Sejak pertemuan di mal dengan Rendra, aku kembali memikirkannya. Rendra masih membekas di hatiku. Dia adalah cinta pertamaku. Namun ada sesuatu yang berbeda dengan pertemuan kembali ini. Entah apa yang membuat rasanya berbeda meskipun kami sempat berpelukan saat pertemuan kemarin. Pelukan karena kerinduan yang kurasakan pada sosok Rendra.
Entah kenapa setiap aku berbincang dengan Rendra, ingatanku malah kepada Tresna. Seseorang yang datang tanpa disengaja membuatku terkesan akan dirinya saat awal perkenalan kami di tempat penjualan daring itu. Semangat dan sedikit sikap acuh tak acuh menjadi bagian dari dirinya saat menjadi pembawa acara. Aku yang merupakan salah satu penonton setianya yang akhirnya juga menjadi salah satu dari pembawa acara di sana yang selalu merindukan penampilannya.
Saat kami menang aku merasa hal ini adalah pencapaian luar biasa yang kami raih. Rendra sempat menonton sebentar kegiatan kami saat di mal beberapa waktu lalu. Ia pun jadi memanggilku dengan sebutan Cinta karena menurut Rendra lucu dan pas untukku. Rendra, dia adalah sahabat dan cinta pertamaku. Saat dia meninggalkanku hatiku hancur berkeping - keping membuatku berhenti untuk aktif di dunia nyata dan menenggelamkan diri di dunia maya yang mempertemukanku dengan Tresna. Kemana hatiku berpihak sebenarnya? Haruskan aku menunggu mereka yang masih menyimpan cinta untukku? Masih adakah cinta antara aku dan Rendra?
Aku terbangun Sabtu ini karena telepon genggamku menjerit - jerit memanggilku. Terdengar suara Rendra lembut memanggilku di seberang sana dengan sebutan Cinta. Aku tersenyum mendengarnya teringat akan Tresna saat menyebut nama panggilan itu.
"Cinta, sudah bangunkah? Hari ini kan hari Sabtu maukah kamu main ke tempatku dan berjumpa dengan ibu? Ajaklah Tari juga biar kalian kujemput nanti?," ajak Rendra untuk mengunjunginya. Rendra sempat bercerita, sebulan sudah dia kembali ke Indonesia karena ayahnya yang tiada karena Covid 19 hampir dua tahun lalu saat awal mula pandemik mulai menyerang ke seluruh negara. Saat ini Rendra dan ibunya tinggal dengan menyewa apartemen tak jauh dari mal tempat kami bertemu malam itu. Rendra terpaksa berhenti kuliah dan mulai bekerja di perusahaan keluarga ibunya.
"Hai Rendra terima kasih telah membangunkanku," jawabku sambil tertawa. Aku senang dengan ajakannya untuk bertemu ibu Rendra. "Aku akan ijin ibu dan ajak Tari dahulu ya. Nanti aku akan kirim pesan singkat kepadamu!" sambungku.
Akhirnya Rendra pun menyetujuinya. Kami sempat berbincang hal - hal lucu nostalgia saat kami masih berada di sekolah yang sama. Kenangan manis yang telah kami jalani saat menjadi sepasang kekasih. Betapa Rendra mengungkapkan perasaannya yang juga hancur saat harus berpisah denganku. Aku pun ungkapkan hal yang sama. Jantungku pun berdebar lembut mengenang semua hal indah tersebut. Perasaan rindu membuncah dalam sanubariku. Masa - masa bahagia aku dengannya kembali muncul di kepalaku seperti sebuah film yang diputar dalam benakku. Aku mengenang hubunganku yang nyaris tak bercacat dengan Rendra.
Kami akhirnya memutuskan akan meneruskan obrolan kami saat nanti kami bertemu. Ada sedikit perasaan bahagia dalam hatiku. Aku bertemu kembali dengan Rendra yang memang pernah sangat spesial dalam hatiku. Aku pun mengirim pesan singkat kepada Tari menanyakan apakah dia dapat menghadiri undangan Rendra nanti sore untuk bertandang ke rumahnya dan makan malam bersama Rendra dan ibunya. Tari pun menyetujui hal itu dan kami pun meminta ijin kepada orang tua kami agar dapat menikmati akhir minggu di apartemen keluarga Rendra.
Jam 4 sore Tari pun sudah menunggu di rumahku karena Rendra akan menjemput kami di rumah. Rendra pun sempat berbincang sejenak dengan ibuku dan menikmati teh hangat serta pisang goreng buatan ibuku. Kami berangkat ke apartemen Rendra sekitar jam 5 sore dari rumahku. Waktu tempuh perjalanan kami sekitar 40 menit saja dan tak terasa Rendra telah memasukkan mobilnya ke parkiran bawah tanah tempat tinggalnya.
Kami pun mengikuti Rendra menuju lantai atas dengan naik lift. Sepanjang perjalanan kami tertawa terus mengingat kenangan masa SMA kami. Betapa indah masa SMA itu. Kami bertiga pun mengingat kejadian saat kami tak sengaja bersamaan terlambat datang sekolah saat sedang ada upacara bendera. Akhirnya kami bertiga kena hukuman lari keliling lapangan upacara saat siswa lainnya mulai memasuki kelas. Saat itu rasa malu yang kami rasakan bukan lelah karena olah raga karena ada beberapa teman - teman kami yang menonton sambil menertawakan kami saat itu. Serta beberapa kenangan unik di kelas dengan beberapa teman - teman dan guru - guru kami tercinta.
Rendra termasuk siswa pintar tapi ia termasuk siswa bandel dan sering terlambat. Namun saat itu Rendra memang banyak disukai oleh teman - teman kami. Rendra sangat setia kawan dan seringkali membantu saat kami akan mengadakan acara apapun di sekolah. Aku kebetulan termasuk anggota OSIS dan karena saat itu hubungan kami sangat dekat sehingga Rendra pun seringkali turut andil dalam kegiatan OSIS dan bersedia menemaniku hingga sore hari untuk mempersiapkan acara - acara penting yang kami akan adakan.
Saat itu kami juga mengadakan kegiatan Pekan Jepang - Indonesia karena kami kedatangan tamu - tamu dan siswa - siswa dari negara Sakura tersebut. Selama seminggu ada saja kegiatan bersama yang kami lakukan sepulang sekolah hingga sore hari. Rendra juga memiliki grup musik bersama dengan teman - teman lainnya. Rendra pandai memainkan gitar klasik hmm.. mungkin hal itu yang membuatku jatuh cinta padanya.
Ibu Rendra mempersilahkan kami masuk dan kami duduk di balkon menikmati senja kala itu. Ibu Rendra pun menikmati kisah - kisah yang kami ceritakan. Sesekali ia turut tertawa karena hal - hal lucu yang kami kisahkan saat kenangan masa SMA. Saat acara Pekan Jepang - Indonesia kebetulan ibu Rendra berpartisipasi di bazar yang kami adakan di akhir minggu. Saat itu kami anak - anak Indonesia mengenakan kimono dan mereka para siswa dari Jepang mengenakan beberapa pakaian tradisional Indonesia seperti kebaya, lurik dan batik. Ibu Rendra saat itu menjual sushi sebab memang ayah Rendra yang keturunan Jepang sehingga masakan yang dibuat ibu Rendra terasa mirip dengan aslinya. Teman - teman kami dari Jepang pun banyak membeli masakan ibu Rendra. Beberapa mainan, baju, buku - buku dan peralatan beraneka ragam dari Jepang menjadi sangat populer di acara itu. Cindera mata khas Indonesia seperti peralatan dari tanah liat, perlengkapan motif batik dan semua yang menjadi ciri khas anak negeri saat itu dipamerkan dan diperjual belikan. Para tamu dari Jepang sangat senang sekali membeli cindera mata untuk mereka bawa kembali ke negara bunga Sakura tersebut.
Malam itu kami pun menanyakan kepada Rendra dan ibunya pengalaman mereka saat pandemik. Ibu Rendra tampak tegar saat mengisahkannya mirip dengan ibuku yang dalam hatinya terluka karena ayah yang telah dipanggil terlebih dahulu namun mereka tetap tegar menghadapi kehidupan ini. Aku dan Tari pun menyemangati Rendra dan ibunya agar mereka selalu bahagia dan tetap bisa hidup sejahtera dengan usaha yang mulai dirintisnya saat ini.
Aku membantu Rendra mengangkat piring - piring ke dapur setelah kami makan. Saat akan mengambil piring dari tanganku tak sengaja telapak tangan Rendra memegang punggung tanganku. Aku pun terkejut dan tersenyum padanya. Ada perasaan berbeda yang kurasakan saat itu. Nampaknya hal tersebut disaksikan oleh ibu dan Tari.
"Hmm... sudah kalian tak perlu mencuci piring - piring itu biar ibu dibantu oleh Tari mencucikannya. Sepertinya kalian perlu banyak waktu untuk membahas kenangan kalian berdua," ibu Rendra berkata sambil tersenyum meledek kami. Tari pun tertawa dan mulai membantu ibu Rendra untuk mencuci piring - piring yang sebagian sudah sempat kami cuci sebelumnya.
Aku dan Rendra pun berjalan kembali ke arah balkon. Tampak di tangan Rendra ada empat kaleng jus buah yang dibawanya untuk kami minum di balkon. Rendra dan aku sempat terdiam beberapa saat sambil memegang kaleng minuman jus kami. Pemandangan langit kala itu benar - benar cerah. Langit yang bersih dengan pemandangan bintang - bintang di langit dengan sinar rembulan yang bersih menerangi dua hati yang pernah berpisah dan semoga dapat kembali bersatu.
"Cindy...", Rendra memanggil nama asliku dengan lembut. Aku pun menengok ke arah wajahnya yang tampak memikirkan sesuatu. "Maafkan aku, karena sikapku dahulu yang seolah - seolah telah meninggalkanmu begitu saja. Aku pun tak dapat berbuat apa - apa dan bingung dengan keputusan keluargaku untuk pindah. Aku masih ingat saat malam itu aku menceritakan kepadamu. Kita bertemu saat hari hujan di depan sekolah. Aku bingung saat melihatmu menangis setelah aku bercerita akan rencana keluargaku pindah ke Australia."
Aku pun teringat peristiwa itu. Hatiku yang tak terima akan rencana kepergiannya namun tak ada yang dapat kami lakukan saat itu. Rendra adalah anak satu - satunya di keluarga dia berkewajiban untuk membantu ayah dan ibunya. Saat itu air hujan dan air mataku menyatu. Aku menghempaskan payung yang tadinya diulurkan oleh Rendra karena rasa kesalku. Saat itu aku tak memperdulikan pakaianku yang sudah basah kuyup dan rambut panjangku yang terurai acak - acakan karena hujan.
Pembicaraan tersebut terhenti saat aku kemudian lari meninggalkan Rendra yang masih berusaha berteriak dan mengejarku. Sayup kudengar suaranya, "Cindy.. kita tak akan pernah putus. Aku mencintaimu!"
Aku pulang saat itu dengan keadaan kacau balau dan menangis. Ibu sangat khawatir dengan keadaanku saat itu. Malamnya pun aku mendadak demam tinggi hingga seminggu. Dikala aku sakit, Rendra berusaha menjengukku namun aku memutuskan untuk tak mau menemuinya lagi. Ternyata saat itu adalah hari terakhir kami bertemu. Rendra harus segera pergi bersama keluarganya di akhir minggu. Aku tak lagi menghubunginya dan memilih untuk di kamar sendiri dan menangis. Saat itu ada kata - kata ibu yang sangat menyemangatiku. Ibu memasuki kamarku dan berkata, "Cin, jika Rendra adalah jodohmu maka ia akan kembali dengan perasaan yang sama dan begitu pun kamu. Sehingga kalian dapat menjadi satu selamanya. Jangan tangisi yang belum pasti ini namun hadapilah kehidupanmu dengan semangat!"
Aku kembali kaget saat telapak tangan Rendra menggenggam telapak tanganku, "Aku masih Rendra yang datang kembali dengan perasaan yang sama. Dapatkah kita kembali seperti dahulu?"
Aku kaget dan tak menyangka secepat ini pertanyaan Rendra padaku. Aku berusaha menjawab pertanyaan itu," Rendra.. aku ..."
Perkataanku terputus saat kami melihat ibu Rendra dan Tari menyusul kami ke balkon dan bergabung denganku dan Rendra menikmati malam yang sunyi ini sambil meminum jus yang ada di tangan kami. Jam telah menunjukkan pukul 8 malam saatnya aku dan Tari untuk pamit kembali ke rumah. Kami pun berpamitan kepada ibu Rendra dan Rendra kembali mengantarkan kami dengan mobilnya. Tak banyak yang dapat kuceritakan di mobil saat kami pulang. Pikiranku tiba - tiba menjadi bimbang. Ada yang lain di hatiku, lalu apa yang harus kukatakan pada Rendra? Sementara dengan Tresna semuanya juga belum jelas apakah Tresna mencintaiku atau tidak. Kami akhirnya tiba di rumah sekitar jam 9.30 dan Rendra langsung kembali pulang. Malam itu aku merasakan tak dapat tidur hingga jam 2 pagi dan tertidur setelah aku mendengarkan lagu dari telepon genggamku.