami menderita, namun kami tidak sanggup membayar upeti yang sangat banyak itu.” Alesha hanya menghela nafasnya. Polemic di Kerajaan ini ternyata sangat pelik, jika di biarkan seperti ini, rakyat kecil akan tertidas oleh upeti, sementara kepala Distrik, partai dan para Menteri yang terlibat akan sangat di untungkan dengan ini semuanya.
“Sebaiknya kalian pergi ke perbatasan barat, walau cukup jauh namun disana ada barak militer, kalian bisa menjadi prajurit disana, hanya itu yang bisa menyelamatkan kalian, setelah kalian menjadi prajurit kalian bisa menyelamatkan istri dan anak kalian yang di tahan,” laki laki dewasa itu sedang berfikir, benar juga apa yang dikatakan wanita muda ini, jika mereka menjadi prajurit, mereka bisa membebaskan anak dan istri mereka yang ditawan.
“Berangkatkan ke barat, kalian bisa mengikuti matahari terbenan, jika di tanya orang katakan saja kalian sedang mengembara, jika kalian mengatakan kalian pergi ke barak militer kalian bisa saja di bunuh, kalian harus hati hati.” Mereka semua mengangguk.
“Kita akan pergi ke barak militer dibarat, tapi apa dengan mengikuti matahari terbenam kami akan sampai di barat?.” Tanya seorang laki laki diantara mereka.
“Emmmm… aku sudah kesana, dengan mengikuti matahari terbenam aku sampai di barak militer, aku mengembala kesana karena aku merindukan ayah dan saudaraku yang menjadi prajurit disana,” Cerita Alesha.
“segera bersiaplah, aku juga harus pergi, aku harus sampai di Distrik Naba sebelum tengah malam, jika kalian ingin pergi padamkan apinya dengan air, jika tidak hutan ini bisa terbakar,” Mereka semua mengangguk.
Alesha kembali menunggangi kudanya, meninggalkan segerombolan orang yang sedang memakan ikan yang mereka tangkap tadi.
****
Putra Mahkota pergi meninggalkan Istana, awalnya dia hanya ingin pergi ke beberapa desa didekat istana untuk melihat kondisi rakyatnya. Leoniel mendengar dengan jelas jika rakyatnya sedang membicarakan kejadian kemarin, perempuan bercadar yang menunggangi kuda.
Awalnya Leoniel tidak perduli, namun telinganya gatal juga mendengar cerita ini.
“Killian cari tau siapa orang itu, bagaimana bisa seorang wanita menunggangi kuda, jangan bilang dia penyusup.” Killian mengangguk, Killian pergi meninggalkan Leoniel yang duduk di tempat makan.
Sembari menunggu Killian pergi, Leoniel berjalan tanpa arah, hingga dia melihat penjual tusuk rambut berwarna emas dengan kupu kupu berwarna merah akan sangat indah jika di pakai Alesha.
Leoniel menggelengkan kepalanya, kenapa jadi memikirkan Alesha.
“Berapa keping tusuk rambut ini?.” Tanya Leoniel.
“Tuan pilihan anda sangat bagus, tusuk rambut ini hanya lima keping logam saja,” Leoniel menyerahkan kepingan logam tanpa menawar.
Leoniel menyimpan tusuk rambut agar Killian atau siapapun tidak mengetahuinya.
***
Killian menunggu Leoniel di tempat makan mereka, Killian tau Leoniel sedang berkeliling, jadi lebih baik Killian menunggu disini dari pada mengikuti Tuannya yang sedang membeli beberapa barang.
Killian juga memesan beberapa kudapan sambil menunggu Killian datang isi perut dulu tidak apa bukan?.
***
Leoniel kembali lagi ke tempat dia makan, Killian sudah duduk disana dengan beberapa kudapan diatas meja.
“Selamat datang Tuan.” Sapa Killian tanpa memberi hormat pada Leoniel sama sekali.
“Apa yang kamu dapat?,” Tanya Leoniel langsung tanpa mau berbasa basi.
“Beberapa Rakyat melihat kuda itu keluar dari gerbang samping kiri Istana, dimana gerbang kiri itu gerbang terdekat dari peternakan kuda milik Istana. Lalu orang itu menggunakan baju sederhana berwarna putih kecokelatan, dia tidak membawa pedang atau senjata apapun, penjaga di benteng juga mengatakan jika orang itu pergi ke selatan, apa mungkin itu Putri Alesha?.” Jelas Killian, dan dia memelankan suaranya ketika menyebut nama Alesha.
“Tidak mungkin Alesha bisa menunggangi kuda, dia hanya seorang Putri manja dari keluarga Erros,” Leoniel tidak percaya akan hal itu, bisa bisanya Killian memberikan laporan seperti ini padanya.
“Tuan, anda bisa memeriksa kuda di Istana, siapa tau memang Putri Alesha yang menunggangi kuda itu,” Killian memberi saran pada Leoniel.
“Benar juga apa katamu, kita kembali ke Istana.” Killian mengangguk.
Mereka berdua kembali ke Istana dan langsung menuju ke peternakan kuda milik Istana.