DI TENGAH PERJALANAN

1015 Words
Elica, nama gadis yang selalu saja bersifat aneh mulai sedari tadi entahlah kenapa dia berbuat hal-hal yang tidak masuk akal dari Casilda dan juga Rahel serta dia yang tidak lain adalah Samantha. Mereka hanya bisa menahan emosi yang tidak diinginkan mereka juga tidak tahu entah apa yang terjadi saat ini namun yang pasti satu hal yang mereka inginkan berbaur dengan harapan yang tidak palsu, yah kalian juga mengetahui apa makna di balik itu bukan? Tidak ada tempat tanpa manusia, yah mereka mengatakan itu benar tetapi ini manusia atau manusiawi sepertinya mereka tidak mau tersenyum, lagi-lagi banyak kesalahan di atas kesalahpahaman mereka menduga bahwa Elica bodoh atau dia hanya sedang menggali saja tetapi tidak untuk sekarang. "Non, nyonya adalah putri dari orang yang pernah memberikan kami sedekah bukan?" tanyanya dengan nada yang tersenyum. "Iya kenapa rupanya, Bini maafkan saya biak datang ke sini dengan membawa teman-teman pasalnya kami sangatlah lapar," ucapnya dan dengan begitu dapat membuat si wanita merasa tenang. "Tidak, semua ini tidak menjadi masalah melainkan ini kembali menjadi rutinitas yang paling bibi nantikan melihat anak gadis yang cantik-cantik datang ke desa ini, kalian mau ke mana dan apa tujuan kalian?" tanyanya dengan nada yang tidak enak. Elica hanya tersenyum sebentar saja dia tidak tahu harus mengatakan ini situasi di tengah situasi namun dia yakin setelah ingin mengatakan tujuan mereka pasti ada hal yang lebih pahit lagi dia dapatkan, entahlah semua orang tua sekarang bersifat seperti itu, tetapi tidak apa-apa kalau bukan seperti ini. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dan kembali menatap ke depan. "Ada apa?" Elica tersadar bahwa sedari tadi ternyata dia hanya termenung saja. "Bagaimana bisa aku seperti ini?" tanyanya dan tidak bisa benar-benar menghirup udara. "Astaga masih muda, Neng tetapi kenapa sudah pelupa seperti itu?" tanya bibi itu dia memberikan makanan itu di depan meja mereka berempat. Lantas sambil makan wanita itu juga sambil berkata dengan tulus kemanapun mereka nanti pergi setidaknya ada yang tahu supaya kalau terjadi apa-apa setidaknya lokasi yang mereka tahu bukan apa-apa. "Lantas kalian sebenarnya mau ke mana, Nak pagi-pagi buta seperti ini sudah sangat rapi apakah kalian ingin ke rumah sanak saudara di desa yang terpencil ini?" tanyanya dan mengakui sendiri bahwa desa ini memang jauh dari kata keramaian. Casilda mencubit Rahel dari bawah dengan bantuan kedua tangannya yang satu dia gunakan untuk memegang nasi yang berada di depannya dan yang satu lagi dia gunakan untuk mencubit paha dari Rachel. Rachel mendesah entah kenapa dengan Elica. Dengan pelan dan sampai tidak terdengar oleh apapun dia mulai membisikkan sesuatu kepada Rachel. "Cepat katakan sesuatu kepada, Bibi ini sepertinya dia kepo ingin mengetahui kemana saja kita akan pergi bukan?" tanyanya dengan nada yang kesal. Rachel malah tersenyum tidak jelas sehingga membuat tiba-tiba takut orang yang berada di sana, sepertinya ini tidak lagi bagus karena apa? ada sesuatu yang janggal sedari tadi maka dari itu Samantha sedari tadi diam tetapi tidak untuk sekarang dia hanya ingin menuntaskan apa yang sedari tadi menjadi pertanyaan dari si wanita itu. "Maafkan sebelumnya para teman yang tidak tahu malu ini, Bibi." Samantha benar-benar kejam sehingga membuat mereka hanya bisa terdiam dalam dimensi waktu dengan mulut yang berisi ikan dan juga nasi serta hati yang sudah nyut-nyutan seperti berada di samping orang yang dia sukai. "Maaf, apakah anda dapat menjelaskan tentang semua ini? karena sangat susah melihat anak gadis tanpa laki-laki pergi ke tempat terpencil seperti ini bukan?" dan ternyata dia sebenarnya adalah manusia takut dari Samantha tadi dia adalah manusia yang di manusiakan. "Tidak kami hanya akan pergi menaiki gunung itu," tunjukkan dirinya dengan tangan yang begitu mudah di gapai. Dan bukan ekspresi apapun yang keluar kecuali tatapan mata yang terlihat sangatlah ihklas akan semua ini, lantas kenapa tidak ada hal yang membuat mereka diam. Melainkan hanya kembali menatap wajah dari si wanita tadi. "Apakah ada yang salah dengan gunung yang setinggi itu? hitung-hitung kami hanya bersenang-senang dengan waktu bukan?" Elica yang kali ini menciptakan suasana yag sempat hilang saya pikatnya. "Iya, tetapi apakah kalian yakin tidak ada laki-laki teman kalian pergi?" tanyanya dan kembali membuat resah Samantha. Dia berdiri dan dengan wajah garangnya saja teman-teman itu sudah mengetahui bahwa apa yang benar mereka bayangkan akan segera terjadi dalam hitungan detik. "Apakah semua bergantung kepada lelaki? saya rasa ini bukan pilihan yang baik ketika mengatakan bahwa laki-laki adalah satu orang dari segalanya," geramnya karena dia memang tidak mempercayai lelaki saat dia mengerti apa itu perasaan. "Nggak usah seperti itu juga kali, Samantha, Bibi ini hanya bertanya bukan memberikan pernyataan bukankah begitu teman-teman?" tanya Rachel dia membuat semuanya berjalan dengan begitu ribet sekali. "Ya, tetapi saya tidak mau dalam perjalanan hiking ini ada laki-laki yang dapat menggangu kenyamanan kita bukan?" resah nya dan menarik napas dalam. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk bercanda dan mengatakan ada hal yang kurang bagus melainkan Kali ini mereka harus diam dan segera menghabiskan makanan karena matahari sudah hampir terbit. "Apakah yang kamu lakukan ayo bayar kita akan telat kalau tidak sampai di perhentian berikutnya," ucap Samantha karena dia sudah malas melakukan apapun itu. "Terimakasih, Bibi," ucap Casilda dan juga Elica yang membayar makanan itu. Ketika mereka ingin pergi namun rasanya si wanita penjual nasi bungkus itu ingin menghentikan noat mereka tetapi apa boleh buat kalau remaja sudah ingin melakukan kehendak-nya mereka akan pergi dengan segala rencana yang mereka inginkan. "Apakah yang kalian lihat dari gunung itu? hati-hati dan jangan lupa mampir kalau kalian benar-benar selamat melewati gunung yang besar itu dan memilikinya penghuni yang besar," ucapnya dan dia kita tidak ada siapapun yang mendengarnya itu kecuali untuk Samantha dengan pendengaran yang tak kalah jelas pada saat itu. "Apakah yang kalian dengar barusan?" tanyanya hanya untuk memastikan saja. "Tidak ada, Samantha ayo kami di depan dan aku dengan Casilda akan berada di belakang," ucap Elica dia menghilangkan keraguan yang ada sedari tadi. Tetapi entah kenapa ini terlihat seperti labirin saja, mengapa mereka mengatakan bahwa ini tidak lagi benar? tidak ada yang dapat memastikan bahwa mereka akan selamat hidup dari segala sengsara. Samantha menatap ke depan dia sudah kenyang tetapi pikirannya benar-benar tidak ingin mengatakan apapun lagi, yang ada dia hanya ingin mengatakan bahwa ini tidak benar lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD