Bab 04. Tragedi Ponsel

1106 Words
Usai seminggu berlalu setelah operasi yang dijalani oleh Rivaldi dan seminggu juga status Ayun terikat dengan Agha. Dari kemarin mereka berdua masih santai dalam menjalani status baru ini, tetapi sekarang tidak bisa santai lagi. Masalahnya Ayun salah mengambil ponsel. Duduk menunduk di belakang meja resepsionis dengan kening yang mulai berkeringat. Gelisah dirasakannya, takut-takut kalau teman-temannya menelepon. Bukan mereka iseng, tapi memang hubungan pertemanan Ayun sukanya sat-set-sat-set bukan modal kirim pesan. "Yun, kenapa toh?" tanya seorang wanita dengan seragam batik yang sama dengan Ayun. Namanya Rita, keturunan Jawa tulen makanya ngomongnya medok. Untungnya keduanya berteman baik, sangat akrab malah walau usianya terpaut jauh. "Nggak kenapa-kenapa, Mba. Mba Rita mau ke kantin?" tanya Ayun. Biasanya jam istirahat bergantian yang satu ke kantin yang satunya jaga di meja. "Ayo sama kamu biar Nira yang jaga meja. Dia lagi puasa katanya," ujar Rita menggandeng Ayun yang masih duduk. "Puasa, Ra?" "Iya, Mba. Gih makan siang dulu. Klien pariwisata biar aku sama mas Dimas yang handle." "Okay, deh. Klien ini biar diurus sama pasangan suami-isteri, ya, Mba. Yuk kita makan kalau bisa yang lama," ledek Ayun kepada Nira yang malu-malu. Maklum masih pengantin baru. Kedua sejoli itu dipertemukan di lokasi kerja sampai pada akhirnya menikah. Ah melihat perjalanan kisah percintaan rekan kerjanya membuat Ayun merasa iri, padahal usia Nira tergolong masih muda, tapi berani mengambil keputusan menikah. Sangat berbeda dengan dirinya yang harus dijodohin dulu. "Yun, kemarin Mba ngeliat kamu berangkat sama pak bos. Itu beneran kamu atau memang jaketnya yang mirip," ujar Rita tiba-tiba saat keduanya sedang cuci tangan di wastafel sebelum masuk ke kantin. Sontak mendengar hal itu membuat bola mata Ayun melotot. Langsung menatap sekeliling panik. "Mba? Di mana?" Tak berniat mengelak karena mengetahui jelas sosok Rita tidak akan tinggal diam sebelum menemukan jawabannya. Itulah sebabnya Ayun harus pintar-pintar menjawab pertanyaan jebakan ibu tiga anak itu. "Panik banget kayaknya. Mba belum cerita ke siapa-siapa, kok, tapi kalau kamu berencana mengelak kayaknya Mba bakalan gembor-gembor ke yang lain." Tuh, 'kan! Baru saja ngebatin sudah ngancem. "Kebetulan saja itu, Mba. Kita searah, supirku nggak bisa jemput makanya nebeng ke Agha eh bos," beritahu Ayun. Padahal faktanya Bagas sudah tidak memberikan fasilitas supir setelah menikah dengan Agha. Ke mana-mana Ayun harus menggeret Agha sebagai supir. Namun, sepertinya setelah ini Ayun lebih baik kehilangan ongkos taksi daripada ketahuan oleh rekan kerjanya. "Oh begitu, ya? Pantas saja, tapi itu pas pakai jaket army. Waktu pakai celana legging turun di depan toko elektronik sambil nenteng kresek … terus tangan kamu digandeng loh, Yun," lanjut Rita menaikturunkan alisnya menggoda. "Mba …." Ayun merengek. Matanya sudah berkaca-kaca merasa rahasianya akan segera bocor. "Aku udah lapar banget, loh." "Ya sudah ayo makan. Mba nggak akan maksa kamu jujur. Tapi emang iya, 'kan?" tanya Rita menghadap Ayun membuat wanita itu mengerem mendadak. "Iya apa, Mba?" Belum sempat Rita menjawabnya seseorang tiba-tiba menyodorkan ponsel ke hadapan Ayun. Bukan hanya Ayun saja yang kaget dengan kehadiran, tetapi juga Rita yang sudah mengunci rapat-rapat mulutnya. "Anterin ponselku ke ruangan setelah makan," kata Agha begitu ponsel di tangannya sudah berpindah posisi ke pemiliknya. "Mampus!" gumam Ayun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia merasakan tatapan Rita semakin menyoroti ingin tahu. "Mba," panggilnya. "Aku tinggal, ya?" "Bos mau nunggu setelah kamu makan, Yun. Ayo makan dulu," ajaknya langsung menggeret pergelangan tangan Ayun. Ayun hanya bisa pasrah. Sialan terciduk oleh Rita yang notabenenya tidak bisa diajak bekerja sama. Malahan lebih baik Ayun terjebak di ruangan Agha daripada makan satu meja dengan Rita. Sangat yakin ia tak akan bisa berkelit lagi. Tragedi ponsel bikin makin susah berkelit. Belum lagi ketika menekan tombol power ada lima belas panggilan tidak terjawab dari Winda—teman semasa kecil yang kini sudah menikah dan memilih ikut suaminya di luar kota. Benar 'kan dugaan Ayun temannya menelepon karena kemarin malam Ayun tak sempat menelepon balik. Ah memikirkan ini apa yang akan dia katakan. Kemarin malam atau kemarin-kemarinnya mereka melangsungkan pernikahan, 'kan? Apakah Ayun harus jujur kepada Winda. Karena sudah dipastikan temannya itu pasti akan mencecar sampai dia jujur. Ah sialan! Agha benar-benar merepotkan dirinya. *** "Lo gila, sengaja, atau gimana, sih, Gha?!" teriak Ayun begitu membuka pintu ruangan Agha dengan kasar. Napasnya menggebu-gebu entah karena meluapkan emosi atau meluapkan rasa pedas karena makan bakso. "Diam aja?!" bentak Ayun. "Aku harus gimana? Ponsel kamu terus berdering." Jawaban jujur Agha karena benar, Agha baru sadar bukan ponselnya yang di saku setelah berdering dan wallpaper beranda yang berisi foto Ayun. "Ya 'kan lo bisa nunggu sampai rumah. Atau temui gue saat lagi sendiri. Lo tuh bener-bener sengaja, ya?" "Terserah kamu, Ayun. Mana ponselku?" pinta pria itu seraya menyodorkan tangan kiri ke arah Ayun meminta ponselnya yang dipegang oleh wanita itu. "Ck! Rese banget jadi manusia. Gue mau pulang sendiri. Nggak usah nungguin gue di halte!" Bergegas pergi setelah meletakkan ponsel mahal milik pria itu dengan sedikit keras. Bodo amat mau rusak atau tidaknya karena Ayun sudah keburu emosi mendengar respon santai suaminya. Nggak ada raut bersalah sama sekali. "Gue kesel banget sama tuh cowok awas aja kalau udah di rumah gue mau diemin. Bodo amat, nggak peduli sumpah." Misuh-misuh sepanjang jalan menuju ke lobby. Kerjaan Ayun memang sudah paten di lobby, lebih tepatnya di belakang meja resepsionis. "Kok cepet? Nggak manja-manja dulu sama suami," goda Rita mengetahui status Ayun dari wanita itu. Rasanya Rita menjadi punya bahan godaan baru untuk Ayun selain jomblo ngenes. "Ck, udah, deh, Mba. Aku lagi kesel nggak mau bahas-bahas itu." Karena itulah juga yang membuat Ayun terpaksa jujur kepada Rita. Walau Rita tidak menuntut, tapi entah mengapa Ayun segan kepada wanita itu. Ayun sudah menganggap Rita seperti kakaknya sendiri. "Mba," panggilnya. "Kenapa, Yun? Berubah pikiran mau ke ruangan bos lagi?" "Mba ...." Ayun merengek. "Jangan ngeledekin terus, deh. Emang Mba mau kalau aku ledekin sama papa." Ayun menyerang balik dengan wajah jengkel, tetapi setelahnya memberikan seringai. Kini giliran Rita yang berdecak. "Jangan ledek-ledekan itu, deh. Mending kamu ke pantry, Yun. Buat kopi, ngantuk banget semalam Mba begadang karena si kembar sakit." "Eh tapi nggak masalah 'kan nyuruh bojonya bos bikin kopi begini?" goda ibu tiga anak itu. "Ck. Bodo amat ah terserah Mba Rita saja. Aku buat kopi dulu." Aman saja Rita meledek Ayun karena di sini hanya ada mereka berdua. Dua orang lainnya yang merupakan sepasang suami istri sedang menghandle klien pariwisata. "Yun." Sekali lagi Rita memanggilnya. Akan tetapi, tatapannya fokus ke arah monitor. "Mba nggak minat sama papa kamu." Ayun terdiam. Belum membuka suara saat lagi-lagi Rita mendahului. "Mba nggak enak kalau papa kamu risih dijodoh-jodohin sama Mba, apalagi Mba janda tiga anak. Masih kecil-kecil dan Mba nggak mau dianggap mau ngeruk harta papa kamu." Kali ini kepala Rita menoleh ke samping mendapati raut wajah Ayun yang minim ekspresi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD