Pagi menjelang siang itu udara di teras belakang rumah keluarga Harlan terasa sejuk. Edward Harlan duduk tenang di kursi rotan favoritnya dengan secangkir teh hitam hangat di meja samping. Di depannya, taman luas yang tertata rapi tampak basah oleh sisa embun pagi. Beberapa dokumen bisnis sudah selesai ia baca sejak satu jam lalu. Kini lelaki tua itu hanya ingin menikmati waktu tenang sebelum jadwal meeting siang. Tangannya meraih koran ekonomi di samping meja. Namun matanya justru berhenti pada satu majalah yang tergeletak santai di bawahnya. Majalah Income. Edward mengangkat alis tipis. Ia tak merasa meminta majalah itu pagi ini. Tangannya mengambil majalah tersebut perlahan. Dan begitu pandangannya jatuh pada cover depan, gerakannya berhenti sepersekian detik. Seorang gadis muda de

