Aku Harus Katakan ini Padamu

1463 Words
Pertemuanku dengan Rendra malam mingggu lalu membuatku semakin berpikir mengenai hubungan kami. Tapi mengapa aku merasa ada perasaan bersalah pada Tresna. Pria yang kukagumi setelah kepergian Rendra. Aku berusaha untuk melihat sosok Rendra tanpa mengingat Tresna. Namun mengapa aku merasa sulit. Aku tak bisa semudah ini berpindah hati kembali pada Rendra setelah aku merelakannya untuk berlalu saat beberapa tahun yang lalu. Rendra pun seperti memberiku waktu untuk berpikir dan tak terburu - buru untuk memutuskan untuk kembali kepadanya. Tapi hati ini mengapa begitu merindukan Tresna.  Aku membuka akun situs penjualan daring tempat aku dan Tresna bertemu. Aku merindukannya memimpin acara di sana. Tapi aku tak menemukannya. Entah Tresna seperti hilang ditelan bumi setelah pengumuman acara beberapa waktu lalu. Beberapa teman ada yang mengatakan bahwa Tresna sibuk dengan bisnis barunya bahkan ada yang mengatakan dia sedang sibuk dengan kekasih barunya. Terkadang aku merasa bodoh mengharapkan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain.  Saat ini di kampus aku merasa sangat penat dan merindukan liburan semester segera tiba. Ujian Akhir Semester  (UAS)  hari pertama baru saja aku selesaikan dengan baik. Tampaknya Tari memperhatikan kegalauanku. "Cintaku_Kamu hahaha.. kenapa beberapa hari ini tampak murung? Padahal pacar sudah kembali," candanya mengagetkanku.  "Tari banyak hal yang kupikirkan selain UAS ini. Aku mau menceritakan apa yang sebenarnya dikatakan oleh Rendra saat di balkon beberapa waktu lalu", jelasku pada Tari. Tari sepertinya sudah dapat membaca keadaan hubunganku dengan Rendra. Aku menceritakan apa yang telah Rendra sampaikan padaku dan aku hingga kini belum dapat menjawab permintaan Rendra untuk kembali padanya. Ada sedikit keraguan di hatiku tentang semua ini. "Hmm... apakah karena Tresna kamu ragu?", tebak Tari dan membuatku terkejut dengan pertanyaannya. Aku tak menyangka Tari akan menyebut Tresna saat ini.  "Tari kamu tahu dari mana bahwa Tresna mungkin membuatku menjadi ragu akan keputusanku bersama kembali dengan Rendra?", tanyaku pada Tari "Benar bukan, sudah terjadi sesuatu antara kamu dengan Tresna? Kamu yang harus menceritakan hal itu denganku!", jawab Tari ringan sambil tersenyum simpul. "Tari, aku dan Tresna hanya teman. Aku tak berharap banyak dari perkenalan kami dari dunia maya. Lagipula banyak yang bilang padaku dia sudah memiliki kekasih," jawabku dengan perasaan kecewa.  Tari pun hanya tersenyum mendengar perkataanku. Aku merasa ada kelelahan dalam semua hal ini. Ketidakpastian hubunganku dengan Tresna, lalu kedatangan Rendra tiba - tiba dalam hidupku. "Sudahlah Cin, kamu harus istirahat dengan semua hal ini sejenak. Tugas kuliah masih banyak yang harus kita siapkan. Kamu percaya bahwa jodoh akan datang di saat yang tepat. Kamu masih memiliki waktu untuk berkarya lebih dahulu demi cita - cita awalmu untuk membantu ibumu dengan cepat mendapatkan pekerjaan setelah kita lulus kuliah. Bukankah hal itu yang terpenting saat ini, Cintaku?" kata - kata Tari menyadarkanku untuk fokus yang sebenarnya. Biarlah waktu yang memilihkan jodoh yang tepat bagiku. Tetap positif itu saja tugasku, begitu janjiku dalam hati. "Terima Kasih Tari, kamu memang sahabatku yang baik dan selalu membantuku saat aku galau," sahutku sambil menggandeng tangan Tari dan mengajaknya ke kantin. Aku rencana akan mentraktirnya karena aku telah memenangkan lomba bersama Tresna saat itu.  Hari ini setelah UAS aku masih harus mengikuti dua mata kuliah hingga pukul 4 sore. Tari benar, aku terlampau lelah dengan kuliahku saat ini. Kalau aku sampai diluar fokus awalku yang terjadi adalah aku benar - benar tak bisa konsentrasi belajar.  Aku siap menaiki motor Tari yang sudah ia siapkan hingga aku terkaget dengan bunyi klakson mobil di belakang motor Tari. Aku dan Tari pun menengok hampir bersamaan karena sempat sedikit kaget. Kami bertambah kaget setelah melihat pria yang keluar dari mobil. "Rendra!" panggilku setelah Rendra keluar dari mobilnya dan tersenyum. "Hai Cindy dan Tari. Kalian sudah selesai kuliah?", tanyanya lagi. "Kamu kok tahu pas kami mau pulang?," sahut Tari sambil turun dari motornya. "Iya kebetulan aku lewat sih. Kalian mau aku ajak makan atau minum kopi di mal?" tanya Rendra. Tari sepertinya tahu bahwa aku dan Rendra memang perlu bertemu untuk membicarakan banyak hal. "Cinta kamu saja yang pergi bersama Rendra. Kebetulan aku tidak bisa saat ini harus segera pulang karena aku janji dengan ibu untuk menemani adikku ke rumah temannya untuk kerja kelompok!", jawab Tari. "Tari kamu serius tidak bisa ikut?" tanyaku yang disambut dengan anggukan tegas Tari.  "Baiklah kalau begitu, aku masih punya waktu sejam paling tidak sebelum pulang. Sebentar aku telpon ibu untuk meminta ijin ya!" sahutku. Tari pun segera berpamitan karena mau terlebih dahulu pulang dan aku memberikan kabar kepada ibu tentang rencanaku dan Rendra. Sempat Rendra juga bicara pada ibu untuk dapat mengijinkan aku pergi dengannya. Ibu pun memberi aku ijin untuk pergi ke kedai kopi bersama dengan Rendra.  Aku pun menunggu Rendra memesankanku kopi. Saat kopi ku datang aku segera memutar cangkirku dan mencari tulisan yang biasanya kutemui saat bersama dengan Tresna.  "Kamu cari apa Cindy?" tanya Rendra bingung akan sikapku yang sibuk memutar - mutar cangkir saat itu. Aku tidak menjawab dengan jelas pertanyaan Rendra. Rupanya tulisan di gelas itu dapat sengaja di pesan bukan karena tidak sengaja ada di sana. Jadi Tresna berusaha memberitahuku sesuatu saat itu dengan tulisan. Ya Tuhan, kataku dalam hati. Aku tidak sadar akan hal itu.  "Hai Cin.. kamu kenapa terdiam begitu? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Rendra membuyarkan lamunanku.  "Maaf Rendra aku jadi melamun ingat tugasku kuliahku tadi tiba - tiba", sahutku sekenanya saja karena aku masih baru tersadar akan peristiwa yang aku telah alami bersama Tresna. "Wah sudah tahun ketiga ya, berarti kamu lagi sibuk - sibuknya menyelesaikan mata kuliah yang belum kamu ambil supaya dapat segera menulis skripsimu!" sahut Rendra.  Lalu ia melanjutkan kata - katanya," Cindy, aku minta maaf karena mungkin sikap dan perkataanku malam minggu lalu mengagetkanmu. Aku mungkin terlampau cepat menyampaikan perasaanku setelah lama kita tidak berkomunikasi. Namun jujur aku merindukan hubungan kita kembali seperti dahulu." Aku lalu menatap wajahnya yang tampak memang serius dengan apa yang dikatakannya. Jelas terlihat Rendra yang masih mencintaiku. Sesaat aku terdiam dan bingung entah bagaimana perasaanku saat ini. Apa jawabanku, karena dari cangkir kopi tadi aku seperti menemukan jawaban akan teka - teki perasaan Tresna kepadaku.  Rendra seperti tahu aku bingung untuk menjawab apa. "Cindy, santai saja aku tidak memintamu menjawab saat ini. Aku tahu kamu sibuk dengan tugas kuliah yang menumpuk. Tapi bolehkan aku tetap berada di sisimu dan berbincang denganmu seperti dahulu?" tanyanya padaku. Ya, Tuhan cobaan apa lagi ini. Apa yang harus kukatakan padanya yang sudah begitu baik padaku hingga kini. Aku harus berkata apa pada Rendra yang menantiku? Aku melihat Rendra kembali mengaduk kopi nya dengan perlahan. Kembali aku melihat cangkir kopi itu. Aku teringat jelas Tresna yang begitu gembira menyiapkan kopi dengan tulisan yang mengungkapkan perasaannya padaku.  Entah kekuatan darimana tiba - tiba aku mengungkapkan perasaanku pada Rendra. "Rendra, aku tetap menganggap kamu adalah sahabatku. Teman yang baik padaku dan selalu datang untuk menemani hai - hariku." Kulihat Rendra mengangkat cangkirnya saat aku meneruskan penjelasanku, "Tapi di hatiku ada yang lain." Sesaat kulihat Rendra menghentikan minumnya dan perlahan meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja di hadapan kami.  Rendra menatapku dengan serius. Mengharapkan penjelasanku selanjutnya.  "Maafkan aku. Tapi aku mulai menyadari sikap pria ini yang ternyata juga menyukaiku. Kami belum berpacaran tapi saling menyukai dan saling mendukung." Rendra lalu tersenyum," Kamu sudah mengenal benar dia yang kamu sukai ini?" tanyanya. "Aku baru mengenalnya setahun lebih Rendra," sahutku. Rendra dengan sabar mengatakan bahwa dirinya tetap akan menungguku sampai mendapat jawaban yang pasti dengan pria yang kusukai. Rendra pun tak menyelidiki lebih jauh siapa pria yang aku maksudkan. Kemudian kulihat dia meminum kembali kopinya dan aku pun turut meminum kopiku.  Rendra kemudian melanjutkan pembicaraannya," Cindy, kamu sudah jatuh cinta padanyakah?" Aku bingung untuk berkata apa tapi Rendra wajib mengetahui jawaban jujurku dan aku pun mengangguk perlahan.  Rendra pun tersenyum melihatku. Dia tak banyak berkata lagi hanya meminum kopinya dan mulai membakar rokok kemudian menghisapnya perlahan. Aku sedikit terkaget melihatnya. Sebab seingatku Rendra tidak merokok. Namun aku seperti tidak lagi bersemangat untuk bertanya.  Aku dan Rendra lebih banyak terdiam setelahnya. Dia tidak mengabiskan rokoknya yang tinggal setengah kemudian mengajakku pulang dan mengantarkanku terlebih dahulu ke rumahku. Setibanya di rumahku Rendra hanya mengantarku hingga pintu rumah kemudian berpamitan pada ibu yang telah menungguku semenjak tadi.  Aku pun menghentakkan tubuhku di kasur setelah mandi. Aku mulai mencari telepon genggamku dan berusaha membuka percakapan dengan Tresna. Tiba - tiba aku begitu merindukannya.  Aku menyapanya dengan beberapa kata namun sepertinya pesanku tak terkirim. Hari sudah sangat larut aku merasa tak enak kalau harus meneleponnya. Aku hanya berpikir mungkin dia telah tidur saat itu. Lagipula  ada sedikit khawatir jika asumsiku kalau dia juga menyukaiku ternyata salah, maka akan membuatku malu.  Aku bersikap lebih baik menunggu saja dia merespon pesan yang telah kukirim kepadanya. Kesibukanku kuliah keesokan harinya hingga akhir bulan membuatku terlupa akan pesanku yang belum terjawab oleh Tresna.  Hingga akhirnya peristiwa di toko buku Mal Indonesia terjadi dimana kudapati seseorang mirip Tresna yang bercengkrama mesra dengan seorang gadis yang sangat mempesona. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD