Unloving U Part 6 Racun

1616 Words
Alesha sedang mengunjungi Ratu Maurine, kabar Ratu Maurine sakit memang tidak menyebar ke luar istana, Raja sengaja menyembunyikan sakit sang Ratu, buakn apa apa namun Raja hanya tidak ingin rakyat terbebani dengan Ratu, ditambah saat ini Kerajaan Maratha tidak dalam keadaan baik baik saja, beberapa kubu sedang melakukan rencana untuk menggulingkan dirinya dan Putra Mahkota, jika mereka tau Ratu sakit maka dengan senang hati mereka akan melakukan rencana mereka. Raja tanpa Ratu bagai siang tanpa mentari, gelap tanpa sinar, tidak ada yang menyeimbangkan kepemimpinan sang Raja. “Apa selama ini Ratu Maurine sering sakit?.” Tanya Alesha pada Dayang Hara, melihat sakit Ratu Maurine Alesha yakin Ratu Maurine selama ini menutupi sakitnya agar tidak banyak orang yagn tau, dan mungkin Raja Lucio juga tidak tau. “Menjawab Yang Mulia Putri Alesha, Ratu Maurine selama ini memang sering sakit, namun tidak separah ini, biasanya hanya sakit karena kelelahan,” Alesha mengangguk paham. “Apa tabib telah memeriksa keadaan Ratu Maurine?.” Tanya Alesha lagi. “Menjawab Yang Mulia, tabib telah memeriksa Yang Mulia Ratu Maurine tadi malam, obatnya juga sudah diberikan, Yang Mulia Ratu langsung tertidur setelah meminum obatnya.” Jelas dayang Hara, “Dayang Hara, siapa yang meletakkan bunga Jepun disini atas dupa??,” Tanya Alesha, walau telah sedikit layu namun Alesha bisa tau jika bunga itu bunga Jepun. “Bunga itu hadiah dari Selir Kaira sebelum pernikahan anda dan Putra Mahkota berlangsung, Selir Kaira mengatakan jika bunga dan dupa merupakan satu kesatuan yang menyejukan, dan Ratu menyukainya, aromanya memang menenangkan Yang Mulia Putri Alesha,” Alesha langsung tau siapa yang menginginkan Ratu sakit setelah mendengar cerita dari dayang Hara, namun kenapa Selir Kaira ingin Ratu Maurine sakit. “Apa selama ini Selir Kaira sering mengirim makanan, wewangian, atau bunga untuk Yang Mulia Ratu?.” Tanya Alesha lagi. “Menjawab Yang Mulia, Selir Kaira memang sering berkunjung, dan membawakan kudapan, terkadang juga membawakan wewangian untuk Yang Mulia Ratu,” Alesha mengangguk setelah dayang Hara bercerita.  “Apa wewangian itu masih ada?,” Tanya Alesha lagi. “Sepertinya masih ada Yang Mulia, akan saya ambilkan,” Alesha mengangguk, sambil menunggu dayang Hara mengambilkan wewangian milik Ratu Maurine, Alesha mematikan dupa dan membungkus bunga Jepun kedalam kain. “Yang Mulia ini wewangiannya,” Dayang Hara menyerahkan wewangian dalam botol kecil, Alesha menghirup sekilas aroma dari wewangian milik Ratu Maurine tidak ada yang aneh, namun Alesha yakin jika didalam wewangian ini telah di tambah racun. “Apa di taman milik Ratu Maurine ada bunga yang serupa dengan bunga Jepun?.” Tanya Alesha. “Maaf Yang Mulia sepertinya tidak ada,” Alesha menghembuaskan nafasnya, jika seperti ini mungkin Alesha akan ketahuan. Alesha berjalan menuju jendela besar yang langsung mengarah pada taman milik sang Ratu, “Dayang Hara,, sepertinya bunga kamboja merah muda hampir sama dengan bunga jepun, ambilkan beberapa, yang telah layu,.” Dayang Hara mengangguk, dia segera meminta dayang yang berjaga di luar untuk mengambilkan bunga kamboja merah yang telah layu. Alesha mendekat pada tempat tidur Ratu Maurine, wajah Ratu Maurine sangat pucat, saat Alesha memegang tangan Ratu Maurine, Alesha hanya merasakan sedikit denyut nadi di tangan Ratu Maurine, ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama atau Ratu Maurine akan meninggal. “Fiya,, Fiyaa,,” Alesha memanggil Fiya, Fiya dan dayang yang lain menunggu di luar, dan hanya diperbolehkan masuk jika sang majikan memanggil mereka. “Menghadap Yang Mulia,” Fiya berdiri di belakang Alesha. “Tolong ambilkan teh hitam di lemari dekat tempat tidurku, entah kenapa aku ingin minum teh hitam,” Fiya mengangguk, mendengar permintaan Alesha, “Saya akan mengambilkan teh anda Yang Mulia, saya permisi.” Fiya berlalu dari hadapan Alesha. **** Berita sakitnya Ratu membuat Selir Kiara tertawa puas,, dia bahkan membagikan koin untuk dayang dayangnya. Cepat atau lambat dengan bunga jepun dan dupa miliknya Ratu akan mati, sudah cukup lama Kaira menantikan ini semua, dan sebentar lagi semuanya akan menjadi miliknya, tidak ada yang bisa lagi menghalanginya. “Selir Kaira, Putri Elleanor datang untuk bertemu dengan anda.” Dayang penjaga di depan kediaman selir Kaira melapor. “Ahhh,,,, persilahkan menantuku masuk,” Dayang penjaga mengangguk, dia kembali ke depan untuk mempersilahkan Putri Elleanor masuk. Selir Kaira sudah duduk di kursi yang menghadap ke taman, ketika Putri Elleanor datang. “Salam pada Ibunda,” Sapa Putri Elleanor. “Elleanor menantuku, ada apa kau datang menemui ibunda?.” Tanya Selir Kaira. “Elleanor hanya datang berkunjung Ibunda, sepertinya Ibunda sedang Bahagia, apa Ibunda tidak mau memberi tau apa yang mehjadi kebahagiaan Ibunda?.” Tanya Elleanor, sedikit penasaran, walau sebenarnya dia sudah tau apa yang membuat Selir Kaira senang. “Tentu saja Ibunda senang, Ibunda sedang mendapatkan hadiah dari Sang Dewa, sebentar lagi engkau akan mengetahuinya menantuku,” Elleanor mengangguk mendengar apa yang di katakan Selir Kaira. “Ngomong ngomong Ibunda, Ratu Maurine sedang sakit, apa perlu kita mengunjunginya?.” Tanya Elleanor. “Ohhhhh,,, saking senangnya Ibundamu ini mendapat hadiah dari Dewa Ibunda lupa jika Ratu Maurine sedang sakit, ayooo kita menjenguk Ratu Maurine, Ibunda belum menjenguk Ratu Maurine,” Elleanor mengangguk, mereka berdua segera pergi menuju kediaman Teratai, dimana kediaman itu milik Ratu Maurine. Selir Kaira dan Elleanor bertemu dengan Alesha yang masih setia menunggu Ratu Maurine, ditambah Alesha juga tidak memiliki kegiatan lain selain menyulam dan belajar tentang silsilah keluarga Kerajaan. “Salam Putri Alesha,” Selir Kaira dan Putri Elleanor memberi salam pada Alesha. “Selir Kaira, Elleanor, silahkan duduk, Ratu baru saja tertidur setelah minum obat.” Ucap Alesha. “Sayang sekali,, padahal Selir ini ingin bertanya langsung apa yang di derita Ratu Maurine, mungkin Selir ini bisa membantu menemukan obat yang tepat untuk Ratu Maurine,.” Alesha bisa melihat raut kesedihan di wajah Selir Kaira, apa yang sebenarnya terjadi, melihat Selir Kaira bersedih seperti ini nmaun Selir Kaira juga yang mengirim bunga Jepun dan dupa itu, Batin Alesha. “Selir Kaira bisa datang kembali saat Ratu telah siuman jika ingin menanyakan kondisi Ratu Maurine, Ratu Maurine saat ini hanya butuh istirahat untuk memulihkan tubuhnya, itu yang dikatakan tabib Sima,” Jelas Alesha, Selir Kaira mengangguk. “Ngomong ngomong Kak Alesha, maaf maksudku Putri Alesha, apa Putri Alesha tau penyakit Ratu Maurine?.,” Tanya Elleanor, “Maaf Adikku, tapi Tabib Sima tidak memberitahuku apa sakit yang diderita Ratu, jadi aku tidak tau Ratu sakit apa,” Alesha menunduk, dia seorang Putri dari bangsawan Erros dan juga istri Putra Mahkota namun tertunduk di harapan Selir dan anak Selir, sungguh jika orang lain tau, mungkin Putri Alesha akan mendapat teguran, karena posisi seorang Putri lebih tinggi dari pada selir. “Sudahhh,, sudah Putri Alesha, engkau tidak perlu seperti ini, kita hanya mampu berdoa semoga Ratu Maurine kembali sehat seperti sedia kala.” Selir Kaira menenangkan Alesha. Prajurit mengumumkan kedatangan Raja Lucio secara tiba tiba membuat Alesha mau tidak mau mendongakkan wajahnya, seolah olah tidak terjadi apa apa. “Salam Yang Mulia Raja Lucio,” Sapa Alesha, Selir Kaira dan Elleanor. “Apa yang kalian lakukan di kediaman Teratai?.” Tanya Raja Lucio. “Yang Mulia, saya datang kemari bersama Elleanor untuk menjenguk Ratu Maurine, apa Raja Lucio akan bermalam di kediamanku malam ini?.” Tanya Selir Kaira membuat Alesha membelalakan matanya, bagaimana tidak, Selir Kaiara terang terangan menggoda Sang Raja di hadapan banyak orang, di tambah Ratu maurine sedang terbaring ditempat tidur. “Hentikan ucapanmu Selir, lebih baik kau pergi dari sini, biarkan Maurine istirahat,” Perintah Raja Lucio, Selir Kaira mengepalkan telapak tangannya, bisa bisanya Raja Lucio membuatnya malu di depan semua orang, lihat saja, dia yakin sebentar lagi Raja Lucio akan bertekuk lutut dihadapannya. “Saya Permisi Yang Mulia,” Selir Kaira segera meninggalkan kediaman teratai, di ikuti Elleanor. “Maaf Yang Mulia, saya undur diri, maaf telah membuat kekacauan di kediaman teratai, semoga Ratu Maurine segera sembuh,” Putri Alesha pamit undur diri. “Tunggu Putri Alesha, dimana Putra Mahkota, apa dia tidak bersamamu?.” Tanya Raja Lucio, anaknya itu sudah tiga hari belum menemuinya, Raja Lucio mengira jika Putranya sedang bersama istrinya. “Menjawab Yang Mulia, bukannya Putra Mahkota sedang pergi ke desa Myara karena ada kekacauan disana?,” Putri Alesha bingung, karena dayang Fiya mengataakan jika Putra Mahkota Leoniel pergi ke desa Myara untuk menumpas pemberontakan. “Kasim Prama apa benar di desa Myara sedang ada kekecauan? Kenapa aku tidak tau?.” Tanya Raja Lucio pada kasim Prama. “Ampun Yang Mulia, saya tidak tau, bukannya di desa Myara berada di distrik Ukuhuan, distrik Ukuhuan adalah distrik yang paling tenang, tidak ada pemberontakan sama sekali, bahkan semua rakyatnya hidup rukun,” Jelas Kasim Prama. “Yang Mulia,, sepertinya saya salah mohon hukum saya, saya belum mengetahui semua desa desa dan distrik di Kerajaan Maratha, saya salah Yang Mulia, mohon hukum saya.” Alesha berlutut di hadapan Raja Lucio. Namun Alesha yakin dayang Fiya mengatakan jika Leoniel pergi ke desa Myara untuk melawan pemberontak. “Putri Alesha berdirilah,, tidak apa kau bisa belajar lagi,,” Raja Lucio meminta Alesha untuk kembali berdiri. "Sekali lagi maafkan kelalaian saya Yang Mulia.” Alesha masih meminta maaf. “Tidak apa Putri Alesha, ngomong ngomong Boleh Ayah ini tau apa yang dilakukan Selir Kaira dan Putri Elleanor dikediaman Ratu?,” Tanya Raja Lucio. “Menjawab Yang Mulia, Selir Kaira dan Putri Elleanor datang kemari untuk menjenguk Ratu Maurine.” Jawab Alesha. “Apa tidak ada yang lain?.” Tanya Raja Lucio lagi, “Tidak ada Yang Mulia, mereka juga tidak membawa apapun,” Jawab Alesha yakin. “Baguslah,, aku sudah muak dengan tingkahnya, andai aku bisa menceraikannya mungkin sudah sedari dulu aku menceraikannya,” Raja Lucio menghela nafasnya, Sebenarnya Alesha ingin memberi tau Raja Lucio, namun disini sedang banyak orang, ada dayang, Kasim, dan beberapa Menteri yang ikut menjenguk Ratu Maurine, Alesha tidak tau mana yang lawan mana yang kawan, salah salah dia bisa di hukum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD