Langkah kaki yang sedang menuruni tangga berhenti. Rutinitas pagi Ayun lebih suka berada di lantai satu. Semenjak tinggal di rumah mertuanya ia lebih banyak mengurung diri di kamar. Bosan dirasakannya, lain halnya di rumah sendiri Ayun selalu turun lebih pagi bahkan sebelum asisten rumah tangganya datang ke rumah.
Seperti rutinitas lama yang terlewat ia ingin duduk santai menikmati secangkir teh di depan TV. Namun, apalah daya karena kini dikuasai oleh sang ayah.
Pertanyaan Ayun sejak kapan ayahnya suka duduk di situ pagi-pagi begini. Biasanya berada di halaman belakang rumah, menyiram bunga-bunga juga memberi makan ikan di kolam.
Baiklah. Sudah terlanjur ayahnya melihatnya mau tidak mau Ayun turun. Melangkah ke dapur untuk menyeduh teh.
“Bi,” sapa wanita itu riang mengambil cangkir kecil di rak piring.
“Eh! Mba Ayun di rumah. Aduh Bibi nggak tahu jadi tidak membuat teh,” kata wanita yang lebih pantas disapa nenek oleh Ayun. Walau usianya tak lagi muda bibi terlihat cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan di rumahnya pun memiliki jasa laundry pakaian dengan dua karyawan yang membantu. Ayun merasa iri karena di usia yang bisa terbilang seharusnya ongkang-ongkang kaki justru masih berbisnis. Sedangkan dirinya boro-boro. Masih untung kerja tidak malas.
“Nggak pa-pa, Bi. Cuma bikin teh aku mah bisa,” sahutnya. Wanita itu tak memberitahu kepulangannya dengan alasan apa. Mungkin basa-basi si bibi karena kaget dengan kehadirannya.
“Mau sekalian sama gorengan pisang nggak, Mba? Tadi bapak minta goreng pisang balokan,” kata si bibi memberitahu.
Ayun juga baru menyadari di wajan ada gorengan pisang yang sedang ditiriskan. “Aku tungguin, deh, biar sekalian dibawa ke depan.”
“Iya, Mba. Tinggal satu gorengan,” jawab si bibi sembari mencuci sayur sawi. “Masnya diajak atau tidak, Mba?”
Ini bukan pertanyaan kepo jadi jangan sampai Ayun julid nyelekit. Wanita itu tersenyum kecil, lantas mengangguk. “Masih tidur.”
Wajar masih tidur karena masih jam enam. Ayun tahu sekali kebiasaan suaminya yang bangunnya siang entah di mana saja, bahkan di rumah mertuanya. Mengingatnya membuat Ayun berdecak. Agha tak perlu memberikan citra baik pun sudah lolos tinjauan Bagas. Berbeda dengannya walau sudah tahu latar belakang sebisa mungkin terus memberikan kesan baik.
“Udah matang semua, Mba Ayun,” beritahu Bibi. “Agak lama, ya.” Raut wajahnya terlihat tak enak hati.
“Nggak, kok, Bi. Aku juga sambil minum teh. Ini aku bawa ke depan, ya, Bi.”
“Monggo, Mba.”
Ayun melenggang pergi meninggalkan dapur. Begitu sampai di ruang tengah rupanya bukan hanya Bagas saja, melainkan sosok lain dengan rambut brokolinya. Tanpa sadar Ayun mendesah. Baru saja menemukan celah keburukan Agha mengapa dibantah oleh pria itu, sih! Padahal waktu Ayun bangun pria itu masih memeluk guling miliknya. Si nggak punya guling seketika mencuri gulingnya untuk dikekepin sendiri. Jika seperti ini mendadak Ayun berprasangka kalau Agha memang sengaja tidak menyediakan guling di kamarnya.
Masalah guling saja entah mengapa membuat penilaian Ayun terhadap Agha menjadi minus.
"Bukan modus supaya bisa meluk-meluk gue, 'kan?" Monolog Ayun dengan suara lirih.
Meletakkan nampan yang berisi secangkir teh dan sepiring pisang goreng balok. Bagas sudah dibuatkan s**u oleh Bibi jangan sampai tatapan tajam sang ayah karena ia tak membuatkan teh untuk Agha.
Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin. Ayun merasa Bagas lebih berpihak kepada Agha. Seakan memang hal kecil, tetapi bagi Ayun wanita itu merasa begitu tersakiti.
"Aku nggak tahu kalau Agha sudah bangun. Mau minum apa?" tanya Ayun sinis. Namun, sengaja dilembut-lembutkan yang memancing tatapan sinis Bagas.
"Yang sopan sama suami, Yun!"
Ayun mendengus jengkel, tetapi tidak menghiraukan peringatan ayahnya. Masih menunggu jawaban dari sang suami.
"Coffee, please," jawab Agha dengan senyum tipisnya. Pria itu sadar bahwa istrinya sedang menahan kesal. Kendati demikian tak ada rasa iba, justru menggemaskan dengan jalannya yang sengaja dihentak-hentakkan.
"Makan, Gha. Ayah suka nonton kartun daripada berita. Kamu nggak masalah, 'kan?"
"Agha nggak pemilih kalau nonton TV, Yah. Apa saja ditonton asalkan bukan iklan."
Keduanya sama-sama tergelak dengan jawaban Agha.
Tawa Agha dan Bagas yang terdengar sampai ke dapur semakin membuat bibir bebek Ayun maju.
Bibi yang sedang meniriskan sayur terkekeh dengan majikan mudanya. Wanita tua itu mengetahui bahwa Ayun dan Agha—tetangga mereka—dinikahkan secara paksa. Begitulah sebutan para tetangga termasuk ibu-ibu.
"Wes dibawa ke depan, Mba. Jangan diaduk-aduk terus nanti malah dingin."
"Aku ganti pakai garam kayaknya nggak masalah, ya, Bi? Aku kesel banget sama Agha. Dia ngeselin banget jadi suami. Masa semalam …."
Tiba-tiba suaranya tercekat karena malu dirasakannya. Masa iya ia harus jujur ke bibi.
"Kenapa, Mba?" tanya wanita tua itu cuek karena tadi membereskan meja makan jadi tak terlalu mendengar ocehan anak majikannya.
"Nggak jadi, deh. Aku ke depan dulu, Bi. Bibi jangan capek-capek, istirahat duduk dulu baru lanjut."
Memperhatikan anak majikannya yang memukul kepala belakangnya bahkan dari jarak tak terlalu jauh bibi masih mendengar umpatan wanita itu.
"Panas dikit nggak ngaruh," oceh Ayun berusaha menguatkan diri ketika tangannya terkena air panas akibat jalannya yang tidak seimbang.
"Bodoh banget kalau tadi reflek rem nggak cepat pasti bibi ketawa dengernya!"
"Nah, itu dia tuan putri yang sedang menjadi putri abu. Bikin kopi lama banget! Tidak dikasih aneh-aneh, 'kan?!"
Tuduhan sang ayah yang sialnya sudah dipikirkan oleh Ayun membuat wanita itu mendengus kecil. Sarkas sekali ayahnya ini.
"Anak sendiri diolok-olok di depan suaminya. Kalau Agha ilfil terus ninggalin aku gimana, tuh? Ayah juga yang ribet."
"Halah! Kamu juga mendambakan itu, 'kan? Nggak usah kebanyakan ngeles deh kamu. Sok-sokan karena Ayah padahal kamu yang mau."
"Bahas apa jawabnya apa. Mendingan aku mandi saja, deh."
Memperhatikan istrinya yang tidak menghabiskan teh membuat Agha merasa tidak enak.
"Biarin aja. Ayun nggak pa-pa," tutur Bagas mengetahui perasaan khawatir menantunya. "Lanjut nonton atau mau nyusulin Ayun, Gha?"
Agha tersenyum kikuk.
"Sana susul kalau begitu. Daripada nonton, tapi fokusnya ke istri terus," goda Bagas. Bagas pernah muda, terlihat jelas kalau Agha sulit mengalihkan perhatiannya dari Ayun. Hal itu memang bagus walau kadang-kadang Bagas juga cemburu karena anaknya sudah jatuh ke tangan laki-laki lain. Dia sudah tidak sebebas dulu mengekang Ayun, memerintah Ayun karena ada suaminya yang mengambil alih tugasnya.
Memperhatikan punggung menantunya yang sudah tak terlihat jelas pria itu mengeluarkan napasnya perlahan. Rasanya tontonan di depan mata tidak lagi menarik sehingga pria paruh baya itu bangkit meninggalkan kepulan gorengan pisang menuju ke belakang rumah.