Sebenarnya bukan masalah di setujui atau tidak tetapi ini adalah suatu hal yang berbeda akan mereka yang akan menuju ke tempat yang lebih luas dan dewasa lagi.
Kali ini Samantha mencoba untuk menamai sebuah perjalanan ini sebagai sebuah tali inspirasi yang tampak nyata di sebagaian tempat dia yakin kalau semua ini adalah sebuah hal yang sangat baik sekali untuk kedepannya dia menoleh ke samping dan mengatakan bahwa ini semua akan baik-baik saja.
"Apakah kamu bisa seperti ala yang aku lakukan sekarang ini?" Samantha menoleh ke belakang dan melihat semua teman-temannya yang juga berjalan dengan langkah yang diiringi oleh nada tangis.
"Apakah yang kamu lakukan, Samantha? ayoklah kita pergi sekarang dan cepat berusaha menaiki mobil bahkan sekarang ini aku sudah muak dengan apa yang terjadi," Elica membuka mulut perlahan dan dia mengatakan apa yang sedari tadi benar-benar menganggu isi hati di pikiran dia.
"Kenapa begitu?" tanya Samantha dia benar tidak mengetahui apa yang ada di dalam pikiran apa yang ada pada temannya.
"Yah apakah kamu kira dengan begini kamu bisa mendapatkan ingatan itu lagi, bahkan aku sudah enggan untuk mengatakan bahwa aku bisa mendapatkan itu semua lagi," tambah Samantha dia benar tahu apa yang ada di dalam pikiran Elica saat-saat ini.
Elica tahu bahwa ini bukan lagi jalan yang terbaik melainkan jalan yang terahkir dia melakukan semua ini hanya demi keselamatan dari beberapa temannya dia tahu dengan begini dia akan mendapatkan apa yang di maksud dengan ketenangan, bola mata mereka semua tertuju kepada benda mati yang ada di depan sudah kembali berabu namun abunya tidak lagi sekental dahulu, mereka segera menghapusnya dengan tergesa-gesa supaya mendapatkan saat ini apa yang mereka inginkan beberapa hari yang lalu.
"Kenapa saat ini kamu benar-benar bersemangat Casilda?" tanya mereka semua kala melihat Casilda bergerak dua kali lebih cepat dari apa yang kalian bayangkan.
"Tidak, aku hanya ingin secepatnya sampai tubuhku rasanya sudah remuk bahkan aku tidak bisa menamai bahwa tubuh ini di miliki oleh Casilda," Keluhnya sembari menghapus keringat yang bercucuran di keningnya sedari tadi.
Mereka semua hanya menggelengkan kepala ini bukan bukti atau apapun itu yang ada ini hanya sebuah museum di tengah perkiraan museum mereka bisa berada di sini karena sebuah ikatan yang sangat menjanjikan maka dari itu ada baiknya sekarang ini mereka melakukan apa yang seharusnya di lakukan.
Kali ini Samantha tengah menaiki mobil dia berada di depan setir sepertinya ini yang akan dia kerjakan, yah Tidka bisa tenang dan kembali lagi menjadi sebuah benda yang berfungsi kepada teman-teman ini.
Di satu sisi mobil Elica yang mereka gunakan karena pada saat datang ke tempat ini dua mobil yang mereka gunakan, yah lumayan untuk tempat barang-barang mereka yang sepertinya juga memiliki banyak beban sekali sehingga sekarang ini dua di mobil Samantha dan dua orang lagi di dalam mobil Elica.
Mobil pun bergerak perlahan mesin mereka masih banyak hanya saja ada kekhawatiran tersendiri bagi mereka karena perjanjian ini cukuplah jauh mereka takut kalau semua ini akan menjadi sebuah pemburu di atas pemburu, dengan klakson mobil yang perlahan juga mereka bunyikan kali ini mereka dapat menyeberangi setiap elusan dedaunan dan juga urat pohon.
"Selamat tinggal kita tidak akan bertemu lagi bukan?" gumam Samantha dia menoleh ke belebotan dan melihat dedaunan itu tampak lebih ganas lagi dalam bergerak.
Kemudian di mobil yang asing tepatnya untuk seorang Elica dia menoleh ke bawah di mana hutan itu? apakah saat ini matanya terasa tidak bisa di kedipkan? atau apakah saat ini dia mencoba untuk menghilang di waktu yang telah di tentukan? benar saja ini bukan sebuah kunci di mana dia bisa bernapas melainkan ini hanyalah sebuah jadwal di mana dia harus kembali ke alam yang telah di tentukan.
Semakin lama mobil itu semakin jauh lagi bukan tentang apa-apa namun sekarang ini dia lebih memilih menikmati semua ini dengan perlahan tanpa ada paksaan mereka bernyanyi-nyanyi di dalam mobil tanpa menyadari sinar yang telah di berikan oleh topeng di dalam rangselnya dia juga tidak melihat akan pergerakan-pergerakan yang ada di dalam rangselnya semenjak ada topeng itu perlahan namun pasti namun sekarang ini merela semakin melaju dengan kecepatan yang berada di luar batas.
Di sisi lain kali ini Bella semakin takut dengan apa yang ada di dalam pikiran dirinya sedari tadi kemarin, bayangkan saja dia membuat semuanya terasa jauh tidak berarti dia semakin menjadi-jadi dengan suara tangis yang kadang besar dan juga kadang kecil, rasanya memberikan ini nama sebagai frustasi adalah bagian yang paling pokok bagi mereka saat itu.
Dia memang berada di dalam kamarnya karena dia tidak ingin menjadi sebuah objek yang akan di perhatikan oleh sebuah media, dia takut kalau kurirnya juga akan jatuh entahlah ini akan membuat dirinya semakin terbiasa dengan apa yang dia lakukan dia yakin bahwa semua ini akan menjadi sebuah pola yang baik untuknya semua hanya karena karier dan juga kekayaan serta jabatan.
"Apakah yang kamu lakukan? kenapa saat ini malah memilih untuk pergi dari setiap hal yang kamu miliki?" dia bertanya dan melakukan semua ini seolah sudah terbiasa dengan penyiksaan internal
"Tidak, kenapa aku Setega ini kepada putriku bahkan aku sama sekali tidak memiliki niat yang lebih untuk membuatnya merasa tidak ada, maafkan ibu, Nak," sekarang dia baru paham apa itu arti dari pada kesepian setelah anaknya mulai tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar ,yah itung-itung ini adalah pembelajaran bagi mereka.
Dia kembali bergumam dengan tidak jelas membuat lelaki yang baru saja masuk ke dalam kamar merasa risih dan berniat ingin menghentikan semua itu dia tersadar bahwa sekarang ini tujuan penting dari dia berada di dalam kamarnya sendiri adalah untuk tidur bukan mendengarkan ocehan yang sama sekali tidak penting ini.
"Apakah kamu juga merasa bahwa saja tidak ingin tidur? kalau kamu ingin mengoceh di jam seperti ini pergi ke gudang atau saya akan main tangan kepada mu," dia seakan selalu ingin mendapati pasar yang sepi tetapi laki ibaratnya hanya seperti itu, karena bayangkan saja mengapa mereka seperti ini?
Antara waktu yang tidak ada atau memang keegoisan yang telah tertanam besar di dalam jati diri mereka masing-masing entahlah namun ini telah berlebihan sekali, ingin rasanya Bella menusuk bola mata dari ayah anaknya sendiri namun dia masih menjadi manusia-manusia yang butuh akan segalanya