Di kediaman Pangeran harris, Selir Kaira dan Pangeran Harris sedang menyusun rencana, mereka harus bergerak secepat mungkin atau mereka akan terlambat untuk memiliki semuanya.
“Dimana istrimu?.” Tanya Selir Kaira, Selir Kaira tidak ingin Elleanor tau jika mereka sedang menyusun rencana untuk menggulingkan Ratu dan Putra Mahkota.
“Dia sedang tidur, dia tidak akan bangun, obat yang Ibunda berikan tentu saja membuatnya tertidur dalam waktu yang cukup lama,” Selir Kaira tersenyum. Dia tidak ingin rencana yang mereka susun akhirnya hancur gara gara orang lain.
“Putra Mahkota saat sedang sibuk menumpas pemberontakan, kita akan mendapatkan celah untuk memberikan racun untuk Ratu, dengan semua yang dikerjakan Ratu, semua orang akan mengira Ratu sakit karena kesibukannya, setelah Ratu sakit sakitan, dan mati, saatnya Ibundamu ini yang akan menjadi Ratu Kerajaan Maratha dan engkau Putraku, engkau kan menjadi Putra Mahkota,” Selir Kaira tertawa,, akhirnya sebentar lagi dia akan mendapatkan kursi sang Ratu.
“Ibunda, Paman Alfredo telah mengambil hati beberapa Menteri partai Timur, beberapa mereka ada yang mulai membelot, cepat atau lambat akan banyak Menteri yang bergabung dengan partai utara, setelah itu semua terjadi, kita akan menggulingkan Putra Mahkota, atau mungkin Ayahanda, dan aku akan menduduki kursi penguasa di Negeri ini,” Pangeran Harris percaya, jika Tuhan sedang memberkatinya, jalannya cukup mulus untuk mendapatkan tahta sang pewaris.
“Apakah adik ku, Marvis berhasil melakukan semuanya?.” Tanya Selir Kaira.
“Sepertinya Paman Marvis sedang melatih para bandit bandit gunung menjadi pasukan kita, mereka sangat terlatih, namun kemampuan mereka perlu di asah lagi, kita harus memiliki pasukan sendiri, mengandalkan bantuan dari Elleanor nantinya tidak akan mungkin, dia hanya anak seorang Selir, yang tidak memiliki kuasa apapun,” Selir Kaira menyesap teh melatinya, hatinya sedang gembira, dia akan menjadi Ratu sebentar lagi.
“Ada berita gembira yang harus Ibunda tau, Kerajaan British telah menerima undangan kita, kita akan mendapatkan prajurit tambahan mungkin tiga ribu hingga lima ribu, belum lagi prajurit milik Paman Marvis yang tersebar di beberapa distrik mungkin seribu, kita juga akan mendapat dukungan dari partai Utara,” Selir Kaira makin gembira, anaknya ternyata sudah menyiapkan segalanya.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sosok di balik dinding yang menguping pembicaraan mereka, dia mengira semua penghuni Istana sangat akur, tidak memiliki dendam satu sama lain, namun dia salah, di dalam Istana lebih kejam dari pada di rumah milik Ayahnya.
Ya,,, Elleanor yang menguping pembicaraan Pangeran Harris dan Selir Kaira. Elleanor memuntahkan obat yang di berikan suaminya, lalu dia hanya pura pura tidur, Elleanor mengira jika suaminya akan berselingkuh di belakangnya, namun ternyata dia salah, ini lebih gila dari pada perselingkuhan.
Ngomong ngomong Elleanor sepertinya mendapat kawan yang sepadan untuk membalaskan dendamnya, jika suaminya Pangeran Harris menginginkan tahta Putra Mahkota, maka Elleanor menginginkan kematian Putri Alesha, Kakak tirinya sendiri, dia sudah cukup muak selalu di banding bandingkan keluarganya, mulia dari Ayahnya yang selalu membanggakan Putri Alesha, Kakek Neneknya juga selalu membanggakan Putri Alesha, apa salahnya terlahir dari Rahim seorang selir, jika disuruh memilih pun Elleanor tidak akan mau.
****
Leoniel telah sampai di sebuah penginapan di pinggir desa Myara, desa asri yang membuat Leoniel jatuh cinta dengan keindahan desanya dan juga salah satu penduduknya.
Leoniel di temani Killian, mereka selalu pergi ke desa Myara tiap satu bulan sekali, tentu saja tidak dengan pakaian kebesarannya, Leoniel menyamar menjadi pengembara bersama Killian.
“Kalian sudah datang,” Sapa wanita paruh baya, Leoniel dan Killian telah menjadi pelanggan penginapan ini sejak enam bulan yang lalu.
“Iya Nyonya, apa masih ada kamar yang tersedia?.” Tanya Killian.
“Tentu saja ada, aku sudah mempersiapkan kamar untuk Tuan Tuan ini, di tempat biasa,” Killian dan Leoniel mengangguk, mereka berdua langsung menuju kamar mereka masing masing.
Berbeda dengan Killian yang langsung istirahat, Leoniel hanya menaruh buntalan berisi pakaiannya, lalu pergi meninggalkan penginapan.
Dari kejauhan Leoniel melihat perempuan yang sangat dia kenal sedang berdiri di depan penginapan.
“Niell,,,,” Teriak perempuan itu, buru buru Leoniel berjalan menuju perempuan muda itu.
“Tarinka apa engkau merindukanku kekasihku, pujaan hatiku??.” Tanya Leoniel pada perempuan dalam dekapannya ini.
“Tentu saja,, aku sangat sangat merindukanmu satu bulan sangat terasa lama, ngomong ngomong aku telah membuatkan mu makan malam, beberapa hari yang lalu prajurit datang ke desa memberikan koin emas untuk warga, Putra Mahkota akhirnya menikah, walau aku sendiri tidak pernah melihat langsung Putra Mahkota, namun aku memberkati pernikahan Putra Mahkota dengan Putri Alesha, semoga mereka di berikan penerus, semoga cinta mereka abadi, sama seperti cinta kita.” Leoniel menegang, wajahnya terlihat dingin menahan amarahnya, sayangnya Tarinka tidak melihat perubahan wajah Leoniel.
“Niel,, apa engkau akan tinggal lama di desa?.” Tanya Tarinka. Leoniel menatap wajah kekasihnya, dia menghembuskan nafasnya berat.
“Sayangnya aku tidak tau, mungkin tujuh hari, atau lebih, atau bisa kurang juga,” Tarinka mengangguk, kekasihnya sang pengembala, dia berkeliling dari satu desa ke desa yang lain untuk melihat pekembangan desanya, lalu melapor pada pemimpin distrik itu yang Tarinka tau.
“Niell,, apa kamu tidak ingin mengajakku untuk berkelana?.” Tanya Tarinka. Sungguh mendengar Niel menceritakan perjalanannya dari satu desa ke desa yang lain, menikmati keindahan alam semesta membuat Tarinka ingin mengikuti Niel.
“Tidak,, aku tidak ingin kamu kenapa kenapa, di luar sana bukan tempat aman untukmu berkelana, setelah aku membereskan bandit bandit dan kekacuan yang ada, aku dengan senang hati akan mengajakmu berkelana, bahkan aku juga akan mengajakmu pergi ke kota,” Tarinka mengangguk, sungguh dia tidak sabar untuk melakukan itu semua.
Di usianya yang ke dua puluh tahun Tarinka tidak pernah keluar dari desa, Myara, Tarinka masih di liputi rasa takut akan kejahatan yang ada di luar sana.
“Emmmm,,, ayo cepat,, kita harus makan, aku sudah lapar,” Tarinka menarik tangan kekasihnya menuju gubuk kecil miliknya, hanya Tarinka yang menghuni gubuk kecilnya ini, orang tuanya telah meninggal karena badit di gunung saat pulang dari kota, beruntung saat ini kerajaan telah memperketat penjagaan hingga para bandit di tumpas habis, walau masih ada satu dua bandit namun tidak separah dulu.
Leoniel menikmati masakan sederhana kekasihnya yang selalu nikmat di lidahnya, setiap apa yang dilakukan Tarinka semunya terlihat indah dimata Leoniel.
Leoniel memiliki alasan tersendiri menyembunyikan jati dirinya, jika dia mengungkap jati dirinya yang sebenarnya mungkin Tarinka tidak akan mau bertemu lagi dengannya.
Leoniel juga tidak mungkin membawa Tarinka pergi ke Istana, walau sang Raja memberikan kebebasan padanya untuk mengangkat seorang peperempuan sebagai selir namun Leoniel tidak akan pernah membawa Tarinka pergi ke Istana, hidup di dalam Istana sama halnya dengan hidup di penjara, terlebih banyak penghuni Istana saling bermusuhan, berlomba lomba menjadi yang terbaik untuk mendapatkan hati sang Raja.
“Gimana makanannya apakah enak?.” Tanya Tarinka, setelah mereka menghabiskan makan malamnya,
“Ini sangat enak, aku ingin setiap hari makan masakanmu, namun apa daya pekerjaanku yang berkelana ke tiap desa dan distrik tidak akan mudah, aku senang bisa mengunjungi kekasihku tiap bulan kemari,” Tarinka tersenyum Bahagia, dia merasa sangat di cintai kekasihnya.
“Aku akan memasakanmu makanan yang enak enak setiap kamu datang mengunjungiku, jadi kamu bisa makan sepuasnya,” Leoniel mengangguk, dia memang jatuh cinta pada Tarinka, wajahnya yang ayu, kebaikan hatinya, senyumnya yang indah mampu membuat sang Putra Mahkota terpikat.
“Lalu dimana Killian, apa dia tidak ikut?.” Tanya Tarinka, biasanya mereka akan datang berdua.
“Killian sedang istirahat di penginapan, mungkin dia kelelahan,” Tarinka mengangguk.
“Apa kau akan menginap disini Niel?.” Tanya Tarinka.
“Tentu, aku akan menemani kekasihku,” Tarinka tersenyum, dia merindukan pelukan hangat Niel, kekasihnya.