Bab 2-Honeymoon Fight (1)

1326 Words
Davina turun dari boat dan menginjakkan kaki ke dermaga kayu. Setelah pejalanan panjang hampir enam jam dari Jakarta, mereka akhirnya tiba juga di salah satu pulau yang ada di Maldives, tempat yang menjadi destinasi bulan madu mereka. Angin sepoi-sepoi meniup rambut dan ujung dress selutut Davina. Ia melirik Devon yang tidak banyak bicara sejak kejadian tadi pagi. Bahkan jika diingat-ingat, sejak keluar dari penthouse tadi pagi, mereka hanya berbicara tiga kali. Itu pun karena Davina yang memulai. Satu kali saat mereka dalam perjalanan menuju bandara, ketika Davina bertanya apakah Devon sudah memberi kabar pada orangtuanya soal keberangkatan mereka hari ini. Yang tentunya dibalas dengan repons kasar pria itu. Lagi-lagi Devon menyebut Davina manja karena meski telah menikah masih saja repot lapor ini-itu pada orangtua. Yang kedua adalah ketika mereka berada dalam pesawat. Davina bertanya apakah resort yang akan mereka tempati merupakan salah satu yang diincar DM Corp, yang mana kini juga melebarkan sayap ke bidang properti. Tapi tentunya, lagi-lagi hanya direspons “jangan banyak tanya” oleh pria itu. Yang terakhir adalah saat mereka naik ke boat. Ketika Davina kembali bersuara untuk bertanya, Devon langsung merespons dengan “jangan banyak tanya atau kubungkam mulutmu dengan air laut”. Suara tabuhan gendang dari barisan orang-orang yang ada di kedua sisi mereka terdengar bersahutan. Beberapa petugas dengan seragam khas mendekat. Mereka mengalungkan rangkaian bunga tropis ke leher Davina dan juga Devon yang berdiri di sisi kanannya seraya mengucapkan selamat datang. Petugas lainnya kemudian muncul sambil membawakan mereka welcome drink yang terbuat dari kelapa mini. Davina mengucapkan terima kasih sambil tersenyum, lalu meminum minumannya. Ia dan Devon kemudian diarahkan untuk naik ke sebuah mobil golf dengan delapan kursi penumpang. Mobil tersebut bergerak untuk mengantarkan mereka ke sebuah water villa yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama masa bulan madu ini. Menurut informasi, ini adalah resort terbaik yang ada di kepulauan Maldives. Mobil berhenti di depan sebuah vila nomor 5 yang berdiri di atas air. Ada dua buah sepeda dengan keranjang bambu terparkir di depannya. Davina turun sambil menatap kagum pada vila kayu di hadapannya. Seorang petugas perempuan ikut turun bersama mereka untuk membukakan pintu, disusul dua petugas laki-laki yang mengangkut koper. Mereka masuk ke vila dan petugas tersebut menjelaskan beberapa hal mengenai vila yang akan mereka tempati. Ada sepiring coklat dan cake bertulikan “Welcome, Mr and Mrs Mahawira” di meja sebelah pintu, juga ember berisi sebotol wine. Davina mengernyit, karena baru menyadari kini namanya berubah menjadi Mahawira. Tidak ada lagi Davina Danajaya, kini ia adalah Davina Mahawira. Petugas tersebut terus menjelaskan, yang direspons Davina dengan anggukan, meski matanya mulai memindai sudut-sudut vila. Setelah petugas tersebut selesai menjelaskan ini dan itu, ia pun undur diri. Kini Davina dan Devon hanya tinggal berdua. “Ini benar-benar indah,” ujar Davina sambil menatap Devon. “Terima kasih sudah bersedia menghabiskan waktu di sini bersamaku.” Pria itu tidak menjawab, hanya menaikkan sebelah alis sebagai jawaban, lalu berlalu dari hadapannya. Davina memindai sekitar. Vila itu cukup luas. Ada ruang tamu dengan sofa dan meja kaca yang di letakkan lebih rendah dari lantai yang mereka pijak. Terlihat seperti dibenamkan ke lantai. Ada beberapa anak tangga di sisinya, untuk memudahkan jika hendak turun dan duduk di sana, sementara lantai di bawah meja tersebut terbuat dari kaca, membuatmu bisa melihat langsung air laut yang ada di bawah vila. Di sisi seberang ruangan, dinding kaca lebar menampilkan pemandangan laut berwarna toska yang indah. Sementara di sisi kiri, ada pintu kaca lain yang menampilkan sebuah ruang duduk dengan meja kayu putih yang cukup tinggi. Davina terus melangkah hingga tiba di kamar tidur. Di sana tempat tidur ukurang king dengan seprai putih dan taburan kelopak mawar berada di tengah ruangan. Davina lalu beralih ke sisi kanannya, di mana pintu kaca lebar lainnya berada. Davina membuka pintu kaca tersebut dan embusan angin seketika menerpanya. Ada private pool di dekat ujung kakinya yang bersebelahan dengan lantai teras. Kolam dan teras tersebut memanjang hingga sepanjang vila. Ada dua kursi santai dengan payung putih tinggi di seberang kolam, dan tempat duduk berisi sofa dan meja yang sama seperti di ruang tamu pada sisi kanan. Di sisi lainnya Devon tiba-tiba muncul dari pintu kaca ruang tamu. Davina tersenyum, namun pria itu langsung membuang muka. Davina mengangkat bahu, lalu melangkah kakinya hingga tepian teras. Air laut beriak kecil di bawahnya. Ada tangga yang langsung mengarah ke laut di sisi kiri, dekat dengan seluncuran melengkung yang terhubung dari teras lantai dua. Di hadapannya laut berwarna toska membentang sangat luas. Davina merentangkan tangan, membayangkan dirinya memiliki sayap dan terbang di udara sembari merasakan cahaya mentari sore menerpa kulitnya. Tapi tiba-tiba seseorang di belakangnya mendorong Davina ke arah laut. Davina menjerit dan memejamkan mata, namun tubuhnya segera ditangkap dua buah lengan kokoh. Tampaknya ia batal jatuh ke laut. Davina membuka mata dan wajah Devon yang tersenyum miring berada persis di hadapannya. “Apa-apaan yang barusan tadi? Kamu berniat mendorongku ke laut? Kenapa tidak sekalian saja kamu dorong aku saat kita ada di atas boat tadi?” cerocos Davina marah. Dadanya masih berdebar karena sempat mengira akan jatuh. “Tak kusangka kamu takut air. Kupikir senyum bodohmu sejak tadi itu memberi arti bahwa kamu sudah sangat akrab dengan yang namanya laut,” balas Devon. Kesal karena berhasil ditakuti, dan tidak terima disebut memiliki senyum bodoh, Davina berniat membalas Devon. Lengan pria itu kini masih merengkuhnya. Davina lalu berjinjit untuk mendekatkan wajah mereka, dan langsung mencium Devon. Pria itu terkejut, namun terlambat menyadari saat Davina menarik tubuh mereka berdua untuk jatuh ke dalam laut. Pelukan Devon terlepas saat mereka masuk ke dalam air. Beberapa detik kemudian keduanya muncul di permukaan. Devon yang tidak siap untuk jatuh terbatuk-batuk karena meminum air. Meski air itu hanya sebatas dadanya dan hampir mencapai leher Davina, ia tetap saja meminum air karena tidak siap untuk jatuh. “Apa-apaan kamu?!” Devon menatap Davina marah. Perempuan itu tertawa, lalu memercikkan air ke wajah Devon. “Ini balasan untukmu karena sudah nyaris mendorongku jatuh tadi.” “Kamu!” Devon tampak kesal dan ingin menariknya, namun Davina buru-buru berenang ke arah tangga. Saat ia akhirnya berhasil naik dan nyaris mencapai teras, Devon mencengkeram pergelangan kakinya. “Kyaaaa... Devon, aku minta maaf. Tolong lepaskan aku,” jerit Davina sambil mencengkeram pegangan tangga. “Setelah membuatku jatuh ke laut dengan pakaian lengkap seperti ini, apa kamu pikir bisa kabur dengan mudah dariku?” Davina berbalik dan tersenyum penuh penyesalan. “Aku minta maaf. Jadi tolong lepaskan aku. Jika ingin berenang di laut, sebaiknya kita ganti pakaian dulu, kan?” Devon menarik kaki Davina, membuatnya nyaris jatuh dari tangga kayu tersebut. “Devooonnnn... Aku minta maaf. Biarkan aku berganti pakaian dulu, nanti kamu akan kutemani berenang.” Seperti tidak mendengarkan ucapan Davina, Devon kembali menarik kakinya. “Devooooonnnnn!!! Aku janji... janji hanya akan ganti baju. Lepasin aku, please...” Tapi Devon menarik Davina hingga cengekeraman perempuan itu terlepas dari pegangan tangga. Davina kembali jatuh ke dalam air, dan Devon langsung menangkapnya ketika tubuhnya muncul dari permukaan air. “Jangan coba-coba kabur. Sudah kubilang, kamu tidak akan bisa lepas dariku.” Davina diam. Ia memandangi wajah Devon. Entah mengapa, Devon sore ini terasa berbeda. Devon yang biasanya tertutup dan jutek, tadi bisa begitu usil dengan berpura-pura mencoba mendorongnya jatuh. Lalu barusan, pria ini kembali menariknya jatuh dan kembali melingkarkan lengan ke sekitar tubuhnya. Membuat tubuh basah mereka saling menempel. Ada apa dengan suaminya? Tetes air jatuh dari ujung rambut yang menjuntai di dahi pria itu. Berkilauan karena sinar matahari sore. Tiba-tiba timbul dorongan dari dalam diri Davina untuk menyeka air tersebut. Davina sudah siap mengangkat tangan, ketika tiba-tiba Devon melepaskannya. Pria itu melewatinya dan langsung mencapai tangga. “Harusnya aku yang naik lebih dulu,” ujar Devon sambil menoleh ke Davina. “Silakan berada di sana semau kamu.” Pria itu naik ke teras dan berjalan ke dalam vila tanpa menoleh sedikit pun. Meninggalkan Davina di dalam air dengan rasa kesal luar biasa. Harusnya ia memang tidak boleh lengah. Ia sudah dengan bodoh masuk ke dalam jebakan. Dasar Devon sialan! Menghadapi Devon tidak boleh menggunakan hati. Davina menekankan hal itu lekat-lekat dalam pikirannya. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD