MENARI DI KERAMAIAN

1018 Words
Sekalipun dia tidak lagi dapat mengatakan bahwa kali ini dirinya benar-benar di landa rasa ketidakberdayaan dia juga tidak sadarkan diri untuk sekarang ini apakah dia sedang jatuh cinta atau malah sebaliknya? Wanita dengan wajah yang tampak gelisah itu mencoba untuk bertanya kepada dirinya sendiri entah apa rasa yang dia miliki ini, dia juga sedikit bertanya apakah ini akan berkepanjangan? "Kenapa kamu seperti itu?" tanya lelaki yang berada di sampingnya dengan wajah yang tampak lebih terarah. "Apa? kenapa dengan wajahku?" dia seolah tidak mengakui bahwa sekarang ini dirinya tidak baik-baik saja. "Apakah kamu malu bersama diriku?" tanyanya saat itu dan dia juga menoleh ke kanan melihat pipi merah dari wanita itu. "Aku tidak malu, kenapa harus malu? tidakkah kamu lihat aku cantik jadi apa yang perlu aku sembunyikan?" Mereka berdua tidak lagi bertanya-tanya akan apa yang membuat mereka seperti ini namun ada hal yang perlu mereka katakan lagi supaya saat ini mereka tidak jauh dari kata malu, dan akhirnya kali ini wajahnya yang memerah tadi sudah kembali merona dia sudah bisa menetralkan semua ini. Di sisi lain wajah Casilda dan juga Rachel benar-benar tidak terima dengan wajah itu iya wajah yang telah menjadi kekuatan paripurna bagi wanita yang berada di sebelah lelaki kaya dan juga tampan itu lihatlah sekarang ini dari kejauhan mereka tampak tidak terima dengan kekompakan itu tawa itu seakan tidak bisa berjalan dengan sendirinya. "Apa yang membuat kamu seperti ini?" tanyanya dan kembali lagi menoleh ke samping. "Apa?" Dia bertanya sembari menoleh ke samping. "Tidak, saya hanya bingung kenapa kalian selalu memandang mereka berdua," tawa sinis dari Elica di lemparkan mereka kepada kedua orang itu. Dengan tawanya yang benar-benar terdengar nyaring sekarang ini mereka memilih untuk diam saja dari pada nantinya masalah ini akan selalu membuat mereka menjadi salah sangka dan akhirnya jatuh ke dalam kata yang tidak benar, jadi lebih baik mereka tidak lagi berkata apapun itu. Satu jam telah berlalu dan tidak mereka sangka bahwa kali ini semuanya akan berjalan dengan lebih cepat, mereka juga tidak menginginkan apapun itu kecuali untuk berjalan di atas arena panggung dan menghilangkan kecenderungan yang tampak lebih mengganjal di hati mereka. Dengan wajah yang tampak lebih sumringah kali ini mereka berdua berdangsa dengan balutan baju yang di pakai lelaki itu sangat cocok di tubuhnya dan juga dengan wanita yang memakai dress blue ice itu dengan bulu mata lentik nya yang sangat menyinari malam yang tengah berjalan itu. Semua orang juga menatap ke arah mereka tampak seperti tatapan yang agung dan juga tidak bisa di katakan ini menjadi sebuah defenisi yang berat bagi mereka bertiga, yang sekarang malah berjoget ria di tengah banyaknya orang itu mereka bahkan tidak tahu juga harus mengatakan ini seperti apa tetapi lebih baik menghilangkan stress seperti ini mungkin akan lebih baik juga bukan? Setelah mereka selesai berjoget kiranya pesta itu juga selesai mereka sangat tidak suka dengan pesta ini pasalnya pesta ini benar-benar membuat mereka tidak menemukan jodoh mereka, ini yang membuat mereka tidak akan tahan lagi harus melakukan apapun itu kecuali pulang menjadi tujuan utama. "Bukankah kamu menginginkan saya?" tanyanya sendiri. "Untuk apa kamu memerlukan kamu, apakah