Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang, awalnya Mama bersikeras untuk mengajaku pulang ke Bali tapi karena aku masih membutuhkan perawatan dari dokter di Jakarta maka dia menyerah dan meminta Tante Rina yang merawatku dengan dibantu seorang suster.
Karena Papa dan Leo harus kembali ke Bali mengurus hotel, maka William yang berjanji akan menjemputku sementara Mama dan Tante Rina menungguku di rumah Tante.
William mendorong kursi rodaku melewati lorong menuju lobby rumah sakit dimana mobilnya terpakrir disana. Ketika melewati taman rumah sakit, kudengar suara anak anak kecil sedang asik bermain kejar kejaran.
"Will, anak anak itu lagi ngapain? seru sepertinya ya?" William menghentikan dorongannya.
"Kamu mau bersantai sebentar di taman?" kuanggukan kepalaku, lalu kurasa William mendorong kursi roda melalui rerumputan. Kurasa semilir angin memainkan rambutku. Kupejamkan mataku menikmati terpaan sinar matahari yang hangat. Kembali kubuka mataku dan mengangkat tanganku meraba raba mencari William.
"Will..Will..." panggilku sedikit panik karena tidak mendengar suaranya.
"Aku disini Rel.." Tangan William memegang tanganku. "Aku tadi menolong anak kecil yang terjatuh disana."
Aku tersenyum lega mendengar suaranya, perasaan aman menyelimutiku.
"Aku duduk disampingmu ya Rel...ada kursi taman disini." kuanggukan kepalaku.
"Will, terima kasih ya menemaniku selama ini. Kalau merepotkan tidak perlu dipaksa Wil." ucapku mendadak merasa tidak enak dengan pengorbanan Willam selama ini.
"Apakah kamu senang ditemani aku?" William menyentuh rambut dikeningku, sepertinya menata rambutku yang sedikit berantakan dipermainkan angin.
"A..aku senang, tapi...lebih baik waktu senggang kamu bisa digunakan untuk kencan dengan wanita lain." perasaan tidak percaya diri merasuki diriku.
William mengambil napas dan menghembuskan perlahan, "Rel...kurasa kamu bisa merasakan perasaanku padamu selama ini. Aku menyukaimu, aku mencintaimu Aurel." Aku tertunduk mendengar ungkapan perasaannya.
Aku bukannya tidak tahu kalau William menyukaiku, terus terang aku terbuai dengan perhatiannya selama ini. Tapi, aku bukanlah aku yang dulu. Aku sekarang seorang yang cacat, dan hanya bisa merepotkan orang orang yang disekitarku. Aku bahkan tidak bisa berjalan sendiri.
Kugelengkan kepalaku, "William, aku tidak pantas kau cintai. Aku hanya bisa merepotkanmu saja. Namun terima kasih atas cintamu, tapi kuharap kau dapat melupakanku dan mendapatkan cinta dari wanita lain yang sempurna."
William terdiam mendengar perkataanku. "Balik yuk, Mamamu pasti sudah khawatir menunggumu." Aku hanya mengangguk.
***
Prang...kulempar sisir ke cermin didepanku. Kesal hati ini karena sudah lebih sebulan aku dengan kondisi seperti ini. Penglihatanku belum membaik, aku masih belum bisa berjalan. Putus asa, itu yang kurasakan saat ini.
"Nova...ada apa?" Tante Rina dan suster Mia tergopoh gopoh memasuki kamarku karena mendengar suara kaca pecah.
"Non..wajahnya luka kena pecahan kaca. Jangan bergerak dulu, saya akan mengambil kotak obat ya." bayangan Suster Mia menjauhiku. Sementara Tante Rina membersihkan pecahan cermin yang berserakan disekitar tempat dudukku.
"Tante...aku sudah tidak ada harapan. Lebih baik aku mati kalau begini terus Tan. Aku hanya menjadi beban saja." ucapku disela sela isak tangis. Tante memelukku erat erat sambil membelai kepalaku.
"Nova, kamu bukan beban siapa siapa. Jangan pernah mengatakan ingin menghakhiri hidupmu. Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita. Sabarlah..."
Suster Mia mengobati luka luka di wajah dan ditanganku. Satu persatu pecahan kaca yang terlempar dan menancap di kulitku ditarik perlahan lalu memberikan obat pada luka itu.
"Non...sabar ya ...dokter kan bilang kemarin kalau matanya Non sudah ada perkembangan." aku hanya diam mendengar ucapannya.
"Suster, bisa tolong ambilkan amplop di dalam laci sebelah kanan ranjangku?" kudengar suara laci dibuka kemudian ditutup kembali. Suster Mia memberikan amplop itu padaku.
"Suster bisa tolong bacakan isi surat ini?" aku memutuskan untuk membiarkan Suster Mia membacanya. Terdengar suara amplop dibuka dan kertas dibuka.
"Non..." kuanggukan kepalaku dengan perasaan deg deg an. "Bacalah, tapi jangan ceritakan isinya pada siapapun. Paham?"
"Baiklah Non." suster Mia mulai membacakan surat dari Lintang.
Untuk Novaku,
Pada saat kau membaca surat ini artinya aku sudah berada jauh darimu. Takdir memisahkan kita, dan takdir pula yang membawa kita bertemu kembali. Tak bisa kupercaya kalau aku jatuh cinta padamu untuk yang kedua kalinya namun ternyata kembali takdir mempermainkan cinta kita.
Bintang yang bertaburan di langit malam menjadi saksi akan janji kita untuk saling mencintai dan aku percaya jika bintanglah yang akan menyatukannya. Ketika kau memandanginya percayalah akupun sedang memandangi bintang yang sama.
Walaupun kita tidak bersama, cintamu selalu menyertaiku selamanya. Berbahagialah karena kamu pantas mendapatkannya.
Love you forever
Lintang
"Non..Non.." panggilan Suster Mia menyadarkanku.
"Terima kasih Sus, suratnya tolong dilipat dan diletakan kembali di laci." perintaku.
Ketika terdengar suara pintu ditutup, mulailah beruraian air mataku. "Kenapa cinta kita harus berakhir seperti ini Lintang?" batinku di sela sela isak tangis yang tak kunjung berhenti sampai akhirnya aku tertidur dan bermimpi bertemu dengannya.
***
"Tante.." panggilku sambil perlahan menuruni anak tangga dengan berpegangan pada railing. Tidak kudengar sahutannya jadi kuputuskan untuk mencarinya dilantai bawah. Kakiku perlahan lahan mulai membaik dan aku sudah bisa berjalan walalupun tidak terlalu lama. Mataku kini sudah dapat melihat namun belum sempurna.
"Suster..." kini kupanggil suster Mia.
"Non..manggil?" kuputar tubuhku ketika mendengar suaranya dari balik punggungku.
"Tante dimana ya Sus?"
"Bu Rina barusan keluar Non, sepertinya ada arisan. Non butuh sesuatu?" Kugelengkan kepala lalu berjalan ke ruang tamu. Kupasang earphone dan bersandar pada sofa sambil mendengarkan lagu kesukaanku. Tiba tiba kurasakan ada yang menyentuh pundakku. Kubuka mataku dan melihat senyum manis William yang sedang berjongkok disamping sofa.
"Ehh..Will...tumben?" sapaku sambil melepaskan earphone dan menegakkan duduku.
"Kangen. kamu gak rindu aku ya?" Aku tesenyum malu mendengar gurauannya.
"Dari pada bengong di rumah, kita jalan yuk." ajaknya dan membantuku berdiri.
"Mau kemana?"
"Nonton. sudah lama kan kita tidak nonton bareng?" ya, pertama dan terakhir kalinya kami nonton bersama sudah berbulan bulan yang lalu sebelum aku mengalami kecelakaan.
"Aku tukeran dulu ya Wil."
"Gak perlu, kamu sudah cantik kok." William membantu menata rambutku yang sedikit berantakan.
"Hm..baiklah, Sus...aku keluar dulu ya." kugandeng lengan William. "Yuk Will."
Setelah membeli tiket dan camilan, kami berdua berjalan memasuki teather 4 yang letaknya lumayan jauh dari pintu utama. Tiba tiba aku ditabrak oleh seorang anak kecil yang berlari melewatiku sehingga aku limbung. Namun dengan cekatan William memelukku agar tidak jatuh, wajahku menghangat ketika merasakan pelukan hangatnya.
"Kamu tidak apa apa Rel?" William memandangiku dengan cemas.
"Gak..gak apa apa Will." kudorong perlahan tubuhnya dan berjalan mendahuluinya. Jantungku berdebar cepat, kuraba pipiku yang merah seperti kepiting rebus.
"Rel...sombong yah! sudah bisa jalan cepat rupanya jadi ninggalin aku?" gurauannya tidak kuburis dan berjalan terus ke teather kami.