Aku harus menjauhinya Ratna..
Malam ini aku merasa galau. Aku dengar lagi dari Ratna tentang rencana pernikahan Tresna. Manusia yang saat ini aku rasa sangat sulit untuk menjauhinya. Ada apa dengannya, semakin aku ingin menjauhinya maka semakin aku jadi merindukannya.
Ratna mengingatkanku bahwa kami hanya berkenalan melalui sosmed banyak rahasia yang mungkin tidak dikatakan oleh Tresna. Aku menjadi egois tak mau kehilangan dirinya dan membuatku semakin galau. Acara kegiatan Perayaan Ulang Tahun Tempat Penjualan Daring dimana kami bekerja pun semakin dekat. Aku jadi sering berkomunikasi dengan Tresna mengenai acara yang kami telah persiapkan.
Kami berencana untuk membuat acara Live kolaborasi di kedai kopi "Kangen Sahabat". Persiapan kami cukup banyak. Kami berdandan ala Justin Bieber dan Selena Gomez yang kasual. Kami bersepakat akan memakai pakaian hoodie merah muda dan memakai topi kupluk ala musim dingin.
Acara akan dimulai pukul 7 malam. PPKM tahap lanjutan masih berlaku namun kami tetap diperbolehkan untuk beraktifitas di kedai kopi ini hingga pukul 8 malam. Kami berjanji untuk datang pukul 5 sore untuk mempersiapkan semuanya. Saat ini sudah jam 5 sore, aku ternyata datang lebih dahulu. Padahal dari tadi siang Tresna sudah berkali - kali mengingatkan jangan terlambat dan jangan lupa untuk membawa segala keperluan kami termasuk tripod untuk ponsel kami.
Saat kusibuk memasang tripodku, aku merasakan pundakku ditepuk dari belakang. Aku menoleh dan betapa terkejutnya aku melihat penampilan Justin Bieber Indonesia ini. Penampilan Tresna tampak berbeda dari biasanya dan ia tampak lebih tampan dengan rambutnya yang di warnai menjadi merah muda mirip Justin Bieber yang asli. Aku hampir tak berkedip memandangnya dengan senyum manisnya, Tresna pun memandangiku dan mulai mengangkat ponselnya dan mengambil fotoku. Aku kaget dan berusaha menolak untuk di foto.
Kemudian dia mulai merangkul pundakku dan kami membuat wajah - wajah lucu saat berswafoto. Aku memandangnya dari samping dan sangat dekat. Jantungku berdegup kencang. Ada perasaan aneh yang timbul di sana. Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?
Tak lama kemudian para tim sponsor berdatangan dan melakukan briefing terakhir sebelum acara dimulai. Acara akan dimulai dengan lagu: Justin Bieber "Yummy" dimana Tresna akan melakukan parodi bergaya ala Justin Bieber dan aku akan menyebutnya dengan panggilan "JB" dan dia tetap akan memanggilku "Cinta". Aku juga diminta untuk menyanyi sedikit dari lagu Selena Gomez "Ice Cream" dengan iringan rekaman musik yang sudah dipersiapkan.
Acara pun dimulai tepat waktu. Kami masing - masing melakukan peran kami. Sambutan meriah berdatangan dari para penonton kami. Saat itu kami pun mulai mempromosikan produk - produk dari sponsor kami. Aku merasa Tresna sering melirikku diam - diam. Entahlah apakah ini hanya perasaanku saja, tapi aku merasa dia senang memperhatikanku bahkan selalu tersenyum saat aku mengatakan hal yang lucu. Aku merasa sangat berbahagia saat ini. Namun dirasa bahagiaku, sedikit kurasakan pedihku jika aku jatuh cinta dan ternyata dia bukan untukku. Acara masih berlangsung dan aku berusaha mengalihkan pikiran - pikiranku dengan membaca komentar - komentar dari penonton acara kami.
Ada satu penonton yang komentar - komentarnya begitu menarik perhatianku. Nama akunnya adalah Senja. Komentar - komentarnya hanya ditujukan kepada Tresna. Dia memuji Tresna dan selalu berusaha menjawab semua pertanyaan Tresna. Aku menengok pada Tresna saat membacakan komentarnya.
"Kak JB, nanti malam minggu datang ke rumahku ditunggu mama ya!" tulisnya di komentar saat itu.
Entah kenapa perasaanku menjadi tak enak saat membacanya. Tresna pun seperti tak memperdulikan kata - kataku saat membacakan komentar itu. Tresna pun tetap fokus sibuk membawakan acara kuiz berikutnya yaitu Tebak Gambar. Tresna hanya menggambar satu bulatan kecil dan para penonton harus dapat menebaknya. Aku membantu Tresna memandu acara Tebak Gambar tersebut.
Lagi - lagi akun yang bernama Senja tersebut kembali memberikan komentar yang menurutku berbeda dari banyak komentar lainnya.
"Kak apa jawabannya, kasih tau dong! Aku telepon kamu nih biar dikasih tahu!"
Aku kali ini tak mau membacanya. Apa orang ini memiliki hubungan khusus dengan Tresna? Mengapa baru saat ini dia hadir di acaranya? Melihat komentarnya, Senja tampak berani karena sudah mengenal dekat Tresna.
Setelah ada lima penonton yang menjawab dengan benar, maka Tresna menyelesaikan gambarnya dan aku mengumumkan pemenang kuiz. Akhirnya acara kolaborasi dalam rangka merayakan hari Ulang Tahun Tempat Penjualan Daring pun selesai. Semua sponsor yang hadir di kedai kopi "Kangen Sahabat" bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada kami karena acara telah usai.
Penilaian masih berlanjut kepada peserta kolaborasi lainnya. Aku berharap dapat memenangkannya melihat jumlah penonton dan ada beberapa diantara mereka yang membeli produk yang kami tawarkan. Kami akan menunggu nama pemenangnya setelah acara perayaannya selesai pada akhir bulan ini.
Kedai Kopi "Kangen Sahabat" yang kami pilih berada di mal tak jauh dari rumah kakakku. Sengaja demikian agar aku dapat pulang ke rumah kakak setelah acara selesai karena pasti aku akan sampai malam di mal.
Tresna menyalamiku," Terima Kasih ya sudah banyak membantuku tadi!"
Aku pun tersenyum dan mengatakan padanya, "Sama - sama Tresna"
Tresna pun mengambilkan kopi yang ia pesan. Aku selalu saja iseng membaca apa nama kopi pesanannya kali ini.
"For Cinta: I Love You", aku menghentakkan punggungku ke senderan bangku Kedai Kopi tersebut. Tresna tampak memperhatikan reaksiku itu.
"Kamu kenapa? Capek ya? Nanti aku antar ya!" katanya sambil memperhatikanku.
Aku tak menjawab lagi terasa melelahkan menghadapi situasi aku dan Tresna. Ingin rasanya kutanya pada Tresna mengenai Senja. Wanita yang memberikan komentar - komentar berbeda saat tadi kami melangsungkan acara. Aku merasa bodoh harus cemburu pada Tresna sebagai rekan kerjaku. Tapi ini yang aku rasakan.
"Cin, aku mau kita foto - foto lagi di taman mal saat kita keluar nanti. Pemandangannya bagus sekali sayang untuk dilewatkan, "ajak Tresna setelah kami bersiap untuk pulang.
Aku merasa takut kenangan ini akan menyakitkanku. Apakah karena traumaku di masa lalu membuatku begitu takut hancurnya perasaanku jika Tresna akan membuatku sakit hati?
"Cinta, kok kamu diam saja sejak tadi? Apa ada kata - kataku yang tak berkenan di hatimu? Maafkan aku ya!" Tresna mengulurkan tangan sambil tangan kirinya merapikan rambut warna merah mudanya.
Aku kesal kenapa dia harus seganteng ini dihadapanku. Membuatku menjadi terlena akan sikap manisnya. Aku pun tersenyum dan menjawab seadanya, "Hmm.. tidak apa - apa aku hanya lelah."
Pemandangan taman mal di malam minggu ini tampak sangat indah dan romantis. Bunga - bunga cantik dikelilingi lampu warna - warni menambah semarak pemandangan taman. Banyak muda - mudi berpasangan atau bersama keluarga mereka mengambil momen penting malam ini untuk berswa foto.
Aku kaget seketika saat Tresna mengenggam tanganku dan mengajakku ke satu spot foto yang banyak peminatnya. Kami bahkan harus antri sekitar lima menit untuk berfoto di sana. Ada bentuk hati pada pohon yang dijadikan latar belakang foto. Dengan hiasan bunga - bunga mawar di sekelilingnya dan lampu sorot yang menampilkan suasana intim dan romantis yang cocok untuk pasangan yang sedang memadu kasih.
Aku merasakan lengan Tresna merengkuh pinggangku dan membuatku kaget dibuatnya. Aku tiba - tiba mengingat dia, sosok pria dalam hidupku dulu, cinta monyetku, Rendra. Kami berpisah saat Rendra harus mengikuti orang tuanya pindah ke Australia. Tak ada harapan bagi hubungan kami. Hanya menyisakan sedikit rasa luka di hatiku. Mereka pindah untuk menetap di sana entah sampai kapan. Bahkan hingga tiga tahun kami berpisah aku tak lagi mendengar kabarnya.
Malam itu hingga Tresna mengantarku ke rumah kakakku, aku masih merasa bingung dengan situasi hubungan kami. Sepertinya banyak hal yang Tresna tidak ceritakan kepadaku. Kehidupannya selain media daring tempat kami berjumpa. Apakah wanita yang bernama Senja itu adalah kekasihnya? Lalu mengapa dia memperlakukanku seolah aku seseorang yang berharga dalam kehidupannya?
Aku akhirnya memikirkan Tresna hingga tertidur lelap. Aku sendiri menjadi lelah akan hal ini. Tak kuat untuk memikirkannya. Tresna, andai kau tahu yang kurasakan.