Sementara Pak William keluar, aku berfikir keras bagaimana caranya agar bisa mandi dan mengganti gaun ini. Sudah semalaman dan rasanya sudah sangat tidak nyaman.
Aku masih sibuk berpikir saat Pak William masuk.
"Saya harus segera ke kantor karena ada sesuatu yang harus diurus. Kau tau maksudku ... kalau tidak keberatan, nanti siang saya akan datang lagi."
Aku mengangguk saja. Akhirnya ada kesempatan untukku sendirian di rumah.
"Kalau bapak sibuk, tidak datang lagi juga tidak apa-apa. Saya sudah nyaman di sini," jelasku.
Ia berlalu meninggalkanku sendirian di kamar. Namun, tidak lama berselang ia kembali lagi membawa bungkusan plastik.
"Mungkin kau lapar. Saya hanya menemukan toko roti di depan. Makanlah dan minum obatmu!" perintah Pak William sembari menyerahkan plastik itu.
"Terima kasih, Pak..." aku tersenyum sopan. Diperhatikan itu ternyata menyenangkan...
***
Aku berusaha bangkit dari atas tempat tidur. Setelah minum obat, rasanya memang tidak sesakit tadi. Aku mencoba agar sampai ke kamar mandi tanpa terjatuh.
Beberapa Menit Kemudian,
Kuusahakan untuk mandi secepat mungkin. Kakiku tidak boleh terlalu lama dibawa berdiri.
Setelah selesai, aku keluar dengan baju mandi putih dan gulungan rambut yang dibalut handuk. Perasaanku sangat segar. Badanku menjadi lebih ringan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya sebuah suara, yang membuat tengkukku meremang.
"Pak?!" sentakku kaget. Tebakan pertamaku orang itu adalah Pak William. Namun, aku semakin terkejut saat yang sedang berdiri di ambang pintu kamarku adalah Thomas. Orang menyebalkan yang selalu mencari kesempatan.
"Pak? Apa benar yang mereka katakan tentangmu, Sya?" tanya laki-laki itu mengerutkan keningnya.
"Keluar dari kamarku, Mas..." aku memintanya. "Apa maumu?" tanyaku curiga.
"Tadinya aku hanya ingin mampir dan mengecek kebenaran gosip itu. Sepertinya benar, ya?"
"Apa? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan.""
"Anastasya jadi simpanan om-om! Ck ck ck... Kuajak berpacaran selalu menolak, padahal keluargaku cukup kaya, loh! Ternyata ada yang lebih menguntungkan seperti ini, ya?" tuduhnya lagi.
"Cukup, Mas. Aku bekerja. Aku tidak menginginkan uang siapa-siapa hanya dengan bermanja-manja padanya. Apa kita punya masalah?" tanyaku serius.
Orang ini memang menyebalkan. Berulang kali ditolak, tapi tidak juga paham.
Awalnya pertemanan kami baik-baik saja, sampai Thomas memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku berusaha menolak sebaik mungkin. Aku pikir ia menerimanya dengan baik-baik saja. Namun, beberapa kali aku mengetahui kalau ia menyebar gosip kurang menyenangkan tentangku. Entah apa maksud dan tujuannya, sayang aku tidak bisa membuktikannya pada siapa-siapa.
Thomas membuka bungkusan roti yang masih tersisa banyak.
"Selai kacang? Rupanya om itu tidak terlalu mengenalmu, ya? Kau 'kan, bisa mati kalau makan ini," ungkap Thomas menjengkelkan.
"Kau benar. Dia bukan siapa-siapa. Dia tidak tau apa-apa tentangku. Tolong, keluarlah dari rumahku..." aku berusaha membujuknya.
"Apa kau tidak lihat apa kata teman-teman di grup? Seharusnya kau membela diri, Sya!"
"Tidak, ponselku hilang. Aku meninggalkannya di taksi. Kuduga sudah ada yang memilikinya sekarang..." Aku menjelaskan.
Aku bersusah payah menahan kakiku agar bisa bertahan lebih lama. Sambil memilih baju di dalam lemari, aku berusaha agar Thomas tidak terpancing untuk lebih mendekat. Aku bisa tumbang kapan saja.
"Oke!" seru Thomas.
Aku merasakan sebuah kilatan cahaya. Orang itu mengambil fotoku dalam keadaan begini. Sudah pasti ia punya maksud yang tidak baik, bukan?
"Apa itu?"
"Bukan apa-apa."
"Tolong dihapus. Untuk apa kamu melakukannya?"
"Apa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Mas... Kamu mau apa sih?"
"Anggap saja ini hiburan buat aku yang sudah kamu tolak. Aku janji foto ini aman bersamaku!"
"Kamu gila, ya? Kamu 'kan, suka buat gosip jelek tentang aku? Masa iya, aku percaya kalau kamu gak akan macam-macam dengan foto itu?"
"Tuduhanmu jahat, Sya..."
Sungguh sial harus melihatnya hari ini.
Dengan langkah yang tertatih aku membawa kembali baju yang kupeluk di depan d**a, masuk ke dalam kamar mandi.
Aku sungguh tidak sadar kalau Thomas mengikuti langkah kakiku. Ia menahan pintu kamar mandi yang akan tertutup dengan ujung sepatunya.
"Sya, apa kau tidur dengannya?" Thomas bertanya seperti itu dengan ekspresi yang telah berubah. Ia marah.
Dengan satu tarikannya pada tanganku, aku sudah berada sangat dekat dengannya. Aku berusaha sekuat mungkin untuk mendorong dirinya dengan masih memeluk baju-bajuku di depan d**a.
"Jangan buat aku teriak maling, Mas!!" ancamku berusaha garang. Aku tidak pernah mengancam orang sebelumnya. Jadi, aku tidak tau apakah ancaman itu berhasil atau tidak.
"Lalu apa? Foto ini akan tersebar sampai ke ayahku dan ... kau tau apa artinya. Begitu maumu?" ancamnya tak mau kalah.
Aku kalah telak dengan ancaman itu.
Ia semakin mendekatiku. Detak jantungku sudah tidak beraturan.
Thomas kemudian meraih bahuku dan menarikku keluar. Aku panik.
'b******k!! Aku gak rela kalau dia melecehkanku!!' batinku sedih.
Aku menahan tarikannya dengan berpegangan pada kotak P3K yang menggantung di dinding kamar mandi. Kotak itu terjatuh. Isinya berserakan. Handuk yang membungkus kepalaku terlepas.
Orang itu kemudian menarik rambutku dan membuatku tersungkur ke sudut kamar.
Ia mendekatiku yang sudah tidak sanggup menghindar. Nyeri di kakiku sangat menyakitkan. Badanku juga sakit karna terjatuh.
Ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahku.
"Tolong!! Tolo—" teriakanku terhenti. Ia menutup mulutku dengan tangannya. Aku berusaha mendorongnya agar menjauh. Sayangnya, tidak terjadi apa-apa. Tenagaku kalah kuat dengannya.
"Kakiku sakit sekali, tolong pergilah..." Akhirnya aku memohon.
Akan tetapi, bukannya pergi Thomas malah semakin gila. Entah apa yang merasuki otaknya, Ia tersenyum layaknya serigala yang kelaparan.
Saat itulah seseorang memanggil namaku.
Thomas mengalihkan pandangannya. Saat itu pula aku melayangkan hantaman keras ke arah kepalanya. Ia terjatuh di kakiku dan tidak bergerak lagi. Botol parfume itu pecah. Kapala Thomas mengeluarkan darah.
Aku hanya bisa duduk terdiam mematung di sana. Kakiku nyeri, tapi kejadian barusan membuatku kaku. Aku hanya bisa melihat tanganku gemetaran.
***
Sekilas aku melihat Pak William masuk ke kamarku dengan setengah berlari. Ia membungkuskan selimut ke tubuhku dan membantuku berdiri.
Namun, kakiku terlalu lemas. Ia bergegas mengangkat dan membawaku turun. Setelah masuk ke mobil, ia menghubungi seseorang.
Pak William melajukan mobilnya. Ia membawaku ke rumahnya.
Aku tidak tau harus apa. Aku ingin sekali berteriak. Sayangnya suaraku tidak bisa keluar. Tanganku masih gemetar.
Sekarang aku sudah berbaring di kasur hangat milik Pak William. Mataku terpejam, tapi aku masih sadar. Aku bisa mendengar semua kata-katanya.
Ia menghubungi Dokter Lyn dan seorang pengacara. Ia juga mendapat telepon dari seseorang bernama Fandi.
"Kau yakin orang itu baik- baik saja?" tanyanya memastikan.
"Ya, ia sudah sadar dan mengalami gegar otak ringan."
"Oke. Jangan lupa kabari saya jika ada hal lainnya. Tolong minta seseorang membereskan kekacauannya. Nanti saya kirim alamat rumah itu."
***
Dokter Lyn menggenggam erat tanganku.
"Thomas baik-baik saja ... ia hanya pingsan karna pukulanmu. Apa kau baik-baik saja?" tanya nya lagi.
Aku mengangguk.
"Aku ... aku ingin minta maaf padanya..."
"Jangan sekarang. Kondisimu belum stabil. Kau masih sedikit syok. Mugkin besok kalian bisa menemuinya..." jelas Dokter Lyn lagi.
Ia beranjak mendekati Pak William yang masih mengamati kami dari ambang pintu kamarnya.
"Dimana keluarganya?"
"Di luar Kota. Kami tidak bisa menghubunginya karena ponsel Tasya hilang. Mereka baru pergi semalam..." Pak William menjelaskan apa yang ia tau. "Mengapa dia begini?"
"Ia syok karena menyerang seseorang dan membuat orang itu pingsan. Ia akan pulih dalam beberapa jam atau beberapa hari. Itu semua tergantung dirinya sendiri..."
Aku memejamkan mata.
***
Aku terbangun. Beberapa saat merenung baru aku ingat, kalau aku berada di rumah Pak William. Aku melihat sekeliling dan mendapati Pak William sedang duduk menghadap balkon kamarnya yang terbuka.
"Ehhmm..." Aku ingin mengatakan sesuatu namun mengurungkannya.
"Tasya? Ada apa?" tanyanya yang sudah berada di sampingku. Aku hanya tersenyum.
Ia menempelkan punggung tangannya di keningku.
"Saya baik-baik saja, Pak. Jam berapa ini?"
Ia menyisir rambut dengan jari-jarinya.
"Kau membuatku khawatir hari ini. Tapi, ini juga karena aku meninggalkanmu sendirian. Aku minta maaf..."
Aku tersentuh dengan kata-katanya. Tanpa sadar aku menangis. Entahlah, aku menangis terisak-isak. Aku ingat ayahku. Aku kangen mama. Aku menangis karena kakiku yang sakit. Semuanya.
Ia tidak memintaku untuk diam. Hanya mengelus rambutku yang sudah pasti kusut tidak jelas. Ia menenangkanku.
"Maaf Pak ... saya tidak bisa diandalkan. Saya sekretaris yang ceroboh ... saya bahkan sudah merepotkan Bapak. Bapak tidak harus membayar gaji saya ... saya berhutang nyawa pada Bapak..." rengekku dengan wajah penuh air mata.
Pak William tersenyum. Ia menawarkan tisu padaku dan aku menerimanya.
"Kita bicarakan itu nanti. Apa kau ingin makan siang?" tanya Pak William menyampingkan omongan-omonganku tadi. Jam di kamarnya menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh.
Aku mengangguk sambil menghapus air mata. Aku juga sangat lapar.
Bersambung,