TIDAK PERLU KHAWATIR

1007 Words
Beberapa menit telah berlalu dan mereka telah mengetahui apa yang tengah terjadi, Samantha selalu kesal dengan hari Senin pasalnya dia selalu bosan entah di mau makan atau pergi belanja selalu saja dia tidak memiliki teman, lantas apakah yang bisa dia lakukan? Dia menatap ke depan dengan tatapan kejam dia juga tidak mengetahui apa yang sekarang ini sedang terjadi kenapa ayah nya tiba-tiba datang kepada dirinya dan juga mengatakan sesuatu hal yang benar-benar dia hindari selama ini. "Apakah kamu tidak pergi ke luar untuk berkencan?" tanya ayahnya dan benar saja bola mata dari wanita itu seketika membelalak tidak mengerti apa yang menjadi maksud dari ayahnya. Dia duduk menyeret dengan suka hati dirinya tempat duduk itu yah dia tidak bisa sama sekali menghargai hal itu karena sejak kapan seorang Robert menghargai dirinya dan sejak kapan dirinya bisa di berikan kasih sayang serta perhatian yang baik kepada mereka? Beberapa menit telah berlalu dan kali ini tatapan mata itu masih belum berubah mereka masih bisa mengatakan ini sebagai sebuah perkenalan saja. "Kenapa kamu menatap aku seperti itu?" tanya Robert dengan bahasa anak gaul. "Saya rasa inti dari pertanyaan yang ayah berikan itu apa?" tanya Samantha dia cukup lelah dengan semua ini. "Ayah ingin kamu segera menikah, apakah kamu puas?" Deg, bertahap dan saat itu juga dia tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam kali ini dia juga tidak mengetahui apakah ayahnya benar-benar serius mengatakan itu atau entahlah dia hanya mengatakan ini menjadi sebuah kalimat yang sama sekali tidak memiliki kejelasan. "Apakah ada yang lawak sehingga kamu tertawa seperti itu kepada dirinya?" tanya ibunya Bella datang dari belakang dan menepuk pundak dari Samantha. Bukannya memberikan senyum di pagi ini tetapi dirinya malah menghembuskan pundak yang tadinya di pegang oleh wanita itu, dan begitu juga dengan wajahnya yang sama dia berikan ekspresi nya kepada wanita itu. "Kenapa kamu sepeti itu Samantha bukankah apa yang dikatakan oleh ayah mu adalah salah?" Wajahnya sedikit cemas dia bertanya kepada Samantha dengan wajah yang sepertinya tidak begitu bagus hasilnya. "Apakah saya pantas untuk menikah kalau suatu saat nanti saya masih memberikan kepada anak saya kasih sayang yang kurang?" "Apa maksud kamu apakah kamu tidak kami berikan segalanya?" Mereka berdua saling berdiri dan menghentakkan kaki masing-masing sudah tahu dia adalah anak yang pertama tetapi kenapa masih di lawan? Robert salah dia salah kalau memilih tempat untuk bercengkrama itu dengan wanita yang telah dia datangkan ke bumi manusia ini. "Apakah yang kalian lakukan sehingga dapat menikahkan saya?" dia tertawa degan mirisnya wajah yang dia keluarkan. "Sudah? apakah kamu masih mengatakan bahwa kami tidak memberikan kamu kasih sayang? lantas selama ini dengan semua yang kau pakai ke kampus dan menghabiskan uang ke mana-mana kau mau? apa namanya itu?" Dia mengibaratkan seorang Samantha adalah barang yang bisa di belikan dengan barang, karena tidak senangnya dirinya kali itu dia membawakan beberapa hal yang perlu di bawa dari kamarnya dia berlari dengan kecepatan yang tampak lebih lihai dia kembali lagi. Memberikan dompet dan juga semua kartu rekeningnya dia juga memberikan kunci mobil itu tidak dengan cara yang baik dia malah melemparkan itu di depan kedua orang tuanya dengan sedikit perkataan yang cukup membuat pening mereka. "Apakah kalian dapat mengukur kasih sayang kalian semenjak aku lahir sampai kalian dengan tenangnya menginginkan aku ingin menikah?" tawanya dia juga tidak habis pikir dengan apa yang terjadi di saat-saat seperti ini. "Apakah yang kamu inginkan semuanya telah kami berikan lantas apakah kamu masih mau menolak permintaan kami?" tanya Robert seketika nada suaranya kembali berubah menjadi sendu. Bukannya apa-apa tetapi kali ini dia tidak tahu lagi harus mengahadapi lelaki yang tidak tahu sopan ini, dia hanya terdiam pasalnya ini adalah suatu hari di mana ayahnya bisa berkata lembut kepada dirinya saat dia meminta. Karena juga bujukan dari Bella dia Tidak mengetahui laju pertumbuhan yang dia inginkan dia hanya terdiam dan menangis untuk saat itu dia juga meneteskan beberapa tetesan air mata di depan kedua orang tuanya rasanya ini terlalu rumit untuk di jelaskan. Di sisi lain kali ini lelaki dengan setelan kemeja yang dia pakai tengah berjalan ke arah rumah yang besar itu dengan langkah kaki yang tampak lebih cepat dia juga sedikit gugup tetapi apakah yang bisa dia lakukan kecuali terdiam dan menatap segalanya dengan sendiri. "Kenapa kamu malah menangis?" tanya lelaki yang baru datang itu dari belakang dan dia menepuk pundak dari wanita yang bahunya sedang naik turun itu. "Siapa ini?" dia menoleh dan betapa terkejutnya dirinya ketika saat itu melihat di mana dia bisa melihat titik yang paling dia inginkan titik yang membuat dia merasakan bahwa cinta itu benar-benar ada. "Apakah Paman belum memberitahukan kepada dia?" tanyanya dan saat itu wajahnya seketika kembali lagi terdiam. Beberapa menit setelah semuanya kembali lagi terdiam dan lebih tepatnya Samantha menangis di dalam kamar saat dia mengatakan kepada ibunya bahwa dia akan menerima perjodohan konyol ini tetapi kenapa dia juga belum menghilangkan rasa itu kepada lelaki yang baru saja datang ke rumahnya? Dia juga merasa ini bukanlah menjadi sesuatu yang buruk dia hanya ingin melihat lelaki itu lebih lama sebelum dia mengikat janji dengan lelaki yang menjadi pilihan ayahnya, selalu saja hanya bersandar kepada dirinya kenapa dirinya bisa seperti ini di atur seperti boneka sedangkan dia juga belum mendapatkan kasih sayang yang bagus lantas untuk apa semua ini? "Apakah kamu sudah memilki cinta pertama?" tanya ibunya datang mengetuk pintu dari Samantha yang tengah berdandan sedari tadi tetapi belum juga siap. "Apakah kamu menangis lagi?" tanya wanita itu dia benar-benar mengingat masa lalunya dengan wanita yang sedang berada di dalam pelukannya. Dengan segala kekuatan hati dia kembali lagi mengatakan kepada dirinya bahwa dirinyalah kuat namun kenapa tetesan air mata itu kembali lagi membuat dirinya tampak tidak bersemangat lagi? "Bu, saya tidak tahu lelaki seperti mana yang kalian pilih kepada saya yang terpenting saya batu saja beberapa bulan wisuda kenapa begitu mendadak untuk mengikat janji?" Dia bertanya seakan-akan belum menerima kenyataan ini secara langsung, dia terdiam dan beberapa menit menjawab pertanyaan dari ibunya. "Untuk lelaki yang di depan apakah kamu merasa itu sudah cocok?" tanyanya dan kali ini dia membuat bola mata dari Samantha mendadak berbinar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD