4. Serigala Putih

1289 Words
Di malam yang semakin dingin akibat cuaca yang tidak ada tanda-tanda akan membaik, suasana yang semakin larut juga semakin suram. Beberapa kejadian kecil pun menghampiri mereka yang baru beberapa jam berada didalam hutan lebat itu. Lunar dan rombongan terpaksa menetap sampai cuaca sedikit membaik, agar mereka segera berkemas karena sepertinya kegiatan kali ini gagal total. Rombongan mereka tidak sadar jika ada satu sosok yang sedang memperhatikan seorang gadis dengan rambut sebahu tersebut, kecuali pemuda tinggi yang memiliki eye smile. Dia tahu karena sebenarnya dia bukan asli manusia seperti yang lainnya. Dia bisa merasakan ada yang sedang memantau gerak-geriknya dari gelapnya malam. Jason keluar dari tendanya untuk izin buang air kecil tapi sebenarnya bukan itu tujuan aslinya, Jason menghampiri sosok yang dari tadi memantau mereka atau lebih tepatnya mengawasi Lunar!? “Kenapa kau selalu mengawasi kami?” Tanya Jason dengan sosok yang bersembunyi di balik pohon besar. “Bukan urusan kamu!” Jawab sosok itu dengan nada yang begiitu dingin. “Jadi urusanku! karena mereka semua teman ku. Semua! Terutama gadis yang selalu kau perhatikan dari sebelum kami tiba di sini.” “Bukannya sudah ada kesepakatan kalo bangsa kita tidak akan mengganggu lagi kaum manusia?” Jason lanjut bertanya karena tidak ada yang di katakana dari lawan biscaranya. “Ckk aku tidak akan mengganggu, terutama dia. Karena dia adalah belahan jiwaku yang selama ini ku tunggu.” “Apa? Tidak mungkin Lunar belahan jiwa kamu Jeff?” Jason terkaget atas ucapan sosok tadi yang bernama Jeffrey yang biasa akrab dengan panggilan jeff itu. “Ya?! Dia orangnya yang selama ini sudah ku tunggu dan ku nanti! Jadi, jangan coba-coba kau ingin merebutnya dari ku!” Jeffrey memberi peringatan “Tidak akan?! Kau kan tahu Jeff, jika aku tidak suka mengganggu yang sudah menjadi hak milik. Aku mendekatinnya hanya penasaran akan energy yang kadang terpancar darinya!” “Energi?” Tanya Jeff memastikan. “Iya! Lunar sepertinnya bukan manusia biasa, terkadang dia memancarkan energinya dan itu berbahaya jika makhluk jahat mengetahui hal itu.” “Kalau begitu tolong awasi Lunar dari jarak dekat, sekarang aku belum bisa mengawasinya dari jarak yang dekat.” “Baiklah akan aku bantu, tapi jangan terlalu lama. Sebaiknya kau harus cepat melindungi milikmu sendiri Jeff!” Di tenda yang lumayan besar dan berisikan empat orang perempuan itu, masih ada satu orang yang belum bisa beristirahat dengan tenang. Dia adalah Lunar, disaat temannya yang lain sudah terlelap karena lelah berbeda dengan dirinnya. Dia masih gelisah dan masih memikirkan kejadian belakangan ini yang menurutnya masih berkaitan, terutama suara bisikan lirih yang penuh dengan emosi kerinduan yang meluap itu. Di saat dirinya bergelut dengan pikirannya, suara itu kembali lagi terdengar di inderanya. ‘Lunar… kenapa kamu belum beristirahat juga?’ ‘Kamu tidak usah takut Lunar?! aku akan menjagamu dengan sangat baik!’ Lagi, suara itu terdengar namun anehnya setelah mendengar suara itu perlahan matanya merasakan kantuk dan rasa nyaman seperti mendapat pelukan hangat pun ia rasakan. Dini hari sekitar setengah lima, keadaan yang masih gelap gulita, ditambah suhu udara yang sangat dingin karena sehabis hujan lebat. Lunar terbangun dari tidur lelapnya yang baru beberapa jam itu, karena panggilan alam yang sangat mendesak dirinya untuk terbangun. Lunar mencoba membangunkan salah satu dari ke tiga temannya untuk menemaninya keluar, namun percuma. Ke tiga temannya seperti pingsan, tak ada dari salah satu mereka yang terusik ketika dibangunkan oleh Lunar. Dengan terpaksa ia melangkah seorang diri mencari tempat untuk menuntaskan panggilan alam yang sudah sangat mendesak itu. Kakinya yang terbalut celana jogger panjang berwarna navy itu melangkah sedikit memasuki hutan di belakang tenda-tenda yang mereka dirikan. Saat hendak kembali Lunar kembali melihat sekelebat bayangan hitam seperti sebelumnya. Lunar hendak mencari sosok tersebut namun tiba-tiba semilir angin berhembus di sekitar tengkuknya dengan aroma Wood eucalyptus bercampur Pinus disaat embun pagi. Angin serta aroma yang sangat miripseperti saat ia mendengar suara bisikan lirih. Hal itu menghentikan niat Lunar untuk mencari tahu sosok bayangan itu. Lunar memilih untuk kembali namun ia salah melangkahkan kakinya untuk kembali ke tempat teman-temannya berada. Semakin dalam Lunar melangkah tak terasa sang surya juga semakin menampakan sinarnya, sadar jika dirinya tersesat dan semakin jauh dari yang lainnya. Panik pun mendera Lunar yang netranya kini mulai berkaca-kaca. Lunar hendak berbalik dan kembali menelusuri jalan yang ia lewati tadi, namun seekor serigala berbulu putih dengan badan yang besar menghadang Lunar. Sontak hal itu membuat Lunar bergetar dan jatuh terduduk melihat sosok serigala besar itu. Sosok serigala itu semakin melangkah mendekati Lunar, tapi saat tinggal beberapa langkah lagi. Serigala itu berhenti lalu duduk di hadapan Lunar layaknya seekor anjing yang sudah terlatih. Saat Lunar masih bergetar ketakutan sambil memejamkan matanya erat, kembali terdengar suara yang mirip seperti sebelumnya dan hanya Lunar mendengarnya. 'Lunar... Hey?! Tenanglah serigala putih di hadapanmu itu tidak akan mencelakai kamu. dia akan membantu kamu untuk kembali ke teman-teman kamu Lunar.' 'Lunar!? Percaya padaku! Sekarang, kamu buka perlahan mata kamu sambil tarik nafas yang dalam lalu hembuskan... Agar diri kamu sedikit rilex.' Menurut dengan suara yang di dengarnya. Perlahan, Lunar membuka matanya sembari menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya. Saat sudah sepenuhnya membuka mata sosok serigala putih nan besar sudah menunggunya dengan setia di hadapannya. Tatapannya menyiratkan kekhawatiran. Perlahan dan pasti Lunar memberanikan diri, mengulurkan tangannya untuk menyentuh bulu lebat serigala dihadapannya. Setelah berhasil menyentuh bulu lebat serigala itu mata Lunar seketika berubah menjadi berbinar. Sosok serigala itu membalas perlakuan Lunar dengan menjilat pipi Lunar lembut sebelum serigala itu berdiri dan sedikit menarik ujung jaket yang Lunar kenakan dengan cara menggigit ujungnya dengan tarikan yang lembut. Tanda serigala itu meminta Lunar mengikutinya. Menurut dengan ajakan sang serigala putih, Lunar mengikutinya dari belakang dengan langkah kaki yang pasti. Tak terasa sinar Mentari telah muncul sepenuhnya, sekitar sepuluh menit kakinya melangkah mengikuti petunjuk dari seekor serigala. Samar-samar terdengar suara teman-teman nya yang sedang meneriakkan namanya. Karena di rasa sudah dekat, serigala itupun berhenti lalu menyenggol kaki Lunar dengan menggesekkan kepalanya. Melihat perlakuan serigala itu Lunar berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan si serigala putih itu. Si serigala lagi-lagi menjilat lembut pipi Lunar, Lunar yang mendapat perlakuan manis dari hewan liar itu pun memeluk si serigala sambil mengucapkan terimakasih karena sudah membantunya. Setelah pelukan itu terlepas si serigala langsung berlari meninggalkan Lunar kembali ke dalam hutan yang lebat. Saat Lunar kembali mendengar namanya di teriakin, dia langsung membalas teriakan itu dan menyamperi teman-teman nya yang memperlihatkan raut kekhawatirnya. "LUNARRR!? LO DARI MANA AJA? HUWAAA!" Teriak Ryuka sambil berlari hendak memeluk Lunar. "YA AMPUN LUNNN!" Tak lama Haikal datang menghampiri namun saat hendak memeluk Lunar, Jason datang menarik tudung hoodie Haikal seperti memungut anak kucing. "Lunnn! gue pengen peluk lo juga!?" Rengek Haikal, namun tidak mendapat tanggapan dari Lunar dan tudung hoodie Haikal masih di pegang oleh Jason. "Heh Jesss! Ini lepasin napa hoodie gue, gue bukan kucing yang kecebur got ya pake lo pegangin begitu?!" Lagi, Haikal berujar namun tak mendapat tanggapan. "Please deh Lunarrr?! Bilangin ini ke Samoyed lo suruh kepasin gue Lun!" Hanya kekehan yang menanggapi rengekan Haikal kali ini. [Julukan Jason yang sering di panggil dengan jenis anjing samoyed karena ketika tersenyum matanya akan hilang persis seperti samoyed] "Pft! Udah Jess' lepasin itu si Haikal!?" Lunar menyuruh Jason menghentikan aksinya menggangu Haikal. Teman-tamannya yang lain saat tahu Lunar telah kembali, mereka melanjutkan aktifitas mereka masing-masing yang tertunda. Namun Ryuka, Haikal dan Jason masih memeriksa keadaan Lunar. badan Lunar di putar kanan dan kiri oleh Ryuka. Dan setelah memastikan tak ada yang lecet sedkitpun di badan sahabatnya itu pun Ryuka langsung memeluk Lunar. Sedangkan ke dua teman lelaki mereka hanya berdiri menyaksikan aksi dua teman perempuannya itu. Saat sedang berada di pelukan Ryuka, Lunar masih menelaah kejadian tadi. Ia heran mengapa serigala putih tadi bisa membantunya!? Lunar diam, keningnya sedikit menegrut karena pikirannya yang sedang bergelut memikirkan kejadian yang sangatlah aneh menurutnya tadi...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD