Akibat dari perkataan Rita membuat Ayun terus kepikiran dan ingin memastikan dengan sendiri. Dia pun mengetuk pintu ruangan Agha disaat dia bisa memberikan pesan. Semua karena ingin pembuktian.
“Masuk,” sahut suara seseorang di dalam.
Ayun pun masuk, lalu menutup pintu bersamaan dengan kepala Agha yang mendongak. Ada gurat terkejut di sana yang membuat Ayun menatapnya dengan intens.
“Kenapa, Yun?” Spontan Agha bertanya karena sang istri jarang memasuki ruangannya. Sepertinya sudah terhitung dua kali semenjak mereka menikah bertemu di ruangan ini. Ruangan yang dipenuhi dengan rak buku.
“Aku cuma mau kasih tahu kalau pulangnya ke rumah ayah. Nggak pa-pa, ‘kan?”
Pertanyaan Ayun dibalas senyum tipis oleh pria itu, bukan karena Ayun yang meminta izin, melainkan cara Ayun menuruti perintahnya dengan berbicara lebih sopan.
“Mau menunggu sepuluh menit lagi, nggak?” Agha justru bertanya balik.
Dalam benak Ayun bertanya. Tak mau membendung dia pun menyuarakannya. “Ngapain nunggu?”
“Kita pergi bareng masa pulangnya pisah-pisah. Cuma sepuluh menit saja, kok. Kamu duduk saja dulu di sofa sambil baca-baca buku.”
Bagaimana, ya? Rasanya agak enggan dan ada perasaan canggung yang membuat Ayun tak nyaman berada di dekat Agha. Tujuan Ayun pulang ke rumah orangtuanya karena semata-mata bukan menjenguk Bagas, tapi juga menghindari Agha. Dia masih kepikiran dan itu buat nggak nyaman.
“Duduk, Yun.”
Ayun mendesah kecil. Mendudukkan bokongnya di sofa empuk milik sang suami. Dia mengabaikan saran Agha yang menyuruhnya membaca buku. Ayun bukan tipikal wanita yang rajin baca-baca buku akan lebih baik membuka sosial media saja. Membaca berita gosip lebih menyenangkan, apalagi ikut membalas di barisan netizen.
“Fokus banget sampai nggak sadar sudah lebih dari sepuluh menit,” tegur Agha yang kini duduk di sebelah wanita itu.
“Oh sudah,” ucap Ayun. Bangkit tanpa memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Agha pun turut serta bangkit, dengan gerakan gesit membuka pintu sehingga tangan Ayun mengudara. Sejak kapan Agha bersikap manis seperti ini? Entah mengapa langsung disangkutpautkan dengan perkataan Rita.
Kepala Ayun rasanya menjadi pening memikirkan ucapan Rita yang terus terngiang-ngiang di kepala.
“Yun, ada apa?” tanya Agha perhatian juga penuh heran karena Ayun menatapnya tanpa berpaling.
“Nggak pa-pa. Memangnya gue kenapa? Rambut lo berantakan banget kayak nggak pernah nyisir, Gha.” Saking gugupnya membuat Ayun ngomong rancu bahkan sudah disisir pun rambut Agha tetap akan terlihat berantakan karena bergelombang kriwil seperti brokoli. Itulah daya tariknya.
Tanpa dipermak rambut dan wajah Agha memang cocok. Ayun pun mengakui bahwa pria itu tergolong tampan.
Hah.
Malah memuji begitu. Bukan karena suaminya, ‘kan?!
Sekali lagi Ayun menyalahkan perkataan Agha yang tidak disaring terlebih dahulu. Ayun terus saja kepikiran.
Lama perjalanan memang dihabiskan dengan keheningan. Agha tak perlu repot-repot bertanya pendapat Ayun mau mampir ke mana karena sudah pasti Ayun menolak diajak jalan berdua ke luar. Wanita itu terlalu antisipasi terhadap suasana sekitar dan Agha pun menghormatinya.
Mobil yang sudah berhenti di depan gerbang kediaman Bagas langsung membuat Ayun turun tanpa basa-basi mengajaknya masuk. Pun dengan Agha yang langsung menjalankan mobilnya ke rumah. Dia perlu bersih-bersih sebelum berkunjung lain dengan Ayun yang barang-barangnya masih tersisa di rumah. Sisi pikiran positif Agha mungkin izinnya Ayun mau mengambil barang-barang termasuk baju karena wanita itu belum memindahkan semua barangnya ke rumah Agha.
“Loh pulang sendirian, Gha?” tanya Wina yang sedang menyiram bunga mawar di halaman depan, tepat di dekat gerbang.
“Ayun ke rumahnya, Ma. Mau ambil barang-barang,” jawabnya tanpa ragu karena itulah kemungkinan yang terjadi.
“Oh begitu. Kamu mau nyusul apa nggak? Bawa makanan kalau mau nyusul.”
“Emang mau nginep, Ma?”
“Ya itu terserah kalian, dong. Kamu harus tahu dulu istrimu ada rencana menginap atau hanya main saja. Jadi suami jangan cuek-cuek, Gha.”
Agha canggung. Menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali. “Nanti aku tanyain, Ma,” katanya. “Aku ke dalam dulu.”
Berbeda dengan Agha, keadaan di kediaman Bagas saling diam. Ayun yang duduk di stool mengaduk-aduk teh sedangkan Bagas sedang menikmati siaran bola. Sungguh dua orang yang memiliki kesibukan masing-masing.
"Permisi!"
Itu suara Agha.
Ayun kenal betul.
Pergerakannya terbatas karena kini sosoknya dan sang ayah sudah bergabung di meja makan.
Bagas yang sudah segar berbeda dengan Ayun yang masih memakai seragam kerjanya.
"Belum mandi?" Pertanyaan ringan Agha justru Bagas yang menjawabnya.
"Dari tadi bengong di dapur ngapain aja mbuh!"
Bibir Ayun cemberut dengan penuturan ayahnya. "Aku baru mau mandi karena tadi masih gerah."
Bohong sekali karena rumahnya full AC bahkan baru masuk sudah merasakan kesejukan udara. Banyak alasan!
"Kamu mandi dulu biar makananya aku yang siapin."
Ayun memilih mengendikkan bahunya dengan acuh. Dia pergi dari meja makan tak lupa membawa serta tasnya. Wanita itu masuk ke dalam kamar semasa gadis. Baru seminggu ditinggal, tapi rasanya sudah sangat rindu. Rindu tidur memeluk guling karena di kamar Agha tidak ada guling. Sungguh membosankan apakah ada di zaman sekarang orang yang bisa tidur tanpa guling?
Agha orangnya!
"Ck," decak sebal Ayun karena meja riasnya sudah bersih, tapi bukan berarti dia tidak memakai skincare karena pouch berisi make-up selalu dibawa kerja.
Mengoleskan pelembab ke wajahnya sebelum meninggalkan kamar. Pun membiarkan ponselnya terisi daya. Ada agenda curhat kepada Winda, tapi sepertinya akan batal karena Agha menyusul. Padahal sudah Ayun rencanakan.
"Kamu mandi apa berendam, Nak. Lama sekali. Sengaja karena tahu ayah sudah lapar, ya!" tuding Bagas dengan mata yang sengaja dipelototkan. Anehnya bukan serem malah terlihat lucu, apalagi kelopak matanya yang sudah mengendur.
Dasar bapak-bapak.
"Kalau Ayah sudah lapar ngapain juga nungguin aku. Biasanya juga Ayah makan duluan."
Skakmat Ayun.
Agha yang bertugas melerai sebelum terjadi konflik.
Pria itu paham ada sesuatu yang harus diluruskan oleh pasangan ayah dan anak. Seketika Agha menyesali kedatangannya yang menghambat Ayun berdamai dengan sang ayah.
Agha meringis menyadarinya.
"Tuh istrimu begitu, Gha. Nggak pernah mau mengalah sama ayah dari dulu begini."
"Ayah, kok, ngadu-ngadu sama suami aku, sih?!"
"Cie suami, nih?" Godaan Bagas membuat Agha dan Ayun saling pandang lalu malu sendiri.
"Sialan," umpat Ayun di dalam hati.
Makan malam yang diselingi drama membuat Agha diam-diam mengulum senyum dengan aktivitas yang sedang menyingkirkan touge di piring Ayun.
Sayur touge dicampur tahu dan bakso sosis memang enak, tapi apalah buat karena Ayun tidak suka makanan yang berbahan dasar seperti sejenis kacang-kacangan begitu, bahkan Ayun tidak suka makan sayur katanya seperti makanan kambing. Agha pun sudah tahu sejak dulu. Bahkan kegiatan ini dulu pernah dilakoni.
"Makan sayur, Yun. Sayur bagus buat kesehatan. Jangan sampai program hamil kalian sia-sia kalau calon ibunya ngeyel begitu."
"Uhuk! Uhuk!"
Ayun yang batuk. Agha mah santai saja seolah tidak terkejut dengan pembahasan ini. Dia sudah mewanti-wanti sang istri kalau pembahasan ini akan terus disinggung sebelum mereka benar-benar pergi honeymoon.