Bab 07. Nafkah Dari Suami

1116 Words
Saat Ayun sedang memakai jam tangan di depan meja riasnya dia dikejutkan karena sodoran tangan Agha yang menyelinap dari belakang—terlihat seperti tengah memeluknya—wanita itu pun berbalik badan dengan kening berkerut kebingungan. "Apa?" tanya wanita itu. "Apa maksudnya ini?" tanya Ayun sekali lagi karena tangan Agha hanya bergoyang-goyang membuat kartu ATM itu bergerak. "Buat kamu." "Apa, sih?" heran Ayun. Seketika teringat ketika mau pergi sendiri naik taksi. "Nggak usah repot-repot bukan karena perginya pisah lo bertanggung jawab uang bensin. Tenang gue juga punya duit, gue kerja loh, Gha." Kini bergantian Agha yang mengerutkan kening tak paham dengan jalan pikiran sang istri. "Aku nggak meragukan kamu. Dan benar ini memang tanggung jawabku sebagai suami kamu, Ayun. Nafkah dari suamimu." "Nafkah?" tanya Ayun kebingungan. "Iya. Aku sebagai suami kasih nafkah ke kamu. Uang belanja, kebutuhan pribadi kamu, jajannya kamu. Ya walaupun aku tahu kamu wanita mandiri yang lebih suka pakai uang sendiri bahkan uang dari ayah pun selalu ditabung, 'kan? Mulai sekarang gunakan uangku juga, ya, Yun. Ini ambillah." Ayun masih bergeming. Pikirannya mendadak bercabang banyak sekali. Kalau ia menerima nafkah dari Agha apa itu artinya dia juga harus kasih timbal baliknya? Semacam nafkah batin suaminya. Oh tidak! Rasanya untuk membayangkan hal itu Ayun tak sanggup. Bagaimana mungkin?! "Kepala kamu pusing kenapa geleng-geleng, Yun?" Agha panik sampai-sampai menarik tangan Ayun duduk di kursi riasnya. "Muka kamu pucat. Kamu sakit?" tanya Agha yang menempelkan punggung tangannya di kening sang istri. "Suhu badan kamu normal, Yun." "Awas ah," usir wanita itu bangkit tak seperti orang sakit pada umumnya membuat Agha kebingungan. "Gue nggak sakit." "Syukurlah. Jadi kenapa?" "Ck! Diem, Gha. Nggak usah banyak ngomong." Lagaknya Ayun sudah malas menanggapi Agha yang tidak peka. Bodoh. Atau apalah sebutannya. Tak tahukah pikiran Ayun yang diluar kendalinya ini membuat wanita itu malu sendiri. "Ck! Gue kenapa, sih?" Monolog wanita itu menggeplak kepalanya sendiri seraya bergeleng-geleng. "Pagi, Ma. Papa sudah sehat? Maaf semalam Ayun ketiduran," kata Ayun menarik kursi dan duduk di depan ibu mertuanya yang langsung menyiapkan roti tawar dan selai. Sarapan Ayun sehari-hari ditambah s**u. "Papa sudah sehat. Kamu makan yang banyak biar gemuk. Kamu nggak diet, 'kan, Yun?" sahut ibu mertuanya bahkan sebelum Rivaldi menjawab pertanyaan Ayun. Bukan hal asing lagi karena dulu pun waktu sering numpang makan di rumah ini Wina selalu mewanti-wanti Ayun untuk makan yang banyak. Wanita itu ikut andil dalam mencukupi gizi Ayun. Dan kini tinggal satu rumah dan menjadi menantunya makin-makinlah Wina berperan penting. "Mama nih asal nyerobot saja. Kenapa, sih? Papa disuruh diet mantu disuruh makan banyak. Mama mana tahu punya perut buncit tuh nggak enak. Engap!" "Halah! Mau ngapain membentuk perut segala. Sudah tua nggak usah aneh-aneh, Pa," tegurnya membuat Rivaldi mendengus. "Agha mana, Yun?" "Kenapa, Ma?" Suara seseorang yang baru saja ditanyakan mengenai keberadaannya. "Nggak ada apa-apa, sih. Gih buruan makan. Nasi kuning soalnya Mama bangunnya kesiangan jadi yang masak mbak." "Sebetulnya Agha nggak masalah siapa yang masak. Yang sering komplen 'kan Papa. Harus Mama yang masak." Meja makan di rumah mertuanya ramai membuat Ayun lupa sejenak dengan rasa malu akan isi kepalanya sendiri. Namun, karena suasana baru inilah membuat Ayun kepikiran dengan sang ayah. Apalagi ia masih ngambek dan mogok bicara ke Bagas. Kira-kira ayahnya makan sama apa, ya? Duduk di meja makan seorang diri. Di sini ia merasa lengkap sedangkan ayahnya yang dulu apa-apa hanya berdua dengannya kini seorang diri. Bola mata Ayun berkaca-kaca sekedar mengingat hal itu dan diperhatikan oleh Agha dalam diamnya. Sejenak Wina terkekeh dengan penuturan anak laki-lakinya. Memang benar yang dibilang sang putra. Suaminya agak rewel kalau soal makanan. Kini tatapannya jatuh kepada menantunya yang bengong. "Yun, makan," tegur wanita paruh baya itu. Ayun gelagapan. "Iya, Ma. Ini lagi ngunyah," alibinya padahal mulutnya kosong dan Wina tahu itu, hanya saja memilih mengangguk. Tak ada inisiatif mengambilkan nasi karena semua sudah dilakukan oleh Wina. Jadi, Ayun tak perlu repot-repot melayani suaminya. Justru terbalik malah Agha yang melayaninya. "Udah bahas rencana honeymoon, Gha?" Ayun ingin mengumpat kali ini khusus untuk wanita yang dia panggil mama lantaran menyinggung masalah intim di meja makan. Bahkan dengan situasi yang kurang pas menurut Ayun. Roti yang di kerongkongan terasa tersangkut dadakan dan butuh meneguk minum segera. Agha memperhatikan bagaimana Ayun yang menghabiskan s**u sampai setengah gelas. Ia meringis pelan menggaruk keningnya. "Ma, kita bahas nanti saja. Aku sama Ayun buru-buru mau berangkat." Opsi dan pelarian yang diangguki oleh Ayun. Baru kali ini dia ada di pihak Agha. "Tapi sudah sempat dibahas, 'kan?" Sedikit paksaan Wina inginkan supaya jawaban kejujuran dan sesuai ekspektasi Agha mengangguk, tapi tidak menjelaskan lebih lanjut. "Okay! Mama sama Papa nunggu keputusan finalnya." *** "Kamu risih ditanya seperti itu sama Mama, maafin Mama, ya. Dari semalam dia juga tanya-tanya itu terus ke aku," ucap Agha ketika keduanya berdiri di depan pintu rumah. Keduanya sama-sama berdiri tanpa tahu harus melangkah atau bersalaman seperti suami-istri yang normal. "Nah untung masih di depan. Mama udah buatin wedang jahe buat Agha seperti biasa, terus ini wedang madu buat Ayun. Buat anget-anget perut soalnya kalian berangkatnya pagi sekali," kata Wina menyerahkan satu botol ke masing-masing pemiliknya. "Gih berangkat! Mobilnya udah dipanasin, 'kan?!" Selalu tidak memiliki celah untuk menjawab bahkan tanpa segan mendorong Ayun dan Agha sampai ke dekat mobil. "Kok pada tatap-tatapan begitu? Masuk!" Pada akhirnya mereka berdua pasrah dan masuk ke mobil. "Kita berangkat bareng nggak pa-pa, ya? Nggak enak sama mama," tutur Agha menjalankan mobil keluar dari halaman rumah orangtuanya. Ayun hanya bergumam saja. Dia juga nggak enak kalau terlihat tidak akur dengan Agha di depan orang tua pria itu. Sebisa mungkin sikap buruknya cukup di depan Agha saja. "Ini ambil buat pegangan. Setiap bulan aku transfer buat kamu. Tolong jangan ditolak, ya. Untuk masalah honeymoon kita bahas lagi nanti. Kamu pasti tahu selagi kita masih di rumah mereka akan tetap bertanya jadi—" "Gue paham, Gha. Lo tenang saja, nggak usah menjelaskan sampai segitunya. Nanti gue pikirkan mau ke mana perginya. Lo ngikut gue, 'kan? Atau mau liburan terpisah." "Jangan!" jerit Agha langsung membuat Ayun kaget. "Aku ngikut maunya kamu ke mana." Melihat respon Agha yang spontan seperti itu membuat Ayun menahan geli. Berusaha tidak melebarkan senyumannya dengan membuang muka menatap jalanan lewat jendela. Perjalanan menuju ke hotel hening. Ayun masih belum mengambil ATM yang diletakkan oleh Agha di atas pangkuannya. Setelah dipikir lama wanita itu memungut benda persegi panjang itu. "Gue terima dan jangan ngeluh kalau saldonya akan terkuras habis." "Nggak masalah banget. Aku malah senang kalau kamu belanja pakai uangku supaya kerjaku nggak sia-sia. Setidaknya dihabiskan oleh istri." Tolonglah Ayun sudah tidak kuat, apalagi saat kepala Agha menoleh menatapnya seraya tersenyum manis. Senyum yang pernah menjadi favoritnya dulu apakah sekarang masih sama? Entahlah. Ayun bingung dengan perasaannya saat ini. Rasa nyaman itu masih dirasakan hingga kini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD