Bab 13. Memilih Tidak Ikut Campur

1132 Words
Sejauh yang Ayun perhatikan sejak masuk ke kamar tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir tebal suaminya. Ayun berpikir mungkinkah Agha marah kepadanya karena telah membawa masuk Maudi dengan lancang. Maksudnya bukankah seharusnya Agha berterima kasih karena berkat bantuan darinya Maudi tidak membuat kerusuhan di depan dan sebagainya Agha menjadi dipermudah untuk berbincang dengan wanita itu. Lantas letak kesalahannya di mana? Ini agak aneh dan Ayun nggak mau berusaha membujuk. Bukan apa-apa nggak etis kalau dibujuk berujung pertengkaran, apalagi di kediaman mertuanya. Lagipula ia merasa tak bersalah akan tindakannya itu. Walau sudah menjadi mantan kekasih ingatan Ayun masih terekam jelas di masa-masa pacaran Agha dan Maudi. Bahkan Ayun sampai melabeli Agha si b***k cinta saking nurutnya sama Maudi. "Aku mau ke bawah bantuin mama masak," ujar Ayun setelah berganti baju ketika Agha keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah segar karena seusai mandi. Hanya Ayun yang bermodalkan ganti baju saja. Pikirnya mau membantu mertua masak lebih baik mandinya pas udah selesai urusan dapur. "Kamu nggak mau ngomong sesuatu, gitu?" Teguran Agha membuat tangan yang hendak menyentuh handle pintu urung seketika. Tubuhnya berbalik menghadap penuh ke arah pria itu. Alisnya terangkat naik sebelah pertanda bertanya 'Apa' yang justru dibalas melengos oleh Agha. See? Ada apa dengan pria itu? Mengapa Agha bertingkah seperti tengah merajuk. Yang benar saja! "Apa yang harus aku omongin?" Wanita itu bertanya balik. Kedua tangannya kini sudah bersedekap d**a meminta penjelasan kepada pria itu. "Masih masalah mengenai mantan pacar kamu itu, ya?" Agha mendengus. Melempar handuk ke sembarang arah yang justru jatuh ke atas kasur. Melihat respon tak suka Agha membuat Ayun terkekeh sarkas. "Lucu, harusnya aku yang ngambek nggak jelas. Kenapa malah kamu, Gha?" "Karena kamu nggak ada inisiatif bertanya dan minta maaf!" "For what? Aku buat kesalahan apa, Gha? Bukankah justru yang di kantor aku membantu kamu, ya? Ups … membantu kalian saling bertemu. Dibantu sama istri sah. Coba bilang makasih ke aku, Gha." "Ayun." Agha menggeram jengkel. Entahlah Ayun merasa suaminya seperti mencari gara-gara semata. Ayun pun tak tahu apa yang dua orang itu bahas di belakangnya. Bagi Ayun bantuannya sudah cukup sampai di sini. Dia nggak mau dianggap sebagai istri yang mengekang suaminya. Jadi, begitu Maudi datang kenapa nggak menolongnya? Tentu dia akan membantu keinginan wanita itu. Belum lagi dengan anggapan Maudi mengenai dirinya. Ingatlah bahwa Ayun masih jengkel karena tatapan penilaian penuh meremajakan dari Maudi. Hah! Ayun harus bisa bersabar jangan sampai terpancing emosi ke Agha. "Untuk masalah apa pun itu aku nggak mau terlibat. Silakan kalian selesaikan. Aku mau bantuin mama masak." Usai berkata demikian tubuhnya menghilang disertai dengan pintu yang tertutup menyisakan celah. "Mama, Ayun bantuin masak, ya!" katanya bersemangat langsung memeluk pinggang ramping Wina. "Ya ampun, Sayang! Lebih baik kamu istirahat saja, Mama cuma tumis-tumis saja karena gorengannya sudah kelar. Gih kamu istirahat masa pulang kerja malah turun ke dapur." Badan Wina yang bergoyang-goyang supaya pelukan Ayun terlepas malahan semakin mengerat kencang. Ayun terkekeh merdu menempelkan pipinya di punggung sang mertua. "Kalau begitu Ayun mau peluk Mama saja, deh." Sekarang bukan hanya Wina yang tertawa dengan ucapan Ayun. Juga ada Rivaldi yang awalnya cuek kini senyum-senyum ketika sang putra datang dengan wajah datar. "Kenapa mukanya ditekuk begitu?" Tidak ada jawaban Rivaldi tak menyerah begitu saja. "Dih elah cemburu sama mama sendiri, Gha?" "Papa, apaan, sih. Nggak usah sok tahu, deh," keluh Agha. Suara mereka yang bisik-bisik tentu tidak menggangu sepasang mantu dan mertua. "Tuh lihatlah istri sama mamamu akrab begitu masa kamu kalah, sih, Gha. Pepet terus, dong! Jadi laki jangan mundur-mundur seperti itu." "Agha nggak mundur, ya, Pa! Sejauh ini Agha menghargai Ayun yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan status barunya." "Halah! Banyak alasan kamu," cibir Rivaldi mengibaskan tangannya di depan wajah sang putra. "Cemen." Setelahnya Rivaldi kembali menatap layar laptop di depannya. Bukan sedang bekerja, pria paruh baya itu malah sedang mencari-cari wedding organizer ketika Agha menengok. "Papa cari begituan untuk apa?" tanya Agha penuh keheranan. "Loh emangnya kamu nggak mau ngadain resepsi? Pernikahan kalian juga harus diresmikan, dong. Masa cuma akad saja, Gha. Kamu ini yang benar saja lah. Ayun juga pastinya menginginkan pernikahan yang layak, mewah, supaya dia dihargai oleh kita. Kamu ini bikin Papa ngomel-ngomel jadinya." Agha langsung kicep. Hanya bertanya seperti itu jawabannya sudah meluber ke mana-mana. Seakan Agha memang tidak memedulikan padahal 'kan belum memikirkan. Namun, mau menjelaskan juga percuma saja karena penilaian Rivaldi sudah terlanjur jelek. *** "Ih Ayun malahan suka kalau diajak masak tahu, Ma. Dulu ayah juga sering ajak Ayun terjun langsung ke dapur, tapi sampai sekarang tetap saja nggak jago masak. Jadi iri sama pencapaian mama di dapur bisa bikin makanan aneka macam," ujar Ayun memuji kehebatan mertuanya yang mengaku bisa masak dari hasil memperhatikan nenek moyang. Kedekatan mereka sudah tidak perlu diragukan lagi karena Ayun dan Agha tumbuh bersama. Maka dari itu, Ayun sudah tidak canggung berkeliaran di rumah ini. Apalagi bermanja-manja dengan Wina. Wanita itu sangat mendambakan sosok ibu. "Kalau kamu sering memperhatikan Mama masak Mama jamin kamu bakalan cepat bisa masak. Sekarang tergantung niatnya saja, Sayang." "Kalau kamu nggak bisa masak aku nggak masalah, Yun. Aku yang bakalan masakin kamu setiap hari," ucap seseorang yang langsung menarik pinggang Ayun sehingga pelukannya dari Wina terlepas begitu saja, membuat wanita itu menatap tak suka pada sang suami. "Kalau mau belajar tuh di sebelah Mama bukan di belakang Mama," tegur pria itu. Sekali lagi Ayun melayangkan tatapan tak sukanya terhadap sikap Agha. Lain halnya dengan Ayun maka, Wina merasa lucu dengan sikap sang putra. "Mama bisa ngandelin Ayun nata makanan di meja nggak, ya? Mama udah mandi, tapi pengin mandi lagi. Soalnya gerah habis makan. Gimana, Sayang?" tanya wanita itu, niat aslinya sengaja memberikan waktu untuk Ayun dan Agha. Wanita paruh baya itu paham betul dari tindikan sang putra. Gengsi, tapi mau dan inilah cara Agha mendekati Ayun adalah dengan merecokinya. Wajah yang awalnya menatap malas ke Agha ketika berpaling dan menatap Wina langsung mengangguk dengan senyum kelewat lebar. "Pa, ayo ke kamar katanya mau dikerikin punggungnya," ajak Wina kepada suaminya yang memperhatikan interaksi anak dan menantunya tanpa berkedip. "Mereka ditinggal nggak pa-pa, Ma?" Adalah pertanyaan dari Rivaldi yang kentara jelas sangat khawatir mengenai anak dan menantunya. "Mereka bukan sebelas tahun yang lalu, Pa. Udahlah tenang saja justru tindakan kita sudah bagus supaya mereka beradaptasi berdua. Masih pengantin baru, Pa." Berbeda dengan kedua sepasang suami dan istri yang terkekeh maka, di dapur keadaan benar-benar hening. Suara dentingan piring pun sengaja diredam oleh Ayun. Selama menata meja makan perhatian Agha tak lepas sama sekali dari sosok mungil dengan kaos polos sedengkul yang dipadukan dengan celana legging tiga per empat. Manis sekali. Rambutnya digelung tinggi dengan jedai berwarna putih keemasan. Ah, cantik sekali istrinya. Namun, sayang rasanya tidak tergapai. "Yun." Agha menahan tangannya. "Kamu ngehindarin aku terus." "Mau mandi, Gha. Kenapa, sih?" Wajah Ayun terlihat risih membuat Agha buru-buru melepaskan cekalan tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD