"Papa nitip Agha dan mama sama kamu, ya, Nak. Doakan semoga operasi Papa berjalan dengan baik. Papa kembali sehat untuk mendampingi kalian berdua," ujar Rivaldi Ganeswara—mertuanya yang tidak lain ayah kandung Agha Pratap Ganeswara.
"Pasti, Pa. Papa harus sehat," ujar Agha yang sedari tadi terus menggandeng tangan Ayun seakan sedang menunjukkan kepada ayahnya bahwa hubungan keduanya baik-baik saja setelah pernikahan dadakan.
"Cih, pencitraan," batin Ayun. Akan tetapi, sangat berbanding terbalik sebab bibirnya nyengir begitu lebar juga disertai anggukan kepala tegas sebagai jawaban dari amanat mertuanya.
Brankar pasien didorong masuk ke ruang operasi. Sosok Wina yang sejak tadi dirangkul oleh Ayun terlihat tumbang. Beruntung karena Ayun di sebelahnya dan merangkul sehingga menahan bobot tubuh ibu mertuanya. "Ma, tenang," bisik Ayun diangguki oleh Agha yang juga sama khawatirnya.
Ayun sudah mengganti panggilan kepada Wina dan Rivaldi atas perintah tegas ayahnya—Bagas. Ayun tidak bisa cuek kepada Wina dan Rivaldi, tetapi sebagai gantinya dia acuh kepada Bagas. Masih ada sedikit rasa kesal lantaran ayahnya berbuat curang dengan mendukung pernikahan. Minimal dikasih tahu dari jauh-jauh hari, jangan serba dadakan seperti ini, apalagi seperti yang dibilang oleh Agha bahwa keduanya sudah dijodohkan sejak dulu. Karena fakta inilah membuat Ayun kesal bukan main. Untung dia sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Nggak kebayang bagaimana repotnya Ayun harus bersembunyi di belakang kekasihnya.
"Yun, temani Mama duduk di kursi," kata Agha melepaskan tautan tangannya di lengan Ayun. Membiarkan sang istri menuntun ibunya sedangkan pria itu mendekat ke pintu operasi. Ikut berdiri di sebelah Bagas.
"Mama mau minum, nggak? Biar Ayun beli ke kantin," tawar Ayun karena Wina terlihat lemas sekali. Ayun tidak tahu lagi dengan sikap Agha yang cuek, seharusnya pria itu lebih memperhatikan ibunya seperti membelikan makanan dan minuman.
"Kamu temani Mama saja, Yun. Tolong jangan ke mana-mana." Tangan dingin dan gemetar Wina menggenggam tangan Ayun. Dia merasakan ibu mertuanya nampak sangat khawatir.
"Ayun temani Mama," balas wanita itu turut menggenggam tangan sang mertua.
"Wina, sebaiknya kalian ke atas saja biar saya sama Agha yang menunggu Rivaldi," ujar Bagas masih berdiri tegak di dekat pintu. Pria paruh baya itu tak tega melihat istri sahabatnya yang nampak sekali kuyu, lesu, dan tak bertenaga usai suaminya masuk ke ruang operasi.
"Saya nggak pa-pa, Mas Bagas."
Bagas mengangguk setelahnya. Tugasnya sudah selesai setidaknya memberikan bentuk perhatian berupa penawaran. Dengan sengaja matanya terfokus pada sang putri yang membuang muka. Bagas pun berakhir menghela napas perlahan. Ayun masih mendiamkannya dan itu cukup menyakitkan bagi dia yang selalu mengumbar perhatian ayah dan anak.
"Yah, duduk nanti kakinya pegal," ujar Agha perhatian. Sama seperti halnya Ayun yang ditegur dengan panggilan orang tua maka Agha pun tak ada bedanya. Bagas berperan sebagai penanggung jawab pasangan baru.
"Ayah masih kuat. Segar bugar begini, kok," katanya menepuk bahu menantunya pelan. "Jangan-jangan kamu yang nggak kuat berdiri, ya? Ah cemen! Sana sembunyi di ketiak istrimu saja kalau begitu."
Keduanya sontak terkekeh. Lumayan menghancurkan suasana tegang yang ada.
"Aneh banget disaat tegang begini masih bisa bercanda. Mertua sama mantu satu frekuensi," batin Ayun walau tak memperhatikan, tetapi telinganya dipasang tajam untuk mendengar pembicaraan suami dan ayahnya.
***
Yang tidak Ayun sadari kini terbangun di sebuah kasur empuk juga merasakan beban berat di atas perutnya. Oh jangan lupakan badannya terasa pegal karena tidurnya yang meringkuk memeluk—ini bukan guling! Ada napas hangat yang menerpa ubun-ubun kepalanya.
Perlahan mendongak dan dibuat terkejut bukan main. Wajah damai dengan bibir sedikit terbuka membuat Ayun menahan napas. Untung saja refleknya tidak sampai berteriak.
"Kenapa bisa ada di ruangan papa sama Agha. Perasaan tadi duduk sama mama nungguin papa operasi." Monolog Ayun makin nyaman dipeluk oleh Agha karena dia nggak berusaha menarik diri. Apalagi pelukan Agha begitu erat seolah takut kehilangan.
Namun, saat kembali menggali besar kemungkinan dia memang tidur soalnya waktu sama Wina duduk saling memeluk. Kenapa harus Agha, sih? Rasanya Ayun tidak mau berhutang budi kepada pria itu; suaminya.
Jika teman kerjanya tahu hubungan rahasianya dengan Agha besar kemungkinan dia akan diledek habis-habisan. Ah mengingat akan hal itu Ayun lupa di mana meletakkan ponselnya. Tasnya ada di mana pun dia nggak tahu.
"Gha, bangun," kata Ayun menggoyangkan lengan kekar sang suami yang memeluk pinggangnya dengan posesif.
"Sorry, pengap, ya?" tanya Agha merenggangkan pelukannya, tetapi tidak melepaskannya membuat pergerakan Ayun terbatas. Pria yang kini tengah mengucek kelopak mata mendadak menunduk membuat tatapan keduanya terkunci. Tanpa diduga oleh Ayun keningnya mendapat kecupan dan setelahnya Agha makin memeluknya.
Kepala Ayun terasa berat memikirkan situasi yang sedang dihadapi. Kenapa dia diam saja alih-alih mengamuk dengan tindakan kurang ajar Agha. Tapi ... bukankah mereka sudah menikah. Hal seperti ini wajar, bukan?
"Kamu nyaman dipeluk begini, Yun." Bukan sebuah kalimat pertanyaan karena yang didenger Ayun seperti sebuah pernyataan yang tak bisa dia elak.
"Apaan, sih," sinis Ayun ribut sendiri memberontak membuat pelukan Agha pun terlepas.
Setelah berhasil melepaskan diri Ayun terduduk dengan tatapan tajam mengarah kepada pria itu bahkan secara terang-terangan memberikan jari telunjuk ke depan wajah Agha yang masih berbaring dengan kedua lengan sebagai bantalan.
"Lo rese banget jadi manusia! Gue nggak suka kalau lo nyosor kayak angsa! Gue emang istri lo, tapi bukan berarti lo bisa seenaknya begitu, Agha!" bentak Ayun lantaran ia merasa malu, sejatinya Ayun juga tidak tega membentak pria itu, ini semua karena perkara malu dan takut terlihat nyaman.
Ayun yang misuh-misuh sama sekali tidak ditanggapi oleh Agha, justru pria itu secara terang-terangan membalas dengan kekehan ringan.
"Kok respon lo santai begitu, sih? Lo nggak merasa bersalah sama sekali, ya!"
"Kenapa harus izin dan merasa bersalah. Kamu istriku bukan istri orang lain. Kalau mau melakukan lebih justru kita berpahala, Ayun," sambut Agha beranjak meninggalkan Ayun yang sudah melotot.
"DIH NAJIS BANGET SUAMI!"
"IYA, ISTRI?" balas Agha dari dalam kamar mandi. Ikutan berteriak sehingga Ayun makin jengkel.
"Lagian sejak kapan dia mau ngomong sama gue. Ingat-ingat, Yun, kalau Agha manusia paling anti ngajak lo ngomong entah sebagai tetangga atau bos. Papasan di lobby pun kayak orang nggak kenal. Kayak nggak pernah mandi bareng sok asing, sekarang dia yang ngeduluin ngajak damai. Gue ogah."
"Cuci muka sama gosok gigi dulu, Yun! Setelah itu kita ke ruangan papa."
"Papa gimana?" sahut Ayun secepat kilat mengingat mertuanya yang semalam masuk ke ruang operasi. "Lancar, Gha?" Walau kesal dengan anaknya, sejatinya bapaknya tidak bersalah. Ayun nggak akan mencampurkan masalah pribadi dengan Agha di depan kedua orang tua mereka.
"Lancar," jawab pria itu singkat.
"Mau pesan sarapan nggak?" tanya Agha sebelum Ayun benar-benar masuk ke kamar mandi.
"Lo yang bayar, 'kan?" tanya balik Ayun. Jangan sampai dia yang bayar.
"Iya."
"Oke! Bebasin yang penting ada nasi putih," pesannya bergegas masuk ke kamar mandi untuk buang hajat.
Melihat gerak-gerik istrinya yang tidak berubah sejak dulu entah mengapa membuat sudut bibir Agha berkedut. Dia mengingat jelas sarapan Ayun, makan siang, dan makan malam. Sangat mengingatnya karena keduanya tumbuh dan besar bersama. Sampai pada akhirnya Ayun menjauhinya karena kejujuran pria itu.
Agha menghela napas perlahan. "Semua sudah berlalu."