Semua Jelas Sudah

1405 Words
Hari ini kuliah tidak sampai sore, aku kuliah di Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi. Karena ini sudah tahun ketiga maka aku harus lebih berkonsentrasi lagi agar aku dapat menyelesaikan proses skripsiku tepat waktu jadi tidak memberatkan ibu untuk tetap membiayai kuliahku.  "Cindy," panggil Tari, sahabatku sejak SD. Iya memang seperti kubilang nama asliku adalah Cindy. Semua sahabat dekatku akan tetap memanggilku dengan sebutan Cindy.  Ini adalah Tari, sahabatku sejak SD hingga kuliah. Kami pun masih sering duduk bersampingan saat kuliah. Tari pun mengetahui kisahku dengan Rendra, mantan kekasihku saat SMA. Karena sesaat kepergiannya bersama dengan orang tuanya, aku selalu mencurahkan kesedihanku pada Tari. Kehilangan Rendra, membuatku ingin menyibukkan diriku. Sehingga selain kuliah aku sibuk mengikuti kegiatan di tempat penjualan daring yang saat ini aku ikuti.  Namun mengenai Tresna aku belum menceritakan sedikit pun pada Tari. Tari hanya mengenal Tresna sebagai teman kerja saat mempromosikan produk - produk di situs penjualan daring tersebut. Aku sendiri tak pernah menceritakan hubunganku dengan Tresna. Aku pun merasa malu jika harus bercerita dan ternyata Tresna sudah memiliki gadis lain. Aku memilih tak membicarakan dengan Tari sahabatku itu. Entahlah, mungkin suatu saat nanti aku akan bercerita padanya.  "Cindy... aku panggil kok kamu malah bengong?," aku rasakan tepukan keras di pundakku. "Aduh... pelan - pelan dong Tar! Kamu udah selesai kuliah? Aku ada rencana mencari buku pelengkap di toko buku. Tapi sepertinya aku harus mencari ke toko buku di mal Indonesia karena aku sudah cari di toko buku kecil tidak ada," jelasku pada Tari. Tari kemudian menawarkan diri untuk ikut bersamaku mencari buku yang kubutuhkan. Kami berdua memang seperti anak kembar yang memiliki hobi sama yaitu membaca dan Tari sangat senang jika diminta untuk menemaniku ke Toko Buku. Meskipun mungkin kami memiliki jenis buku bacaan favorit yang berbeda. Aku biasanya akan menenggelamkan diri berlama - lama menbaca buku - buku novel bertemakan cerita detektif sementara Tari, dia senang berada diantara novel - novel romantis.  Aku tiba - tiba jadi teringat Tresna. Dia pernah bercerita kalau dia sangat senang sekali membaca novel detektif dan horor sepertiku. Tresna lagi.. Tresna lagi mengapa harus terbayang dilamunanku terus. Tapi menurutku Tresna adalah orang yang sederhana. Menurut ceritanya, dia suka membaca buku novel kesenangannya di lapak - lapak toko buku bekas dekat daerah rumahnya. Menurutnya dia sangat jarang pergi ke toko buku di mal bahkan hampir tak pernah karena memang harganya pasti jauh berbeda antara buku - buku cerita baru dengan yang sudah bekas dibaca.  Namun aku setuju pendapatnya bahwa dari buku bekas pun kita masih dapat belajar banyak hal. Tidak ada yang salah dengan bukunya. Ilmunya dan hiburannya tetap sama dan bermanfaat. Bahkan beberapa buku bekas masih tampak baru apalagi jika dikemas kembali dimasukkan ke dalam plastik pasti kelihatan jadi seperti baru.  "Cindy, kita berangkat setelah makan siang di kantin kampus ya. Biar hemat soalnya. Kalo makan di mal Indonesia pasti kita harus keluar uang lebih banyak," kata Tari yang tentu saja aku setujui.  Akhirnya kami pun makan siang bersama di kantin sekolah. Kebetulan pula aku membawa bekal jadi aku makan bersama Tari yang memesan semangkuk mie bakso dan minuman dingin kegemarannya.  Aku membonceng motor Tari. Kebetulan mal Indonesia yang dimaksud memang kami lewati jika kami akan pulang ke rumah. Tari adalah tetanggaku dalam satu perumahan sederhana. Kami hanya berbeda tiga gang saja. Sehingga jika jadwal kami sama maka aku sering berangkat bersamanya.  Tari memang seorang sahabat yang baik. Dia mengetahui keadaan perekonomian keluargaku yang bisa dibilang jauh dari kata berlebihan harta. Tari seringkali memberikan tumpangan untuk aku tanpa mau kupatungi ongkos bensinnya. Sebagai gantinya jika ibu memasak makanan kesukaannya yaitu nasi uduk dengan ayam goreng, aku sering mengirimkan untuknya.  Kami telah masuk pelataran parkir motor di bawah mal yang tampak tak begitu banyak pengunjung. Tari pun bersiap merapikan helm dan jaketnya kemudian dimasukkan ke bawah tempat duduknya. Aku sempat melihat di bagian parkir lainnya tampak ada beberapa orang membantu seseorang keluar dari sebuah mobil sport mewah. Tari pun turut memperhatikan hal itu.  "Ada artis mungkin berkunjung ke mal," seru Tari. "Oh, bukan dek ,itu Mbak Mila dia salah satu anak pemilik saham utama mal ini," sahut suara pak satpam yang ternyata berada tak jauh di belakang kami.  Aku memperhatikan gadis itu tampak anggun dengan pakain modis anak jaman sekarang yang tentu saja ada merknya. Dia tampak cantik dan terawat. Kulitnya seputih s**u dan jalannya nampak anggun sambil melenggang membawa tas kecil di tangannya. Ada seorang pria setengah tua yang tetap memantaunya dari jarak yang terlampau jauh darinya.  Dia memasuki mal dari pintu VIP. Berbeda dengan kami dan pengunjung lainnya. Tari pun menarik lenganku yang dari tadi aku sempat termangu melihat kecantikan gadis itu. Aku hanya berkata dalam hati, betapa beruntungnya dia. Menjadi anak pemilik mal besar, dia dapat membeli apa pun yang ada di mal ini jika dia mau. Mungkin perawatan di salon mal pun bisa gratis. Lalu liburannya pasti jalan - jalan ke kota - kota fashion dunia. Aku segera menghentikan lamunanku, berkata dalam diri sendiri untuk tidak iri terhadap berkat orang lain dan bersyukur karena aku masih memiliki ibu yang selalu ada bersamaku dan tidak sibuk bekerja. Aku pun meminta maaf pada Tuhan karena telah berpikir yang kurang tepat saat melihat gadis itu.  Kami langsung saja menuju toko buku dalam mal tersebut. Kemudian aku menuju ke tempat penjualan buku - buku untuk kuliah jurusan Ekonomi. Nah, ketemu buku yang kuinginkan setelah aku sibuk mencari ke sana ke mari. Baru kusadar Tari sudah tak bersamaku. Aku tahu dia pasti berada di tengah - tengah buku novel romantis kesukaannya.  Aku pun ke kasir untuk membayar buku yang kubeli terlebih dahulu lalu kembali mencari Tari di tempat buku - buku novel. Aku mendadak kaget kulihat rambut merah muda yang sangat kukenal berada diantara buku - buku komik. Dia tampak serius memperhatikan gambar - gambar yang terdapat di  dalam buku yang ia pegang. Aku berada sekitar tiga rak buku darinya. Dia adalah Tresna... Sesaat aku terdiam dan ingin kupanggil namanya dengan perasaan bahagia karena sudah lebih dari sebulan tak bertemu dan berkomunikasi dengannya sejak pengumuman pemenang acara perayaan hari Ulang Tahun Toko Daring tempat kami bekerja. Saat itu kami merasa sangat bahagia. Kami mendapat juara 2 dan mendapatkan uang tunai cukup lumayan untuk membantuku membeli buku - buku dan keperluan kuliahku.  Namun sesaat tenggorokanku menjadi kering dan tak dapat bersuara. Kudengar seseorang dengan suara manja menyapanya.  "Sayang, udah dapat komik yang kamu cari? Ayo kita makan, papa tunggu kita di atas!" Aku segera menoleh ke sumber suara tersebut. Aku melihat gadis itu... anak pemilik mal yang tadi kami lihat di parkiran sedang menyapa Tresna dengan panggilan sayang. Karena kaget aku lalu menyembunyikan diriku dengan berjongkok di depan rak buku di hadapanku. Aku tak mau mempermalukan diriku dengan melihat pemandangan ini. Terdengar suara Tresna membalas panggilan itu. "Iya, aku udah dapat satu buku komik. Sebentar aku bayar ya. Kamu sudah lapar? Katanya mau tetap langsing biar cantik saat pakai gaunmu nanti," terdengar suara Tresna diiringi dengan tawa kecil kedua sejoli itu.  Aku tak merasakan bahwa air mata ini sudah mengalir keluar dari pelupuk mataku. Aku merasa diriku begitu lemas. Hingga tak sadar aku  telah memutar balik tubuhku, lalu terduduk kemudian bersandar pada rak buku di belakangku. Tresna, semua jelas sudah... aku bukan  Cintamu. Ada wanita yang jauh lebih berkelas dariku. Aku hanya anak seorang janda yang berjuang keras demi hidupku. Sementara kamu telah memilih seseorang yang jauh lebih tinggi derajadnya dibandingkan keluargaku. Namun aku menyesali semua yang terjadi. Mengapa aku mau dibohongi? Mengapa dia banyak membohongiku? Hingga pilihan buku favoritnya saja dia berbohong. Dia bilang suka novel detektif, namun tadi kulihat dengan mataku dia memilih satu komik luar negri yang kutahu pasti tidak murah harganya. Apa maksudnya dia berkata lebih senang membeli buku dari lapak buku - buku bekas namun kenyataannya dia berbohong.  Aku berusaha menahan diriku untuk tidak terlampau bersedih. Aku takut Tari menjadi khawatir dan aku belum siap untuk menceritakan masalahku padanya. Aku pun mencari Tari. Terlihat dia mulai mencurigai perubahan diriku yang menjadi lebih  banyak diam. Beberapa kali dia menanyakan keadaanku, apa aku baik - baik saja? Aku hanya jawab aku mungkin lelah dan ingin segera pulang.  Sesudah Tari membayar buku yang ia beli, akhirnya kami pun menuju parkiran motor di bawah mal kemudian kami segera pulang. Sesampai di rumah, kumatikan telepon genggamku dan aku berusaha memejamkan mata setelah mandi dan makan malam hari itu. Aku tak membutuhkan konfirmasi darimana pun sebab Tresna bukan kekasihku. Aku tak berhak bertanya padanya mengenai hal yang kulihat tadi di mal. Ini semua salahku, aku terlalu memikirkannya hingga sejauh ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD