Unloving U Part 8 Hukuman

1601 Words
Dalam kegelapan malam, seorang wanita keluar diam diam melalui tembok istana yang berlubang, mungkin karena belakang istana mengarah ke hutan jadinya tidak banyak orang yang menjamah belakang istana. Dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, wanita itu berjalan di kegelapan malam seorang diri. Tidak jauh darinya, seseorang telah menunggunya. “Nona, mari,” Orang yang berada di atas juda mengulurkan tangannya, membantu wanita itu naik kuda. Kuda mereka berhenti di sebuah goa yang tidak jauh dari Istana namun sepertinya tidak ada yang menyadarinya karena goa ini berada didalam hutan, letakknya diantara jurang yang pastinya akan membuat orang malas untuk menyusuri goa itu. “Elle, bagaimana kabar kamu sayang?.” Tanya Zevania pada putri semata wayangnya, ketika melihat Elleanor datang bersama seorang pengawal. “Aku baik baik saja Ibunda,” Balas Elleanor. “Apa ada info dari dalam istana?.” Tanya Walfin, paman dari Elleanor. “Ada banyak Paman, yang pertama Ratu Maurine sedang sakit, yang kedua hubungan Putra Mahkota dan Alesha tidak harmonis, yang ketiga,, Selir Kaira dan Pangeran Haris menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan, kabarnya mereka bekerja sama dengan Kerajaan British, ini akan menjadi hal yang mudah jika kita bekerjasama dengan Pangeran Harris untuk menghancurkan klan Geovano, mereka punya banyak pasukan, kita bisa meminta bantuan pada Pangeran Harris untuk berperang dengan klan Geovano” Semua orang yang mendengar ucapan Elleanor tercengang, bagaimana tidak, Kerajaan Maratha dan British terkenal dengan perang dinginnya dan Pangeran Harris mampu meminta bantuan untuk kerja sama, sungguh luar biasa. “Elle, apa kamu yakin, tidak mungkin Pangeran Harris memiliki kuasa sebanyak itu.” Zevania Ibu Elleanor sendiri tidak percaya. “Mungkin saja, setau aku keluarga Selir Kaira ada yang tinggal di kerajaan British, itu akan memudahkan mereka jika mereka melakukan kerja sama secara diam diam dengan kerajaan British, dan juga Klan dari Selir Kaira memang sering bertentangan dengan klan Anum Maratha.” Balas Dasten sepupu Elleanor. “Benar apa yang dikatakan Dasten, lalu apa yang akan kita lakukan, menjadi sekutu mereka atau berjalan sendiri yang artinya kapan saja akan menjadi musuh?.” Tanya Walfin. “Kita lihat situasi terlebih dulu, jangan sampai kita terkecoh, aku akan mengirim beberapa orang kepercayaanku untuk mengintai di perbatasan dan pelabuhan, yang ada di perbatasan dengan Kerajaan Mysore,” Usul Dasten. “Emmm lakukan Dasten, Elle, sebaiknya kamu segera kembali, jangan sampai ada orang yang curiga,” Elleanor mengangguk, dia berpelukan dengan Ibunya lalu keluar bersama orang yang tadi menjemputnya. **** Alesha duduk di samping pohon yang cukup rindang di taman belakang paviliun milik Leoniel, di tengah malam yang sunyi Alesha memikirkan semuanya, dia tau bahwa semuanya tidak akan mudah, walau begitu Alesha tidak ingin menyerah begitu saja, setidaknya dia harus mencoba terlebih dulu. Mengingat semua yang telah terjadi pada dirinya selama ini Alesha bertekat untuk kuat, mati, Alesha bahkan hampir berkali kali meregang nyawa gara gara Ibu tirinya dan saudara tirinya, ya mereka hanya bersikap baik di depan keluarga Alesha, di belakang keluarga Alesha mereka bahkan menyiksa Alesha, walau tidak secara fisik namun Alesha pernah menelan racun, puasa beberapa hari, makan makanan basi, maka dari itu Alesha bertekat untuk belajar ilmu pengobatan dan racun secara sembunyi senbunyi, sifat angkuh dan kerasnya selama ini hanyalah tameng untuk menutup diri dari orang orang yang ingin mengasihinya, daripada mengasihi, Alesha malah ingin di benci sekalian, baginya itu lebih baik. Alesha mengusap usap lengannya dengan baju tipis dan jubah tidur udara malam masih saja mengganggunya. Andai ini rumahnya, sudah pasti Alesha akan menyelinap keluar, sayangnya dia di istana, tidak akan mudah untuk menyelinap, apa lagi banyak pengawal yang bersiaga disetiap sudut istana ini. **** Jika Alesha sedang merenung di taman belakang paviliun Naga, maka Leoniel suaminya sedang uring uringan dengan Killian. Killian tidak tau apa yang terjadi dengan Tuannya, karena siang tadi dia menyelinap keluar untuk menyelidiki beberapa penjabat yang melakukan korupsi uang pajak. Ketika malamnya Killian datang Leoniel mengajaknya untuk minum, sebenarnya hal biasa jika Tuannya mengajaknya minum namun baru kali ini Tuannya mengumpati seseorang, yang Killian tau sebagai istri Tuannya, siapa lagi kalau bukan Alesha. “Tuan, sebaiknya anda kembali ke paviliun Naga, ini sudah malam, anda harus istirahat.” Killian tidak tau apa masalah keduanya, jika tidak di hentikan Tuannya ini tidak akan berhenti minum sampai dia tepar. “Aku tidak akan kembali ke paviliun Naga, wanita itu benar benar sangat menggangguku, Ahhhh Killian lebih baik aku tidur disini.” Killian hanya bisa garuk garuk kepala saat Tuannya meletakkan kepalanya di meja, suara dengkuran halus menandakan jika Tuannya telah tidur. “Aisshhhh sialan sekali,” Killian membantu Leoniel untuk pindah ke kamar yang ada di ruang kerja Leoniel, hanya tempat tidur sederhana, akan sangat barguna untuk Leoniel jika dia telah kekelahan, dia tidak perlu kembali ke paviliun Naga, tinggal menggeser pintu di samping rak buku maka disana terdapat sebuah tempat tidur sederhana, dan lemari kecil. Killian membaringkan Leoniel ke tempat tidur, lalu meninggalkan Tuannya pergi, tidak mungkin Killian ikutan tidur disini, Killian itu pengawal bayangnya, dia hanya muncul di saat saat tertentu, dia lebih suka bersembunyi di kegelapan. **** Alesha merasakan kepalanya pusing, dan tubuhnya menggigil, ketika dia membuka mata, setelah dia mengamati lingkungan sekitar dia baru menyadari jika dia tertidur ditaman, Langit telah berwarna kemerahan, sinar matahari sedikit telah menyinari bumi ini. Alehsa bergegas menuju kedalam paviliun, dia tidak mau Fiya dan dayang dayang lainnya mencarinya. Alehsa bukannya kembali ke tempat tidur, dia malah pergi ke perpustakaan kecil di sisi paviliun yang mungkin itu milik Leoniel, namun Alesha tidak perduli. Mengambil buku tentang ilmu obat Alesha tenggelam dalam buku yang di abaca, bahkan dia tidak menyadari jika Fiya telah berdiri di ambang pintu bersama dayang dayang lainnya. Fiya memberi kode pada dayang dayang untuk diam, melihat Tuannya menikmati buku yang dibacanya Fiya lebih memilih untuk mengurungkan niatnya untuk meminta Alesha bersiap. “Kalian, sejak kapan disana??.” Tanya Alesha, Alesha bahkan baru menyadari jika Fiya dan beberapa dayang telah berdiri ambang pintu. “Menjawab yang mulia, kami menunggu anda selesai membaca buku, kami tidak ingin mengganggu anda,” Alesha langsung bangkit dari duduknya, dia mengembalikan buku yang dia baca ke rak buku, lalu dia mendekati dayang dayangnya. “Sekarang aku ingin mandi dan makan, apa semuanya sudah siap?.” Tanya Alesha, Fiya mengangguk sebagai jawabannya. “Silahkan Putri.” Dayang dayang yang semula berdiri diambang pintu memberi jalan untuk Alesha. Alesha tiba tiba menghentikan langkahnya ketika melihat ratu Maurine berada di halaman paviliun, apa Ratu Maurine mengunjunginya, bukannya Ratu Maurine sedang sakit. “Putri ada apa??,” Tanya Fiya yang keheranan melihat Alesha menghentikan langkahnya. “Tidak apa, ahhh Fiya aku akan mandi terlebih dulu,” Alesha langsung berlalu menuju ke kamar tidurnya. Air mandi telah siap, jadi Alesha tinggal mandi, seperti biasanya, Alesha hanya mandi seorang diri tidak ada dayang yang membantunya mandi. Diluar Ratu Maurine sedang menunggu Alesha selesai mandi, Ratu Maurine awalnya tidak menyadari jika tidak ada dayang yang membantu Alesha mandi, namun setelah dia menghitung jumlah dayang yang ada di ruangan ini dia baru menyadari jika Alesha mandi tanpa di bantu dayang. Alesha keluar dengan baju tipis sebagai dalamannya dan juga jubah mandi. Alesha benar benar terkejut dengan kedatangan Ratu Maurine di kamarnya, lebih tepatnya Alesha malu dengan apa yang dia kenakan saat ini. “Salam Yang Mulia Ratu Maurine,” Alesha menunduk memberi hormat pada Ratu Maurine. “Putri Alesha, apa yang kamu lakukan, apa kamu pantas mandi seorang diri tanpa di bantu dayang? Apa kamu telah melanggar peraturan yang telah ada, dan kamu harus di hukum.” Alesha langsung tertunduk. Ya,, Alesha tau ini kesalahannya, namun Alesha sudah membiasakan dirinya untuk mandi sendiri. “Ampun Yang Mulia Ratu, tolong jangan hukum Putri Alesha, Putri Alesha tidak bersalah, tolong hukum hamba, karena semua ini salah hamba,” Fiya berlutut didepan Ratu Maurine, meminta ampun atas kesalahan yang dilakukan Alesha. “Tidak Ibunda, biarkan Putri Alesha menjalani hukumannya,” Ratu Maurine menoleh kebelakang, disana ada Putra Mahkota dan Penasehat Ayden. “Benar apa yang dikatakan Putra Mahkota. Saya yang salah jadi saya yang harus menerima hukumannya Ratu Maurine,” Ratu Maurine menghela nafasnya. “Sebagai hukumannya Putri Alesha harus berdoa ke kuil dewa di distrik Naba,” Alesha tidak tau letak pasti kuil dewa di ditrik Naba, tapi Alesha harus melakukan itu sebagai hukumannya. “Baik Yang Mulia, saya akan melaksanakan hukuman anda,” Ucapan Alesha membuat Fiya meneteskan air mata, seharusnya dia yang di hukum kenapa harus Putri Alesha, batinnya. “Jangan senang dulu Putri Alesha, anda harus kesana seorang diri, tanpa ada dayang dan prajurit istana yang menemani anda,” Alesha langsung membelalakan matanya, bagaimana bisa dia sampai distrik Naba kalau di saja tidak tau letaknnya. “Tapi Yang Mulia Ratu, Putri Alesha bisa kenapa kenapa jika pergi seorang diri,” Sepertinya Putra Makhota Leoniel sedang memainkan perannya sebagai seorang suami yang menyayangi istrinya, mendengar nada khawatir dari suara Putra Makhota membuat Alesha tanpa sengaja mengepalkan telapak tangannya. “Tidak, Putri Alesha harus tau jika dia tidak bisa hidup tanpa dayang dan prajuritnya, jika Putri Alesha berhasil sampai di Distrik Naba dan kembali ke Istana maka Ibunda akan menghadiahi sebauh paviliun baru untuk Putri Alesha,.” Alesha tidak tau harus senang atau sedih, satu sisi jika dia bisa kembali ke Istana dia akan mendapatkan paviliun baru, yang artinya Alesha bisa tinggal terpisah dengan Leoniel. “Yang Mulia, izinkan saya menemani Putri Alesha, saya mohon yang Mulia Ratu,” Fiya bersujud di hadapan Ratu maurine. “Tidak ada yang akan menemani Putri Alesha, jika Putri Alesha ketahuan membawa orang dayang atau pengawal maka mereka akan di penggal hidup hidup.” Tubuh Fiya langsung lemas ketika mendengar hukuman yang akan di berikan Ratu Maurine padanya dan juga pada dayang lain jika ada yang ikut Putri Alesha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD