Aku sudah berada di dapur dengan Pak William, dan seseorang sedang memasak sesuatu untuk kami.
"Apa bapak sudah mendapatkan ART?" tanyaku berbisik. Aku takut salah bicara.
Pak William menggeleng. "Dokter Lyn meminta Bik Artin yang sudah lama bersamanya untuk membantu di sini selama beberapa hari. Dokter Lyn sendiri akan ada di luar kota selama sepekan penuh."
Pak William memberikan sebuah kantong kertas cokelat padaku.
"Untuk saya?" tanyaku kaget.
Ia mengangguk dan mengeluarkan isinya, meletakkannya di atas meja.
"Kau bisa segera mengaktifkan grup chat dan menemukan nomor-nomor ponsel penting di ponselmu yang lama. Mungkin kau ingin menghubungi mamamu..." jelas Pak William.
"Tapi, Pak, ini terlalu mahal. Gaji saya bahkan tidak sebanyak ini..." aku bingung. Ingin menolak tapi aku sangat memerlukannya.
"Anggap saja kau akan bekerja tanpa digaji? Bagaimana?"
Aku terdiam. Ia malah tersenyum berusaha menahan tawa.
"Bapak serius tidak akan memberi saya gaji?" tanyaku lemas. Rasanya aku tidak sesemangat tadi lagi. Tiba-tiba perutku kenyang.
Memang harga ponsel dengan logo apel ini berharga lumayan mahal. Meskipun bukan keluaran yang paling baru, tetap saja bukan?
Aku mengembalikan ponsel itu ke dalam kotaknya.
"Kamu tidak suka?"
"Suka ... tapi kalau saya harus bekerja tanpa digaji, lebih baik saya pakai ponsel murah saja, Pak..." Aku menabung untuk membayar biaya kuliah. Bukan untuk beli barang-barang mewah.
Tanpa kuduga, Pak William mengacak rambutku. Sepertinya ia gemas. Ia tersenyum. Mataku sampai dibuat silau.
"Tenanglah. Anggap saja itu sebagai permintaan maaf dariku karena membuatmu kehilangan ponsel, dan karena aku kurang waspada meninggalkanmu sendirian di rumah dalam keadaan sakit."
Aku kaget saat mendengar alasannya memberiku barang mewah ini. Namun, aku tidak ingin terhanyut oleh kebaikannya. Aku tidak ingin apa yang mereka pikirkan benar-benar menjadi kenyataan.
"Pak. Bapak bukan orangtua saya. Jadi bapak tidak punya tanggung jawab apa-apa terhadap saya..."
Pria itu diam. Ia kemudian tersenyum simpul dan meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Sesekali ia memijat keningnya.
Aku merasa sudah salah bicara. Sayangnya, aku tidak tau bagian yang mana.
»William POV«
Entah mengapa beberapa hari ini aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari Tasya. Seharusnya aku malu karena berpikiran seperti itu. Usianya bahkan hanya berbeda beberapa tahun dari Justin. Kepalaku tiba-tiba sakit.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya gadis itu menatap ke arahku.
Aku hanya tersenyum simpul. Aku tidak ingin ia menjauh dariku secepat ini.
***
"Bagaimana keadaanmu? Apa kakimu sudah lebih baik??" tanyaku.
Aku mengamatinya. Sepertinya ia sudah tidak syok lagi, dan ia sudah terlihat ceria seperti sebelumnya.
"Saya sudah lebih baik, Pak! Terima kasih sudah bertanya..."
Aku menjawabnya dengan anggukan kecil. Nanti malam kami akan menemui Thomas. Orang yang sudah sangat kurang ajar dengan gadis yang ada di dalam pengawasanku. Mungkin aku harus memikirkan sebuah cara agar orang itu menyesal.
"Nanti malam..." Ia bergumam.
"Kalau pun kamu tidak ingin pergi, tidak masalah. Dia juga baik-baik saja..."
"Saya harus minta maaf. Tapi ... saya takut."
"Kau takut? Aku akan ikut pergi. Tenanglah."
Gadis itu diam. Mungkin ia cukup yakin aku bisa menjaganya. Semoga saja.
Malam Harinya...
Aku memarkirkan mobil di parkiran luar. Berpikir kami tidak akan lama di sana.
Setelah mengambilkan tongkat siku yang kupinjam dari seseorang, aku membukakan pintu untuk gadis itu dan membantunya turun.
Penampilannya sudah lebih baik sekarang. Kakinya sudah tidak terlihat sebesar sebelumnya. Ia memakai short jeans lama milik mantan istriku. Hanya celana itu yang tidak membuatnya tenggelam. Dan juga hoodie hitam milikku yang sudah lama tidak terlihat. Kalian tahu, saat ini tenggorokanku agak cekat hanya dengan melihatnya saja.
"Sebaiknya setelah ini kita membeli beberapa lembar baju untukmu. Saya tidak bisa seenaknya mengacak-acak lemari Dokter Lyn..." jelasku. Aku tau bukan itu alasan sesungguhnya.
"Rumah saya tidak begitu jauh dari sini, Pak. Sebaiknya ambil di rumah saja..."
"Jangan dulu. Sudahlah, dengarkan saja bosmu ini..." jelasku sambil membantunya berjalan. Aku tidak ingin ia syok lagi saat melihat kondisi kamarnya. Fandi akan membereskannya besok pagi.
»Anastasya POV«
Aku agak takut. Tidak. Aku sangat takut. Aku takut ia sudah menceritakan semuanya kepada Pak Mansur. Apalagi aku dengan nyata menyerangnya. Mungkin aku harus memohon agar orangtuanya tidak mengusirku dari kampus.
Aku bersyukur kakiku sudah tidak sesakit tadi siang. Apalagi tongkat siku yang dipinjamkan oleh Pak William sungguh sangat membantu. Aku mengamati Pak William yang sedang menanyakan ruangan Thomas pada resepsionis. Sesekali aku mengecek ponsel yang dipinjamkan Pak William kepadaku. Chatku masih belum dibaca oleh Manda. Mungkin aku akan menghubunginya nanti setelah aku bertemu dengan Thomas dan keluarganya.
"Bagaimana, Pak?" tanyaku saat orang itu kembali.
"Ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Perawat itu akan mengantarkan kita ke sana." jelas Pak William. Kami mengikuti seorang perawat dengan baju kerja berwarna hijau daun.
Tidak sampai lima menit, kami sampai. Aku agak gugup. Namun kemudian sebuah tangan mendarat di bahuku. Pak William berusaha menenangkan.
"Kau hanya perlu minta maaf, kan? Nanti biar saya yang mengurus sisanya..."
***
Tok tok tok...
Aku mendorong pintu yang tertutup rapat. Setelah pintunya terbuka, aku melangkah masuk dan mendapati ada Thomas yang terbaring di tempat tidur. Lalu ada orangtuanya yang sedang menunggui di samping. Ibu Thomas tampak menyuapi anaknya makan.
"Permisi..." sapaku.
Semua mata tertuju padaku saat itu juga.
Sepersekian detik kemudian, Thomas sendiri mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tampak sekali ia masih marah.
Ibu Thomas langsung meletakkan piring yang tadi dipangkunya. Ia bangkit dan diikuti oleh sang suami.
"Kamu Anastasya itu, kan? Mau apa kemari? Tidak tahu diri!" cerca ibunya Thomas, Nyonya Mansur.
Aku sadar kalau salah. "Maaf, Bu. Saya ingin minta maaf langsung dengan Thomas. Saya tidak sengaja..."
"Sudah-sudah! Pergi saja sana. Sudah bagus kamu tidak saya polisikan. Berani sekali datang kemari..." jawab wanita itu lagi.
Pak Mansur yang dari tadi hanya mengawasi kami, kemudian mendekatiku.
"Saya mengingatmu. Kamu yang minta kompensasi masalah uang kuliah itu, kan?"
Aku menunduk. Kemudian mengangguk ragu.
"Saya Anastasya yang itu, Pak..." jawabku pelan.
Pak Mansur kemudian mendekati dan membantuku untuk berjalan ke luar.
Aku hanya bisa menurut.
"Maafkan istri dan anak saya, ya. Terutama Thomas. Saya tau betul tabiat dia. Jadi, tanpa tau ceritanya pun, saya tau Thomas yang memulai..." jelas Pak Mansur.
Aku agak kaget. Namun, aku juga lega. Keputusan untuk masuk sendirian tidak salah.
Sedangkan dari kejauhan, aku tau Pak William hanya bisa mengamati tanpa tau pembicaraan kami.
"Kau begini gara-gara Thomas, ya?" tanya Pak Mansur lagi.
Aku hanya mengangguk pelan. Kemudian menggeleng.
Ia menepuk bahuku. "Anak itu memang kelewatan. Mungkin dari dulu saya harus kuliahkan dia agak lebih jauh. Kalau saya tau kelakuannya akan senakal ini..."
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa jadi teman yang baik..."
Pak Mansur menggeleng. "Saya tau ia menyukaimu. Namun, masalah seperti itu tidak bisa dipaksakan. Ia terlalu dimanja. Tapi ... tidak terjadi apa-apa, kan?" tanya Pak Mansur memastikan.
Aku menggeleng dengan segera.
"Syukurlah. Oya, apa kamu sendirian?"
"Tidak, Pak. Saya bersama seseorang..."
"Oh, baiklah... kalau begitu saya permisi dulu. Takutnya istri saya menyusul kemari..."
"Iya...."
"Sekali lagi, saya minta maaf atas nama anak dan istri saya..." ujar Pak Mansur sambil menundukkan kepalanya.
Aku benar-benar tidak enak. Orang itu sangat baik.
***
"Jadi, apa kata mereka?" tanya Pak William sesaat setelah ia melajukan mobilnya membelah malam.
Aku hanya bisa tersenyum.
"Berjalan baik?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
"Syukurlah. Setelah saya pikir-pikir, sebaiknya kita pulang saja. Kau sudah terlalu lama berdiri. Bisa-bisa kakimu bengkak lagi."
"Terserah bapak saja..." aku agak lelah. Mungkin sejenak memejakan mata akan terasa sangat nyaman. Mungkin obatku mulai bekerja.
»William POV«
Sekilas aku melihatnya memejamkan mata. Tampaknya hatinya sudah lebih tenang.
Tadi siang aku sudah meminta Bik Artin untuk membersihkan kamar Justin. Lebih baik Anastasya menginap beberapa hari lagi di rumahku. Lagi pula, ada Bik Artin yang juga tinggal di rumah sementara ini. Selain Tasya yang masih sakit, di rumahnya juga tidak ada orang.
"Sya ... bangunlah. Kita sampai..." Aku berusaha membangunkan tanpa mengejutkannya.
"Hmmmm .... sedikit lagi..." Tasya memalingkan wajahnya ke arahku.
Damn it! Hanya begitu saja wajahku tersa panas.
Aku menepuk-nepuk lengannya agar ia sadar.
"Sya. Sebentar lagi hujan. Bangunlah!"
"Eemmmm ... Eh!! I...iya, Pak! Tasya bangun!" sahut wanita itu salah tingkah.
Aku juga kaget mengapa bisa berada sedekat itu dengannya.
Ia langsung mengambil tongkatnya dan membuka pintu.
Astaga, Will! Berfikirlah sebelum terlambat...
»Anastasya PoV«
Astaga. Astaga. Astaga. Jantungku! Wajahku merah. Enggak, Sya! Kerja yang bener. Jangan salah gunakan kepercayaan orang. Ia sudah terlalu baik. Jangan ngelunjak. Jangan bikin malu keluarga. Jangan buat diri sendiri jadi bahan tertawaan. Fokus dengan kuliahmu!!
Ya Tuhan...
Bersambung,