Sorak sorak rakyat menggema di pinggir jalan yang dilalui Leoniel dan pasukannya, berita kemenangan melawan pemberontak pun telah menyebar keseluruh penjuru Kerajaan Maratha.
Sepanjang jalan dari benteng pertahanan kota Kerajaan Maratha hingga alun alun Kerajaan Maratha dipenuhi ratyat Maratha yang ingin memberikan selamat dan doa pada Putra Mahkota Leoniel.
Saat ini Leoniel dan prajuritnya telah sampai di gerbang Istana, di dalam Istana mulai dari selir hingga Ratu Maurine menyambut kedatangan Leoniel dan prajuritnya.
Begitu juga dengan Alesha yang baru pertama kali melakukan penyambutan seperti ini, walau hanya berdiri depan Aula bersama Ibunda Ratu dan para Selir namun bagi Alesha ini sangat membosankan, jika saja Fiya tidak memaksanya mungkin Alesha masih duduk di taman paviliun Naga sambil meyulam.
“Salam Yang Mulia Putra Mahkota,” Sapa Alesha, menghampiri Putra Mahkota, atas kode dari Ratu Maurine.
“Hemmmm,,,” Leoniel hanya berdehem, dia tidak memperdulikan keberadaan Alesha, membuat Alesha hanya bisa menghembuskan nafasnya kesal.
“Ibuda Ratu, apa Ibunda baik baik saja?.” Tanya Leoniel pada Ratu Maurine. Karena Leoniel melihat wajah pucat Ratu Maurine.
“Ibunda baik baik saja, Ibunda hanya kelelahan, tidak perlu di fikirkan, lebih baik kalian kembali istirahat, Putri Alesha, ajaklah suamimu istirahat,” Perintah Ratu Maurine. Ratu Maurine memang banyak mengurus beberapa hal di tambah Ratu Maurine sendiri yang turun tangan menyiapkan segala keperluan pernikahan Putranya membuatnya lupa istirahat sehingga tubuhnya yang renta mudah sakit.
“Baik yang Mulia Ratu,, kalau begitu kami undur diri, selamat sore Yang Mulia ratu Maurine,” Alesha memberi salam, namun Leoniel tidak, dia hanya berlalu dari hadapan Ibundanya.
Buru buru Alesha mengejar langkah Leoniel, suaminya itu memiliki langkah yang lebar dan cepat, membuatnya sedikit berlarian. Dayang yang mengikuti Alesha dan Leoniel juga mempercepat langkahnya para dayang tidak boleh terlalu jauh dari sang tuan.
Mereka berdua tidak luput dari pandangan Elleanor dan Pangeran harris, Pangeran Harris muak dengan semua prang yang mengagung agungkan Leoniel sementara Elleanor membenci Alesha, harusnya dia lah yang berada di posisi Alesha mendampingi Putra Mahkota.
****
“Yang Mulia, saya telah menyiapkan air mandi untuk anda,” Baru saja Leoniel dan Alesha sampai di kediaman Leoniel, dayang telah menyiapkan segalanya.
Leoniel meninggalkan Alesha di teras, Leoniel memasuki paviliun dengan buru buru, tubuhnya sudah gerah, dia butuh untuk mandi.
“Apa Putra Makhota akan mandi?.” Tanya Alesha pada dayang yang menyiapkan air untuk Leoniel.
“Yang Mulia,, benar Putra Mahkota akan mandi, ini kebiasaan Putra Mahkota, jika dia selesai berperang dia akan mandi,” Alesha menganguk mendengar penjelas dayang,.
Alesha buru buru masuk kedalam paviliun, lebih tepatnya masuk kedalam kamar mereka.
Alesha mengendap endap menuju tempat pemandian yang terhubung dengan kamar mereka. Dari bayangan yang tertutup tirai Putri Alesha bisa melihat Putra Mahkota sedang berendam. Dengan memberanikan diri, Putri Alesha mendekat.
Baru putri Alesha ingin menyentuh Pundak Leoniel, namun tangan Alesha telah di cekal terlebih dulu.
“Apa maumu?.” Tanya Leoniel.
“Suamiku, aku ingin memijatmu, apa boleh,” Tanya Alesha, selama Leoniel pergi berperang Alesha sempat menghadap Ratu Maurine, dan bertanya apa saja kesuakaan Leoniel dan cara cara melayani sang suami, beruntung Ratu Maurine mau memberinya saran tanpa menggoda Alesha.
Leoniel langsung menoleh ke samping, Alesha mundur satu langkah ketika melihat tatapan Leoniel yang menggelap.
“Apa ini yang diajarkan keluarga bangsawan, sungguh membuat malu,,” Leoniel berdiri, dia tidak perduli dengan tubuh telanjangnya. Sementara Alesha langsung menutup wajahnya.
“Pura pura malu ehh?.” Tanya Leoniel, lebih tepatnya mengejek Alesha.
“Yang Mulia, saya hanya ingin menjadi istri yang baik untuk anda, saya ingin melayani anda, namun jika anda tidak berkenan saya akan pergi, permisi Yang Mulia,” Alesha berbalik, namun tangan Leoniel mencekalnya, menarik tubuh Alesha hingga mereka berdua jatuh kedalam kolam pemandiam.
Alesha berada di atas tubuh kekar Leoniel, pakaian yang di kenakan telah basah, namun bukan itu masalahnya, tatapan mata Leoniel membuat Alesha gugup seteangah mati namun dia mencoba bersikap biasa aja.
“Yang Mulia, tangan anda,,” Alesha merasa ada tangan yang menjamah tubuhnya.
“Bukannya kau tadi ingin melayani suamimu ini, maka saat ini kau harus melayaniku,” Tanpa perasaan Leoniel menyobek pakaian yang dikenakan Alesha membuat bagian depan tubuh Alesha terlihat dengan jelas.
Bibir Leoniel langsung mencecap leher jenjang milik Alesha, sementara Alesha hanya terdiam menikmati semua kenikmatan yang diberikan Leoniel, sungguh Alesha tidak bisa lagi berfikir jernih.
****
Malam ini langsung di adakan makan malam bersama, semua penghuni Istana, mulia dari Raja, Ratu hingga para selir tinggat tiga yang jarang ikut keperjamuan resmi pun datang, Raja Lucio sangat menyayangi Putra Mahkota, apapun keberhasil yang di lakukan Putra Mahkota, Raja Lucio selalu membuatkannya pesta walau hanya sekedar jamuan makan malam.
Tentu saja hal ini membuat para Pangeran dan Putri merasa iri, akan tetapi mereka tidak setangguh Putra Mahkota, tidak secerdas Putra Mahkota, jadi mau melawan pun mereka tidak akan sanggup.
Semua orang telah berkumpul di ruang makan besar yang mampu menampung puluhan orang penghuni Istana, namun sang pemilik pesta belum menampakan batang hidungnya, siapa lagi kalau bukan Putra Mahkota.
“Kasim Prama, dimana Putra Mahkota dan Putri Alesha?.” Tanya Raja Lucio.
“Yang Mulia, Putra Mahkota dan Putri Alesha sepertinya masih di kediaman Putra Mahkota, saya akan meminta dayang memanggilkan mereka.
“Tidak perlu, biarkan mereka menikmati waktu mereka, lebih baik kita mulai makan malamnya, bukan begitu Ratu?.” Raja Lucio meminta pendapat sang Ratu.
“Tentu Yang Mulia,” Balas Ratu Maurine disertai senyum tipisnya.
Selir Kaira dan Pangeran Harris telah jengah dengan Raja dan Ratu, namun mereka harus menampilkan wajah mereka sebaik mungkin, Ibu dan Anak itu sedang menyusun rencana untuk menghancurkan Putra Mahkota, dan juga Ratu. Ambisi mereka sangat besar hingga mereka lupa akan posisi mereka seharusnya berada.
****
Leoniel dan Alesha baru saja menyelesaikan aktivitas mereka, entah berapa lama Leoniel menggagahi istrinya namun dia belum merasa puas, memang Leoniel memiliki libido yang cukup tinggi jadi dia tidak akan puas jika sebentar.
“Apa bisa jalan?.” Tanya Leoniel, Alesha masih terduduk di dalam kolam pemandian, sementara Leoniel telah membilas tubuhnya, dan kini telah menggunakan jubah mandinya.
“Mungkin bisa Yang Mulia,” Alesha mencoba untuk berdiri dengan berpegangan pada tepi kolam pemandian.
Alesha dengan sisa tenaganya mencoba untuk berdiri, namun kakinya lemas, hingga dia hampir terjaatuh, untungnya Leoniel sigap menompang tubuh Alesha.
Leoniel membantu Alesha membilas tubuhnya, sungguh Alesha sangat malu untuk saat ini, namun mau bagaimana lagi, meminta dayang masuk ke pemandian lebih memalukan.
“Apa istriku kelelahan?.” Tanya Leoniel ketika dimenyabuni tubuh belakang Alesha yang putih dan lembut, membuat Leoniel betah untuk memandanginya.
“Tentu tidak Yang Mulia, tugas saya memang melayani anda, dan membantu anda dalam pekerjaan di dalam istana,” Balas Alesha, walau memang tubuhnya cukup lelah, namun dia tidak akan mengatakan secara langsung pada Leoniel.
“Yang Mulia, apa anda menginginkan seorang putra atau putri??.” Tanya Putri Alesha tiba tiba membuat Leoniel menghentikan usapannya pada punggung Alesha.
“Entah,, aku tidak tau,” Balas Leoniel.
“Berbilaslah sendiri,” Leoniel meninggalkan Alesha di pemandian seorang diri, namun Alesha tidak memperdulikan sikap Leoniel, Alesha buru buru membilas tubuhnya yang penuh dengan busa, lalu mengenakan pakaian tidurnya, berjalan pelan pelan menuju tempat tidur, tubuhnya lelah minta untuk di istirahatkan.
Leoniel juga menyusul Alesha tidur, setelah menemui Killian di tempat rahasia, mereka berdua melupakan malam makannya, dan juga perayaan yang di buat untuk Leoniel.
Pagi pagi Alesha terbangun namun, Leoniel tidak ada disampingnya, kemana Putra Mahkota sepagi ini. Tubuh Alesha remuk redam, percintaan semalam dengan Leoniel membuatnya gila, sentuhan sentuhan yang memabukan, membuat Alesha yakin jika Leoniel menginginkannya menjadi istrinya.
Apakah secepat ini dirinya jatuh cinta dengan suaminya, hanya kurun waktu empat hari setelah mereka menikah.
“Selamat pagi Putri Alesha,” Dayang Fiya memberi salam pada Alesha.
“Selamat pagi,” Balas Alesha.
“Putri Alesha, saya bawakan sarapan untuk anda,” Fiya menaruh sarapan untuk Alesha di meja tempat biasa Alesha makan,
“Aku akan bersih bersih dulu,” Fiya mengangguk, dia dan dayang lainnya langsung membereskan kamar Alesha sementara Alesha mandi, mulai dua hari yang lalu Alesha meminta bahkan mungkin memohon pada pelayan untuk tidak ada yang membantunya mandi, walau sempat ada penolakan dari Fiya dan dayang lainnya, namun Alesha berhasil meyakinkan mereka bahwa semunya baik baik saja, tidak ada yang tau, kalau mereka tidak buka suara.
“Ohhh iya Fiya,, dimana Putra Mahkota?.” Tanya Alesha.
“Menjawab Yang Mulia, Putra Mahkota sedang pergi ke desa Myara sepertinya disana sedang ada pemberontakan,” Jawab dayang Fiya dengan sedikit ke gugupan, namun Alesha tidak menyadarinya dan masuk kedalam pemandiam seorang diri.