Menikah Karena Terpaksa

2199 Words
“ Haz ini tidak benar! Kau tidak boleh melakukan hal ini padaku. Aku sangat mencintaimu. Apa kelebihan gadis itu dibanding denganku?” Dalilla menghadang langkah Hazza yang hendak melangkah pergi. Pemuda itu hanya menatapnya sendu “ Aku tidak akan membiarkan kau dimiliki orang lain. Sejak kecil kita selalu bersama, maka saat dewasa kita juga harus bersama bukan?” Tanyanya memegang lengan Hazza dengan tatapan penuh harap “ Dalilla, kenapa kau menjadi semenyedihkan ini? Kau berhak menemukan yang lebih baik dariku.” “ Tidak ada! Kau yang terbaik, kau orang yang tepat. Ayo pulang bersamaku. Di sini bukanlah tempatmu, di sini bukan hidupmu. Ayo!” Ajaknya menarik lengan Hazza “ Tidak!” “ Hazz...” “ Siapapun bebas mencintai orang lain karna itu adalah hal yang dilakukan hati dan tidak bisa dikendalikan akal. Dalilla, aku mempunyai tanggung jawab di sini. Aku ingin menjaga Diana, menemaninya dan mengobati lukanya. Itu adalah pilihan hatiku. Walaupun terlihat tidak sesuai dengan logika, aku tetap mencintainya.” Tolak Hazza. Gadis di depannya menundukkan wajah, menahan sedih “ jangan mencintaiku melebihi harga dirimu. Kau berharga di tangan orang yang tepat dan itu bukan aku.” Imbuhnya memegang pundak Dalilla lembut. Beberapa saat kemudian, gadis itu terisak, sesenggukan dalam tangis “ Aku akan menunggumu Hazz.” Ujarnya getir. “ Jangan! Tetaplah berjalan ke depan. Aku yakin seseorang yang baik tengah menunggumu di sana. Jangan pernah berbalik ke belakang.” Senyum Hazza menyeka air mata dari pipi cantik dalilla Cinta memang rumit Akal tak mampu menjangkau atau mengendalikan Satu satunya hal yang membuat manusia mampu hidup di luar kebiasaan Cinta memang rumit, entah mengapa itu tercipta jika tidak bisa meminta... Jika membawa luka.... Hazza hendak menoleh ke belakang. Saat tiba tiba... Bruk Tubuhnya tersungkur menahan sakit, beruntung ia sempat menghindar dan belati itu tidak mengenai punggung kirinya, melainkan hanya menggores lengan dengan luka yang menyemburkan amis “ Jika aku tidak bisa memilikimu, maka kau tidak boleh menjadi milik siapapun!” tekan Dalilla gemetar. Belati di tangannya tampak berdarah. Ya, dalilla menyerang Hazza “ jika itu yang mau kau lakukan, aku tidak akan menghindar.” Senyum Hazza menatap tenang mata gadis itu “ Aku tidak akan bisa bernapas jika kau menjadi milik orang lain.” Celetuknya, hendak menyerang Hazza kembali. Tapi tiba tiba... Deg Crash Cinta memang di luar nalar logika Tapi mencintai tanpa akal, bisa membuat segala rasa binasa Termasuk simpati dan luka... “ Diana!!!” teriak Hazza yang seketika memangku Diana. Entah sejak kapan Diana mendengarkan percakapan mereka, ia tiba tiba datang memeluk saat Hazza diserang. Luka menganga tepat mengenai punggungnya, darah segar bercecer di mana mana. “ kau baik baik saja?” tanya Diana dengan wajah pucatnya. Disaat seperti itu, Diana masih mengkhawatirkan Hazza. “ Aku tidak melakukan apapun! Aku tidak ingin mencelakainya! Ini bukan salahku! Ini salahmu! Ini salahmu!” teriak Dalilla ketakutan kemudian melempar belatinya dan berlari kembali masuk ke dalam gubuk Hazza langsung membopong Diana, membawa gadis itu ke dalam gubuknya “ Kau mau ke mana?” Tekan Hazza menyergap lengan Dalilla yang hendak pergi dengan tas di tangannya “ a-aku mau pergi! Untuk apa aku di sini? Aku tidak ingin melihat semua ini.” Jawabnya masih dengan nada angkuh. “ sebaiknya kau memang pergi dan jangan pernah kembali ke tempat ini. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti Diana. Termasuk dirimu! Pergi!” Hazza mendorong Dalilla ke luar, baru saat itu, terlihat kemarahan di wajahnya yang selalu tersenyum ramah Namun, bukan Dalilla namanya kalau ia menyerah begitu saja. Gadis itu memang pergi dari gubuk, tapi ia berjalan menuju pedesaan terdekat. Menemui beberapa orang yang tengah berjaga malam di pos “ pak, maaf rumah pak RT di mana ya?” tanya Dalilla dengan wajah sedih “ ke selatan mentok neng. Neng mau ketemu pak RT? Ada masalah apa?” tanya salah satu dari bapak bapak itu mengernyit Dalilla menghela napas panjang “ begini pak, saya dari kota mencari keluarga saya yang beberapa hari ini tinggal di sini. Dan setelah saya temui ternyata dia tinggal di gubuk dekat pantai itu bersama seorang janda bernama Diana.” Tutur dalilla dengan nada sedih “ si peri kecil?” Dalilla mengangguk pelan “ Saudara non laki laki atau perempuan?” “ Laki laki pak. Itu dia masalahnya, saya tidak mau saudara saya melakukan zina. Apalagi di kampung orang. Mau bagaimana lagi? Saya sudah menegurnya tapi dia malah marah dan mengusir saya. Saya hanya takut mereka mencemari desa ini dengan perbuatan terlarang.” Isak Dalilla bercerita “ Ah yang bener non, mana mungkin peri kecil kami seperti itu. Non salah lihat kali, fitnah itu dosa lho non! Itu lebih kejam dari pembunuhan!” terka salah satunya “ kalian bisa lihat ke sana. Mereka sedang berdua di dalam gubuk itu. Tapi sebaiknya bawa seluruh warga desa. Saya mohon, saya hanya ingin saudara saya kembali pulang.” Pinta Dalilla lemas “ Ah ayo ayo! Kita ke pak RT lalu buktikan kata kata nona ini! Takutnya fitnah lagi! Malah desa kita yang nanti tercemar! Ayo!!” Bapak bapak itu pun segera bergegas meninggalkan pos, membawa dalilla ke rumah RT dan menjelaskan semuanya. Dalilla tersenyum dingin melihat sekerumunan warga yang hendak menuju rumah gubuk Diana “ Sudah aku bilang kan Haz, kau akan pulang bersamaku bagaimanapun caranya.” Gumamnya bangga. Sementara itu, di sana... “ aku akan menghentikan pendarahan ini. Tunggu sebentar, mantri yang aku telfon akan segera datang.” Ucap Hazza panik menyumbat luka di punggung Diana dengan kain di tangannya Ia bahkan seakan tidak perduli dengan lukanya sendiri “ Hazza aku tidak apa apa.” Senyum Diana yang mulai pasi “ Diamlah! Jangan terlalu banyak bicara atau darahmu akan terus ke luar. Dasar Dalilla gila, aku tidak akan memaafkan sikapnya ini. Diana, aku harus melepaskan kemeja...” Hazza menghentikan ucapannya. Ia tahu hal itu tidak pantas. Apalagi ini sudah larut malam, dan mereka berdua di gubuk itu “ kenapa?” tanya Diana menoleh ke arahnya “ Tidak, kemejamu harus dilepaskan agar aku bisa melihat sedalam apa lukanya.” Tutur Hazza memalingkan wajah Diana tersenyum melihat sikap polos pemuda di depannya “ aku tidak apa apa Hazza. Tenanglah, setelah mantri datang, aku akan baik baik saja. Luka ini tidak terlalu dalam.” Ucapnya memegang lembut tangan Hazza yang juga bersimbah darah “ Kau juga harus menyumbat lukamu, wajahmu sangat pucat.” Tutur Diana Hazza tersenyum “ ini tidak seberapa.” Tuturnya “ maafkan aku.” Imbuh pemuda itu “ maaf? Untuk apa?” “ Semua ini terjadi karna aku mengizinkan dalilla tinggal di sini bersamamu. Aku hanya ingin menunjukkan kepadanya bahwa aku memilihmu bukan dia. Tapi... Aku sama sekali tidak menyangka dia akan berbuat senekat ini. Seharusnya kau tidak mencegahnya tadi.” Diana meletakkan telunjuknya di bibir Hazza kemudian mendekat, membelai wajah tampannya lembut “ aku mencintaimu.” Ucapnya kemudian mengecup pipi pemuda itu sekilas. Sebelum tiba tiba... Tok tok tok “ Diana!” teriak suara yang sangat Diana kenal Tok tok tok “ Diana! Kau di dalam nak?” teriak suara itu lagi. “ Pak RT?” kening Diana mengernyit “ Biar aku saja yang membuka pintunya. Kau jangan bergerak.” Hazza berdiri kemudian membuka pintu. Sedikit kaget saat melihat begitu banyak orang di halaman. Lebih kaget lagi, saat melihat dalilla berdiri disamping RT di sana, Hazza sudah bisa menebak, apa yang terjadi. “ dia saudara saya pak. Lihat! Benar apa yang saya katakan bukan? Mereka berada dalam satu rumah di malam yang gelap ini. Apalagi yang mereka lakukan selain perbuatan terlarang!” tuding dalilla penuh kebencian Melihat kondisi Hazza yang terluka, Pak RT mengernyit “ Anda terluka?” tanyanya “ Iya pak saya diserang wanita ini. Bukan hanya saya, tapi Diana juga. Bapak bisa masuk dan lihat keadaannya. Kami juga sedang menunggu mantri untuk memberikan pengobatan.” Tutur Hazza terlihat tenang “ Apa itu benar nona?” “ Ya saya memang menyerang mereka. Itu karena saya mendapati mereka sedang m***m tadi. Bukankah pasangan m***m pantas untuk dibunuh.” Dalih dalilla. Mendengar hal itu, Diana mencoba berdiri dan tertatih menemui warga “ Saya tidak melakukan apapun di sini. Selama ini saya tinggal seorang diri. Hazza datang saat pagi hari untuk membantu saya, dia juga pulang sebelum maghrib. Nona Dalilla berada di sini sejak kemarin.” Tuturnya “ bohong! Mana buktinya!” teriak Dalilla memerah Mendengar itu, Diana mengulas senyum pucat “ jane! Dia yang mengantarmu kemarin ke sini bukan? Biarkan saya memanggil Jane ke sini pak RT, agar kesalah pahaman ini cepat selesai.” “ jane anak bu santi?” Diana mengangguk pelan, sebaliknya, wajah Dalilla berubah pucat “ Apapun itu bukankah tidak baik seorang pria dan wanita tinggal dalam satu atap tanpa ada ikatan hmm? Menurutmu siapa yang akan percaya?” tekan Dalilla Hazza tersenyum kemudian melangkah menjajari gadis berjilbab itu “ Baiklah! Aku akan menikahi Diana malam ini juga agar tidak menimbulkan fitnah.” Ucapnya Deg Tak hanya dalilla, Diana juga terlihat kaget Beberapa warga saling berpandangan. “ Hazza! Berpikirlah dengan jernih. Kenapa kau justru memutuskan untuk menikahinya hah? Kau ini tunanganku! Aku tidak akan melepaskanmu! Tidak akan pernah! Aku akan membunuh kalian berdua!” teriak Dalilla frustrasi kemudian meraih gunting dari dalam tasnya dan menyerang Hazza Beruntung, Hazza segera menangkis lalu mendorongnya jatuh “ lihat! Wanita ini yang jahat. Harusnya kalian lebih percaya pada Diana. Tidak mungkin Diana mengotori desa ini. Bawa dia ke kantor polisi atau dia akan melukai kami.” Tutur Hazza. Beberapa warga pun langsung meringkus dalilla yang terus berontak dan berteriak sambil mengutuk “ maafkan kami nak, kami mungkin salah paham. Tapi ada baiknya kamu tidak tinggal di sini jika diantara kalian tidak memiliki ikatan. Nak Diana seorang janda dan hidup sebatang kara, dan anda seorang pemuda asing.” Tutur pak RT yang diiyakan oleh warga lain “ Saya mengerti, karena itu, saya ingin menikahi Diana. Malam ini juga, anda dan warga bisa menjadi saksi.” Tutur Hazza sungguh sungguh “ Hazz.” Diana menitikkan air mata di sisinya “ Jangan cengeng! Aku hanya tidak mau melihat air matamu yang menyebalkan itu. Aku juga merasa kasihan karna gadis rapuh sepertimu tinggal seorang diri. Bisa bisa kau mencoba bunuh diri lagi nanti.” Celetuk Hazza “ Aku tidak cengeng.” Diana mengembungkan pipinya kesal. Di saat seperti itu, Hazza masih bisa memojokkannya Namun... Tiba tiba pemuda itu menggenggam erat tangannya “ Dan aku tidak ingin siapapun menyakitimu lagi. Aku mencintaimu, maukah kau hidup bersamaku selamanya?” tanya Hazza romantis. Gurat merah di pipi Diana tidak bisa disembunyikan Saat itu, disaksikan seluruh warga, di bawah temaram langit pekat dan bintang bertaburan, bermusikkan gelombang ombak dan irama malam... Hazza, resmi melamar Diana, menikahinya, dan menjadi miliknya untuk selamanya. Warga begitu bahagia melihat Diana kembali tersenyum, mereka bersorak riang untuk pasangan baru yang terlihat sangat serasi. Malam yang ingin Dalilla hancurkan, justru menjadi malam terindah yang tidak akan pernah terlupakan. Usai menikahi Diana, Hazza berjalan ke lautan lepas, membiarkan kakinya basah oleh deburan ombak. Mata birunya menatap lepas ke arah laut, tiba tiba air matanya menetes turun “ Maafkan aku, aku telah melakukan dosa yang sangat besar. Dosa yang mungkin membuatku terbuang dari sisi tuhan untuk selamanya. Tapi jika itu bisa membuat Diana bahagia, mengembalikan senyumnya yang hilang, maka neraka akan aku peluk seperti surga.” Gumamnya pelan. Sebelum... “ Tuan, nona Diana sudah selesai kami obati. Kami telah menjahit lukanya dan saat ini dia butuh perawatan yang intensif. Mengganti perban sesering mungkin. 2 hari lagi kami akan kembali untuk memeriksa kondisinya. Oh ya, selamat atas pernikahan kalian.” Mantri wanita itu mendekati Hazza kemudian mengulurkan tangan Hazza pun menjabatnya dengan senyum hangat “ dia gadis yang sangat baik. Tolong jaga nona Diana dengan baik. Saat ini, hanya anda yang dimilikinya.” Pesannya Hazza pun mengangguk ramah Ya, semua orang di desa ini menganggapnya begitu baik, mengaguminya seperti seorang ratu. Bagaimana aku tidak jatuh cinta pada gadis seperti itu? Perlahan, pemuda itu melangkah ke arah gubuk. Diana langsung meraih selimut menutupi tubuhnya yang hanya terbalut perban setengah badan “ berbaliklah! Aku akan memakai bajuku dulu. Jangan mendekat!” celetuk Diana. Namun... Deg Hazza justru mendekatinya, membiarkannya telungkup, melepas selimutnya sampai pinggang, kemudian membelai luka di punggung Diana lembut. Membuat gadis itu gemetar, malu dan merasakan debaran kuat di hatinya. “ aku suamimu. Mulai sekarang aku yang akan merawat semua luka di tubumu.” Bisik Hazza meremangkan seluruh darah di dalam tubuh Diana. Sentuhan tangan pemuda itu terasa begitu hangat. Apalagi saat... “ Hazz... Keluh Diana merasakan ciuman lembut di pundaknya “ kulitmu indah! Aku tidak bisa menahannya.” Senyum Hazza Ya, hanya dia yang menerimaku apa adanya Melihat kelebihan dalam kekuranganku Memuji dalam lemahku Menemani dengan kondisiku Dia tidak merubahku, tidak menghakimiku, tidak menekanku... Dan jika ini bukan cinta... Lalu apa namanya? – “ mulai sekarang aku akan tinggal di sini bersamamu. Kau tidak akan sendirian lagi.” Gumam Hazza mengelus rambut halus Diana. Air mata gadis itu menetes turun “ Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Diana getir Hazza diam beberapa detik “ Hazz?” Diana menoleh pelan “ aku tidak memiliki siapapun yang bisa disebut keluarga. Aku adalah satu satunya untukmu dan kamu satu satunya bagiku. Aku akan tinggal di sini bersamamu.” Senyum pemuda itu membelai wajah Diana “ Benarkah? Di gubuk ini? Kau tidak masalah tinggal di sini?” tanya Diana berbinat binar Hazza mengangguk pelan kemudian menidurkan Diana ke dadanya Maafkan aku ibu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD