Unloving U Part 9 Perjalanan

1482 Words
Dengan membawa pedang dan buntalan kain berisi beberapa pakaian Alesha melangkahkan kakinya keluar dari paviliun Naga. “Apa engkau akan berangkat sekarang Putri Alesha?.” Alesha yang fokus pada peta sederhana yang dia buat langsung menoleh ke sumber suara, ternyata Putra Mahkota sedang berdiri di hadapannya bersama penasehatnya dan dayang di belakang mereka. Mungkin saking fokusnya melihat peta yang dia buat barusan, Alesha bahkan tidak menyadari kedatangan Putra Mahkota. “Hormat saya Yang Mulia, Saya hanya berfikir semakin cepat saya pergi, semakin cepat juga saya sampai di distrik Naba dan merenungkan kesalahan saya di Kuil suci,,” Ucap Putri Alesha dengan santai. “Pergilah,,” Tanpa mengucapkan sepatah kata, Putri Alesha berlalu meninggalkan Leoniel. Leoniel memandangi setiap langkah Alesha. “Putra Mahkota,” Penasehat Ayden memanggil Leoniel yang terus menatap Putri Alesha. “Penasehat Ayden, anda bisa kembali, saya ingin istirahat,” Leoniel berjalan ke paviliunnya meninggalkan Ayden dan dayang di depan paviliunnya. Ayden dan dayang saling pandang, mereka saling menerka nerka apa yang terjadi dalam hubungan Tuannya dengan istrinya. Kenapa rasanya sangat dingin, tidak ada rasa sedikitpun. ***** Beruntungnya Alesha bisa membawa kuda dari Istana, setelah melewati perdebatan sengit dengan penjaga kuda di Istana, setidaknya dia memiliki teman dalam perjalanan kali ini. Alesha memacu kudanya cukup kencang, dia mengejar waktu setidaknya sebelum matahari terbenam dia sudah keluar dari benteng kota. Alesha tidak perduli dengan orang orang yang memperhatikannya, pada masa ini, jarang ada perempuan yang bisa menunggangi kuda, dan hanya orang orang tertentu yang di perbolehkan menunggangi kuda, Alesha, dia memang belajar mengnunggangi kuda sejak berusia lima belas tahun, waktu itu Alesha pergi ke camp prajurit bersama paman dan bibinya, paman Amrano seorang jendral yang menjaga perbatasan, bahkan sampai sekarang. Alesha minta untuk di ajari kuda, di camp perbatasan, tidak ada aturan yang mengikat mereka, apa lagi jika genting tidak akan ada yang perduli pada peraturan, kecuali peraturan perang. **** Leoniel meminta Fatya, salah satu pengawal bayangan miliknya untuk mengawal Alesha, Fatya masih mecari Alesha di sekitar kota karena Fatya tidak tau jika Alesha sudah terlebih dulu keluar dari gerbang kota. Fatya mencuri dengar para rakyat di kota jika ada seorang perempuan bercadar menunggangi kuda dengan cepat keluar dari kota, tapi apa mungkin Putri Alesha bisa menunggangi kuda, Fatya tidak yakin dengan itu, namun hatinya mengatakan jika itu Putri Alesha, dengan ilmu kanuraganya Fatya terbang hinggap diantara satu pohon dengan pohon yang lain karena ilmu Fatya belum sempurna Fatya tidak bisa lama terbang.  Melewati hutan belantara adalah jalan tercepat menuju Distrik Naba, namun Fatya tidak yakin Putri Alesha melewati hutan ini, apa boleh buat dia harus menyusul Putri Alesha, lebih tepatnya mencari keberadaannya Putri Alesha. **** Alesha berhenti di sebuah penginapan sederhana, dia sengaja memilih penginapan sederhana agar tidak ada yang mencurigai dirinya, untuk kudanya, Alesha menitipkan kudanya di belakang penginapan ini, ada kandang kuda untuk tamu yang menginap, semoga saja tidak ada yang mencurinya. Alesha tidak benar benar tidur, dia hanya memejamkan matanya, samar samar dia mendengar langkah kaki, walau pelan namun Alesha bisa mendengar langkah kaki itu. Alesha menggenggam erat pisau yang dia letakkan di bawah bantal. Alesha penasaran kenapa suara itu tidak mucul lagi, apa jangan jangan ini sebuah jebakan? Atau mereka para bandit yang sedang menjaarah penginapan ini?. Alesha merasakan kembali langkah kaki yang kian mendekat. “Ternyata dia sudah tidur,.” Alesha sudah bersiap untuk ancang ancang menebas orang yang menyusup kedalam kamarnya. “Ayooo,, ambil barang berharganya.” Orang itu mencari barang berharga milik Alesha, sayangnya Alesha tidak membawa apapun kecuali baju sederhana milik Fiya yang dia pinjam, tidak mungkinkan Alesha pergi dengan baju Kerajaan miliknya, bisa bisa Alesha tidak bisa sampai ke distrik Naba melainkan ke jurang kematian. “Tidak ada sama sekali, hanya buntalan baju biasa, sialll, kita di tipu penjaga,” Ucap orang yang masuk kedalam kamar Alesha. Beruntungnya Alesha menyimpan uangnya di saku baju yang dia kenakan, jadi tidak ada barang yang di ambil bandit ketika mereka mecuri di kamar yang Alesha tempati malam ini. “Tapi dia membawa kuda, sepertinya dia bukan perempuan biasa, atau jangan jangan dia utusan Kerajaan?.” Bisik bandit lainnya. “Tidak mungkin, lihat saja pakainnya lusuh seperti ini, tidak ada bagus bagusnya, ayo pergi.” Para bandit langsung pergi meninggalkan kamar yang di tempati Alesha. Setelah memastikan para bandit itu pergi, Alesha membuka matanya, sial, dia tidak boleh lengah jika begini. Pantas Fiya ingin menemani dirinya ternyata sangat banyak kejahatan yang terjadi disini, lalu bagaimana dengan rakyat disini, apa mereka juga akan tunduk pada bandit bandit itu atau mereka akan melawannya, ahhhh Alesha bingung, dia mengacak acak rambut panjangnya. **** Leoniel menikmati waktunya tanpa Alesha, Leoniel mencoba menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda selama beberapa hari ini, tentu saja di bantu Killian yang duduk di hadapannya. “Tuan, banyak sekali laporan tentang bandit yang menjarah desa desa, beberapa pedagang yang melewati hutan tidak luput dari penjarahan, bahkan beberapa diantara mereka ada yang mati di bunuh bandit, apa yang harus kita lakukan?.” Tanya Killian, dia sudah banyak membaca aduan rakyat, hampir semua tentang bandit dan juga kekeringan yang melanda Distrik Nawa. “Aku akan merundingkan masalah ini pada Ayahanda dan juga menteri yang bersangkutan.” Tangan Leoniel sebenarnya sudah gatal untuk menumpas bandit yang meresahkan rakyatnya namun dia tidak bisa gegahan, bisa jadi ini hanya jebakan orang orang yang ingin menghancurkan dirinya. “Tuan, apa Putri Alesha baik baik saja, jika Putri Alesha melalui hutan Tanasia bisa jadi Putri Alesha telah bertemu para bandit yang bersembunyi di hutan Tanasia.” Killian tiba tiba mengkhawatirkan istri Tuannya. “Fatya telah mengawalnya, aku yakin Fatya mampu membantu Alesha,” Leoniel tidak ingin terlalu membuka diri pada Alesha, Leoniel juga tidak mengharapkan pernikahannya dengan Alesha bertahan selamanya, akan bagus jika Alesha mati di tangan bandit bandit itu. Killian hanya diam setelahnya, Killian yakin Tuannya bisa membuka diri pada Putri Alesha suatu hari nanti, karena Putri Alesha bukan seorang putri manja pada umumnya yang di benci Leoniel. Leoniel kembali kembali fokus membaca satu demi satu pengaduan dari rakyat yang di kirim melalui prajurit yang bertigas di tiap ditrik. Leoniel meletakkan surat aduan terakhir yang ada di meja kerjanya, sungguh melelahkan. Begitu juga dengan Killian. “Yang Mulia, anda bisa istirahat, anda bisa sakit jika terus terusan bergadang anda bisa sakit,.” Killian meminta Leoniel untuk istirahat. “Aku tidak bisa istirahat, Killian temani aku mencari udara segar.” Leoniel bangkit dari duduknya, mau tidak mau Killian mengikuti Leoniel. Leoniel dan Killian berjalan pelan diantara kegelapan malam, “Sangat sepi, sepertinya tidak ada orang yang masih terjaga kecuali prajurit,” Killian melihat kesekitar benar benar hening dan sunyi. Leoniel menggentikan langkah kakinya ketika menyadari sebuah pergerakan, begitu juga dengan Killian. Leoneil dan Killian saling pandang, mereka langsung naik atap bangunan, dari atas Leoniel bisa melihat seseorang menggunakan jubah berjalan ke arah paviliun milik Pangeran Harris. “Siapa dia, cukup aneh, Killian, ikuti dia, siapa tau dia orang penting.” Killian mengangguk mendengar perintah Leoniel. Leoniel langsung memerintahkan Killian untuk mengikuti orang itu, sepertinya apa yang dikatakan Ibundanya benar benar terjadi, perang saudara terasa menyakitkan dari pada perang melawan Kerajaan lain atau melawan pemberontak. Berjalan dari satu atap ke atap lain dengan ilmu kanuraga peringan tubuh Leoniel akhirnya sampai juga di Paviliun Naga miliknya. Leoniel menunggu Killian di paviliun miliknya, Leoniel yakin Killian akan menemuinya segera setelah dia tau siapa orang itu. Benar saja, baru Killian masuk kedalam paviliunnya, Killian telah menunggu di dalam paviliun. “Salam Yang Mulia,” Killian memberi salam. Yang dibalas anggukan dari Leoniel. “Katakan.” Leoniel tidak ingin basa basi, apa lagi sampai kecolongan. “Orang tadi, dia Putri Elleanor, sungguh aneh sekali Putri Elleanor keluar tengah malam seperti ini, dan juga Pangeran Harris tidak ada di paviliunnya, apa mungkin mereka memiliki niat tersembunyi Yang Mulia?.” Lapor Killian. Leoniel terdiam, kalau masalah Pangeran Harris dan Selir Kaira, Leoniel sudah tau masalah ini, bahkan sebelum dia diangkat menjadi Putra pun selir Kaira sudah merencanakan beberapa kejahatan untuk membunuhnya, tapi Putri Elleanor? Apa mungkin dia bersekongkol dengan Pangeran Harris?. “Killian, minta Ganesha untuk memantau Putri Elleanor, sepertinya itu sesederhana yang terlihat.” Leoniel yakin, tidak mungkin Menteri Fredrick menikahkan anak anaknya dan masuk kedalam Istana jika bukan untuk kekuasaan, jika sampai Putri Alesha terlibat Leoniel akan langsung memenggal kepalanya. “Killian, jangan sampai Ayahanda tau masalah ini, jika Ayahanda tau Pangeran Harris dan Selir Kaira kembali membuat masalah Ayahanda mungkin akan menghukum gantung mereka berdua.” Killian mengangguk sebagai tanda jika dia paham dengan perintah Leoniel. Pewaris Kerajaan Maratha memang memiliki pengawal bayangan, Raja Lucio juga memiliki pengawal bayangan yang berjaga menjaga Raja Lucio dan menjaga orang orang atas izin Raja Lucio begitu juga dengan pengawal bayangan milik Loeniel hanya menjaga Leoniel dan orang orang yang Leoniel ingin jaga, Leoniel merasa paviliunnya cukup lenggang mungkin karena dayang dan penjaga tidak banyak, tidak ada Alesha semuanya kembali normal Leoniel sangat suka dengan ketenangan dan dia tidak suka ketenangannya di usik, dengan perginya Alesha, Leoniel kembali medapatkan ketenangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD