“Udah klunting apa belum?” tanya Ayun menarik kursi untuk dia duduki. Sedangkan orang yang ditanya malahan ketawa.
“Aku nanya serius, loh, Mba,” desah Ayun berdecak. “Biasanya pada heboh, berangkat tepat waktu kalau gajian.”
“Mba juga nanya serius, memangnya kamu masih nungguin klunting? Paksu udah kasih jatah tanpa nunggu klunting, dong.”
Ledekan itu dibalas dengan dengusan, kedua bola matanya mengerling jengah. Kini beralih menatap Nira yang tumben-tumbenan sendiri. “Ra, mas Ilham nggak masuk?”
“Ada, Mba. Di depan ngurus motor. Bannya kempes.”
Ayun mengangguk paham. Kembali mempertanyakan hal yang sama seperti kepada Rita. “Udah klunting belum, Ra?”
Rita makin tergelak. Menggeleng-geleng tak habis pikir.
“Aku belum cek, Mba. Biasanya agak siangan malahan bulan kemarin menjelang pulang baru denger klunting, tuh."
Ah benar juga. "Okay, deh. Lanjutin kerjaan kamu."
"Iya, Mba." Nira mengangguk.
"Kamu sekurang kerjaan itu sampai nanya ke dua orang. Kalau sudah diproses 'kan ada notifikasi, Neng. Mba yakin kamu nggak kekurangan duit, deh."
Mendapat ledekan kembali membuat Ayun tergelak. Yang dibilang oleh Rita ada benarnya juga, hanya saja kalau uang hasil keringat sendiri rasanya plong, bangga, dan bebas mau diapakan. "Dikasih lebih banyak malahan, Mba. Akunya aja yang nggak puas kalau belanja pakai duit orang."
"Itu 'kan duit suami kamu, Neng. Ya ampun Mba pengen ketawa. Jangan bilang sampai sekarang kamu masih segan menggunakan duit dari suami!" Tuduhan Rita membuat Ayun meringis malu. "Astaga, Yun. Nggak boleh begitu. Nanti kalau suamimu tahu bagaimana, tuh. Dia pasti kecewa banget."
"Aku masih segan karena biasanya kalau mau apa-apa pakai duit sendiri, kalau mau beli sesuatu yang sekiranya mahal banget aku selalu ngerengek ke ayah. Makanya sekarang bingung rasanya. Ayah sudah stop kasih jatah jajan ke aku. Jatah skincare dan segala macam. Terus itu berarti sekarang aku nafkahin diri sendiri. Gajiku dibagi-bagi bukan cuma buat beli seblak sama bakso aci." Padahal aslinya Ayun tidak sepusing itu, benar kata Agha bahkan sampai sekarang pun jatah bulanan dari Agha ia simpan. Entahlah, rasanya tak bisa membuang-buang
Beginilah kalau besar tanpa seorang ibu. Katakanlah Ayun dimanja semenjak kehilangan sosok ibu oleh Bagas. Tentunya cara pengasuhan juga berbeda. Rita bukan menyalahkan Bagas yang tidak menjelaskan keseluruhan tugas seorang istri. Jika dilihat pun Ayun belum siap mental untuk berumah tangga. Masih apa-apa dipikirin dan tingkahnya juga kekanakan terlepas usianya sudah tidak muda lagi.
"Dengerin Mba ngomong, Yun." Ayun mengangguk, Rita kembali melanjutkan. "Kamu nggak pa-pa pakai duit suami untuk beli keperluan kamu termasuk jajan. Malahan kalau duit kamu utuh itu lebih baik. Suami bakalan merasa dihargai kalau nafkah yang dikasih digunakan sama kamu. Suami kerja 'kan buat istrinya. Duit suami duit istri, duit istri tetap jadi punya istri. Kamu obrolin lagi sama suamimu apa-apa yang boleh dan tidak boleh."
"Mba, tapi—"
"Tuh dia nyamperin kamu ke sini. Effort banget, Yun. Padahal bisa telepon atau nyuruh orang buat manggil kamu."
Untuk masalah itu Ayun tidak tahu alasan kedatangan Agha sampai ke meja resepsionis di pagi ini. Pun dengan ucapan Rita yang ada benarnya juga. Kenapa Agha repot-repot mendatanginya? Bagaimana jika ada orang lain yang menaruh curiga.
"Kenapa?" ketus Ayun memilih bertanya lebih dulu. Walau menyapa bukan berarti tatapannya sopan menghadap si lawan bicara. Bisa dilihat kalau Ayun sedang malu saat ini. Ayun tergolong berani sampai membuat Nira menahan napas pun dengan Ilham yang berdiri kaku di sebelah istrinya. Jarang-jarang atasan dari atasan mereka mendatangi salah satu karyawan.
Lain halnya dengan Rita yang menahan gemas dengan sikap ketus Ayun kepada Agha. Tak ada sopan santun sama sekali, tetapi tak bisa langsung menegur.
"Name tag," kata pria itu seraya merogok saku celana bahannya. "Telepon nggak diangkat." Langsung saja memberitahu disaat bola mata Ayun melotot entah terkejut atau memberi peringatan. Lebih baik memberitahu kebenaran daripada Ayun salah paham.
Tanpa menunggu balasan dari wanita itu Agha memilih pergi menjauh bahkan tak perlu repot-repot menoleh ke belakang. Berjalan dengan kepala terangkat serta kedua tangan terbenam di saku celana sontak membuat beberapa orang yang berpapasan memilih berhenti dan memberikan sapaan selamat pagi. Sapaan yang dibalas dengan anggukan dan senyum sopan.
Pribadi Agha memang terkenal tegas, tapi bukan berarti tak tersentuh. Dia banyak diam, tapi bukan berarti tak bisa tersenyum. Entahlah bagaimana mendeskripsikan sosok Agha di kacamata Ayun.
Ya, tentu si istri masih memperhatikan suaminya sampai punggung pelukable pria itu menghilang ditelan lift.
"Gamon, 'kan! Makanya jangan sok cuek kamu. Giliran disamper mati kutu. Gimana jantung aman apa nggak, Yun?"
"Mba …," rengek wanita itu. Pipinya merona lantaran malu, begitu tak sengaja bersitatap dengan Nira dan Ilham sontak tubuhnya membeku.
Sial! Apa yang dipikirkan oleh sepasangan suami-istri itu?
"Mereka tahu batasan nggak usah khawatir, Yun." Rita berbisik ketika merendahkan badannya mendekati Ayun. Memahami rekan kerjanya yang terlihat resah tentu Rita akan mendinginkannya.
"Pakai dulu name tag-nya," sambung ibu tiga anak itu.
Ayun mengangguk walau resah hatinya tak kunjung hilang. Daripada gerogi karena kepekaannya yang diperhatikan oleh Nira secara diam-diam Ayun pun berpamitan ke toilet. Padahal hanya memakai name tag tak perlu repot-repot beranjak.
Masih tidak menyangka dan masih belum siap andaikan status penikahannya dengan pewaris tunggal hotel ini terungkap entah bagaimana jalan kerjanya ke depan. Terlebih bagaimana kehidupannya di hotel. Kehidupan tenangnya dijamin akan berisik.
"Saya hanya butuh bertemu dengan Agha, kenapa harus repot seperti ini, sih? Kasih tahu ke dia Maudi mau bertemu."
Dugaan Ayun tidak salah alamat. Dia akan menghadapi mantan kekasih suaminya. Benarkah? Rasanya enggan ikut campur, tetapi melihat tiga orang kewalahan menahan bar-barnya sosok berambut sebahu membuat Ayun terpaksa melerai.
"Mari saya antarkan," ucap Ayun tiba-tiba menghentikan makian Maudi yang dilayangkan kepada Nira.
Tatapan Maudi kontan langsung mengarah kepadanya memindai dari atas sampai ke bawah membuat Ayun risih. Berdecak seraya bersedekap d**a lantas berkata, "Punya kuasa hem …? Kamu hebat banget terhitung beberapa hari sudah memiliki kuasa. Ck-ck!"
Ayun berusaha menahan diri supaya tidak melangkah dengan kaki lebar lalu menarikan jambakan kepada supermodel arogan.
"Mari," kata Ayun tanpa repot-repot menanggapi kalimat kesinisan Maudi.
"Silakan masuk saja. Agha ada di dalam," ujar Ayun dengan sopannya membuka pintu ruangan Agha supaya Maudi tidak perlu repot-repot melakukannya. Bukan hanya itu saja bahkan ketika si pemilik ruangan melayangkan tatapan protes dengan raut datar Ayun tak peduli.
Dia tutup pintu ruangan sang suami yang sontak langsung berhadapan dengan sosok sekertaris yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. "Gue kaget, Mas!" pekik Ayun menabok lengan berbalut jas mahal milik Fateh—sepupu Agha dari pihak ibu—yang dibalas kekehan oleh pria itu.
"Kok nggak jadi masuk? Agha di dalam, 'kan?"
Tidak heran dengan pertanyaan Fateh karena saat dia datang meja pria itu kosong. "Lagi ada tamu, Mas. Kalau bisa jangan diganggu, ya."
Fateh mengernyit bingung. Tamu siapa sampai dia nggak tahu begini. Bukankah seharusnya tamu diterima olehnya terlebih dahulu sebelum dipersilakan menemui Agha.