PERJALANAN

1014 Words
Saat ini semuanya berjalan tidak sesuai dengan keinginan yang mereka inginkan, sebab tidak ada satupun yang mengatakan bahwa mereka akan pergi dan menjauh dari setiap persoalan yang terjadi. Bulu kuduk mereka merangkak naik di sebabkan ini masih jam tiga subuh dan mereka harus berangkat ke mobil yang akan membawa mereka ke arah pegunungan, empat sahabat pergi tanpa cinta mungkin ini sama saja dengan memberikan nyawa kepada beruang yang berada di seberang sana. Mereka bernyanyi ria bukan hanya sekedar bernyanyi namun nyanyian ini memiliki arti yang sangat besar kepada mereka, bukan ini membuat mereka sangatlah nyaman dengan nyanyian mungkin akan terasa lebih hidup suasana itu. Tidak lagi memikirkan tentang apapun itu dan tidak peduli dengan sekitar tetapi yang pasti mereka sampai di tujuan dengan semangat dedaunan yang mereka lewati sangatlah hijau dan mungkin bisa membuat mereka hidup dalam suasana yang di inginkan, mereka menatap ke samping kiri dan juga kanan sebelum benar-benar jauh dari lokasi mungkin hanya ada satu kesempatan melihat hal yang seperti ini dan rasanya ini akan lebih menarik lagi. Mulai dari jam tiga pagi dan mereka masih belum sampai hanya berjarak satu hari satu malam supaya mereka dapat sampai di desa Purbolinggo yah itu masih hanya desa bukan tempat masih banyak lagi yang harus mereka kunjungi dan mereka lintasi. Tidak ada kata lelah yang terdapat di wajah mereka melainkan saat ini mereka hanyalah senang dan bermain bercanda ria, tersenyum dan terdengar nada yang mereka inginkan. "Rachel apakah ibumu memperbolehkan kamu pergi ke sini?" "Atau hanya unsur paksaan saja?"tanya Samantha dengan wajah yang sedikit mengintigrasi. Rachel menggelengkan kepalanya dia terlalu bodoh untuk jujur bukan? tetapi kenapa hanya dirinya yang di tanya bagaimana dengan keadaan kedua temannya yang hanya celengak-celinguk menatap dirinya dia hanya tidak suka dengan apa yang terjadi saat ini dan selebihnya yang lebih tepatnya dia tahu bahwa ini bukan menjadi pilihan di atas tujuan yang paling hakiki. "Apakah yang kamu maksud saya juga tidak merasa bahwa ini adil," sergah wanita yang berada di samping Rachel. "Apa? kenapa kamu mengatakan ini tidak adil bahkan kamu tidak mendapati suatu apapun kerugian di tempat ini lantas apakah yang membuat kamu merasakan keresahan yang tidak benar ini?" tanyanya dan kembali menatap ke depan. "Yah, sampai aku meninggalkan ini san ayah hanya demi kalian." Semuanya diam termaksud Samantha bukan maksudnya seperti ini namun dia hanya mengatakan sebuah perjanjian dalam permainan yah kalau mereka tidak bisa apa yang bisa dipaksakan semuanya berjalan sesuai dengan logika, ketika mereka menginginkan untuk ikut yah sudah mari kita ikut dan ketika mereka tidak ikut yang sudah mari kita abaikan. Tetapi sekarang kenapa timbul bahasa-bahasa yang sama sekali tidak enak di kuping dan di hati, entahlah Rachel menilai semua ini juga tidak benar mereka terdiam sebentar dan si wanita segera merubah segala situasi itu, dia tertawa terbahak-bahak melihat perubahan sikap yang dilakukan oleh Rachel dan Samantha serta wanita yang lain itu juga. "Ada apa?" "Apakah ada yang lucu kenapa dia seperti itu?" Samantha bertanya. "Apa yang kamu lakukan? kenapa tertawa seperti tidak ada beban?" teman yang berada di sampingnya bertanya. Dia masih belum siap tertawa hanya saja menahan tawa sangat susah untuknya dan dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa-apa dan tidak ada lagi yang perlu di bahas kalau seperti ini karena dia sudah tertawa dengan elegan mungkin ini akan lebih baik lagi. Samantha, Rachel dan si wanita yang memakai topi hitam serta sal hitam itu hanya bisa sabar menanti jawaban yang diberikan oleh wanita yang belum ada habis-habisnya untuk diam, mereka hanya termenung apakah ada yang salah di dalam diri wanita itu, entahlah tetapi mereka juga tidak tahu lagi harus mengatakan apapun juga selain diam dan termenung. "Bentar, kenapa kalian seperti itu ekpektasinya?" tanya si wanitanya tadi setelah dia diam seribu bahasa. "Apakah kamu melihat bahwa saya sudah murka ini? lantas kenapa anda bersikap seperti anak-anak?" tanya Samantha dengan wajah yang tampak garangnya. Dia menelan savilanya, beginilah sikap dari temannya kalau sudah berada di ambang batas kesabaran namun semua ini bukan menjadi penentu dari dirinya untuk diam dia juga tidak akan pernah mengatakan bahwa ini membuat dirinya sadar demi pola yang tidak diinginkan. "Santay, Mas bro sepertinya anda telah salah sangka apakah saya tidak boleh bercanda?" tanya wanita tadi dan semuanya kembali menarik napas lega. Untuk kesekian kalinya di perjalanan hidup Samantha semua teman yang dia temani dan semua orang yang dia anggp orang hanya mereka berempat yang cocok di sebut sebagai manusia yang di manusiawi kan, bagaimana bisa mereka seperti ini? rasanya ingin memakan mereka hidup-hidup namun kenyataannya tak seindah ekspektasi, mereka menjadi bagian hidup dari Samantha. "Apakah kamu mau marah lagi, Samantha?" tanyanya dengan nada Yang sedikit menantang. Samantha tidak dapat berkata apa-apa dia hanya menaruh harapan di atas harapannya saja, dengan begitu rasanya pasti akan lebih baik lagi, dan ini membuatnya diam seribu bahasa sambil menyenderkan bahunya di atas bangku itu. Setelah tidak ada perkara lagi mungkin tertidur adalah pilihan yang lebih bagus lagi, dengan canda tawa yang sudah mereka sudahi akan lebih membawa dampak yang lebih baik lagi, tidak apa kalau tadi hanya kesalahpahaman yang semata tetapi ini tidak boleh di lanjutkan lagi mereka hanya bisa terus menjalankan mobil dan membawanya secara bergantian. Setelah pagi datang dan mereka semua memilih untuk menghentikan mobil sembari mengisi bensin dan juga ikut dalam mengisi perut yang rasanya tidak ada isinya lagi kebetulan ini akan masuk pedesaan dan lebih tepatnya banyak penjual yang mendirikan tenda mereka, sepertinya ikan dan juga menu yang lain di tempat ini sangatlah banyak tidak ada yang membuat semua orang merasa kelaparan, bulan hanya kelaparan saja namun segalanya tidak ada kata lain selain ini semua. "Apakah ada nasi spesial?" tanya wanita teman mereka sepertinya dia sudah kenal dengan orang yang di depannya, lihatlah cara dia menyapa sangatlah asing bagi Samantha dan teman-teman yang lainnya. " Apakah yang kalian lihat? kenapa tatapan itu begitu horor?" tanyanya dengan nada yang tidak mengasyikkan. "Apakah kamu kenal dengan mereka semua? kenapa cara menyapa kamu kerap berbeda dengan apa yang terjadi di kota?" kali ini Samantha yang harus memperjelas semuanya. "Yah, ini adalah desa yang menuju ke tempat nenek saya, bagaimana mungkin saya tidak memberikan semangat kepada mereka yang berdagang di sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD