Aku sudah sampai di depan pintu. Pak William meminta agar aku tinggal di rumahnya saja selama mamaku belum pulang. Sebenarnya aku kurang yakin kalau hal itu akan baik-baik saja. Tapi memangnya aku punya pilihan apalagi? Aku tidak mungkin tinggal sendirian dengan keadaan begini.
Aku berharap dalam dua atau tiga hari kedepan, aku sudah jauh lebih baik dan bisa pulang.
Kemarin saat Pak William terkilir, juga tidak sampai seminggu kakinya sudah sembuh.
"Masuklah. Apa kakimu sakit lagi?" tanya Pak William.
Aku hanya menggeleng dan sedikit tersenyum. Dengan langkah yakin, aku masuk dan langsung duduk di kursi tamunya.
Nyeri.
"Sebaiknya kakimu dikompres saja, bagaimana? Aku akan meminta Bik Artin menyiapkannya untukmu..."
"Tidak perlu, Pak. Mungkin Bik Artin sudah tidur. Ini sudah sangat larut, Pak..."
Jam menunjukkan pukul sebelas lebih dua puluh lima menit.
"Baiklah, kamu tidur di kamar Justin, ya. Yang pintu hitam. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi ponsel saya saja. Oiya, jangan terlalu sungkan. Kalau kau begitu, saya yakin kau akan tinggal di sini lebih lama lagi..." jelas Pak William.
Sepertinya ia sudah mengenali watak diriku yang tidak ingin begitu merepotkannya.
Aku mengambil ponsel. Hadiah darinya. Tidak, aku hanya pinjam. Aku akan mengembalikannya saat menerima gaji nanti. Aku akan beli sendiri.
"Heh ... ada SMS." SMS Itu dari Manda. Ia hanya menanyakan apa benar nomor ini adalah nomorku yang baru. Tanpa ragu aku menghubungi nya.
"Hallo..." sapanya saat panggilan tersambung.
"Hallo, Man.. ini Kak Tasya!"
"Kakak... hiks ... hiks ..."
"Loh ... loh ... kenapa nangis, Man? Kalian lagi di mana?"
"Di rumah Tante Erna, lah ... di mana lagi? Beberapa hari ini kenapa kakak gak bisa dihubungi, sih? Kita khawatir tau!"
"Emmm ... kakak kehilangan ponsel. Tapi tenang aja, kakak aman sama bos kakak di sini. Oiya, mana Mamah?"
"Sudah tidur, Kak..."
"Kamu tadi kenapa mewek, sih? Bikin kaget aja!"
"Pengen pulang. Tapi masih belum bisa. Kakak liat berita, gak? Lagi ada wabah, kak. Di sini udah di isolasi. Perbatasan ditutup. Katanya supaya gak ada yang bisa keluar masuk."
"Ah, masa sih? Entar kakak cek deh ... salam buat mamah, ya... Besok kakak telepon lagi!"
"Okey. Love you ... stay healthy, kak!"
Panggilan berakhir. Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
Beberapa Hari Kemudian...
Saat ini aku lagi membantu Bik Artin yang sedang menyiapkan sarapan. Kakiku sudah jauh lebih baik. Aku bahkan tidak lagi menggunakan tongkat.
"Non, Bik Artin 'kan, sudah seminggu lebih di sini, nemenin Non Tasya dan Pak William. Memangnya Pak William gak nyari pengganti bibik, ya? Kalau Nyonya Evelyn suruh Bibik pulang, siapa yang masak?" tanya Bik Artin yang sudah mulai akrab denganku.
"Tenang, Bik, Saya bisa masak kok. Lagian, seringnya Pak William makan di luar..." jelasku.
"Oya, Non... Bibik kemaren nonton berita. Katanya lagi ada wabah gitu ya, Non? Orang-orang sebisa mungkin harus tinggal di rumah. Itu Pak William gak apa-apa, masih bolak-balik kantor?"
Aku mulai penasaran dengan berita itu. Walaupun sakit, kasibukkanku lumayan banyak. Aku tidak ada waktu untuk melihat berita di TV.
Aku mencoba menyalakan TV yang ada di ruang tengah dan membesarkan suaranya.
"Belum bisa dipastikan darimana wabah ini dimulai ... namun pemerintah sudah melakukan tindakan dengan meniadakan penerbangan komersial. Begitu juga dengan perjalanan darat dan laut. Semuanya dihentikan untuk sementara..."
Aku mengganti chanel TV.
"Tiga orang dinyatakan positif terinfeksi, dan dua di antaranya dalam keadaan kritis. Seperti yang kami beritakan sebelumnya, virus ini menyerang siapa saja, tanpa kriteria tertentu. Selain itu sudah ada seratus empat puluh tujuh kasus yang dilaporkan dalam kawasan Asia Tenggara."
Aku mengganti chanel lagi.
"Mereka mengenakan baju hazmat lengkap untuk mengevakuasi sesosok mayat yang ditemukan di dalam rumahnya, yang terkunci. Pihak berwajib meminta agar masyarakat sekitar agar tetap berada di rumah sementara lokasi disterilkan. Kami melaporkan dari tempat kejadian..."
Jantungku berdegub kencang. Berita terakhir itu 'kan, dari kota di mana Tante Erna tinggal. Astaga ... astaga ... mana ponselku!
Aku mencoba menghubungi mamah, tapi tidak diangkat.
Aku menghubungi Manda. Sama. Malah ponselnya tidak aktif.
Sekilas aku melihat Pak William turun dan langsung ke dapur untuk sarapan.
Aku bingung, apakah harus memberitahukan tentang hal ini atau tidak.
"Selamat Pagi. Kelihatannya kau sudah lebih baik..." Pak William jelas bicara padaku.
Aku menghampirinya ke dapur.
"Ia, Pak. Sudah tidak apa-apa..."
"Apa kau mau ikut ke kantor hari ini?"
"Eemmm ... masalah itu, apa bapak sudah lihat berita beberapa hari ini?"
"Yang mana? Virus G-20 itu? Apa kau mempercayainya?"
"Memangnya Bapak gak percaya? Mama dan adik saya gak bisa pulang karena semua pintu masuk dan keluar kota sebelah ditutup loh, Pak. Saya yakin ini gak main-main..."
"Saya lebih suka teori konspirasinya. Ada yang bilang pemerintah hanya menakut-nakuti kita untuk menekan kegiatan di luar rumah. Mengurangi pergerakan masyarakat. Katanya ada agenda besar yang sedang mereka rencanakan. Hubungannya dengan netralisasi lahan kilang di Kalimantan, kan?"
"What? Bapak ini terlalu sering tidur larut ya? Gimana kalau memang ada wabah? Jangan dianggap bercanda dong, Pak!"
"Siapa yang bercanda? Saya juga serius..."
Semoga saja semuanya lekas berlalu. Aku juga maunya teori Pak William itu yang benar...
***
Aku merapikan berkas yang berhamburan di atas meja kerja Pak William. Aku tidak bisa memilih mana yang harus dibuang dan mana yang tidak. Sebaiknya kutunggu saja ia datang untuk mendengar pendapatnya.
Aku mengambil ponselku dan kembali mencoba menghubungi Manda atau mama. Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang bisa dihubungi. Sangat gatal sekali rasanya, aku ingin menghubungi Pak William dan minta tolong padanya, untuk mencari tahu tentang orang tuaku di kota sebelah. Aku tahu koneksinya banyak. Ia bisa dengan mudah mendapatkan informasi tersebut. Tetapi aku tidak akan mengganggunya saat ia masih berada di kantor, aku akan menunggunya pulang.
***
Aku merasa hawa dingin yang dari tadi kurasakan berubah menjadi hangat. Aku membuka mata.
"Astaga!!"
"Hai, Sya... Apa kau sudah bangun?" tanya Pak William yang kemungkinan mendegarku bangun.
Aku berdiri dan merapihkan baju yang kukenakan.
"Bapak sudah pulang. Pukul berapa ini?" Aku mengeluarkan ponsel. Sudah pukul setengah enam sore. Artinya, ia sudah pulang satu setengah jam yang lalu.
"Tenang saja, saya baru pulang," jawab Pak William yang seakan tau apa yang kupikirkan. Aku melipat selimut yang ia tutupkan ketubuhku.
Pak William sedang duduk di belakang meja kerjanya. Pintu ruangan itu tertutup karena memang full AC.
"Apa kau yang merapikan meja ini?" tanya Pak William sambil mengintip setiap tumpukannya. Rupanya ia tengah mencari sesuatu.
"I...iya, Pak.Saya menunggu bapak pulang. Mau tanya apakah semua tumpukan itu masih digunakan atau bisa saya sisihkan..."
"Kau tidak perlu membuang apa-apa ... dan ... apa kau melihat sebuah buku agenda berwarna merah? Saya rasa saya meletakannya di sini..."
"Aah ... buku itu saya letakkan di laci meja sebelah kiri, Pak. Kalau memang tidak ada yang dibuang, saya permisi dulu... Terima Kasih juga selimutnya." Aku sedikit menunduk.
Aku berbalik dan meninggalkannya. Saat itulah Ia meraih tanganku dan menahan laju langkahku. Aku yang tidak seimbang lalu jatuh terduduk di pangkuaannya. Pipiku panas. Aku bisa memcium wangi after shape. Rupanya ia sudah mandi. Berarti tidak mungkin ia baru pulang. Mengapa ia tidak membangunkanku?
"Sya, apa aku menyusahkanmu?" tanyanya saat itu.
Aku bangkit dan menunduk. Aku malu setengah mati. Mengapa orang ini begitu memabukkan?
"Saya ... Ti—tidak, Pak! Saya ... saya permisi!" Aku berhasil menyelesaikan kata-kata itu. Aku meninggalkannya sendirian.
Aku tau wajahku pasti sangat merah dan aku sadar sudah meninggalkannya dengan sedikit berlari. Hal itu membuat kakiku sedikit ngilu. Aku duduk di kursi makan dan menemui Bik Artin yang sedang memasak makan malam.
"Bik, apa kita masih punya es batu?" tanyaku dengan wajah tertelungkup di atas meja. Ngilunya lumayan terasa sampai ke dalam.
"Ada di freezer, Non. Kakinya sakit lagi?" tanya Bik Artin menyelidik.
Aku hanya mengangguk. Aku mendengarnya membuka kulkas dan meraup es batu.
"Kenapa kau harus berlari, sih. Kau akan cidera lagi kalau tidak hati-hati..." jelas suara itu, yang sukses membuatku tercekat.
Pak William sudah duduk di lantai dapur dan mengangkat kakiku yang sakit ke atas pahanya. Ia lalu menempelkan es batu yang ia bungkus dengan kain lap bersih dari laci dapur. Aku ingin sekali bangkit dan mengunci diri dikamar. Ingin menghilang atau sembunyi di dalam lubang semut. Namun bagaimana bisa? Aku malu semalu-malunya.
"Maaf, Pak!"
Aku melihat Bik Artin senyum-senyum sambil memasak. Aku takut kalau sampai dilaporkan pada Dokter Lyn. Bagaimana pun juga, orang ini bapak anaknya.
"Sudah, Pak... Sebaiknya saya sendiri yang melanjutkan. Bapak ini bos saya ... saya merasa sudah sangat kelewatan..."
Akan tetapi, ia diam saja. Ia tetap mengompres kakiku sambil sesekali memijatnya. Terasa sangat nyaman.
Tapikan dia bosku!!
Aku meraih tangannya dan mengambil alih es batu itu darinya.
"Terima kasih, Pak. Saya bisa sendiri!"
Ia berdiri. Setelah tersenyum singkat padaku, ia pergi. Ia pergi keluar dengan mobilnya. Pak William bahkan tidak bilang akan kemana.
Rasanya ia agak marah. Benarkah? Aku bingung dengan pola pikir bosku.
Bersambung,