Pagi di kamar baru itu terasa terlalu rapi. Niva mengerjap pelan, menatap langit-langit putih dengan hiasan lampu gantung kecil yang terlampau estetik. Sprei bunga-bunga pastel, tirai tipis yang membiarkan cahaya masuk lembut, bahkan bantalnya pun wangi seperti iklan pelembut pakaian. “Ini kamar kayak copas majalah interior...” gumamnya. Ia bangkit, berjalan ke lemari. Saat membukanya, ia terdiam. “...Ini baju siapa?” bisiknya pelan. Isinya penuh. Tapi bukan kaus oblong, hoodie, atau celana jeans andalan hidupnya. Yang ada justru gaun terusan manis, rok jatuh, warna-warna lembut, yang memaksa pemaikainya ingat cara duduk dan berjalan. Niva menarik satu terusan bunga-bunga berbahan kaus. “Oke… ini masih manusiawi.” Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di meja makan besar bersama R

