JALAN YANG BERBEDA

1021 Words
Mereka tampak mengurusi urusan yag bukan hak mereka kali ini lantas untuk apa mereka berada di tempat yang sama sekali bukan hak mereka? Detik demi detik rasanya sudah mereka lewati hanya menunggu beberapa untaian dari perpisahan itu agar terasa lebih dekat. Saat ini semuanya berjalan tidak sesuai dengan rencana karena mereka akan pergi kemarin sore tetap karena kehilangan sosok dari anggota mereka, sehingga mengakibatkan semua rencana hancur bagai telur yang pecah dan tidak bisa di perbaiki lagi. "Kenapa dengan diriku ini?" tanyanya dengan suara yang serak. "Aku tidak tahu kenapa dengan dirimu, namun yang pasti kita harus segera pergi dari hutan ini jangan sampai ada kekeliruan di dalamnya," ucap wanita itu dia bahkan tidak tahu kenapa bibirnya mudah dalam berkata seperti itu. "Bukankah yang kamu maksud adalah diam? lantas mengapa kamu selalu mengajak aku berbicara?" tanya seorang itu dengan wajahnya yang tampak lebih familiar. Mereka semua pernah beradu argument tetapi sebelumnya akan lebih baik kalau ini berjalan sesuai dengan rencana mereka bukan tentang apa-apa namun ini hanya untuk sebuah drama yang tidak dapat berjalan sesuai dengan rencana mereka. "Kenapa?" tanya wanita itu dia bahkan mencoba untuk meraih sebuah kesepakatan yang telah mereka buat sebelum. "Suatu kebaikan menurut aku kalau semua ini bisa kita jalani bukan?" tanyanya dengan nada suara yang sendu.. Samantha telah memimpin keluarnya mereka dari jalan saking ributnya dia hanya tahu akan apa yang terjadi di dalam hidupnya dia hanya menjadikan ini semua sebagai ancaman di tengah pondasi yang tidak begitu besar. Beberapa tetesan keringat jatuh membasahi pipi mereka semua dengan tangan dan wajah yang sudah sangat kotor rasanya itu dia bahkan takut untuk apa yang mereka lakukan ini, kecuali kembali diam dan melakukan semuanya dengan baik mungkin akan menjadi pilihan yang lebih baik lagi. "Apa?" tanya mereka dan kembali menatap satu sama lain. Akhirnya hanya tertawa yang bisa mereka lakukan saat ini dan benar saja ini semua benar tidak nyata waktu mereka saat ini sebelum subuh adalah menjelang dia jam lagi mereka harus sampai setidaknya di persimpangan tempat mobil dan jalan keluar mereka tadi, jangan sampai ada kesalahan dan kembali lah masuk ke dalam hutan bahkan setan saja enggan untuk melibat mereka selalu. Beberapa selang waktu telah mereka lewati dengan berbagai macam ekspresi wajah setidaknya ini dapat membuat suasana lebih baik lagi tetapi apa yang terjadi bukan lah suatu masalah yang besar. "Ayo kita percepat langkah kita ini supaya kita dapat sampai di tempat dengan baik," ucapnya dengan suara yang sangat semangat walaupun nyatanya dia tak se semangat beberapa hari yang lalu. Mereka berjalan dengan langkah besar yang mereka miliki dan ini bukanlah menjadi suatu peristiwa yang besar lagi, mereka berjalan da melakukan semuanya dengan begitu hati-hati sebagai pemimpin Samantha harus memiliki ingatan yang besar karena selamat dan celakanya mereka adalah titik impas yang tidak ada batasnya saat itu. "Kenapa berbuat seperti ini? kita adalah teman b***k sebuah segalanya baik dari segi percintaan dan juga segi kekeluargaan setidaknya kita bisa saling berbagai informasi bukan?" Samantha berkata sendirian dan teman-teman yang di belakang hanya bisa mengatur pernapasan mereka. Di sisi lain kali ini tidak ada lagi orang yang begitu besar akan hidup mereka, dua orang tua yang tadi di lihat sangatlah mesra di depan umum dan kaki ini mereka sudah kembali menjadi sosok pribadi yang lebih pahit lagi mereka mencoba untuk tdiak berucap sedangkan banyak sekali permasalahan yang harus mereka kerjakan sekali lagi. "Bukankah maksud kamu saat ini kamu bertanya akan posisi aku yang tidak baik-baik?" hardik Robert kepada Bella yang saat itu hanya mencoba bertanya dengan baik dadi hati ke hati. "Kenapa malah seperti itu?" tanya Bella dia kembali lagi berdiri dia tidak mungkin selalu berada di bawah pimpinan suaminya bukan? Saking kesalnya dirinya saat itu Bella hanya melemparkan barang-barang yang di depannya baik itu dari Gucci mahal dan cermin bahkan Robert yang sama sekali tidak pernah melihat wajah marah itu hanya bisa terdiam dia hampir saja terlena dengan suara itu hingga pada akhirnya dia memilih untuk berteman dengan spesifikasi orang yang jauh dari kata kriteria. "Untuk apa kamu seperti ini?" tanyanya dan kembali mencoba menjadikan ini sebuah bahan yang akan mereka perbincangkan. "Kamu yang selalu saja seperti ini bahkan saya takut kalau nanti kamu akan membuat ini semakin menderita saja, saya takut kalau nanti kamu akan membuat saya kehilangan satu orang yang berharga dalam hidup kita." "Lantas atas dasar apa kamu mengatakan seperti itu? diam kamu apakah kamu perlu saya kasih pelajaran untuk semua ini?' Suara yang keras berasal dari kamar Tuan dan Nyonya mereka entahlah ini menjadi sebua kebiasaan baru bagi semua pelayan yang berada di rumah itu, betapa misterius sekali keluarga ini ketika di luar mereka terlihat sebagai keluarga yang hangat tetapi hanya meret dari langkah keluarga ini menjadi bagian yang sangat tidak utuh lagi karena banyaknya perdebatan di tengah konsekuensinya yang sangat besar. "Untuk apa kamu berada di sini? cepat keluar kalau hanya untuk membahas masalah anak itu sudah aku katakan sebelumnya bahwa dia adalah objek yang bisa kita kasih kasih sayang dan perhatian melalui uang," mulut Robert benar-benar tidak bisa di ajak untuk kompromi betapa sakit hati Bella ketika dia mendengarkan hal yang begitu menyakitkan sekali. Untuk saat ini dia kembali lagi menahan perihnya memiliki suami yang mata duitan dan juga gila-gilaan kekayaan serta panggilan yang sangat luar biasa dia takut ini semua akan membawa dampak yang buruk yang tidak akan ada ujungnya. "Kenapa? kenapa kamu diam ayo cepat pergi dari kamar ini sebelum saya bertindak lebih kasar seperti binatang lebih buas lagi," Robert bahkan mampu mengecam semuanya dengan begitu cepat dia lakukan semua ini untuk kehidupan dia yang pastinya akan lebih aman. Sedangkan hati dari seorang ibu pasti akan merasa teriris untuk semua itu dia heran kalau semua ini menjadi bagian dari hidupnya yang dahulu selalu saja mencari lelaki yang kaya. "Apakah kamu benar menganggap putri kita pembawa kemalangan saja?" dia bertanya dengan langkah kaki yang perlahan maju membuat jantung dari Robert benar-benar tidak lagi aman. "Menjauh kamu dari tempatku apa yang akan kamu lakukan?" bentaknya tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya lagi. "Saya menyesal telah dilahirkan dan melahirkan seorang putri yang baik tetapi mendapatkan seorang pasangan hidup sekaligus anak untuk putri yang tidak di anggap," dia benar-benar menusuk hati dari seorang Robert.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD