"Minimal ketuk pintu sebelum masuk!"
Teguran Ayun membuat lamunan Agha langsung tersadar. Sadar sesadar-sadarnya kalau sejak tadi mematung menatap penampakan Ayun yang hanya berbalut selembar handuk di atas paha. Apalagi posisi Agha yang belum berubah sama sekali; berdiri di depan pintu tanpa berniat memasukinya.
"Sorry, aku nggak tahu kalau kamu sudah bangun dan baru selesai mandi, Yun," jelasnya tak ingin membuat Ayun salah prasangka. Tak suka jika istrinya sampai melabeli dirinya sebagai pria m***m. Begitulah yang ada di benak pria itu bahwa wanita yang tak sengaja kepergok seringkali meneriaki m***m.
"Makanya dibilang lain kali," ketus Ayun kini sudah mengambil setelan tidurnya. "Mama sama papa sudah sampai, ya?"
Agha mengangguk lantas berkata, "Mereka maklum kamu sedang istirahat," katanya, lantas masuk ke kamar tak lupa juga menutup pintu dan memastikan sudah terkunci rapat seperti malam-malam yang lalu.
"Ya sudah kalau udah bilang begitu. Sebenarnya gue udah nggak ngantuk, sih, tapi kayaknya ketemu papa besok pagi saja biar papa sama mama istirahat," ujar Ayun kini benar-benar masuk ke kamar mandi lagi. Padahal ada wall-in closet yang memudahkannya memakai baju.
"Sial! Aku salah fokus." Monolog pria itu. Jangan salahkan matanya yang terus berkelana terlalu jauh, apalagi dengan status yang sudah jelas di antara mereka berdua.
"Ayun, kamu lapar atau tidak?!" tanya Agha sedikit berteriak karena Ayun masih berada di kamar mandi. Pria itu baru ingat kalau sang istri langsung datang ke rumah sakit, bahkan tanpa bersih-bersih terlebih dulu pun artinya tidak sempat makan malam, 'kan?
Pertanyaan bentuk perhatian Agha tidak salah, dong!
Pintu kamar mandi terbuka. Sosok dengan piyama berlengan pendek berjalan menuju meja rias. Mengambil hair dryer dan mengeringkan rambutnya tanpa lagi menoleh ke arah sang suami.
"Sebelum ke rumah sakit gue mampir beli jajan terus ayah telepon dan ngomel-ngomel karena lo ke sana sendirian. Dalam artian kenapa gue nggak ikut, gue yang diomelin, sih, bukan lo." Perjelas Ayun. "Jadi, gue nggak lapar."
"Makan apa?" Agha menyela membuat tangan Ayun yang sedang mengusap kening dengan kapas seketika terjeda. Pria itu tak peduli dengan ocehan Ayun yang sedang menyalakan dirinya sendiri yang ada dalam pikiran Agha adalah kondisi perut Ayun. Bukankah sikap pria itu suami siaga sekali?
"Es krim." Ayun menjawab singkat.
Mendengar jawaban sang istri membuat Agha menghela napas pelan. "Aku ambilin nasi, ya? Sama telur dadar mau nggak? Kamu masih doyan telur dadar, 'kan?"
Sekarang fokus Ayun benar-benar terpecah karena berhasil disinggung mengenai kedekatan mereka dulu semasa kecil, bahkan masa-masa remaja pun mereka masih berteman baik.
"Kamu tunggu di sini sambil pakai skincare," kata pria itu tanpa menunggu jawaban sang istri sudah melenggang keluar dari kamar.
"Agha ngeselin banget, sih! Setelah bikin gue berdebar begini dianya malah ngacir begitu saja. Fiks jangan lagi-lagi luluh, dong, Yun."
Sedangkan di lantai satu lebih tepatnya di dapur sosok jangkung Agha berdiri di depan kompor. Terlihat lihai menggoreng telur di atas wajan. Pergerakan pria itu diperhatikan oleh sang ibu yang berdiri di belakangnya bersedekap d**a.
"Mau Mama masakin nasi goreng nggak, Gha?" tegur Wina bertanya karena jam segini para pekerja sudah masuk ke kamar masing-masing.
Agha berbalik badan. "Nggak usah, Ma," tolak pria itu dengan halus tidak mau merepotkan sang ibu, apalagi rasanya senang membuatkan makanan untuk istrinya.
Mendekat ke anaknya Wina berdiri menyandar di pintu kulkas. "Tumbenan kamu makan malam-malam begini. Biasanya disiplin jam delapan sudah makan, Gha."
"Bukan buat Agha, Ma. Tadi Agha nawarin Ayun terus Agha buatin telur dadar saja. Ayun 'kan suka makan nasi anget sama telur dadar," kata Agha padahal tanpa memberitahu pun Wina sudah tahu makanan favorit menantunya. Bahkan sejak awal mencium aroma telur sudah menduga makan malam ini untuk Ayun.
Semua orang juga tahu kalau Agha tidak suka dengan telur. Dia lebih suka ikan. Namun, tidak suka bukan berarti tidak pernah makan. Agha merasa tekstur telur membuatnya bergidik, lain halnya kalau telur direbus. Dia masih toleransi. Sangat berbeda sekali dengan istrinya. Ya, keduanya saling melengkapi, bukan?
"Mama boleh tanya sesuatu, nggak?"
"Mama mau ngomong apa?" tanya pria itu, meletakkan telur di atas nasi putih yang asapnya masih mengepul.
"Mama penasaran sejujurnya mau meminta kepastian supaya Mama sama papa tidak merasa bersalah karena menikahkan kalian." Ada jeda sejenak sebelum pertanyaan sang ibu membuatnya tersentak.
"Perasaan kamu masih sama, 'kan? Tidak berubah bahkan setelah menjalin hubungan dengan Maudi."
"Mama ragu sama Agha?"
"Mama nggak mau Ayun menjadi pelampiasan karena sakit hatinya Agha terhadap Maudi."
***
"Cuma goreng satu telur doang bisa selama itu sampai-sampai gue ngantuk, Gha." Ayun menatap suaminya sinis. Bukan berterima kasih justru mencemooh.
"Tadi ngobrol sebentar sama mama," jawab Agha meletakkan piring nasi di atas kasur.
Tatapan Ayun memicing. "Lo bilang kalau mama sama papa udah istirahat. Lo bohongin gue, ya?!"
"Nih dimakan," katanya mengalihkan topik pembicaraan. Bukan tak mau menjelaskan lebih, hanya saja Agha enggan berdebat karena perkara kecil. "Kamu suka meledak-ledak kalau sedang lapar."
Berakhir Ayun yang diam tak membalas karena yang dibilang oleh pria itu memang benar. Hal yang membuat Ayun sadar diri bahwa Agha terlalu dalam mengetahui mengenai dirinya. Sedangkan dia? Entahlah ....
Disela-sela makan lahapnya Ayun ada sosok suami yang terus memperhatikan tanpa berniat mengalihkan pandangan. Mengasuh Ayun—katakanlah—tergolong mudah karena wanita itu bukan tipikal wanita yang rese.
Pikiran Ayun mendadak jadi nggak tenang karena tatapan mata Agha begitu intens menatapnya. "Lo kenapa ngeliatin gue sampai miring-miring begitu!"
"Kita honeymoon, yuk!?"
Ayun langsung tersentak dibuatnya.
"Pelan-pelan, Ayun. Minum dulu!"
"Sialan dasar cowok aneh. Gue tersedak karena omongan lo barusan tahu!"
Hanya Ayun yang bisa memaki-maki suaminya sendiri yang notabennya adalah bos di hotel tempatnya kerja.
Bonus pekerja yang tidak semua orang mendapatkannya.
"Pertanyaanku tergolong wajar loh, Yun. Kita 'kan pengantin baru jadi pertanyaan seperti ini sudah biasa. Kita mau honeymoon ke mana, Ayun?"
Ayun bergidik ngeri. "Sumpah geli banget, Gha. Nggak usah aneh-aneh, deh! Gue sibuk sama kerjaan. Lagian pernikahan kita 'kan semuanya serba dadakan, gue juga nggak mungkin ngurus surat-surat izin libur mendadak begini."
Aksi protes Ayun ditanggapi kekehan oleh Agha. "Kamu lupa di mana kamu bekerja, hem? Apa yang kamu khawatirkan."
Benar! Apa yang Ayun khawatirkan kalau dia bekerja di tempat mertuanya, apa lagi yang akan dijadikan alasan oleh wanita itu terlihat mudah sekali ditebak.
"Kita nggak bisa menggunakan privillege dengan seenaknya."
"Kamu nolak?"
Sial.
Rasa telur setengah matang rasanya mendadak nggak enak lagi karena Agha terus saja merecokinya.
Ayun tak tahu harus menerima atau menolak dengan cara halus. Tapi alasan apa kira-kira?
"Kalau kamu setuju tinggal kitanya saja yang menentukan mau ke mana soalnya papa yang mengurus perizinan kita."
Seakan masih mencoba mencari akal pria itu terus merecoki Ayun.
"Ada banyak hal yang harus kita lakukan dan kita bicarakan setelah menikah. Memangnya kamu nggak mau punya waktu tenang, Yun?"
"Nggak usah jauh-jauh kalau memang itu yang kamu mau. Kita bisa cari tempat—"
"Stop, okay!"