kamu itu kelebihan dosis?" tanyanya dan kembali lagi menatap ke depan dengan tatapan tajam. "Hahaha , apakah itu kamu Elica?" heran mereka berdua kali ini menatap ke arah wajah Elica yang sepertinya belum tahu apa yang terjadi. "Tidak saya bukan Elica hanya saja saya seorang pembantu di rumah ini yang siap melayani anda dua kali dua puluh empat jam," sepertinya dia sudah tidak yakin lagi dengan apa yang dia katakan saat ini. Candaan dan juga hinaan adalah hal yang biasa tetapi kenapa kali ini mereka tidak bisa mengatakan ini menjadi sebuah candaan dan lebih tepatnya mereka juga tidak akan tahu apa yang akan terjadi di beberapa hari yang akan datang, apakah Elica akan mendapatkan jodohnya atau apakah Samantha akan jadian dengan lelaki yang super super tampan tidak terkalahkan itu. Dia juga mengatakan ini bukan lagi dirinya melainkan ini adalah sosok sesuatu yang sulit untuk di katakan ini adalah segala sesuatu perihal yang cukup rumit di katakan. Satu Minggu berlalu dan benar saja tidak ada perubahan di antara mereka berempat begitu juga dengan Samantha dia bahkan tidak dapat mengatakan ini menjadi sebuah keinginan yang dia inginkan, dia hanya menganggap pertemuan itu sebagai pertemuan yang tidak diizinkan. Dengan bibirnya yang dia manyung-manyungkan sekarang dan juga dengan wajahnya yang tampak lebih sedih dia mengatakan ini adalah sebuah kenangan yang tidak indah, lantas kalau tidak ada komunikasi kenapa waktu itu mereka di pertemukan? Saat ini dirinya benar-benar tidak mau mengatakan apapun dia hanya berhenti berjalan di tengah banyaknya kendala dan dia hanya mengatakan ini menjadi sebuah hal yang tidak baik lagi. "Apakah yang kamu sesalkan, Samantha?" tanya mereka bertiga dengan wajahnya yang saat ini menatap dengan tangan yang berada di bawah dagu mereka. "Saya menyesal waktu itu benar-benar tidak bisa menolak pertemuan itu," dia mengeluh dan juga menutup kepalanya dengan kedua tangannya. "Kenapa menyesal? seandainya kamu menyesal bukankah kamu bertemu dengan lelaki yang itu?" tanyanya dan kembali lagi menatap wajah itu dengan kesal. Beberapa menit kemudian jika a tidak tahan lagi kecuali saat ini dirinya mencoba untuk tetap tenang meskipun harus menjelaskan bahwa mereka tidak sama sekali main w******p atau sebagaimana bahkan dia tidak tahu lagi harus menemukan di mana lelaki itu. "Apakah kalian tahu bahwa sekarang ini kami bahkan tidak memiliki keterampilan dan kamu juga tahu bahwa hubungan kami tidak ada artinya," ucapnya saat itu dan dia kembali lagi mengeluh menundukkan kepalanya. "Apa?" Mereka terkejut tidak habis pikir dengan apa yang terjadi hingga akhirnya mereka juga tidak menginginkan apa yang terjadi. Beberapa menit telah berlalu dan kini mereka berubah menjadi sosok yang tidak inginkan wajah mereka sepertinya tidak tahu akan mengatakan apapun itu kecuali heran dan lihat saja ini adalah situasi yang baik mereka kembali. Akhirnya mereka tidak mengerti dengan perasaan wanita itu entahlah dia hanya melakukan ini hanya untuk Samantha saja. "Apa ini?" tanyanya karena ada notif masuk ke dalam hapenya. "What?" "Kenapa? ada apa? Apakah ada yang mencuri hati kamu?" Sepertinya dia mendapatkan apa yang dia inginkan dan dia juga heran kenapa ada nomor baru di ponselnya. Dia tersenyum dan berkata ini lebih dari apa yang dia inginkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD