Bagaimana bisa dia melupakan semua ini? pekerjaan yang tidak biasanya dilakukan oleh ayah dan ibu Elica kali ini mereka telah lakukan, hitung-hitungan semua ini bisa dilakukan oleh kinerja mereka dengan baik.
Yah, beberapa hari terahkir ini setelah melihat kepergian dari Putri mereka tidak ada kata lain selain bekerja dengan tangan sendiri dan melakukan semuanya dengan sendiri ini akan lebih mudah dan lebih baik
Tidak melalui Elica selalu dan selalu.
Tiba saatnya mereka bercakap-cakap akan keadaan dan kondisi putrinya yang pergi setelah mendapatkan izin dari mereka.
"Semakin ada waktu maka kita akan semakin sulit untuk mengajak putri kita mengobrol bukan?" tanya Ayah Elica dan dia memegang erat-erat tangan dari wanita itu.
"Ya, itu adalah tahap pertumbuhan yang paling bagus bagi dirinya tetapi kita juga harus memberikan ruang kepada hati kita sendiri agar bisa mengarahkan dia," ucap istrinya dan membalas perkataan tadi.
"Iya saya tahu dengan jelas itu tetapi apakah kamu sadar bahwa dia sudah sangat besar, bahkan saya tidak mampu lagi mengatakan apa-apa kalau sudah seperti ini."
Dengan wajah yang tampak lesuh mereka mencoba untuk menahan sesaknya jauh dari posisi putri mereka dan mereka hanya bisa mengejar segala impian mereka sebelum putri mereka nantinya mencoba untuk mengatakan menikah.
Mungkin ini adalah moment yang ditunggu oleh semua orang pada saat umur mereka dewasa tetapi pada dasarnya saat ini kedua orang tua itu tidak menginginkan apapun itu, yang ada mereka hanya ingin mengatakan kepada Elica jangan terlalu lama menjadi pribadi yang senang akan kesendirian.
"Apakah kita akan melihat dia setelah pulang dari camping?" tanya ibu Elica dengan wajah yang sendu berubah menjadi datar dan penuh dengan pengharapan.
"Yah, kita dapat membuktikan itu kalau dia benar-benar menguasai apa yang kita berikan selama ini, apakah kamu dapat meyakini itu?" tanyanya dengan alis mata yang perlahan mulai terangkat ke atas.
"Tetapi apakah dia akan memakai itu dengan baik?" tanyanya karena juga dia tidak percaya akan kelihaian yang dimiliki oleh putrinya sendiri.
"Kamu salah jika meragukan dia, tidak lihatlah kamu ketika kita meminta dia untuk pergi ke tempat yang gelap malam-malam?" tanya suaminya dengan nada suara yang sedikit menantang.
"Yah, aku percaya bahwa dia akan bebas dari apa yang aku takutkan saat ini," ucapnya dengan suara yang sedikit sendu dan dia juga takut kalau selama ini diam adalah pilihan mereka yang paling bodoh.
Sedangkan di sisi lain kali ini kedua orang tua dari Rahel sudah terus bertengkar hebat saja, entah karena apa mereka selalu seperti ini membahas yang tidak perlu dan setidaknya pembahasan itu mempunyai makna yang besar tetapi apa daya dari seorang Rachel yang memiliki orang tua seperti ini.
Yah seperti yang kalian lihat saat ini bahwa mereka menatap ke depan karena sedang ada siaran langsung dari televisi tepatnya pertandingan sepak bola, dan sebenarnya ini adalah hal yang sepele tetapi kenapa mereka mengatakan ini ke pembahasan yang lebih dalam lagi.
"Apakah yang kamu lihat? apakah kamu kali ini mengatakan bahwa ini tidak benar?" tanyanya dengan nada yang sangat kesal dan tangan yang dilipat di atas d**a.
