Tarinka sebanarnya tidak rela ketika melepas Niel pergi mereka baru saja bertemu, namun mau bagaimana lagi ada perintah mendadak dari kepala distrik yang mempekerjakan Niel untuk segera pergi ke kota.
Tarinka mengantar Niel pergi ke penginapan, disana sudah ada Killian berdiri di samping kudu mereka berdua.
“Apa kamu akan kembali? Setelah menyelesaikan tugasmu?.” Tanya Tarinka.
“Tentu, tentu aku akan kembali setelah menyelesaikan tugasku, tunggu aku kembali, kita akan kembali bersama, jangan sedih, jika kau sedih aku tidak akan sanggup untuk pergi,” Kedua tangan Leoniel memegang wajah Tarinka, ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Aku akan menunggumu kembali,,” Leoniel menarik tubuh Tarinka, membawanya kedalam dekapan hangat tubuhnya.
“Aku pergi,,” Tarinka mengangguk sambil menahan air matanya agar tidak menetes, dia tidak ingin Leoniel merasa bersalah telah meninggalkannya. Lenoiel melangkah menuju kudanya, sementara Kilian telah terlebih dulu menaiki kuda miliknya yang berwarna cokelat.
Tarinka memandang kekasihnya yang perlahan menghilang dari pandangannya, bersama air matanya yang menetes mengikuti kepergian Leoniel.
***
Sepanjang hari Alesha berada di kediaman teratai di temani dayang Hara, Alesha benar benar merawat Ratu Maurine dengan baik, bahkan Alesha tidak segan untuk membasuh tubuh Ratu Maurine dan menyuapi Ratu Maurine.
Dayang Hara selama ini mendengar cerita dari dayang danrakyat di pasar tenang Putri Alesha yang berkelakuan buruk pun merasa jika itu tidak benar.
“Dayang Hara, aku akan kembali ke kediaman Naga, jika ada apa apa dengan Ratu Maurine dayang Hara bisa memanggilku,” Dayang Hara mengangguk, mendengar ucapan Alesha.
“Mengerti Yang Mulia,” Putri Alesha berlalu dari kediaman Teratai, namun baru dia sampai di depan kediman Teratai Alesha melihat Leoniel dan seorang laki laki berjalan menuju kediaman Teratai.
“Yang Mulia engkau telah kembali,,” Alesha menyapa Leoniel membuat Leoniel menghentikan langkahnya.
“Apa yang kau lakukan disini?.” Tanya Putra Mahkota dengan suara angkuhnya membuat Alesha mendongak, menatap Leoniel.
“Yang Mulia, saya datang kemari untuk menjenguk Ratu Maurine, apa anda keberatan?.” Tanya Putri Alesha.
“Kembalilah ke kediaman Naga, jangan berkeliaran di kediaman orang lain,” Leoniel langsung berjalan meninggalkan Alesha yang masih berdiri di tempatnya.
Apa ada kesalahan yang dia buat hingga suaminya seperti itu, tapi apa, kenapa Putra Mahkota sangat dingin padanya, Batin Alesha.
Alesha masih memikirkan sifat dingin Putra Mahkota selama berjalan kembali ke kediaman Naga bersama dayang dayangnya. Namun Alesha tidak menyadari adanya tangga di hadapannya hingga membuat dirinya terjatuh.
“Yang Mulia,,” Dayang dayang langsung membantu Alesha untuk bangun.
“Anda tidak apa apa Yang Mulia, apa ada yang terluka?.” Dayang Fiya memeriksa tubuh Alesha.
“Tidak,, aku tidak apa, lebih baik kita segera kembali,” Alesha kembali berjalan sambil menahan kakinya yang cukup sakit, entah, mungkin akan memar setelah ini.
“Putri apa anda baik baik saja, apa saya perlu memanggilkan tabib untuk anda?.” Tanya dayang Fiya setelah dia menyadari jika Alesha sedikit tertatih tatih saat berjalan.
“Tidak,, tidak usah, aku baik baik saja,” Balas Alesha, dayang Fiya hanya bisa mengangguk walau dayang Fiya yakin kaki Alesha tidak baik baik saja.
Leoniel baru kembali ke kamar tengah malam, setelah melihat kondisi Ibundanya, Leoniel langsung pergi ke ruang kerjanya, sepuluh hari dia tidak mengerjakan pekerjaannya tiba tiba sudah bertumpuk tumpuk laporan dari kepala distrik yang harus dia beca satu persatu, belum lagi surat aduan yang masuk dari rakyat, walau tidak sebanyak aduan dari kepala distrik namun itu cukup banyak.
Leoniel melepas jubah kebesarannya, meletakkan di gantungan yang telah disiapkan pelayan. Melihat Alesha telah tidur, Leoniel segera masuk kedalam pemandian untuk membersihkan tubuhnya.
Leoniel tidur disamping Alesha, melihat Alesha seperti ini dia merindukan Tarinka, apa kekasihnya itu baik baik saja saat dia pergi, apa dia baik baik saja tanpa kesusahan sama sekali.
Semakin memperhatikan Alesha, semakin Leoniel teringat Tarinka. Leoniel bangun dari tidurnya, dia memilih untuk pergi keluar dari kamar pengantinnya.
Kembali ke ruang kerja, Leoniel membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang ada di sana, memang Leoniel dulu lebih sering tidur di ruang kerjanya dari pada di kamar, banyak pekerjaan yang harus dia periksa membuat Leoniel tidak mau repot bolak balik jadi dia menyiapkan tempat tidur di ruang kerjanya.
***
Pagi pagi Alesha bangun seorang diri, kemana suaminya, kenapa Leoniel tidak ada di sampingnya, apa semalam Leoniel tidak kembali, tapi jubah itu, itu jubah Leoniel.
Alesha turun dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya, di hadapan suainya dia harus tetap wangi dan mempesona.
Baru saja Alesha keluar dari pemandian, Fiya dan dayang lainnya telah membersihkan tempat tidur dan menyiapkan sarapan untuk Alesha.
“Fiya dimana Putra Mahkota?.” Tanya Alesha pada dayang Fiya..
“Menjawab Yang Mulia, Putra Mahkota sedang berada di ruang kerjanya bersama penasehat Ayden,” Jawab Fiya.
“Apa aku boleh mengunjungi Putra Mahkota?.” Tanya Alesha pada Fiya.
“Anda tentu boleh mengunjungi Putra Mahkota, namun sepertinya Putra Mahkota sedang membahas sesuatu yang penting bersama penasehat Ayden, saya sayankan anda menunggu sebentar setelah penasehat Ayden pergi,” Alesha mengangguk mendengar saran dari Fiya.
“Baiklah, bantu aku bersiap kalau begitu.” Fiya mengangguk, dia menyiapkan baju khusus yang akan di pakai Alesha menemui Putra Mahkota, ada baju yang akan di gunakan Alesha setiap dia bertemu dengan keluarga Kerajaan, sungguh ribet tapi ini konsekuensinya.
Berjalan di lorong istana dengan anggun dan santai Alesha menarik perhatian beberapa dayang yang berlalu lalang di lorong istana, namun mereka hanya menunduk memberi hormat pada Alesha sambil melirik Alesha sekilas, sungguh beruntung Putra Mahkota mendapatkan istri yang sangat cantik dan anggun, keluarga bangsawan lagi.
Kedatangan Alesha ke ruang kerja Leoniel membuat Leoniel yang tadinya ingin pergi memimpin rapat dengan beberapa pasukan perang akhirnya dia urungkan.
“Salam Yang Mulia Putra Mahkota Leoniel,” Alesha memberi salam pada Leoniel yang duduk di belakang meja kerjanya. Alesha hanya masuk seorang diri kedalam ruang kerja Putra Mahkota, para dayang menunggu di luar ruang kerja Putra Makhota.
“Apa yang membuat engkau datang kemari Putri Alesha,” Tanya Leoniel.
“Yang Mulia. Saya hanya ingin mengunjungi anda, kita baru beberapa hari menikah namun saya sama sekali tidak mengenal anda, sebagai seorang istri saya patut tau tentang suaminya, jadi saya ingin terbuka dengan anda, saya harap anda juga begitu.” Ucapan Alesha membuat Leoniel mengepalkan tangannya. Ingin tau segalanya, apa Alesha akan mundur jika tau dia seorang pembunuh, entah sudah berapa banyak nyawa melayang di tangannya, dan Leoniel tidak merasa bersalah sama sekali.
“Jika kamu datang kemari hanya untuk itu, sebaiknya kamu perg Putri Alesha, saya tidak memiliki waktu yang banyak untuk sekedar basa basi dengan anda,” Putra Mahkota meninggalkan tempat duduknya, meninggalkan Alesha yang ada di ruang kerjanya.
“Apa anda ada wanita lain Yang Mulia sampai ada tidak ingin membuka diri dengan saya, istri anda sendiri,” Leoniel langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Alesha barusan.
“Jaga ucapanmu Putri Alesha, ini bukan rumah orang tuamu yang kamu bebas bicara apa saja, ini Istana, jika kamu tidak bisa menjaga ucapanmu maka aku yang akan mengajarimu secara langsung,” Leoniel marah pada Alesha, karena tebakan Alesha benar, Leoniel telah memiliki kekasih, orang yang dia cintai.
“Berarti apa yang saya katakan benar bukan Yang Mulia jika anda memiliki kekasih?.” Tanya Alesha lagi, Alesha bukan orang yang mudah untuk menyerah, dia akan mencari tau sampai dia tau jawabannya walau terkadang itu akan menyakitinya.
“Aku bilang tutup mulutmu Putri, jangan sampai aku menghukummu sendiri,” Alesha melihat raut wajah Leoniel yang merah menahan amarahnya membuat Alesha cukup ketakutan namun dia tidak mau menunjukan rasa takutnya pada Leoniel, Alesha harus menjadi wanita yang kuat, jika tidak dia akan di injak injak orang.
“Yang Mulia saya hanya bertanya, jika memang Yang Mulia tidak memiliki kekasih kenapa Anda marah? Ini menunjukan jika memang anda memiliki wanita lain, apakah dia tinggal di istana ini Yang Mulia? Ahh dia putri bangsawan mana Yang Mulia? Atau jangan jangan dia hanya rakyat biasa?.” Pertanyaan Alesha barusan membuat Leoniel benar benar tidak bisa menahan lagi emosinya.
Dengan langkah penuh amarah, Leoniel menghampiri Alesha. Alesha merasa dalam bahaya pun menghindar, namun Leoniel berhasil memegang pergelangan tangan Alesha.
“Lepas Yang Mulia,” Alesha meronta ronta, Leoniel benar benar memegang pergelangan tangannya kuat, hingga Alesha merasakan sakit pada pergelangan tangannya.
“Melepaskanmu, tidak semudah itu Putri Alesha,” Leoniel mendorong Alesha hingga Alesha jatuh ke lantai. Leoniel mengecengkram kedua rahang Alesha dengan satu tangannya.
“Dengarkan ini baik baik Putri Alesha, kamu tidak memiliki hak untuk ikut campur urusanku, kamu tidak berhak dekat dengan ku, dan kamu tidak berhak tau semuanya tentang ku,” Leoniel meninggalkan Alesha di ruang kerjanya.
Maaf Putra Mahkota, tapi aku akan mencari tau siapa wanita itu. Batin Alesha, Alesha tidak akan menyerah begitu saja, dia harus mencari tau siapa orang yang telah memenangkan hati suaminya.
Alesha berjalan menuju taman di depan paviliun Naga, fikirannya berjalan kemana mana, bahkan Alesha hampir saja terjun ke danau buatan di taman itu jika saja Fiya tidak menahan lengan Alesha.
“Astaga Putri, apakah engkau baik baik saja?.” Tanya Fiya. Fiya sangat sangat mengkhawatirkan Tuannya itu, semenjak Alesha keluar dari ruang kerja Putra Mahkota, Fiya merasa ada yang aneh dengan Putri Alesha.
“Emmmm,, aku baik baik saja, mungkin karena aku banyak fikiran, Putra mahkota telah memberikanku beberapa pekerjaan, namun aku tidak tau harus memulainya darimana, makanya aku sedang berfikir mana yang akan aku kerjakan terlebih dulu,” Alesha tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya, Alehsa tidak tau seberapa Fiya setia padanya, siapa tau Fiya adalah mata mata yang dikirim Putra Mahkota atau orang lain.
“Sebaiknya Putri Alesha istirahat, tidak baik jika Putri Alesha seperti ini,” Pinta Fiya, namun Alesha menggeleng.
“Aku ingin pergi ke Paviliun Teratai, aku ingin menemui Ibunda Ratu,” Alesha kembali keluar dari halaman paviliun Naga.