Aku melihat sekilas saat Pak William melesat ke kamar mandi. Kemungkinan terburuknya adalah ia ingin mengeluarkan seluruh makan malamnya. Aku kembali memejamkan mata.
***
Aku terbangun saat Pak William memanggil-manggil namaku. Aku berusaha bangkit, tapi saat itu juga aku sadar kalau kakiku terkilir.
Ia berusaha meluruskan kakiku, namun tangan dinginnya membuatku kaget. Aku menepisnya. Aku bahkan tidak sadar kalau sedang menggigil.
Aku tau Pak William sedang berbicara padaku, tapi aku tidak bisa menangkap apa yang ia katakan. Dengan satu gerakan, ia mengangkatku ke atas tempat tidurnya.
Ia mengecek suhu tubuhku dan mengambil remot AC, menekan beberspa tombol dan membuat suhu kamar menghangat. Ia juga menyelimutkan selimut miliknya di atas tubuhku. Pipiku memanas saat menerima semua itu.
Keesokan Harinya,
Aku terbangun dengan kepala yang berputar. Samar-samar kulihat jendela kamar yang masih tertutup dan masih belum begitu terang. Aku yakin sekali kalau saat ini belum begitu pagi. Mungkin sekitar pukul setengah enam atau lebih pagi lagi. Aku ingat kalau kakiku terkilir, jadi aku tidak berusaha untuk bangun. Aku hanya memundurkan tubuhku dan mencoba untuk duduk.
"Kamu sudah bangun?" Suara Pak William tepat di sampingku. Aku bahkan tidak menyadarinya.
"Apa Bapak tidak tidur semalaman tadi?" Aku mengalihkan pandangan dari orang itu, kulihat jam menunjukkan pukul lima.
"Saya terbangun sejam yang lalu dan melihatmu tertidur di atas lantai. Saat saya bangunkan, ternyata kamu demam tinggi jadi saya mengangkatmu ke atas sini," jelasnya sambil menepuk kasur miliknya.
Aku melihat baskom berisi air dan kain untuk mengompres. Namun aku cukup yakin kalau ia bahkan belum mengompres kakiku.
"Apa Bapak mengompres kakiku?" tanyaku hanya memastikan.
"Baru ingin. Apa kamu ingin pergi ke dokter saja?" tanyanya sambil meraih ponsel dari atas meja.
Aku mengangguk. Hal terakhir yang ingin kulakukan adalah merepotkan Pak William. Selain itu, aku juga harus segera pulang, karena aku tidak memberi kabar jika tidak pulang. Ia pasti sangat khawatir.
"Saya harus segera pulang ... mama saya pasti khawatir..." jelasku sambil berusaha menurunkan kaki ke atas lantai kamar Pak William.
Tiba-tiba saja ia sudah berada di samping dan langsung mengangkat tubuhku. Aku bahkan tidak bisa memperbaiki gaunku yang tersingkap.
"Pak! Saya bisa jalan!" protesku.
"Oya?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alis.
Ia menurunkanku perlahan. Namun, saat kaki itu menyentuh lantai, aku meringis kesakitan. Pelukan tanganku di lehernya makin erat. Dengan cekatan, ia sudah mengangkatku lagi.
"Saya pernah terkilir ... jangankan untuk berjalan, berdiri saja serasa ingin mati."
Aku merasakan air mata menumpuk di ujung mata. Disatu sisi aku sangat ingin menghapusnya. Tapi di sisi lain, aku tidak berani melepaskan peganganku.
Di Rumah Sakit Asia Medika,
Pak William sudah mendudukkanku di atas kursi roda. Ia juga menutupkan cardigan miliknya ke atas kakiku yang terbuka. Dengan langkah agak cepat ia mendorong kursi roda yang kutumpangi ke ruang gawat darurat.
"A...apa kita harus ke IGD? Bukannya terlalu berlebihan?" tanya ku bingung.
"Apa kamu tidak melihat kakimu yang semakin bengkak itu? Sudahlah, jangan berdebat denganku..." sahutnya sambil terus berjalan.
Jantungku berdetak lebih cepat. Ada apa ini? Cara Pak William berbicara padaku berubah drastis hanya dalam semalam. Apa ia masih mabuk? Atau semua ini hanya mimpi?
Aku mencubit lenganku. Sakit. Itu artinya semua ini kenyataan. Konyol. Tentu saja ini kenyataan. Aku tidak pernah bermimpi se-sweet ini.
Puluhan Menit Kemudian...
Kakiku sudah diperban. Rasa sakitnya tidak separah tadi. Aku baru tau kalau Pak William dan Dokter Alex berteman, saat Dokter Alex menceritakannya tadi, ketika ia memeriksa kakiku.
"Dia beruntung memiliki sekertaris sepertimu. Kau cantik dan cekatan. Meski kulihat, kau agak ceroboh..." ungkapnya entah memuji atau bukan.
"Wah, kalau cantik saya rasa saya jauh dari itu ... kalau ceroboh, hanya kadang-kadang. Tapi kalau cekatan, saya bisa diandalkan..." jelasku sedikit besar kepala.
"Apa yang kalian bicarakan?" Pak William menghampiri kami. Saat itu pula kami terdiam dan mulai tertawa kecil. Pak William hanya mengerutkan kening.
Dokter Alex memberikan resep yang harus kutebus.
"Sebaiknya kau jaga dia baik-baik..." Dokter Alex menepuk bahu Pak William.
Kini giliranku yang mengerutkan kening. Apa maksud perkataan dokter ini coba?
***
Setelah Pak William menebus obatku, sekarang kami sudah berada di dalam mobilnya lagi.
Dari tadi aku berfikir, bagaimana caranya agar aku bisa menghubungi mamaku. Aku sangat ingin sekali meminjam ponsel Pak William, tapi aku sendiri tidak mengingat nomor mama ataupun Manda. Jadi aku memberanikan diri untuk memintanya mengantarku pulang.
"Pak ... sebaiknya saya pulang sendiri..." Aku menggigit bibir.
Bagaimana bisa otak dan mulutku tidak sinkron? Padahal aku sudah berpikir untuk memintanya mengantarku pulang. Dasar!
"Jangan mimpi kamu. Aku antar pulang. Kalau perlu, sampai aku melihatmu masuk kamar dan beristirahat..."
Lagi-lagi pipiku memanas. Aku rasa orang ini benar-benar masih mabuk. Aku sih, tidak keberatan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku jadi terlihat sebagai orang yang tidak sopan dan tidak tahu terima kasih. Entahlah...
Setengah Jam Kemudian...
Aku sudah menekan bel rumah beberapa kali. Pak William masih ada di samping sambil memapahku. Aku ingin malu tapi kakiku memerlukan bantuan.
Tidak biasanya Manda atau Mama mengulur waktu untuk membukakan pintu. Lagi-lagi kupencet bel rumah, namun masih belum ada yang membukakan pintu.
"Bagaimana kalau kau hubungi ibu atau adikmu? Kau tidak boleh terlalu lama berdiri dengan kaki seperti ini ... kau harus segera istirahat," jelas Pak William meyakinkanku
Sesungguhnya hal yang ingin kulakukan dari kemarin malam adalah menghubungi mamahku. Seharusnya tidak perlu kujelaskan lagi, kan?
"Saya ingin sekali sih, Pak. Tapi ponsel saya hilang. Dari semalam, saya juga belum kasih kabar ke rumah..." ungkapku polos tanpa dosa.
"What? Serius? Kau ini bagaimana, sih? Kenapa tidak bilang sejak semalam? Jangan-jangan ibumu melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi!"
Tuh kan, aku jadi kena marah sama bos. Makanya aku males bilang ke dia. Pake takut dilaporin ke polisi pula... Memangnya aku bakal diam saja?
"Kalau bapak tidak mabuk, saya mau banget minta tolong sama bapak... Saya juga baru sadar kalau ponsel saya hilang saat kaki saya terkilir, Pak..." jelasku sejelas-jelasnya.
Pak William memijat keningnya. "Jadi bagaimana sekarang?"
"Tidak tau, Pak..."
"Berhenti memanggilku begitu. Kau terlalu formal."
"Kan, Bapak bos saya..."
"Ini bukan jam kerjamu, Tasya. Sudahlah, jangan selalu melawan!"
Mungkin ia masih memikirkan bagaimana agar aku bisa cepat beristirahat atau bertemu dengan mamaku. Mungkin...
Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. Namun, aku tidak bisa menemukannya.
"Hei, Sya... Aku di atas sini. Ini Rose!" jelas suara itu.
"Hai, Rose... Apa kau tau di mana mama dan adikku?"
"Tadi malam mamamu datang dan menitipkan kunci rumah ke mamaku. Kalau nggak salah, mamamu mau ke rumah tante Erna. Bawa koper malahan, katanya tiga atau empat hari gitu ... kata mamamu, kalau kamu pulang disuruh cek pesan masuk. Sebentar, ya ... aku ambilin kuncinya," jelas Rose sangat blak-blakan. Matanya menatap Pak William, bukan melihat ke arahku.
Aku hanya tersenyum. Setidaknya ia turun dan memberikan kunci rumah padaku.
"Tetanggamu melihatku dengan aneh. Apa ada yang salah dengan penampilanku?"
"Tidak. Anda baik-baik saja ... dia memang agak-agak."
"Hei, Sya. Siapa yang agak-agak?" tanya Rose yang sudah muncul di belakang kami.
"Bukan kau tentunya..." elakku.
"Ini kuncinya ... pacar baru, Sya? Jauh lebih keren daripada Thomas. Apa dia sugar dady-mu?" Ia mengedipkan mata ke arah Pak William yang mulai gerah dengan kelakuan Rose. Mana bajunya luar biasa irit pula...
Pak William mengalihkan pandangannya, aku menerima kunci dari tangan Rose dan memberikannya kepada Pak William.
"Terima kasih ya, Rose cantik... See, aku harus segera istirahat..." jelas ku sambil menunjuk kakiku yang dibalut perban. Aku menghalangi pandangannya yang selalu mencuri pandang ke arah Pak William. Orang itu berhasil membuka pintu rumahku.
"Oya, dia bosku. Bukan sugar dady atau apalah itu." tambahku lagi sebelum aku menutup pintu.
Pak William memapahku untuk masuk dan duduk di atas sofa.
"Aku merinding..." bisik Pak William padaku.
Terdengar lucu saat ia mengatakannya. Aku mempersilahkan ia duduk.
Aku melirik Pak William yang sudah duduk di sofa seperti di rumahnya sendiri.
"Bukannya kau harus segera istirahat?"
"Eh, nanti saja..." sahutku lepas dari lamunan.
"Hei..."
"Bapak mau minum ap—"
"Nona Anastasya Erie! Kau harusnya istirahat. Bukan menjamuku,"
"Tapi, Pak..."
"Benar ... kau tidak bisa jalan dan pergi ke kamar sendirian... Lalu bagaimana? Apa ada anggota keluarga lain? Ay— lupakan." Pak William berusaha mengerem kalimatnya barusan.
"Tidak ada orang lain. Tenang saja, Pak! Saya akan mengurus diri sendiri. Hal itu mudah!" jelasku sambil memijat sekitar kakiku yang terkilir. Aku merasa kalau perbaan itu mulai terasa sesak. Ujung jari kakiku malah menjadi agak merah.
"Rasanya sempit dan gatal..." Aku mengeluh pada Pak William yang juga memperhatikkan kakiku. Padahal aku baru bilang kalau bisa mengurus diri sendiri.
"Sepertinya semakin bengkak. Kau harus mengangkat kakimu lebih tinggi dari pada jantung ... di mana kamarmu?"
"Di atas, Pak..."
Tanpa pemberitahuan, orang itu mengangkatku. Seperti mengangkat balita, ia membawaku ke kamar di lantai dua. Aku hanya bisa berpegangan pada lehernya dan menundukan kepala. Rasanya ingin menolak, tapi aku memang harus ke pergi kamarku.
Setelah sampai, ia mendudukkanku dengan hati-hati di atas tempat tidur. Aku bersyukur tidak ada hal-hal aneh yang tercecer di dalam kamar. Mungkin kemarin ada, tapi nampaknya mama sempat merapikannya untukku.
"Ehem ... bagaimana? Apa cukup nyaman?" tanya Pak William setelah mengatur posisi kakiku menjadi lebih tinggi.
"Ia ... maaf Pak..."
"Kok, maaf?"
"Kesannya saya kurang ajar. Yang bos itu Bapak, tapi malah mengurus saya..."
"Anggaplah hari ini saya teman kamu. Lagian juga, saya sudah terlanjur bolos kerja. Kita harus memanfaatkan waktu ini dengan baik."
Seketika itu juga, aku panik mendengar kata-kata Pak William barusan. Sampai akhirnya ia terkekeh dan menepuk pelan bahuku. Aku merasa malu dengan diri sendiri.
"Ba...bagaimana dengan perjanjian kerja semalam? Apa Bapak tidak harus mengurus sesuatu?" tanyaku yang juga barumengingatnya.
Saat itulah air wajahnya berubah. Pak William bergegas keluar dari kamarku sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
'Aduh, gawat ... gara-gara mengurusku, ia melupakan janjinya!"
Bersambung,