Ungkapan Cinta

1675 Words
Episode ini menceritakan hal - hal yang terjadi dalam beberapa hari sebelum pengumuman pemenang diajang kolaborasi host pada acara ulang tahun tempat penjualan daring dimana aku dan Tresna bertemu. "Mas, jadi juga kamu gelapin lagi rambut. Sayang dong biar aja berwarna," seru Ragil saat melihat Tresna sudah menghitamkan kembali rambutnya.  Sambil merengut Tresna menjawab," Sudahlah aku tidak suka rambutku mirip gulali. Tidak seperti kamu yang suka gonta ganti cat rambut." Tresna kemudian mengajak Ragil untuk berbicara hal yang cukup serius mengenai hubungan mereka dengan para gadis yang mereka cintai. Sejak acara terakhir dimana Tresna dan aku berkolaborasi, Tresna mendesak Ragil untuk berkata jujur kepada Senja, gadis yang dicintai adiknya.  "Mas, hal yang sulit untuk mengungkapkan perasaanku pada Senja. Keluarganya sangat berada. Aku tak akan sanggup jika keluarganya memandangku dengan sebelah mata. Apalah artinya keluarga kita dibandingkan keluarganya yang memang keturunan dari keluarga konglomerat," jelas Ragil pada Tresna. Tresna sangat tak setuju dengan sikap Ragil yang membuat Senja mengira Ragil adalah dirinya dan akan memungkinkan terjadinya konflik antara dirinya denganku.  "Bagaimana kalau kita berdua mengungkapkan perasaan kita kepada masing - masing gadis yang kita cintai?" tantang Tresna kepada Ragil.  Ragil yang awalnya cuek sambil membaca komik kesukaannya, tiba - tiba menurunkan komik dari hadapan wajahnya. Dia mulai tersenyum. Ragil memang senang tantangan. Dia merasa tertantang dengan tawaran yang diajukan oleh Tresna. Akhirnya pembicaraan mereka siang itu ditutup dengan sebuah tantangan keberanian siapa diantara mereka yang berhasil mengungkapkan perasaan cinta kepada gadis yang mereka sukai. Hadiahnya adalah mereka yang kalah harus siap membelikan satu hal yang disukai oleh pemenangnya. Batas waktu mereka mengungkapkan cinta adalah saat pengumuman pemenang Acara Kolaborasi Host sekitar tiga hari lagi.  Ragil tampak tersenyum mempersiapkan kejutan yang akan dia lakukan saat akan mengungkapkan perasaan cintanya. Tresna tampak mulai khawatir dirinya akan kalah. Jujur Tresna bingung harus mulai dari mana meskipun sebenarnya dia merasa sudah mencuri start sejak dia mengajakku pergi beberapa kali. Tresna juga merasakan aku sepertinya juga merasakan hal yang sama, jadi seharusnya ini menjadi hal yang mudah baginya untuk mengungkapkan rasa cintanya.  Sehari sebelum acara pengumuman pemenang kolaborasi host yang dimaksudkan, Ragil mengundang Senja untuk datang di acara pengumuman besok di sebuah mal kecil dekat tempat tinggal mereka. Senja tampak senang akan undangan itu. Senja memang gadis yang rendah hati, meskipun dia anak pemilik mal besar di Indonesia namun dia tetap menghargai saat diundang ke acara di tempat mal yang sederhana. Saat itu Tresna masih merasa kesal karena Ragil masih memakai namanya saat mengundang Senja.  Tresna pun tak mau kalah saing dari adiknya. Dia pun mengingatkanku agar datang pada acara besok saat diumumkannya pemenang kolaborasi host terbaik. Aku tampak bersemangat dengan acara ini karena kalau mereka menang hadiah yang akan mereka dapatkan cukup besar sehingga aku dapat membeli keperluan kuliahnya.  Aku berencana mengajak Tari, sahabatku untuk menemani datang ke acara tersebut. Sekaligus aku berencana mengenalkan sahabatnya itu kepada Tresna. Mereka pun mempersiapkan kostum terbaik mereka namun Tresna kali ini tidak lagi mengecat warna rambutnya. Senyuman terus tersungging di wajah Tresna membayangkan dirinya akan menyatakan perasaannya pada Cinta. Malam itu kedua pria yang sedang kasmaran ini pun tidur dengan mimpi indah membayangkan momen yang akan mereka gunakan untuk menyatakan cinta. Tresna rencana akan mengungkapkannya dari panggung saat acara selesai dan mengatakan perasaannya dengan tulus untuk memintaku untuk jadi kekasihnya dan bahkan menikah dengannya.  Keesokan hari yang cerah dan bahagia di hati mereka yang saling mencinta. Aku pun menelepon Tari pagi itu untuk mengajaknya pergi di sore hari.  "Tari, nanti sore ada pengumuman pemenang Acaraku itu lho. Aku berharap sekali dapat memenangkannya. Apakah kamu ada kegiatan? Temani aku yuk acaranya hanya di mal dekat sini kok tidak jauh," ajakku. Tari yang memang belum merencanakan kegiatan malam minggunya menyetujui tawaranku. Dia pun berjanji akan mengantar dan menemaninya dengan motornya. "Baiklah, nanti kita berangkat jam 5 sore ya!", sahutku sambil menutup pembicaraannya di telepon.  Sementara Ragil dan Tresna mempersiapkan rencana romantis mereka malam nanti. Ibu pun tampak bingung melihat kedua anak lelakinya yang mempersiapkan diri untuk acara malam ini.  "Aduh, kedua anak ibu mau pergi kemana ini? Kenapa kalian sibuk menyetrika baju dan mempersiapkan sepatu? Ada acara yang akan kalian datangi bersama?", tanya ibu sambil tersenyum. Ragil pun menjawab dengan tersenyum, "Ibu, sebentar lagi akan memiliki calon mantu" Ibu pun tampak bingung dengan jawaban Ragil. Apa maksud anak bungsunya ini tapi dia pun akhirnya mengerti setelah Tresna menjelaskan tentang tantangan yang mereka berdua akan lakukan. Ragil tertawa bahagia dengan penjelasan Tresna pada ibu mereka, lalu ia berujar," Mas kamu siap - siap aja keluar uang yang banyak untuk membelikan aku buku komik baru di Mal Indonesia! Karena aku akan jadian lebih dulu dengan Senja" Ibu pun jadi geleng - geleng kepala melihat sikap dua anak remajanya ini. Dan berpesan untuk hati - hati bersikap kepada wanita jangan sampai menyakiti hati wanita. Ia berpesan untuk selalu sopan kepada wanita sama seperti mereka menghormati dan menyayangi ibu mereka.  Tari pun menjemput  jam lima sore dengan sepeda motor maticnya menuju mal yang dimaksudkan. Jalanan masih tampak lancar sehingga mereka tiba dengan cepat di mal. Acara masih akan mulai pada pukul tujuh malam. Saat tiba sekitar pukul setengah enam di mal tersebut, aku dan Tari menuju ke arah panggung di tengah - tengah mal dan masih tampak beberapa kru yang masih sibuk mempersiapkan diri.  "Tari masih sepi kita datang terlampau awal, bagaimana kalau kita ke Toko Buku saja sambil cari buku yang masih aku butuhkan," aku mengajak Tari dan diakhiri dengan persetujuan Tari. Akhirnya mereka berdua melangkah ke Toko Buku yang dimaksudkan.  Tari langsung menuju ke bagian Novel Romantis sementara aku menuju ke buku - buku kuliah jurusan Ekonomi. Namun tampaknya ia tak menemukan buku yang dimaksudkan. Aku terkejut saat tiba - tiba Tari menyentuh pundaknya mengagetkannya, "Cin, aku seperti mengenal pria yang berada di lorong sebelah sana!" bisik Tari sambil menunjuk ke satu tempat di dalam toko buku tersebut.  Sambil masih kaget, akhirnya aku pun menengok ke arah yang ditunjuk oleh Tari. Tiba - tiba saja aku tampak terkejut dan wajahnya pun tampak kaget dan bingung. Aku pun segera berlari ke arah yang ditunjuk oleh Tari.  Sekitar satu meter berdiri dari pria yang sudah kukenal sekian lama ini, sesaat aku terpana, diam dan dengan gugup berusaha menyapanya. "Rendra... itu kamu?" suaraku gugup takut salah untuk memanggil Rendra. Rendra pun menengok dengan kaget dan tampak tersenyum gembira melihat gadis yang sudah sekian lama berpisah dengannya. Tanpa sadar mereka pun berpelukan dan mereka tak menyadari ada sepasang mata yang memandangi mereka dari luar toko buku. Tresna menyaksikan itu, kejadian yang sama sekali tak ia duga terjadi dihadapannya. Tresna melihat diriku yang penuh rindu memeluk Rendra, sesosok pria gagah yang pernah menjadi kekasihku. Dengan hati hancur, Tresna pun berlalu dari sana. Ia berjalan gontai ke arah Kedai Kopi tempat ia merencanakan bertemu Senja dan Ragil.  Dengan wajah murung ia menghampiri satu kursi kosong di hadapan seorang gadis cantik dan anggun anak seorang pemilik mal terbesar di Indonesia. "Kak Tresna, kok murung? Tidak suka berjumpa dengan aku? Aku menyempatkan datang kemari untuk mengikuti acara kamu lho. Semoga kamu menang ya, kak!" serunya dengan suara riang. Tak jauh dari mereka tampak seorang pria setengah baya yang menjadi penjaga Senja. Pria ini mengawasi Senja untuk menjaganya. Tiba - tiba lampu di Kedai Kopi nampak berubah menjadi temaram, suara alunan musik akustik terdengar mengalun lembut sebuah karya dari anak bangsa untuk mengungkapkan perasaan cinta.  "Oh, itu lagunya Jaz-Katakan. Itu lagu kesukaanku kak", Senja tampak mengikuti lirik lagu tersebut sambil memandang ke arah pria yang sedang bermain gitar akustik di panggung sudut Kedai Kopi tersebut. Pria itu memainkan gitarnya dengan indah dan bernyanyi dengan suara lembut. Dia memakai topi coklat dan sweater warna mocca terlihat sebagian dari rambutnya berwarna merah muda keluar dari sisi topi yang digunakannya. Wajahnya nampak sedikit tertunduk saat menyanyikan lagu tersebut.  Tiba - tiba Tresna membuka suara sesaat sebelum lagu itu usai, "Senja...," panggilnya dan membuat Senja menoleh pada Tresna yang masih nampak murung. "Aku Tresna dan aku mau mengenalkanmu dengan adikku yang bernama Ragil" Senja nampak terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Tresna.  Kemudian pria pemain gitar akustik tadi pun menghampiri Tresna dan Senja. "Senja, perkenalkan ini adalah Ragil, adikku. Dialah orang yang sebenarnya sering berkomunikasi denganmu!" Senja pun memandang ke arah Ragil dan nampak terkejut dengan apa yang dilihatnya. Senja melihat kakak dan adik kembar yang hanya warna rambut mereka saja yang berbeda. "Jadi kalian kembar? Lalu Ragil, kamu kah yang sering ngobrol denganku? Apa kamu juga penggemar komik sepertiku?"  Akhirnya Ragil memperkenalkan dirinya pada Senja. Tresna pun akhirnya pamit undur diri dari Kedai Kopi itu dengan sebelumnya menyapa pria yang menjaga Senja dan menjelaskan sedikit padanya supaya beliau tak khawatir dengan apa yang dilihatnya. Pria itu pun tersenyum dan tetap memperhatikan kedua sejoli yang sedang jatuh cinta ini yang akhirnya bertemu untuk pertama kalinya.  Kebahagian akhirnya hadir di hati Ragil dan Senja. Malam itu pun Ragil mengungkapkan perasaan cinta pada gadis yang dicintainya. Senja pun bercerita bahwa ia sempat menceritakan tentang Ragil kepada ayahnya dan ayahnya pun ingin berkenalan dengan Ragil yang ternyata sangat pintar bermain gitar akustik. Mereka pun tersenyum bahagia dan melanjutkan semua percakapan yang mereka biasa lakukan melalui daring. Tak lupa Ragil membisikkan kalimat lembut di telinga Senja, "Aku mencintaimu, Senjaku". Namun berbeda dengan Tresna yang sedang dilanda gulana. Hatinya yang hancur karena melihat peristiwa tadi di Toko Buku beberapa saat sebelumnya dan telah menciutkan nyalinya untuk mengungkapkan perasaan cintanya. Dia datang menemui aku dan Tari di bawah panggung sesaat sebelum pengumuman pemenang. Aku menyapanya dengan semangat seperti biasanya karena tidak menyadari dengan keadaan Tresna  yang terluka karenaku . Kemudian aku memperkenalkan Tari kepada Tresna. Ternyata Saat kolaborasi kami menjadi salah satu pemenang pada  malam hari itu dan mereka naik ke panggung bersama dengan terlihat wajah bahagiaku. Tresna mencoba senyum memandangnya dengan perasaan sedikit terluka dan takut kehilangan.  Tari tampak seperti mengerti fenomena ini. Tari yang semenjak tadi melihat kejadian pertemuan aku dengan Rendra di Toko Buku dan sejujurnya dia sempat melihat Tresna menatap ke arahku dan Rendra yang sedang berpelukan dari luar jendela toko buku. Tari hanya menyimpan semuanya di dalam hatinya  dan menunggu hingga waktunya tiba dan aku akhirnya akan menceritakan hal ini kepadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD