Mereka bukanlah wanita yang super kuat sehingga setiap masalah yang datang kepada mereka dapat mereka atasi yang ada mereka hanya bisa tersenyum ketika badai masalah kelihatan begitu sempurna di depan mata mereka yang tampak tidak seberapa itu.
Mereka menatap ke depan dengan tatapan yang tampak lebih waspada lagi karena ini menuju subuh banyak sekali.marah bahaya yang mungkin akan mendekat kepada mereka, entahlah entah itu dari segi kerohanian dan juga fisik mereka selalu menatap setiap sosok yang berbeda dari mereka.
"Apa yang sedang terjadi? kenapa kalian seperti ini ayoklah kita akan terus berjalan sampai matahari kembali terbit, sepetinya kita tidak akan selama saat melakukan perjalanan pulang," ucap Elica kali ini dia berbicara dengan untaian bibir yang tampak lebih kas.
Dan yah mereka kelihatan sangat lelah sepertinya ini sudah menjadi efek kerah bagi mereka tidak ada kata tidak sebelum mereka saat ini menjauh dari setiap bagian yang jauh.
"Apakah tidak ada bekal lagi, aku sudah sangatlah lapar kali ini," ucap wanita itu dia dengan wajah yang tampak lebih mendua terlihat lebih rendah hati dia yakin setelah melakukan semua ini dia terdiam akan mendapatkan sesuatu juga entah itu buah ataupun roti.
"Apakah kamu sangatlah lapar?" Samantha kali ini berhenti berjalan dia tengah merasa bersalah kepada ketiga orang ini.
"Ya, seandainya ada restoran di tengah hutan ini maka semahal apapun makanan itu kami akan membelinya kami akan makan dan melahapnya dengan bagus karena ini adalah bagian yang sepertinya sudah menjadi pilihan bagi kami," dia mencoba membahas semuanya dengan baik dan telaten karena ini akan menjadi pilihan yang baik.
Dengan tatapan mata yang sendu Samantha kali ini meminta mereka untuk kembali duduk dan dia akan mencari makanan, dengan berjalan melewati semak-semak kali ini mereka akan memasuki titik di mana keberadaan dari makanan itu.
Samantha lantas pergi mereka juga melihat kepergian Samantha kali ini, setelah merasa bahwa kehadiran Samantha tidak lagi cepat berada di posisi mereka kali ini dia dengan senang hati mencoba untuk menatap ke depan lagi.
"Kenapa dia begitu baik kepada kita bukan?" lirih Casilda.
Bola mata Casilda menatap lebih heran lagi kepada Rachel yang tengah tertidur pulas bagaimana mereka bisa seperti ini, astaga sepertinya ini bukan menjadi satu kesalahan lagi kalau sewaktu-waktu dia juga marah seperti apa yang dilakukan oleh Samantha tadi yang tengah kesal kepada mereka.
Dengan napas dan sanjungan dia mencoba untuk menahan segala pergerakan yang datang dari apapun itu, dia hanya mengajak berbicara Elica yang juga bingung dengan apa yang tengah terjadi itu.
"Apakah yang kamu lihat? Yah dia sudah terbiasa pulak dengan seperti itu, karena lelahnya dia bahkan tidak sanggup untuk melakukan apapun itu."
Elica hanya diam dia tidak tahu lagi harus mengatakan apapun itu, yah selagi kali ini tidak ada apa-apa mereka pasti akan saling tatap menatap.
"Lihatlah kenapa Samantha terlihat seperti orang baik?"
"Apakah kamu bodoh, dia memang sudah baik dari dahulunya tetapi kamu tahu dengan jelas juga bukan bahwa dia memiliki segalanya tetapi tidak dengan kasih sayang, lantas untuk apa dia bahagia?"
"Yah, kamu benar tetapi apakah yang bisa kita lakukan sebagai seorang saja yang tidak tahu martabat?" tanya wanita yang saat menundukkan kepala.
"Yah, setidaknya kita jangan menambah sensasi kepada dia, bukankah hal yang utama dan terutama adalah membuat peringati bagi kita sendiri?"
"Peringatan apakah yang kamu maksud?"
"Yah, saya merasa kita tidak perlu membahasnya sekarang bukan?"
"Tidak apa-apa tetapi saya tidak menginginkan apapun itu kecuali membutuhkan bantuan dadi apapun."
"Katakan saja bantuan apa yang kamu inginkan, saya sebagai Casilda akan menolong kalian berdua yang penuh dengan segala dusta tipu muslihat,"
Dan kenapa Casilda tiba-tiba bangun apakah dia sudah lelah ketika mendengarkan mulut mereka semua sudah terbuka? mereka mencoba lebih terdiam sepertinya ini bukan lagi satu hal yang baik melainkan mereka bisa sempurna.
Setelah setengah jam bercanda ria kali ini suara tengah mendarah ke arah kuping mereka perlahan namun pasti sepertinya ini akan membawa dampak yang sangat greget kepada mereka, lihatlah saat ini mereka juga saling berpelukan karena semakin lama semakin dekat pulak suara kaki itu.
"Bukannya aku mau menakutkan kalian tetapi kemana perginya Samantha sepertinya dia akan membuang nyawa kita kali ini," keluh dari Casilda.
"Jangan banyak bicara sepetinya anda belum tahu membaca situasi aku sepertinya akan mencekik dirimu," ucapnya saat ini dan dia hanya bisa mengeluarkan deretan gigi yang tidak bersinar lagi.
"Diam kamu Elica, mengapa sekarang malah mengoceh," risih Rachel saat dia merasa bahwa perkataan dari si wanita itu sedikit tidak enak di dengarkan nya.
Beberapa menit tengah berlalu dan kini sepertinya mereka tidak lagi mendengarkan jejak kaki itu, mereka mulai melepaskan pelukan dan menutup mata satu harapan mereka ke depannya semoga tidak ada kesalahpahaman di antara mereka dan juga jejak kaki itu.
"Tolonglah kami dari marah bahaya yah tuhan," ucap Rachel dia kali ini paling takut keringat dingin kembali mencengkram suasana yang tengah terjadi di tempat itu.
Dedaunan yang lebat rasanya kalau di hutan tidak akan menjadi sebuah pondok besar tetapi ini adalah cobaan yang sangat besar memang hujan tidak datang, tetapi bukankah saat ini suatu hal yang mudah bagi mereka untuk berlari dan menghindari gejolak itu?
Tetapi mereka malah mendadak tidak tahu harus berbuat apa lagi karena ini sudah pasti orang yang tidak bisa di lihat itu mereka berteriak dengan sekencang mungkin dan mencoba menoleh tangan apa yang bersandar pada bahu mereka meskipun ada rasa yang tidak mau dia yakin ini akan menjadi sebuah berkah bagi mereka nantinya, setidaknya ada kenangannya yang harus di lanjutkan.
"Mengapa kamu seperti ini? ayo kembali pulang jangan sekali lagi melakukan perjalanan yang jauh," ucap Elica dengan suara yang datar dan juga ekspresi wajah yang tidak sanggup lagi mengatakan apapun itu.
Setelah melihat wajah yang di belakang dia berlari dna memutuskan untuk meninggalkan semua barang-barang yang dia punya tetapi belum juga jauh jaraknya Samantha datang dan menyelamatkan mereka semua dari orang yang tidak terlihat itu.
"Apakah yang kamu inginkan, kenapa begitu mendadak datang kepada kami?"
Dia bertanya dan juga heran teman-temannya siapa yang sedang Samantha ajak untuk berbicara tetapi sekarang itu tidak hal yang penting yang terpenting adalah mereka bebas untuk bernapas meskipun masih sangat sulit semuanya.
"Apakah kamu sudah mengusir dia jauh Samantha?" takut mereka semua dan Samantha hanya bisa diam serta menggeleng kepala.