Pagi itu dapur utama rumah keluarga Harlan terasa lebih sunyi dari biasanya. Lima staf dapur berdiri berjajar rapi di dekat island table marmer. Tiga perempuan di sisi kiri, dua laki-laki di kanan. Tak ada yang berani banyak bicara sejak kepala pelayan datang mendadak dan mengatakan Tuan Besar ingin bertemu langsung. Lalu suara langkah tongkat terdengar mendekat dari lorong. Edward Harlan masuk perlahan dengan setelan rumah abu gelap yang tetap terlihat mahal bahkan tanpa usaha. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi justru itu yang membuat suasana makin tegang. Tak ada yang duduk. Tak ada yang bergerak. Edward berhenti di depan meja dapur. Tatapannya menyapu satu per satu wajah di hadapannya. “Kalian sudah lama bekerja di rumah ini,” ucapnya rendah. Tak ada yang menjawab. “Saya rasa

