BERDUA DENGAN NYAWA

1008 Words
Entahlah dia harus menamai ini sebagai sebuah bayangan di atas cermin. Sosok Samantha baru saja menyadari apa yang baru saja terjadi dia terheran-heran dengan apa yang dia lakukan entahlah namun semua ini adalah salah satu hal yang sangat bagus untuk dirinya. Dia menatap cermin itu sekali dan dan mulai membuka mulut ria rasa kalau seperti ini dia bisa yakin semuanya berjalan dengan lancar. "Apakah saya keterlaluan?" Dia rasa untuk bersikap tegar tidak bisa lagi dan saat ini benar-benar kepalanya sudah menunduk dan wajahnya sudah mengeluarkan ekspresi yang sangat tidak begitu penting. Air matanya mulai bercucuran,"kenapa seperti ini?" tanyanya di ambang kesedihan yang menyelimuti hatinya sedari tadi. "Aku rasa aku tengah keterlaluan tetapi kenapa aku selalu merasa bersalah." "Aku pantas melakukan hal yang seperti itu, aku juga pantas di sebuah tempat yang layak untuk di huni." "Jangankan untuk membuat mu tersenyum membuatmu nyaman saja aku sudah enggan ayah, ibu," ucapnya dan di temani dengan derasnya air mata yang saat itu membasahi pipinya. Bukan apa namun kenapa sekarang ini dirinya semakin tidak terarah lagi? dia membuat senyum yang dahulu bisa cerah tetapi sekarang ini malah bertambah runyam lagi. Di satu sisi Rachel termanis sedang duduk di pinggiran kolam dia merasa bahwa setelah pulang dari perjalanan itu kasih sayang orang tuanya semakin membludak kepada dirinya, entahlah dia hanya mengucapkan syukur kepada Tuhan karena sekarang ini dirinya masih bisa berdiri di tempat yang lebih baik. "Kenapa?" "Tidak apa, bunda," dia kedatangan sosok bunda yang baru saja kembali dari arah dapur. "Kenapa? apakah kamu bisa bermain bersama saya Bu?" tanya Rachel dia menarik pergelangan tangan dari bundanya. "Ayok, mari kita bermain karena ini adalah waktunya untuk kamu selebihnya adalah istirahat kami," ucapnya dan kembali merasakan semua ini lebih dalam lagi. Kehangatan yang dia dapatkan sepertinya sangatlah sudah cukup lihat saja wanita yang sekarang ini sedang bermain suram air di pinggiran kolam rasanya melebihi apapun itu, mereka merasa bahwa saat ini tidak apa tidak baik yang terpenting dapat di jalani terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian kali ini semuanya berjalan sangat cepat tidak apa jika tidak sesuai dengan keinginan mereka namun untuk melihat ke depan adalah salah satu tujuan utamanya dia hanya ingin mengatakan bahwa ini adalah salah satu hal yang baik. Di dalam kamar yang lampunya kelap-kelip dia mencoba menarik kedua matanya dia yakin bahwa setelah tidur akan merubah suasana kesenangan hatinya, dan yah benar saja dia kembali mengingat wajah dari Samantha yang selalu merindukan komentar di mana dia harus berada di posisi ini. Dia mencoba menatap ke depan dengan tatapan rendah dia yakin setelah semua ini dia bisa bebas dari apa yang ada di dalam pikirannya. "Ada apa dengan diriku ini? jangan selalu membanding-bandingkan dirimu dan juga dengan Samantha, Rachel kenapa kamu begitu bodoh," dia mulai meruntuki dirinya sendiri. "Sialnya aku tidak tahu harus mengatakan apapun selain kasih sayang yang sangat kurang di dapatkan oleh Samantha," ucapnya dan dia berhasil membuat dirinya sendiri merasa bersalah melebihi dari batas apapun itu. Beberapa menit telah berjalan dia masih belum bisa merasakan kehadiran yang menenangkan melainkan dia kembali merasa resah tentang semua ini dia heran apakah saat-saat seperti ini dapat membuat dirinya merasa kembali nyaman? Karena tidak bisa tertidur akhirnya dia membaca salah satu buku novel yang berjejer di dalam kamarnya. Dia juga senang mengoleksi barang apapun itu maka dari itu kedua orang tuanya selalu saja mengatakan kepada dirinya bahwa untuk kali ini mereka memaafkan putrinya karena boros sekali. "Aku lebih baik berdiam karena semua ini tidak lagi mempunyai sangkut paut kepada kalian berdua," dia mulai membaca sebait kalimat dari buku pertemuan itu. "Pertemuan?" dia kembali mengulang kata itu karena tidak percaya dengan kata pertemuan. Dia membalikkan buku itu rasanya sangat enak sekali hingga matanya mengantuk kembali dia juga hanya sadar bahwa sekarang ini satu hal yang membuat dia bisa berada di alam mimpinya yaitu novel yang membangkitkan semangatnya. Dia tergiur dengan banyaknya deretan kalimat di novel itu sehingga pada akhirnya dia bisa tertidur dengan nyenyak seperti ini. Satu hari berlalu dengan cepat semuanya berjalan dengan begitu lancar dan kini wanita dengan highels yang berwarna merah itu kembali datang ke restoran yang paling besar di kota Jakarta itu, bukan apa-apa namun saat ini satu hal yang membuat dia merasa tidak nyaman dia hanya ingin terlihat lebih cantik lagi dengan topeng yang saat itu mereka temukan mungkin setidaknya dia lebih indah dan terlihat awet saat itu. "Apakah ada yang kurang dari aku?" Dia bertanya kepada wanita yang tidak penuh seperempat dari kecantikan yang dia miliki. "Apakah yang harus aku jawab?" dia menatap Casilda dari atas sampai bawah benar-benar pandangan itu melebihi segalanya. "Perfect?" tanya wanita itu sekali lagi karena dia juga tidak tahu harus mengatakan apalagi selain heran. Setelah mendengarkan kata sempurna dari mulut wanita itu dia hanya merasakan kenyamanan yang paling indah dia bisa seperti ini karena rasanya tidak baik kalau tidak melakukan hal yang bodoh. "Setelah saya pikir-pikir saya sudah cantik," kaki ya melangkah lebih maju ke arah depan dengan tatapan percaya diri melewati semua orang yag berada di restoran itu. Harumnya parfum dan juga suara detakan highels itu membuat tatapan semua orang yang berada di tempat itu kembali terarah dan sepertinya ini akan lebih baik lagi dia akan menjadi salah satu bagian yang paling diinginkan. Di dalam hati dia malah merasa bahwa ada yang kurang dari pada dirinya karena saat ini dia hanya mengatakan untuk tetap berdiam dan tidak menoleh ke samping kiri dan kanan. "Buat apa semua ini kamu katakan?" tanyanya dan kembali menatap ke depan tepatnya ke pramusaji itu. "Baik," ucap pramusaji itu datang dengan langkah yang pelan dan juga kepalanya yang tegap. Casilda tidak tahu entah dia salah memangil ataupun tidak namun satu hal yang dia inginkan sekarang ini dia hanya ingin merasakan bagaimana masakan dari restoran ini, kata sebagian orang ini adalah restoran Ter enak maka dari itu dia bersedia melakukan perjalanan satu jam jauh-jauh ke sini hanya untuk makanan ini. Setelah selesai memesan dia kembali merapikan make-up nya ke dalam kamar mandi dan tidak dia duga ada sosok lelaki yag mengikuti dia dari belakang sia masuk dan hanya merasakan itu sosok bayangan yang tidak perlu lagi untuk di lihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD