“Okay,” putus Ayun. “Gue turun duluan,” kata wanita itu memasukkan ATM pemberian pria itu ke dalam tas miliknya tanpa perlu repot-repot membuka dompetnya. Bagi Ayun dompet merupakan barang pribadi yang tidak semudah itu dikasih tunjuk ke depan orang lain.
Apakah Agha merupakan orang lain?
Tentu saja! Terlepas kalau mereka sudah terikat pernikahan sah bagi Ayun pria itu tergolong orang asing.
Begitu hendak membuka pintu mobil lengannya ditahan oleh Agha membuat kepala wanita itu sontak menoleh dengan kernyitan herannya.
“Tapi nggak gratis,” ujar pria itu langsung membuat tatapan Ayun menjadi datar. Benar, ‘kan, memang tidak seharusnya menaruh percaya lebih kepada pria itu, apalagi Ayun mengetahui dengan jelas bagaimana watak Agha Pratap Ganeswara yang tentunya tidak berubah sama sekali.
“Kalau niat pamrih mending nggak usah,” ujar Ayun langsung melepaskan pegangan tangan Agha dan membuka tasnya mengobrak-abrik ATM yang baru dia masukan dalam waktu beberapa detik. “Gue balikin kalau memang butuh imbalan.”
Namun, yang tidak Ayun pahami satu hal kenapa tak ada pergerakan dari Agha untuk mengambilnya. Pria itu bergeming, hanya menatap tangan Ayun lalu naik dan naik sampai ke wajahnya. “Apa yang sudah aku kasih nggak akan aku terima balik dalam bentuk yang sama.”
Ayun makin pusing dibuatnya. Mobil berhenti sudah lumayan lama dan Ayun merasa was-was di area hotel. Besar kemungkinan akan kembali terciduk walaupun dia bisa mengelak tetap saja rasanya berdebar.
“Sebenarnya mau lo apa, sih? Bisa nggak jangan terlalu berbeli-belit dan nggak usah kasih kode-kode begitu!”
Agha terus saja menatapnya tanpa berkedip seakan ketika dia berkedip sosok Ayun akan menghilang begitu saja. Karena hal inilah membuat Ayun merasa tidak nyaman, bahkan secara tidak sadar tindakan nggak nyamannya ini berulang kali mengusap puncak hidungnya.
Tanpa Ayun prediksi kalau yang terjadi selanjutnya membuat bola mata Ayun melebar. Usapan di puncak kepala yang berlanjut menyelipkan anakan rambut ke belakang telinga membuat wanita itu tak dapat menyembunyikan kegugupannya.
“Aku mau kita hidup dengan normal. Mulai sekarang biasakan ngomong yang halus. Jangan pakai gue-lo lagi karena sekarang kita suami-istri. Nggak enak kalau kelepasan manggil begitu di depan orang tua kita. Kamu mau, ‘kan?”
Bagai kerbau dicucuk hidungnya spontan Ayun memberikan anggukan dengan perlahan. Wanita itu seakan sedang dihipnotis mendadak oleh pria itu.
“Kartunya disimpan lagi biar nggak ilang. Gih, duluan masuk!”
Agha tak perlu repot-repot membukakan pintu untuk wanita itu karena dia sadar begitu tindakannya di depan umum bisa membuat Ayun gembor-gembor memarahinya seperti kala itu. Jadi, dengan memperhatikan perginya Ayun perlahan punggung kecil itu sudah tidak terlihat, baru setelahnya ia yang keluar dari mobil.
Berbeda dengan Agha yang tersenyum tipis karena sikap patuhnya Ayun kepada dia maka, lain dengan Ayun yang masih tidak percaya dengan perlakuan Agha di dalam mobil.
“Sialan gue harus patuh sama dia? Apa maksud dengan menjalani kehidupan normal bagi Agha. Gue masih nggak tahu maksud dia itu apa. Apa yang direncanakan.”
“Rencana apa?” tanya seseorang di sebelahnya yang sedang mengikat rambut. Berbeda dengan Ayun yang lebih suka mengurai bebas rambutnya.
“Mba Rita udah lama?” kaget Ayun mendapati Rita yang sedang mematut diri. Hanya pertanyaan itu saja yang terlintas di benaknya karena bingung juga dengan pertanyaan cepat rekan kerjanya.
"Asal kamu tahu saja dari masuk ke toilet Mba udah panggil-panggil kamu, tapi kamu jalannya buru-buru kayak lagi dikejar-kejar. Terus begitu masuk malah ngomong sendiri di depan cermin. Jadi, tujuan kamu ke toilet itu ngapain?"
"Seperti cewek pada umumnya kalau misalnya belum ke toilet rasanya belum plong. Aku, sih, begitu, Mba," jawab wanita itu dengan lugas. Tidak mau membuat gerakan mencurigakan karena Rita mudah membaca gerak-geriknya.
Rita mengangguk saja tidak mau terlalu bertanya dalam. "Mau bareng nggak ke depannya?" tanya wanita itu sudah siap dengan penampilan rapinya.
"Ayo, deh. Aku juga sudah selesai."
Keduanya berjalan bersisian tanpa adanya pembicaraan apapun. Ayun yang merasa tidak perlu basa-basi juga bukan tipikal suka basa-basi berbeda dengan Rita yang sibuk dengan nota kecil entah berisi tulisan apa.
"Aku lagi pusing karena ART-ku cuti dadakan ibunya sakit. Semua bahan-bahan di rumah terpaksa aku yang backup," ujar Rita curhat tanpa diminta. "Apalagi anak-anak baru saja sembuh. Bulan ini kacau banget. Nggak berjalan sesuai ekspektasi banget padahal Mba berniat mau ngajak mereka liburan."
Ayun menyimpulkan wanita itu sibuk sambil jalan karena sedang mengecek persediaan bulanan. Ayun tidak tahu serepot apa sebagai ibu rumah tangga karena dia belum pernah mengalaminya, bahkan disaat dia sudah menikah pun. Jadi, bisa dikatakan pernikahannya sama sekali tidak menjadi beban, bukan? Direstui kedua belah pihak, suami yang bisa dikatakan tidak menuntut dilayani bahkan seminggu menikah Ayun tak perlu repot-repot menyiapkan pakaian ganti pria itu. Ah haruskah Ayun menikmati pernikahan ini?
"Liburan?" todong Ayun karena dia juga jadi teringat dengan liburannya bersama Agha. "Mau liburan ke mana, Mba? Apa nggak repot ngurus izinnya."
"Nggak perlu jauh-jauh, kok. Mba mau ngajak anak-anak ke puncak. Nggak usah lama-lama di perjalanan. By the way kamu mau ikutan?" tawar Rita antusias. Akan lebih ramai dan menyenangkan jika mengajak Ayun. "Ngajak suaminya juga boleh loh."
Memang bukan sekali dua kali mereka pergi bersama berujung Bagas ikutan nyusul—sekali—itu pun membuat Ayun merasa tidak enak ke Rita karena terkesan mengacaukan liburannya. Lalu sekarang kembali ditawari disaat Ayun juga sedang pusing perihal honeymoon.
"Omong-omong soal liburan," tutur Ayun meletakkan tasnya di meja. "Aku juga lagi ditodong honeymoon sama Agha, Mba. Lebih tepatnya keluarga kita dan disetujui sama dia."
"Loh bagus, dong. Kenapa respon kamu ogah-ogahan begitu, Yun?" Karena masih pagi jadi baru mereka berdua yang datang. Sudah terbiasa datang paling pagi.
"Mba paham sama definisi honeymoon nggak, sih? Itu artinya, 'kan kita bakalan berkembang biak," keluh Ayun menunduk. Malu berkata seperti itu.
Mendengar ucapan Ayun yang penuh emosi membuat Rita memahaminya. Dia juga pernah muda, pernah menjadi pengantin baru juga. Namun, situasi beda karena yang Rita tahu bahwa pernikahan Ayun dengan Agha karena campur tangan orang tua. Ayun tidak memberitahu alasan utamanya. Jadi, Rita mendukung hubungan Ayun dan Agha.
"Mba dulu juga resah masalah lepas segel, apalagi kita sudah jaga selama bertahun-tahun. Melepas kegadisan memang tidak semudah itu, apalagi kalau mental kita belum … eh itu artinya mental kamu belum siap menikah, ya, Yun? Mba suka lupa kalau kalian dijodohin orang tua soalnya tatapan Agha tuh kentara cinta banget sama kamu. Kayak bukan orang yang terpaksa dinikahin, malah kayaknya kamu yang ogah-ogahan begini Mba yakin kamu memang nggak suka dijodoh-jodohin, ya?"
"Pacaran dululah. Jangan buru-buru, kalau sudah punya anak waktunya udah nggak bisa berduaan lagi sama suami. Dicoba jangan menghindari begitu toh. Saling kenal dulu biar nyakan," lanjut wanita itu menegaskan.
Tebakan Rita ada benarnya, tetapi untuk bagian Agha yang menatapnya penuh cinta ... yang benar saja! Ayun mulai terusik akan hal itu.