"Ataukah matamu yang salah menilai? bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa tim Malaysia akan menang di banding Indonesia?" kesal ayah Rachel dan dia hanya bisa mengigit jari geram melihat bagaimana sifat istrinya yang sangat pembangkang sangat itu.
"Itu tidak masalah, yang terpenting malaysia bisa menang dan mengalahkan Indonesia apakah itu memberatkan kamu?" tanyanya dan mengepal tangan kuat di depan wajah dari lelaki itu.
Yah, ayah Rachel selalu saja mempunyai sifat mengalah hanya karena istrinya yang seperti ini, dia bernyanyi kecil dan kemudian menoleh ke samping sembari mengatakan satu hal yang sama sekali tidak boleh didengarkan oleh si wanita yang tengah menemaninya beberapa tahun terahkir belakangan an ini.
"Dasar, saya bingung dia orang Indonesia tetapi yang di bela mati-matian adalah penduduk Malaysia saya jadi bingung dia istri saya berdarah Indonesia atau istri orang berdarah malaysia?" geramnya dan menoleh ke samping.
"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya ibu Rachel sekiranya dia mendengarkan sedikit percakapan tentang suaminya dan juga mulutnya yang tajam itu.
Dan sebenarnya sekarang ini mereka sudah diam sejak lima menit terahkir namun yang terjadi saat ini adalah bola mata mereka yang saling menatap satu sama lain, dan juga tangan mereka yang berhenti di depan itu, dengan greget mereka menatap lebih dekat dan duduk yang di persekutuan agar lebih mendekatkan apa yang akan dikatakan.
"Lihatlah, bukankah saat ini Rachel putri kita sedang mengadakan hiking? lantas apakah mereka sehari-hari melakukan aktivitas yang kita lakukan saat ini?" tanya ibunya dengan suara yang linglung.
"Apakah kamu bodoh? mereka hiking bukan bermain sepak bola, apakah kamu tahu perbedaanya di mana?"
"Iya tetapi kenapa tidak ada kabar selama beberapa hari setelah kepergian mereka, ibu takut."
Mereka berdua sama-sama Perduli kepada putrinya dan sekarang satu hak yang mereka lakukan yaitu menghawatirkan seorang wanita yang sudah beranjak dewasa dengan segala tingkah laku yang mulai menunjukkan kedewasaan, dan benar saja Rachel adakah orang yang sangat antusias berada di kondisi apapun dia dapat menyesuaikan diri dengan kecantikan yang dia alami berteman dengan pemilu kampusnya dahulu saja bukan masalah yang sangat berat.
Dia dapat menyelesaikan segala permasalahan dengan kecantikan kadang Casilda dan Elica hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lucu dari temannya ini, dengan seperti itu dapat memikat semua para buaya yang berniat untuk menyeretnya ke dalam air.
"Jangan berpikir aneh-aneh dia orang yang baik tentu saja dia akan di temani oleh orang-orang yang baik juga, bukan?" tanyanya dengan nada suara yang sendu dan tidak sengaja dia memeluk dengan erat istrinya dan memberikan kenyamanan yang lebih baik.
"Tentu saja, kita adalah orang yang baik maka kita juga akan dikelilingi orang baik bukan?" tanyanya dan lebih panasnya lagi mereka saling berpelukan satu sama lain.
Di sisi lain kali ini mereka bisa melangkahkan kaki stelah meminum banyak air dan juga mengisi perut mereka yang kosong itu, tidak ada masalah sepanjang saat ini namun Elica hanya tahu apa yang dia lihat bukan yang lain dia hanya menerawang apa yang dikatakan oleh ayah dan ibunya sebelum pergi ke tengah hutan.
Perlahan dia mulai melangkahkan kaki dan berjalan di belakang ketiga temannya takut kalau nanti ada masalah ketika dia berada di depan dengan pesan yang tak akan lupa dia katakan.
"Jangan pernah menoleh ke belakang kalau hidup anda ingin sehat."