Kenapa Berpisah denganmu Rasanya Sulit?

1343 Words
Aku tiba di stasiun tujuan. Masih belum banyak penumpang tampaknya mungkin karena PPKM baru saja selesai. Mal yang dimaksud oleh Tresna tidak jauh dari stasiun ini. Aku hanya tinggal menyeberangi jalan saja. Aku melihat jam tanganku, rupanya masih pukul10.30 aku datang terlampau cepat karena takut kereta datang lama tapi ternyata kereta datang cepat dan karena penumpang sedikit, jadi waktu tempuhnya semakin cepat.  Aku mengecek pesan singkat di telepon genggamku. Banyak sekali pesan yang belum sempat k****a dari tadi. Baru aku akan membukanya, tiba - tiba masuk pesan baru dari Tresna. Dia menanyakan apakah aku telah sampai. Lalu aku membalas pesannya, "Aku baru sampai stasiun, sebentar lagi aku sampai. Kamu ada dimana?" tanyaku. "Aku tunggu kamu di Resto Semangkuk Nasi ya!", balasnya Aku pun sebenarnya tak tahu letak rumah makan yang dimaksudkan. Jadi aku menyeberang jalan saja menuju ke mal yang dimaksud. Sesampai di lobby mal, aku pun menelepon Tresna untuk menanyakan tepatnya posisi rumah makan yang dimaksudkannya. Dia pun mengarahkanku dan akhirnya aku dapat menemukannya. Akhirnya aku dapat bertemu langsung dengan Tresna. Dia terlihat sedikit berbeda dari yang kulihat di layar kaca. Namun kuakui wajahnya yang manis khas orang Jawa dan tampak terlihat lebih muda dari usianya. Ini kali pertama kami bertemu langsung. Kami tetap mengenakan masker kami masing - masing. Saat ini jam tangan masih menunjukkan pukul 11.00 pagi. Kami pun berbincang dan ada perasaan rindu yang kurasakan saat kami saling bertatapan.  Tresna memang sangat ramah dan baik hati. Pantas banyak yang suka berbicara dengannya. Mungkin aku saja yang tak normal maunya malah menjauhinya. Namun pergi darinya kok terasa amat sulit bagiku. "Cinta.. apa kabar? Akhirnya kita bertemu langsung aku senang sekali hari ini!" dia berkata padaku dengan senyuman di wajahnya.  Aku tersenyum simpul menyambut ucapannya," Cindy nama asliku" "Bukan, kamu Cintaku, Kamu!" Tresna menggodaku dengan ucapannya. Aku merasa wajahku tersipu - sipu. Kenapa dia harus menggodaku dengan nama akunku itu. Kami pun memesan segelas minuman dingin agar dapat kami nikmati saat berbincang berdua. Aku membatasi sikapku padanya supaya aku tidak menjadi terlampau memikirkannya seusai pertemuan ini.  Minuman kami pun tiba dan kami minum sambil berbincang menunggu teman - teman yang lain. Beberapa menit kemudian satu demi satu teman - teman yang lain berdatangan. Aku pun mulai berbaur dengan yang lain dan tertawa bercanda bersama. Tak lupa aku berswa foto bersama mereka semua.  Ada yang aneh kurasakan, aku merasa Tresna selalu memperhatikan gerak - gerikku. Terlebih lagi jika aku berkumpul bersama teman - teman cowok lain. Dia akan segera mendatangi kelompok itu dan ikut bergabung bersama kami.  Beberapa teman cewek pun datang menemuinya. Mengajaknya berswafoto atau sekedar mengajaknya berbincang. Rupanya pertemuan ini dihadiri oleh beberapa sponsor. Mereka meminta setiap pemandu acara memiliki ide untuk menyambut ulang tahun tempat penjualan daring dimana kami bekerja. Akhirnya kami semua memutuskan, bahwa kami akan membuat program kolaborasi antar pembawa acara. Aku mengajak Tresna untuk membawakan satu program bersama karena kulihat dia dan aku memiliki kesamaan yang kalau kami dipadukan maka kami akan jadi pembawa acara yang seru. Tresna pun tak menolak ajakanku.  Saat kami bersepakat, banyak para wanita di sana yang ingin berkolaborasi dengan Tresna. Mungkin karena dia baik dan cukup lumayan wajahnya. Cemburu? Hmm.. kuakui sedikit kurasakan saat dia bersama para abg yang sangat ngefans padanya.  Aku memilih untuk duduk di pojok yang membelakangi mereka sambil meminum es jeruk yang telah kupesan. Beberapa saat kamudian kurasakan pundakku ditepuk dengan lembut. Aku menengok ke samping kiriku dan kulihat Tresna dengan senyum manisnya. "Kok kamu malah menyendiri? Kamu tidak cemburu melihat cewek - cewek itu mengajakku berswa foto kan?" sapa nya dengan senyum menggoda. "Apa? Cemburu, katamu? Tidaklah aku kan bukan pacarmu mana berhak aku cemburu" balasku. Tresna seperti tidak menanggapi kalimatku barusan dan duduk di hadapanku. Kulihat jam tanganku sudah jam 2 siang terasa perutku mulai keroncongan. Mataku sibuk menelusuri buku menu di hadapanku. Memilih makanan yang ingin kumakan di cuaca yang cukup terik hari ini. Sebenarnya aku merasa sedikit malas untuk makan meski kulihat teman - teman lainnya banyak yang sudah mulai makan dari tadi.  Aku merasakan Tresna menatapku saat aku masih menelusuri halaman demi halaman buku menu.  "Kenapa kamu bingung pilih makanan biar tidak tambah bulat?" tanyanya sambil bercanda Aku mulai merasa kesal dia bercanda seperti itu. Namun aku hanya membalasnya dengan senyum simpul, sambil memanggil mbak pelayan resto tersebut. "Mbak saya pesan Nasi dan Chicken Teriyaki satu dan minumnya Es Teh Tawar," kataku saat mbak pelayan resto yang datang mendekatiku. Tiba - tiba kudengar Tresna pun bersuara, " Buat satu lagi ya mbak saya juga mau Nasi Chicken Teriyaki dan Es Teh Tawar nya." Mbak pelayan sempat mengulang membacakan catatannya kemudian setelah kami menyetujuinya, ia pun berlalu dari meja kami.  "Cinta, kita mau buat konten tentang apa? Biasanya ide kamu cemerlang kalo soal konten?" tanya Tresna. "Aku sedang memikirkannya juga saat ini. Temanya kan artis Hollywood jadi kita harus buat konten artis", sahutku sambil berpikir. Entah darimana pikiran itu datang tiba - tiba kami berdua mengatakan hal yang saling berhubungan. "Justin Bieber," serunya. Bersamaan dengan itu aku menjawab, "Selena Gomez". Kami pun tertawa terbahak - bahak dengan ide ini.  Baru - baru ini aku memang sedang memperhatikan kisah Selena Gomez. Betapa sedihnya saat dia harus berpisah dengan Justin Bieber. Semua ini terungkap dalam lagu - lagu Selena Gomez.  Kami membicarakan konsep yang akan kami bawakan sambil kami makan. Hingga kami mematangkan konsep tersebut. Teman - teman pun banyak yang sudah memisahkan diri. Sebagian mereka pun pergi bersama dengan teman lainnya berkeliling mal atau langsung kembali pulang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku pun merasa telah cukup lama berbicang dengan Tresna dan teman - teman. Tiba - tiba telepon genggamku berbunyi. Terdengar suara ibu menanyakan kapan aku akan pulang. Aku menyampaikan padanya aku akan pulang sesaat lagi. Sepertinya pukul 5 sore akan sampai di rumah. Tiba - tiba Tresna berkata sesaat setelah aku selesai berbicara dengan ibu," Cin, seperti yang telah kukatakan padamu. Setelah acara ini berakhir maka aku akan mengajakmu minum kopi di kedai "Kangen Sahabat". Gimana kamu setuju kan? Sebentar saja, nanti kamu akan kuantar ke stasiun." Entah kenapa aku sangat menginginkan berlama - lama bersama dengannya. Seharian waktu kami bersama tidak membuat aku bosan malah senang saat dia mengajakku. Aku pun mengangguk tanda setuju.  Rupanya di sebelah stasiun ada kedai kopi kekinian yaitu, "Kedai Kangen Sahabat". Di kedai tersebut dijual bermacam - macam menu kopi dan makanan dengan nama - nama  produk yang lucu. Ada kopi "Pacarku Cantik", kopi s**u "Galau LDR", kopi s**u campur vanila "Aku Sebenarnya Cinta" dan banyak lagi.  Rupanya Tresna memang sering membeli kopi dari kedai kekinian ini. Dia memintaku duduk dan aku pun pasrah dengan pilihan kopinya. Aku hanya berpesan suka yang manis dan pakai es. Tresna memesan dua gelas kopi ukuran medium. "Kak, tolong buatkan kami dua kopi ukuran medium "Aku Sebenarnya Cinta", serunya kepada petugas kasir yang membuatku kaget dengan pilihan kopi yang dipesannya. Aku menutupi kegugupanku dengan kalimatnya tadi sambil berpura - pura memainkan telepon genggamku. Sempat kulirik Tresna yang berada agak jauh dari tempatku duduk tampak senyam - senyum ke arahku sambil menunggu pesanannya selesai dibuatkan.  Apa sih yang akan dilakukannya kataku dalam hati sambil berpura - pura melihat - lihat pesan ibu di telepon genggamku. Dia kan sedang dekat dengan seorang cewek. Mengapa dia seperti ingin mendekatiku seolah merayuku seperti ini? Tak sampai lima menit, kulihat Tresna berjalan ke arahku sambil membawa dua gelas kopi ukuran medium dengan tulisan di label yang di selipkan di gelasnya, "For Mbak Cinta: Aku Sebenarnya Cinta" "Tresna, kamu kok pesan yang ini? Apa alasanmu?" tanyaku penasaran. Tresna hanya tersenyum sambil berkata, "Cinta, ini memang kopi favoritku. Aku suka sekali pesan yang ini. Rasanya pasti kamu suka sekali. Pas kan dengan nama kamu?" Aku pun hanya tersenyum mendengar penjelasannya. Lucu juga Tresna ini dan buat aku semakin nyaman berbincang dengannya. Kenapa kamu malah membuatku sulit untuk melepaskanmu?  Kami hanya berbicang sesaat karena aku harus cepat kembali pulang. Seperti janjiku pada ibu aku harus tiba di rumah paling tidak jam 5 sore sebelum jam 6 sore. Kamu tahu yang kurasakan saat ini, aku mulai menyukai Tresna setelah bertemu langsung dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD