SAMPAI DI HUTAN

1034 Words
Bukan, ini buka maksud Elica dan juga hatinya untuk berbohong namun dia hanya mengigit apa yang ada di atas lehernya dia rasa bahkan ini tidak benar lagi dia harus menyelesaikan semua ini perlahan namun pasti. Perlahan namun pasti dan kali ini dia mencoba untuk menahan rasa sakit yang tengah dia rasakan di atas kepalanya, dia juga takut kalau ini termaksud sesuatu yang dia hindari, dia menatap ke depan dengan tatapan lurus dan tajam mencoba memberikan kode kepada mereka. "Ada apa Elica?" tanyanya dengan suara yang sendu. "Jangan lihat ke belakang terus berjalan biarkan saja saya seperti ini cepat jangan menoleh," ucapnya dengan suara yang dia pelan kan takut membangunkan semua mahluk yang berada di dalam hutan ini. perjalanan tetap berlangsung dan saat ini mereka semua tetap menjadi diam seperti apa yang diinginkan oleh Elica tadi, lebih baik seperti ini bukan? Samantha memang bukan wanita yang bisa di ajak berbicara baik-baik namun melakukan semuanya dengan baik mungkin akan membuat dia terasa lebih hidup lagi. "Ada apa dengan semua ini? apakah kamu masih belum bisa menoleh ke samping?" Samantha kaki nya sungguh keram karena tidak bisa melangkah lebih depan lagi. "Tidak, jangan melawan perkataan aku segera berjalan mengikuti arah mata angin jangan menoleh sebelum aku meminta, apakah kalian bisa menurutinya?" geramnya dengan begitu hebat. "Baiklah, jangan ngengas bisa juga nggak sih?" tanyanya dengan suara yang sedikit lembut. "Entahlah apakah kamu mau jelangkung datang kepadamu di malam hari dan di tengah hutan seperti ini?" Elica benar-benar takut namun dia tidak boleh lemah dia harus kuat apalagi hanya di yang dapat di andalkan di tempat ini dia juga adalah salah satu orang yang dapat melihat mahkluk halus, dengan langkah yang pelan dia berhasil membuang benda tadi rasanya sungguh berat bahkan dia tidak tahu lagi harus mengatakan apapun itu kecuali meminta temannya tidak dapat melihat ke belakang. Setelah beberapa menit kembali berjalan lagi dan kini Elica mencoba untuk menoleh ke belakang rasanya sungguh puas dia melihat jam tangan di pergelangan tangannya berjalan begitu lama, entahlah ketika dia ingin cepat datang mentari lantas mentari itu juga datang lebih lama, dia hampir saja menoleh ke belakang tanpa melihat teman-temannya yang lain. Dia menoleh ke belakang dan yah ternyata si wanita tadi telah pergi yang dia yang tadinya mengangkat rambut dari Elica dan bermain di pundaknya, entahlah ini bahkan membuat dia merasa lebih seram dari setiap perjalanan yang dia lalui dan kini dia harus sadar untuk apa yang dia lakukan. "Bagaimana ini bahkan aku sungguh tidak bisa lagi menahan semua ini? biarkan aku melihat kondisi kamu Elica," dia hampir terlena dengan kesakitan hati yang di rasakan oleh Samantha. "Jangan, seperempat jam lagi dan kalian langsung duduk saja kita sarapan," perintahnya dengan nada yang keras matanya juga melihat si wanita tadi menatap dengan sadis ke arah mereka. "b***h," air liurnya di buang begitu saja dan benar saja di wanita dengan rambut panjang tadi benar-benar takut dia lari terbirit-b***t menyelamatkan diri. Seberapa besar rasa penasaran yang dia miliki kepada Elica, ternyata Samantha juga baru mengetahui bahwa Elica temannya itu memiliki kekuatan yang berasal dari nenek moyangnya, tetapi tidak ada yang bisa dia katakan selain bersyukur apabila dirinya berada di tengah hutan lagi mungkin dia akan pergi berlari. Seperempat jam sesuai dengan perjanjian dia segera meletakkan ransel dan mengambil minuman dia tahu bahwa perjalanan ini adalah perjalanan yang sungguh sangat melelahkan sejauh ini minuman mereka masih tersedia dan makanan juga masih sangat banyak, jadi tidak apa untuk berjalan satu Minggu dengan bekal ini mereka juga masih bisa hidup. Terdengar percakapan di antara mereka setelah api menyala dan setelah kopi di sediakan mungkin ini adalah salah satu hal yang paling indah saat ini, kenangan yang mungkin akan mereka ingat baik di alam yang sama atau di alam yang berbeda. "Kenapa?" tanya Elica saat melihat bola mata temannya terarah kepada dirinya seolah ingin mendapatkan sesuatu. "Jawablah dengan jujur kenapa kamu seperti itu tadi? jujur aku sangatlah takut aku kira kamu akan berubah menjadi burung atau segalanya yang lebih nalar," ucap Samantha dia benar takut dengan apa yang dilakukan sahabat konyolnya itu. "Bagaimana ini?" tanya Rachel dengan gelas yang berada di tangannya. "Ada apa lagi, Rachel tenang saja semua akan berjalan dengan lancar mari minum saja minuman kamu dan makan bekal yang kita bawa, ingat tidak boleh sembarang menoleh ke belakang ketika aku meminta apakah kalian bisa menyetujuinya?" tanyanya dengan suara yang pelan sekali. Mereka bertiga mengiyakan melalui gelengan kepala, sekarang sudah setengah enam jam enam teng nanti mereka akan memulai kembali perjalanan dan kali ini Casilda memulai percakapan yang sedikit ekstrem lagi, membuat mereka berempat hanya menatap satu sama lain tanpa ada yang berani untuk berbicara dalam waktu yang cukup singkat saat itu. "Apakah kalian takut kalau kita berpisah di tengah hutan ini?" Semua bola mata menatap satu sama lain dan tidak ada yang berbicara kecuali untuk Elica yang tahu ini sebuah pertanyaan yang sangat tajam tetapi dia seolah tidak mengetahui apa yang akan terjadi beberapa hari yang akan datang. "Kita akan pulang bersama kalau itu," ucapnya terpotong karena dia tidak tega sama sekali melihat wajah mereka bertiga. "Kenapa?" tanya Casilda dia takut kalau ada sesuatu yang tidak baik di balik kata yang terpotong itu. "Yah, kita akan pulang bersama kalau itu menjadi takdir dari Tuhan bukankah takdir adalah hal yang lebih baik?" tanyanya dan tersenyum dengan lebih baik dan manis kepada mereka. Sepertinya ini bukan apa-apa tetapi satu hal yang mereka selau ingat pertemanan ini akan menjadi sesuatu hal yang lebih abadi dan tidak boleh ada yang melepaskan meski badan sudah tak satu lagi dan juga kenangan yang tidak ada batasnya. Setelah semuanya selesai di bicarakan dan kini mereka bisa terlihat lebih santay lagi, lima menit lagi mereka akan berangkat dari tengah hutan itu mereka selalu memberi tanda pada pohon yang jaraknya tidak jauh-jauh agar nantinya jalan mereka tidak tersesat lebih jauh. "Ini adalah perhentian kita yang ketiga kali, di tengah hutan pada jam setengah lima kalian jangan pernah melupakan ini," beri peringatan oleh Elica. "Sebenarnya apa yang kamu ketahui tentang perjalanan kita ini? Kenapa sedari tadi bahasa yang kau berikan sepeti bahasa perpisahan saja?" tanya Samantha saat dia berada di belakang Elica. Kini Casilda dan Rahel sudah bisa sedikit tertawaan karena mentari sudah timbul jalan pun sudah terang tidak ada yang bisa mereka khawatir kan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD