3. Bisikan dan Hembusan Angin Lembut

1057 Words
Awalnya perjalanan terasa sedikit membosankan sebelum para anggota full sun beraksi. Begitulah julukan mereka karena sering menghidupkan dan mencairkan suasana, seperti Haikal dan Satya yang berduet maut. Serta Satria yang sedang nge-rap sambil memainkan trik sulapnya. Dan terakhir aksi stand up comedy yang dibawakan oleh kak Dika dan kak Bagas sebelum bus kami melakukan perhentian sejenak di salah satu rest area di sekitar. Melihat dimana tempat Ryuka tadi duduk tapi ternyata sudah tidak ada orangnya. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke toilet sendiri. Lagi dan lagi diriku merasa seperti sedang diawasi. Menghiraukan hal itu aku lanjut berjalan ke arah toilet berada. Sesaat setelah urusan di dalam toilet selesai, aku segera keluar dari bilik toilet namun ada seseorang yang membuatku kaget! "LUN!" "AIshh Kkamjjagiya!" pekik Lunar pakai bahasa Korea karena seringnya menonton Drama jadi sedikit terbawa sepenggal Dialog atau reaksi yang ikonik dari Drama Korea itu sendiri. "RYU lo darimana aja elah dateng-dateng bikin kaget aja lo." Protesku ke Ryuka yang seenaknya teriak di toilet yang lumayan sunyi ini. "Hehe sorry Lun, tadi gue habis beli cemilan tambahan. Terus ngeliat lo masuk ke toilet yaudah gue ikutin." Jawab ryujin sambil cengar-cengir ga jelas. "Kurang kerjaan banget lo, sampe buntutin gue diem-diem" Lunar "Hehe emang! Yaudah kuy balik ke bus." Ajak Ryuka Semua sudah memasuki bus lagi dan melanjutkan perjalanan yang masih setengah perjalanan. Kali ini tidak ada lagi yang mencairkan suasana seperti tadi. Alasannya mereka mau menyimpan energi nya untuk sampai nanti. Soalnya hutan yang dituju masih masuk ke dalam sejauh kurang lebih satu setengah kilometer dari tempat parkir para bus. Jadi kebanyakan mereka memakai waktu yang tersisa di dalam bus untuk tidur, agar nanti saat jalan memasuki hutan biar kuat ceunah. Setelah menempuh waktu perjalanan kurang lebih enam jam setengah. Akhirnya sampai di kawasan hutan yang terlihat masih asli dan sepertinya jarang di kunjungi oleh orang lain, terlihat masih sangat asri begitu jelas dipandang oleh mata. Terlihat juga ada pegunungan yang tertutup kabut tipis, mengingat cuaca sekarang sedikit gelap karena habis dilanda hujan. Sebelum memasuki hutan yang dituju kita semua berkumpul dahulu mengikuti instruksi yang di arahkan oleh kak Tara kali ini. Ingat kan' kalian kalau kak Johnny itu cuma wakil? nah ketuanya itu kak Tara. Seperti awal keberangkatan tadi kak Tara menyuruh para ‘PJ untuk memeriksa para anggota divisi nya masing-masing. Setelah selesai dengan pengecekan anggota serta barang bawaan agar tidak tertinggal di dalam bus, kita semua mulai memasuki hutan yang dituju namun lagi-lagi diriku merasa seperti sedang di awasi. Aku melihat sekeliling untuk memastikan nya namun nihil tidak ada apapun yang ada, malah diriku yang terkejut dengan tepukan seseorang yang tak lain adalah manusia tampan yang jika tersenyum matanya malah hilang. "Lun?" panggil Jasonsalah satu teman Lunar yang seangkatan namun beda jurusan sambil menepuk bahuku dari belakang. "HAAH! APAA!"Lunar terpekik karena kaget "Lo ya' Jas ngagetin gue aja!" lanjutku sambil menyikut lengannya pelan. "Hehe sorry?! Udah buru itu yang lain udah pada jalan" Saat sedang berjalan menuju kedalam hutan sudut mataku menangkap sekelebat bayangan lagi yang melesat ke arah pohon besar di sebelah kiri jalur yang kami semua lewati. Dan bayangan itu mengingatkan ku pada seorang yang melesat di halte itu. Tak mau terlalu lama dengan pikiran ku, aku segera menyusul Jason yang sudah lumayan jauh dari tempatku. Aku segera berlari kecil dan menarik sedikit tas belakang milik Jason sampai dia hampir terhuyung karena tarikan ku yang sedikit kuat. 'Syutt' "IHH LUUN! Pelan napa nariknya?!" Kesal Jason padaku "Sorry perasaan tadi gue juga udah pelan nariknya hehe" "Lagian lo ga nungguin gue. Kalo gue nyasar gimana coba?"Lunar "Iye iye udah diem kaga usah ngomel, buru duluan sana" Jason menyuruh Lunar agar berjalan di depannya. "Okayy dokeyy JESSOON!" Seru Lunar. 🍑🍑🍑 Hari semakin gelap dan udara semakin terasa dingin, tapi tempat yang kami tuju masih lumayan jauh sepertinya. Jalur yang licin menambah kelambatan buat kami untuk mencapai tujuan. Dan semakin dalam kami memasuki hutan, perasaan seperti sedang diikuti pun semakin kuat. Entah sosok apa yang sedang mengawasi diriku. Menghiraukan hal itu aku segera menyusul para rombongan agar aku tak tersesat. Karena saat ku lihat ternyata Jason lagi-lagi sudah berada agak jauh di depan ku sambil melambaikan tangannya ke arahku. Kami semua memasuki hutan semakin dalam, dan di saat sudah mendekati tujuan tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya, petir dan kilat menyambar. Jadi kami putuskan untuk mendirikan tempat berlindung sejenak sembari beristirahat. Kak Johnny berteriak agar kami berkumpul di satu tempat dan tidak ada yang berpencar agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk juga. "SEMUANYA HARAP BERKUMPUL DAN MEMBENTUK BARISAN! LALU PARA PJ ATAU WAKIL NYA HITUNG YA ANGGOTANYA ADA YANG BERKURANG ATAU TIDAK?!" Teriak kak Johnny dengan lantang memerintah peserta yang ikut. "BAIK KAK!" Teriak semua perwakilan danPJ yang ikut. Setelah para ‘PJ menghitung anggotanya dan masih aman-aman saja, dan kami berencana akan melanjutkan perjalan di pagi hari mengingat kondisi cuaca sekarang ini tidak mungkin jika kita melanjutkan perjalanan untuk memasuki hutan yang antah berantah ini. Jadi kami semua akan mendirikan tenda di tempat kami berpijak sekarang ini hanya untuk menginap semalaman. Tenda perkelompok sudah di dirikan dan perwakilan dari beberapa kelompok terkhusus telah di pilih yang lelaki untuk berjaga malam sudah siap berkumpul. Malam semakin larut dan banyak diantara kami yang sudah terlelap. Namun aku masih belum bisa memejampakan kedua mataku. Perasaanku gelisah serta tak tenang seperti akan ada kejadian yang tidak di inginkan datang. Sampai arlojiku menunjukan jam tiga lewat sepuluh menit kesadaranku pun masih terjaga, dan aku seperti mendengar suara lirih dari arah luar tenda tepat di sampingku, karena posisiku yang kebetulan di paling pinggir diantara teman setendaku. ‘Lunar?! akhirnya kamu datang sayang.’ Hanya Lunar yang dapat mendengar suara yang seperti bisikan penuh akan kerinduan yan terpendam terlalu lama. Awalnya Lunar mengira ia salah mendengar dan hanya halusinasinya saja karena terlalu lelah. Gadis dengan rambut yang di gulung asal itu duduk dari posisi berbaringnya. Lalu gadis itu sedikit merangkak, dan mencoba membuka sedikit zipper tenda. Tidak terlalu besar, namun cukup untuk kepalanya melihat ke arah luar, melihat kondisi di luar tenda yang sangat sepi. Hanya ada sisa bara api unggun yang tadi mereka nyalakan. Tidak ada siapa-siapa, pikirnya. Setelah memastikan jka suara tadi memang benar hanya pendengarannya yang salah, kini ia bersiap masuk dan menutup kembali zipper tenda. Namun saat jemarinya hampir selesai menutup zipper, angin lembut seperti menerpa wajahnya dan dengan wewangian yang tiba-tiba tercium oleh inderanya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD