Masih di meja makan dengan tatapan mengintimidasi Bagas membuat Ayun mendesah jengkel. Dia paham dengan isi kepala ayahnya yang menatapnya seperti itu.
"Nggak perlu terburu-buru, Ayah. Aku sama Agha masih dalam masa sibuk."
"Alah banyak alasan saja kamu," kelakar pria paruh baya itu yang sedang menggigit ceker ayam. Wina membawakan sup ceker ayam yang mana kesukaan Agha. Dan jika dilihat sepertinya Bagas pun menyukainya.
"Gha, bawa anak ini pergi jauh-jauh. Ayah sumpek melihatnya," kata Bagas mengusir tanpa berpura-pura.
"Ayah apaan, sih. Aku mau tidur di sini malam ini," putus Ayun final.
"Agha nginep sini, 'kan?" Kini atensi pria paruh baya itu mengarah kepada menantunya menunggu jawaban.
"Agha tidur di rumahnya, dong. Aku doang yang nginep di sini," sambar Ayun. Lagaknya itulah membuat Bagas makin tidak suka. Tak ada timpalan dari ayahnya itu membuat Ayun berdecak.
Bagas seolah enggan dan terkesan mengusirnya dari rumah.
"Agha nginep juga, Yah. Sampai Ayun mau diajak pulang Agha akan ngikut ke mana Ayun pergi."
Seusai mengatakan kalimat yang membuat Bagas bersiul lidah bersamaan dengan pria paruh baya itu yang sudah menyelesaikan makannya pun bangkit. Membawa serta piring sekaligus mencuci tangan.
"Ayah mau ke kamar, tidur," ujar pria paruh baya itu ketika melintasi meja makan. Mengambil serbet yang tersampir di kursi untuk mengelap tangannya.
"Iya, Yah," timpal Agha karena tidak adanya tanggapan dari Ayun.
Kini meja makan hanya diisi oleh dua sejoli. Sepasang pengantin baru yang betah berlama-lama tanpa adanya obrolan.
Sejujurnya Agha tidak betah dengan keheningan ini, apalagi Ayun yang sibuk dengan ceker dan tulang-belulang terlihat tak akan menyelesaikan makannya dengan segera—atau sengaja diperlambat?
"Mengenai rencana itu aku ingin terealisasikan, Yun. Bagaimana menurut kamu? Kita perlu pendekatan sebagai suami-istri, 'kan?"
"Terlepas aku sudah mengenal kamu dengan baik, Yun," sambung Agha di dalam hati.
"Manut sajalah aku. Nggak mau juga terus-terusan dicecar sama ayah," jawab Ayun tanpa mengalihkan fokus dari ceker ayam di piringnya. Tak hanya itu Ayun bukan tipikal wanita yang menolak makan malam. Dia doyan makan, tapi badannya segitu-gitu saja. Beda kalau pagi yang lebih suka ngemil karena dia beraktivitas dan nggak mau kekenyangan.
Agha tahu informasi ini dari ayah mertuanya.
"Okay, kamu sudah setuju, ya? Bukan karena terpaksa, 'kan?"
"Kamu yang paksa, Gha," ralat Ayun yang sukses membuat Ayun terbahak. Benar, walau bertanya kesannya memang benar Agha yang memaksa dibantu dorongan Bagas. "Kayaknya aku jenuh, dan honeymoon bisa fresh dikit, deh."
Seakan tak percaya dengan ucapannya sendiri wanita itu meringis. Padahal saat bersama Rita ia mengatakan keresahannya. Namun, saat bersama Agha seakan begitu ringan memberikan persetujuan.
Dadanya bergemuruh. Berharap yang Ayun takutkan tidak semengerikan itu.
***
Walaupun keduanya berteman baik, tapi semenjak masuk puber mereka sama-sama paham akan batasan. Termasuk tidak sembarangan memasuki kamar lawan jenis. Dan kini untuk pertama kalinya Agha memasuki kamar Ayun yang didominasi warna hijau muda. Ya, wanita itu sangat suka dengan warna hijau alih-alih merah muda atau biru muda.
"Rapi," komentar Agha menutup pintu karena dialah yang di belakang.
Ayun menoleh sekilas lalu mengendikkan bahunya acuh.
"Dulu balkon ini tempat favorit kita, ya, Yun."
Kali ini Ayun tidak bisa benar-benar abai dengan ucapan Agha. Dia duduk di tepi ranjang sedangkan Agha berdiri di depan pintu balkon yang tertutup. "Mau ke luar?"
"Kamu keberatan?"
Ayun menggeleng. Dia bangkit dari duduk, menggeser posisi Agha yang berdiri di depan pintu lantas membukanya. Udara dingin langsung mengenai lehernya membuat Ayun merinding. Sedikit dingin, terasa sejuk.
Di balkon ada sofa kecil yang bisa muat dua orang—duduk berdempetan—lalu di sudut sebelah sofa ada meja bundar yang sama kecilnya. Alih-alih ditaruh di depan sofa justru di samping sofa bahkan mojok. Meja yang tanpa isian apapun. Terkesan polosan, tidak ada bunga di tengah-tengah.
"Masih suka duduk di sini walaupun sendirian. Karena nggak mungkin juga ngajak kamu duduk di sini sambil nunggu waktu malam."
"... setelah kita berjarak, ya, Gha?" lanjut wanita itu diselipi sebuah pertanyaan yang membuat Agha meringis lalu mengangguk.
Benar.
"Sekarang sudah nggak berjarak, 'kan, Yun?" ucapnya dengan sengaja mendekatkan diri sehingga kini kedua lengan mereka saling bersentuhan, padahal Agha paham sekali apa maksud dari perkataan Ayun.
Ayun menoleh ke arah Agha. Wajah mereka begitu dekat karena posisi duduk yang juga berdempetan. Tidak ada kecanggungan bagi Ayun karena sering sedekat ini dengan Agha. Berbeda dengan pria itu yang terpaku dengan wajah ayu istrinya.
Mereka diam. Angin malam benar-benar membius sampai tindakan nekat dan impulsif Agha membuat bola mata Ayun melebar.
Dua daging kenyal yang saling menyatu. Pada awalnya hanya menempel tanpa ada tindakan. Namun, setelah dirasanya tak ada pemberontakan dari Ayun membuat pria itu merasa diberikan persetujuan.
Menangkup pipi Ayun begitu tautan mereka terlepas. Pria itu menyatukan keningnya dengan kening mulus putih milik sang istri. Bohong jika Agha tak ingin kembali mencicip karena tak berselang lima menit bibir Agha kembali memerangkapnya.
Bukan hanya menempel saja karena Agha tak mau melepaskan kesempatan emas ini. Bibirnya bergerak, menyesap perlahan milik wanita itu yang belum juga membalas cumbuannya.
"Sorry, kamu nggak suka?" tanya Agha mengusap saliva di sekitar bibir bawah Ayun yang terlihat sedikit membengkak. "Lain kali aku akan izin."
"Kenapa?" seloroh Ayun tanpa melepaskan diri dari Agha. Membiarkan pipinya ditangkup oleh telapak tangan besar milik sang suami.
Alis Agha terangkat naik. "Kenapa?" ulang pria itu.
"Lupain," kata Ayun. Dengan gerakan pelan memalingkan wajahnya sehingga jarak kecil itu tercipta.
Dia masih syok. Tidak percaya kalau Agha berani menyentuhnya. Ayun tidak marah, hanya saja masih bertanya-tanya dalam hal apa Agha melakukan itu? Maksudnya perasaan pria itu.
Malam ini pun dilingkup dengan keheningan. Ayun bangkit meninggalkan Agha di balkon seorang diri. Mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
Ditariknya selimut tebal yang berhasil menghangatkan tubuhnya. Mata Ayun benar-benar terpejam, tapi tidak tidur.
Sialan.
Masih mengingat jelas rasa daging kenyal milik Agha.
Bisa dibilang ini pengalaman pertama dan Ayun lakukan bersama Agha. Dia tidak menyesal sama sekali. Karena Agha suaminya.
Selang waktu hampir satu jam giliran Agha yang masuk ke dalam kamar. Saat masuk mendapati suasana kamar sudah temaram dan juga sosok di balik selimut yang membelakanginya.
Agha tidur di kasur boleh, 'kan?
Dia nggak akan mau berkorban dengan tidur di sofa.
Dan kini berbaring dengan gerakan pelan—supaya tidak menggangu ketenangan sang istri—Agha lakukan.
Agha sangat siap jika mendapatkan perundungan dari Ayun karena tindakan impulsifnya. Ia merasa salah, terbawa suasana, dan lancang bertindak. Bukan berarti sudah menikahinya, lantas bebas melakukan sesuatu. Apalagi hubungan mereka memang tidak sesederhana itu untuk dirangkai.
Berbeda dengan Agha yang masih membuka lebar matanya maka, lain dengan Ayun yang terlihat gelisah. Kenapa mendadak ingin buang air kecil disaat dia sudah berpura-pura seolah tidur. Seakan semesta memang tidak merestuinya.
Kalah menahan diri selimut langsung disibak dan ngacir masuk ke kamar mandi. Hal itu membuat Agha ikutan bangun. Dia khawatir dan kaget disaat yang bersamaan.