Keanehan mulai terjadi saat itu tidak ada yang bisa mengatakan bahwa ini semua terjadi secara kebetulan, semua konsep itu salah total dan demikian juga kepada mereka berdua tidak ada kata lain selain mencoba menghapuskan rasa sakit yang telah ada.
Memutuskan untuk beristirahat sebentar tidak ada lagi penjual nasi di tempat ini, namun mereka harus melihat matahari yang hampir terbit sungguh ini adalah perasaan yang tidak ada pada mereka lagi, tertawa dan melupakan segala kelelahan adalah salah satu hal yang paling mereka inginkan.
"Apakah yang saat ini terjadi?" tanya Samantha ketika dia keluar dari mobil.
"Tidak lihatlah kamu? ini adalah parkiran terahkir kita kalian harus ingat lokasi ini bagaimana pun juga siapa tahu kita tidak bisa bersama pulang, maka dari itu kunci saya letakkan di bawah ini," ucapnya dan membuat ini terasa lebih nyata.
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu?" bentak Rachel dengan wajah yang sangat Tidka senang dengan apa yang dikatakan Elica.
"Mengapa kamu seperti itu? bukankah kita harus pulang bersama karena kita telah datang bersama juga?" tanya Samantha dia benar-benar di buat ambigu oleh keadaan.
Kali ini Casilda yang sok-sokan ingin menggunakan lawaknya ke tempat yang seperti ini, namun rasanya sudah sia-sia bukan? kali ini dengan wajah yang tampak lebih santay dia memasuki mereka bertiga tempat mereka tadi saling berkompromi.
"Apakah kalian tidak tahu ini semua hanyalah kompromi dan nasihat," lelahnya dengan mulut yang berbentuk oval saat mengatakan itu.
Beberapa saat telah berlalu dan kini bola mata mereka masih saling menatap satu sama lain, hingga Casilda lagi-lagi menggunakan apa yang dimaksud dengan jurus anti pendiam.
"Hey apakah kalian tahu bahwa di sini tida seperti yang kalian," ucapnya terpotong karena saat itu dia yakin dengan senyum yang tengah di berikan oleh Samantha.
"Diam kamu atau kami tendang sampai di Jakarta, buatlah pilihanmu," dia malah mengatakan seperti itu kepada Casilda.
Casilda hanya bisa tertawa merencanakan bagaimana konsepnya dia di lempar ke tengah Surabaya dan Jakarta, tetapi entahlah dia harus yakin dengan apa yang dia miliki bukan apa yang tidak dia miliki.
Sebelum benar-benar pergi dan kini Elica memperjelas sesuatu yang ada pada pikirannya sedari tadi dia yakin bukan masalah tentang apa-apa tetapi masalah akan dirinya.
"Kenapa dengan kalian?"!tanya Elica dia menepuk pundak dari Rachel dan juga Samantha.
"Bukankah ini yang kamu mau? kalian hanyalah diri kalian masing-masing."
"Mungkin kita sampai di tengah hutan secara bersama tetapi yang tida mungkinnya kita dapat pulang ke rumah secara bersamaan."
Itu, adalah hal yang sangat di benci oleh dirinya sendiri mengatakan itu sama seperti melemahkan mental dari mereka bertiga dan kali ini Samantha ingin melawan semua yang terjadi itu dah semua perkataan busuk yang keluar dari mulut dia.
"Apakah kamu yakin dengan teori yang kamu berikan?" Samantha dengan suara yang kerasa berkata.
"Apakah semua ini perlu di ambil emosi?" Casilda berkata tetapi dia tidak di akui lagi.
"Sudahlah ini semua hanyalah salah paham jangan seperti itu teman, kita hanya perlu sampai ke tujuan dengan selamat bukan?"
Semua hal yang baik telah mereka katakan tetapi mereka juga tidak harus mengatakan yang tidak-tidak. Sebenarnya ini bukan kesalahan namun dia akan memperjelas semua ini dengan baik dia harus yakin dengan apa yang dia miliki.
"Tidak, Rachel, Casilda dan juga Samantha sebelum kita lebih dalam lagi memasuki hutan itu apakah kalian mau mendengarkan penjelasan yang aku berikan dengan kepala dingin?" tanyanya dan kembali menyenderkan tubuhnya di balik mobil itu.
Baiklah, sepertinya mereka mulai luluh dengan segala sikap yang diberikan oleh Elica, termaksud dengan Samantha yang sebenarnya tida mau mendengarkan semua itu, dia takut kalau terjadi apa-apa yang tidak baik.
"Entahlah aku juga bingung dengan apa yang aku katakan, namun izinkan diriku mengatakan apa yang sedari tadi ingin aku katakan.
"Baiklah, lanjutkan," dengan wajah judes Samantha terpaksa harus memberikan izin kepada wanita ini.
"Apakah kita dilahirkan ke dunia ini memiliki nasib hidup yang sama?" tanya Elica.
"Tidak." Mereka berempat berucap demikian.
"Yah, kalian tahu soal dan jawaban juga kalian tahu lantas di mana kalian yang bingung?" tanyanya dengan nada suara yang sedikit pasrah.
Tidak ada jawaban sama sekali dan kali ini sudah tiba waktu Elica mengutarakan apa yang ada di dalam otak-otak hatinya.
"Kamu tahu? boleh saja kita dilahirkan ke dunia ini dalam waktu yang sama tetapi apakah kamu tahu? bahwa kita tidak memiliki garis yang sama bisa saja Rachel yang pertama mati," ucapnya dan dia segera terbayang pada tetesan darah yang ternyata menempel di belakang mobil mereka.
Dan yah satu kesalahan yang sangat besar sekali, tidak ada kata yang tidak mungkin antara hidup dan mati semuanya telah di atur oleh yang maha kuasa.
Akhirnya setelah mendengarkan penjelasan itu mereka melihat jam tangan yang masing-masing berada di pergelangan tangan dan segera mencoba tetap tersenyum di tengah jam yang mulai mepet.
"Jam tiga subuh, apakah kita melanjutkan perjalanan atau berhenti di sini?" tanya mereka semua.
Sepertinya tidak ada kenangan kalau seperti ini maka dari itu mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan nyanyian yang mereka tengah hapal semua dan dengan senyum yang mulai memudar.
Mereka berjalan dan tidak terasa karena semangat yang tengah mereka miliki menjadi sebuah konflik di tengah konflik, tidak ada angin dan tidak ada apapun itu tetapi mengapa mereka berhenti?
Yah, mereka berempat berhenti dengan tangan yang mulai gentar dengan semua ini entahlah tetapi satu hal yang Elica yakini bahwa ini sudah menempati pukul empat subuh.
Dia segera melihat jam tangannya dan benar saja sudha jam setengah lima, dia harus menyalakan api atau pohon itu yang akan memakan mereka, melihat sikap antusias dari Elica sempat membuat mereka heran akan apa yang terjadi, namun saat itu juga Samantha membantu membawa ranting-ranting pohon itu.
"Cepat kan Samantha waktu kita tidak banyak," ucapnya dengan suara yang sedikit lebih besar.
"Apakah yang kamu maksud!" tanya Rachel dan dia hanya mengambil korek api serta membantu mereka tanpa tahu tujuan dan arah.
Lantas dengan pohon yang tidak memiliki batang tetapi bisa berdiri itu adalah salah satu keunikan yang ada di tengah hutan ini, tak jarang seorang yang suka hiking tidak mengetahui itu.
"Api menyala dan lantas bantu kami keluar dari jalan sesat ini," ucap Elica dengan suara keras dan dia melemparkan satu ranting yang sudah di panggang oleh api sedari tadi.
"Apa?" mereka bertiga heran dengan bola mata yang sangat tajam.