Tidak ada yang mudah sebelum memberikan apa yang kita ketahui tentang semua itu bahkan untuk beberapa saat yang akan datang semuanya ini akan menjadi sebuah kenangan yang manis untuk di jalani.
"Apa yang terjadi kepada diriku? kenapa mereka tampak lebih familiar dari apa yang aku pikirkan?" tebak si wanita yang saat ini sudah berjalan mengikuti arah jejak kaki itu.
Yah hanya dirinya sendiri yang berada di dalam hutan yang lebat ini hanya dia dan tidak ada yang lain bahkan binatang buas sekalian pun itu tampaknya ini bukan sebuah ancaman lagi tetapi ini hanya menjadi sebuah kesepakatan di antara banyaknya perjanjian yang tidak bisa dia lanjutkan.
Sedangkan di sisi lain kali ini mereka bertiga kecuali Rachel telah was-was melihat ke mana-mana mereka takut kalau sampai wanita itu pergi dan menghilang, kenapa nasib sial selalu saja membuat mereka tidak betah dengan semua ini? dia tahu bahwa sekarang ini diam bukan lagu pilihan dalam hidup mereka tetapi yang pasti saat ini mereka harus membuat suatu keajaiban yag sangat luar biasa, perubahan yang luar biasa setidaknya membawa dia ke jalan yang lebih tenang lagi.
"Kenapa dengan kalian? jangan lelah mencari keberadaan dari dirinya mari kita lihat dan terjun ke dalam hutan sana," Samantha lagi-lagi memiliki jiwa yang besar terhadap segalanya dia hadir dalam dimensi orang yang begitu besar kuasanya.
Mempengaruhi dan di pengaruhi adalah setiap objek yang tidak sama dengan objek sebelumnya dan kini semuanya akan tampak lebih terlihat lagi ketika Samantha menjadi sosok pemimpin yang rela memberikan waktu dan juga kebahagiaan yang dia tunggu-tunggu dari puncak gunung yang telah mereka lewati.
"Apa yang kamu inginkan?" Samantha mulai bergumam.
"Segera kembalikan temanku, apa yang kalian ambil dari padanya? Dia sangatlah polos seorang gadis polos jadi tolong pertemukan aku dengan dia."
Ketika suaranya berkata seperti itu rasanya sekarang Casilda hanya bisa mengatur tengkuk kepala yang tidak gatel sama sekali bahkan dia hanya mencoba untuk menjadikan ini sebuah alasan sebagai terbangun nya suatu keajaiban di dalam hidupnya.
"Apa yang kamu ketahui tentang semua ini?" Casilda menoleh ke samping.
"Apakah yang kamu katakan? kenapa kamu selalu saja tidak bisa berbicara dengan mereka?" Elica malah menambah situasi yang kian pekik lagi dia takut kalau semua ini benar terjadi di luar dugaan dia.
Mereka berdua bisa melihat apa yang tidak bisa di lihat oleh Casilda, betapa malangnya dirinya ketika memiliki teman yang indigo, satu kata yang mereka miliki yaitu tampak pada sebuah hal yang tidak baik lagi.
"Baiklah, kamu akan membawa kami ke mana lagi?" Samantha memasang nada suara yang berat kembali lagi.
"Jangan buat kami ambigu, segera tunjukkan harus ke mana kami pergi."
"Apa-apaan jangan-jangan kamu adalah objek di bagian ini saya rasa ini adalah permainan kamu bukan?"
Ketika tadinya tengah berjalan beberapa langkah kali ini mereka tahu apa yang tengah terjadi di balik suara itu yang selalu bergema di dalam kuping mereka ternyata ada orang yang sama sekali terlihat sangatlah lebih bebas lagi.
Di sisi lain kali ini wajah dari wanita yang tengah takut akan sendirian di bawah rembulan yang mengeluarkan pantulan sinar cahaya itu, dia mulai tidak tenang dengan apa yang terjadi di sekelilingnya dia takut kalau semua ini menjadi bagian yang tidak bagus nantinya bagi dirinya.
Dia memiliki begitu banyak argumentasi yang tidak masuk akal, dia hanya takut kalau semua ini menjadi hal yang tidak baik bagi dirinya maka dari itu dia hanya bisa menahan napas untuk beberapa waktu yang akan datang sebelum semuanya terjadi begitu jelas.
"Aku tidak memiliki harta dan juga beberapa objek yang lainnya tetapi kenapa kalian malah mengincar diriku," dia mulai bergumam karena tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan.
"Apakah karena kecantikan yang ada pada diriku ini?" dia tambah tidak tahu diri lagi membuat setan pun hanya bisa tertawa.
Dia terdiam karena tidak ada sahutan namun kali ini apakah dia benar mendengarkan suara dari Samantha itu? yah dia sekarang tengah mendengarkan suara itu dia yakin bahwa semua ini adalah suatu keyakinan di tengah banyaknya Persiapan dia telah bangkit berdiri dan bertanya kepada hatinya sendiri akankah dia perlu senang atau hanya membuat semua ini terasa tidak nyata?
"Apakah mereka tengah menemukan diriku?"
"Samantha, aku di sini tolong temukan suara aku."
"Casilda, jangan pergi tolong aku keluar dari dalam hutan ini aku sudah sangatlah lapar dan tidak dapat menemukan apapun lagi itu.
Sebenarnya suara itu telah saling bertemu satu sama lain dan kini semuanya hampir saja bertemu dari arah barat dan timur suara itu akhirnya di padukan dan kini satu hal yang mereka lakukan yaitu berdiri dan saling berpelukan kalau nanti memang benar itu adalah suara dari Casilda dan juga Samantha.
"Beberapa hari ini kamu tampak berbeda."
Samantha mulai memasang taktik yang dia miliki kepada mahluk gaib yang sedari tadi dia cakapi, dia heran entahlah kenapa semua ini dapat terjadi dengan begitu tidak singkat, dia hanya bisa membayangkan betapa ngeri matanya ketika melihat wajah asli dari mahluk gaib yang selalu mengikuti dirinya.
"Apakah yang aku katakan?"
"Cepat, dia di seberang sana maka dari itu kalian boleh berteriak."
Perintah wanita itu kepada temannya dan segera di angguki oleh mereka berdua, dengan memangil nama dari Rachel semoga wanita itu mendengarkan namanya yang di panggil dia tersenyum dalam di mensi waktu yang baik sekali.
"Apa yang kamu inginkan?"
"Rachel kamu di mana saja?"
"Rachel kenapa dirimu tidak nampak batang hidungnya," Elica masih sempat-sempatnya untuk berbuat hal yang tidak-tidak.
"Kenapa kamu malah membuat aku tertawa?" singgung Casilda dia merasa tidak yakin dengan apa yang dia lakukan saat itu.
Mereka berjalan dengan lebih cepat dan sepertinya ini adalah suara dan bentuk wajah dari wanita yang mereka cari sedari tadi, yah itu adalah Rachel dengan bola matanya yang sedikit memerah pasti itu hanya karena menangis, mereka semua berpelukan karena telah menemukan satu sama lain.
Sedangkan untuk Samantha dia mengira bahwa ini adalah sebuah jalan yang baik untuk kesehatan mereka bertemu dan saling menyayangi.
"Aku telah menemukan kamu, bagaimana dengan kamu? apakah kamu telah menemukan kami?"
Beberapa pertanyaan yag berbelit-belit rasanya sangat sukar untuk di jalani, bukankah saat ini semua ini hanya perlu kesadaran yang lebih tinggi? dia tertawa dan kembali menatap ke depan karena saking senangnya akhirnya mereka bisa pulang.
"Ayo, mari kita berpelukan," Samantha yang memberikan tubuhnya untuk di peluk, saking terkejutnya teman-temannya dia kembali lagi tersenyum dan melakukan pelukan itu dari hati.