Aku membenamkan diri dengan tugas kampus dan Live ku. Aku seperti lari dari... entahlah apa.. mungkin aku tak mau memikirkan yang tidak - tidak atas hubunganku dengan seseorang. Dulu memang kami pernah dekat dan saat ini tidak lagi. Terasa memang ada ruang yang hilang di sana. Aku pun tak pernah lagi menonton Live nya. Banyak yang bilang pengikutnya semakin banyak dan entah tiba - tiba aku dengar dia tidak live lagi.
Berbagai informasi yang tak pernah kuminta mulai berdatangan. Menginformasikan bahwa dirinya mengundurkan diri dari dunia maya dan fokus akan usahanya yang mulai berkembang. Aku dengar juga dia sedang mempersiapkan pernikahannya.
Perlahan aku mulai tidak lagi ingin tahu akan dirinya. Entah mengapa. Ada rasa yang aneh setiap kudengar dirinya dengan seseorang dan bukan denganku. Tapi dia memang hanya teman. Dan aku malah akan mempermalukan diriku sendiri jika bereaksi berlebihan terhadap informasi mengenai dirinya dengan wanita lain.
Tiba - tiba di sore hari kulihat langit senja yang memerah, telepon genggamku berbunyi. Aku melirik siapa yang meneleponku. Kulihat namanya JustinB, nama itu yang kusimpan di telepon genggamku. Sedikit ragu aku mau mengangkatnya. Namun teleponku terus berbunyi.
"Hallo!" sapaku padanya.
"Cinta, kamu kemana saja? Apa kabarmu? Sudah sekian lama kita tidak berbicara ya!" seru Tresna di seberang sana. "Cinta, aku rencana mau mengadakan bagi - bagi GA (Give Away) di Live promosiku Sabtu ini. Kamu datang ya. Ikutan kuiz buat meramaikan" imbuhnya.
Ada keraguan di hatiku untuk hadir di situ. Namun, aku ingin menemuinya mungkin karena rindu? Ah entahlah. Akhirnya setelah beberapa detik kuterdiam, aku menjawabnya," Baiklah Tresna hari Sabtu kan? Jam berapa nanti kirim saja ya kapan rencana acaranya, kuusahakan hadir."
Tresna nampak senang dengan jawabanku. Ia pun akan mengabarinya lagi kapan pastinya acara tersebut.
Hari Sabtu pun tiba, kulihat baru beberapa pengikutnya yang datang melihat kegiatannya. Tampak olehku dia sedang sibuk mempersiapkan beberapa produk untuk ditampilkan. Sepertinya Tresna tak menyadari kehadiranku di situ. Tak lama kemudian dia membuka acara dan mempromosikan produk - produk nya. Tiba giliran dia membuka sesi tanya jawab dan banyak yang bertanya mengenai produk - produk yang ia tawarkan.
Kemudian Acara Kuiz seputar produk yang ditawarkannya pun dimulai. Aku yang mengetahui jawabannya pun ikut menjawab. Aku memakai akunku: Cintaku_Kamu. Tresna juga mengenali akunku yang ikutan menjawab kuis.
Namun ada yang menurutku aneh saat dia menyebutkan nama akunku secara lengkap, wajahnya pun tampak begitu sumringah seperti bertemu seseorang yang teramat ia rindukan.
"Hai, Cintaku_Kamu... aku kok deg..deg an ya saat menyebutkan nama akunmu, " Tresna berkata dengan nada bahagia. "Jawabanmu benar lho. Hadiah apakah yang kamu pilih? Pilihlah aku jadi pacarmu!," kelakar Tresna sambil menyanyikan sekalimat lagu dan menyebut lengkap nama akunku dan bukan sekedar memanggil namaku. Para penggemarnya pun banyak yang menggodanya saat itu sambil memberikan emotikon hati.
Dahulu aku tidak pernah baper dengan panggilannya atau rayuan gombalnya. Namun kenapa sekarang hatiku kok berbunga - bunga. Ah tidak, kata batinku dia milik wanita lain dan aku tak mau mengganggu hubungan orang lain. Aku pun berbasa - basi memilih hadiah hiburan yang ia tawarkan kemudian aku mengundurkan diri dan mulai berselancar ke aplikasi lain.
Keesokan harinya Tresna melakukan Video Call. Dia menyayangkan kenapa aku cepat pergi dan tidak mengikuti beberapa kuiz berhadiah lainnya. Dia menceritakan keinginannya untuk membuka satu toko daring lain di aplikasi lainnya.
Aku heran padanya, semua yang dia ceritakan hanya tentang usahanya dan tokonya tidak dia ceritakan tentang kehidupan percintaannya. Aku memberanikan diri untuk bertanya soal ini, "Tresna, apa benar kamu akan menikah?"
Tresna membesarkan kelopak matanya karena kaget lalu berkata, "Siapa yang memberi informasi itu kepadamu Cinta? Aku memang ada dekat dengan seseorang sekarang namun kami belum membicarakan apa pun."
Entah mengapa saat itu aku ingin segera menutup pembicaraan kami yang rasanya sungguh mengagetkan buatku. Tresna akhirnya berupaya untuk mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan promosi - promosi yang sedang gencar ia lakukan.
Aku mulai merasa enggan untuk mendengar kisahnya lagi. Aku pun memberikan alasan untuk menutup pembicaraan kami dan akhirnya kami menyudahi diskusi kami hari itu.
Ada apa denganku kali ini? Sangat tak biasa aku merasa seperti ada bagian yang sakit di hatiku. Apa aku cemburu akan perkataannya mengenai wanita lain? Aku termakan omonganku sendiri, yang mengatakan tak akan cemburu jika dia dekat dengan yang lain!
Aku tak mau berlarut dengan perasaanku yang galau. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Beberapa pekerjaan sengaja kutunda nanti malam baru aku selesaikan. Aku merasa kepalaku berat dan perlu waktu untuk sekedar refreshing.
PPKM yang membuatku memilih untuk berdiam diri di rumah saja. Aku membantu ibuku membersihkan rumah. Ibuku seorang janda karena ayahku telah meninggal dunia saat aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Karena itu aku berusaha untuk dapat membantu ibu yang hanya seorang guru SD untuk membiayai kuliahku sendiri dengan aktif promosi produk dan berbagai kesempatan yang dapat menghasilkan uang.
Saat aku sibuk membersihkan rumah, telepon genggamku berbunyi. Sebuah pesan singkat pun masuk. Dilihatnya pesan itu dari Tresna. "Cinta, team Jakarta mau mengadakan acara di mal. Apakah kamu bisa ikutan datang? Aku akan ada di sana juga. Habis acara kita pergi yuk minum kopi bersama!"
Aku merasa sangat malas membaca pesan singkat itu. Rasanya seperti orang bodoh yang mengiyakan berduaan dengan orang yang sedang merencanakan pernikahan. Aku pun menolak halus dengan mengatakan saat ini sedang PPKM mana bisa sembarangan kita membuat acara kerumunan di mal.
"Cin, acaranya nanti setelah PPKM selesai. Lagipula sebentar lagi selesai. Sabtu depan rencananya kita mau kumpul. Datang ya, banyak teman - teman dekat kamu datang kok ada Meylan dan Ratna mereka juga setuju untuk hadir, " Tresna sedikit memaksanya untuk datang.
Aku pun mengetik jawabanku dengan malas , "Ya, sudahlah nanti aku ijin ibu dulu untuk pergi. Terima kasih undangannya". Aku pikir karena lokasinya di Jakarta sementara untuk ke sana aku harus naik kereta maka ibu tak akan mengijinkan. Tapi ternyata, ibu mengijinkan. Mungkin karena ibu sudah melihat aku agak jenuh di rumah jadi beliau memberikan ijin juga.
Telepon berdering saat aku akan berangkat. Aku mengangkat telepon sambil tergesa - gesa. "Halo.."
"Cinta, gimana kamu jadi kemari kan? Acaranya jam 12.00. Kamu naik apa kemari?" suara Tresna terdengar kurang jelas seperti nampak sedang dalam perjalanan.
"Iya Tresna, aku baru saja selesai berpamitan sama ibu dan mau jalan ini. Rencana aku akan ke sana naik kereta. Tunggu saja ya di mal nya aku tahu tempatnya, kok!" sahutku terburu - buru sambil mematikan telepon genggamku karena ojeg daring yang kupesan telah tiba.